Sabtu, 05 April 2014

Detektif TB (Tuberkulosis)


Anda tahu kan pekerjaan seorang detektif ? Bagi penyuka film action tentunya akrab dengan tindakan-tindakan yang dilakukan seorang detektif. Antara lain mengamati, menyelidiki, dan mencari tersangka.

Kali ini bukan tentang film action. Melainkan tentang penyakit tuberkulosis atau TB atau dulu dikenal dengan TBC.

Apa hubungannya dengan ditektif? Karena dibutuhkan ditektif-ditektif yang akan membantu ditemukannya penderita-penderita TB yang masih belum menyadari penyakitnya.


Sekilas TB dan statusnya di Indonesia

Tuberkulosis atau disingkat TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Basil Tuberkulosis, Mycobacterium tuberculosis. Basil ini masuk dan berkembang biak di paru-paru. 


Prevalensi atau jumlah penderita TB di Indonesia sudah menurun signifikan dalam beberapa tahun terakhir, namun masih tertinggi keempat di dunia, setelah Tiongkok, India, dan Afrika Selatan.


Penyakit Tuberkulosis (TB) termasuk penyebab kematian kedua terbanyak. Diperkirakan setiap jam ada sebanyak 175 orang meninggal karena TB. Menurut data Kementerian Kesehatan menyebutkan, setiap tahunnya terdapat 450 ribu penderita TB baru. 


Bahkan akhir-akhir ini, kasus TB sering dikaitkan dengan HIV. Menurunnya imunitas penderita HIV menyebabkan rentan terjangkit TB.  Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah pasien TB dengan status HIV positif di Indonesia pada 2013, sebesar 7,5 persen. Terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan 2012 yang hanya 3,3 persen.


Mengapa Penderita TB harus ditemukan?

Pertama, karena TB adalah penyakit menular yang mematikan.  Penularan TB adalah dari mulut ke mulut dengan perantara udara. P
enderita TB yang bersin atau batuk dapat menyebarkan jutaan baksil TB kepada siapapun di sekitarnya. 

Keberadaan satu orang penderita TB dalam sebuah kelompok, misalnya keluarga, kelas atau kantor, berpotensi menular kepada yang sehat. Lebih lanjut TB menular dari kelompok kecil ke dalam kelompok besar, misalnya dalam satu desa atau kerumunan masyarakat yang lebih luas.  Selain itu, penderita TB aktif bisa menjangkiti mantan penderita TB yang telah sembuh. Jika mata rantai penularan penyakit tidak diputus, maka seterusnya penyakit akan berputar-putar dalam lingkaran.

Kedua, gejala TB tidak selalu mudah dikenali dan bervariasi.  Apabila terlambat pengobatannya bisa mengakibatkan kematian penderita. Karena itu diperlukan kepedulian kita sebagai detektif TB.

Siapa yang bisa menjadi detektif TB?

Paling berkewajiban memperhatikan gejala TB adalah orang-orang terdekat yang ada di sekitar penderita, termasuk memperhatikan diri sendiri.
Jika anda seorang ibu/ ayah, perhatikanlah keluarga anda.
Jika anda seorang guru, perhatikanlah murid dan rekan sejawat anda.
Jika anda seorang karyawan, perhatikanlah rekan kantor anda. Dan sebagainya.

Sang detektif TB tentunya harus memahami gejala-gejala penyakit TB. Kemudian detektif TB dapat melakukan langkah intrapersonal untuk menyampaikan dugaannya. Tersangka penderita TB pertama kali mungkin akan syok atau terkejut mendengar dugaan tersebut. Masih banyak pendapat yang beredar  di masyarakat bahwa TB adalah penyakit yang sulit disembuhkan dan memalukan.  TB dianggap penyakit "kelas bawah".  Dalam hal ini penting untuk menguatkan mereka dan memberi penjelasan bahwa TB bisa disembuhkan. Juga bahwa TB bukan penyakit memalukan. Diharapkan  kemudian bisa membujuk penderita TB untuk memeriksakan diri dan berobat.


Kenali Tersangka Penderita TB


Berikut adalah gejala umum TB yang dapat dijadikan acuan dalam menemukan penderita TB, antara lain:
  1. Panas badan atau demam berkepanjangan yang sulit sembuh walau diobati dengan penurun panas. Biasanya suhu tubuh berkisar 38-39 derajat celcius, dan rata-rata stabil pada 38 derajat celcius. Demam terutama pada sore dan malam hari.
  2. Batuk berkepanjangan, lebih dari 14 hari. Pada tingkat lanjut disertai sesak napas dan nyeri dada, bahkan batuk berdarah karena terjadinya luka pada saluran pernapasan.
  3. Nafsu makan berkurang sehingga berat badan turun. 
  4. Penderita tampak kurus, lesu dan tak bergairah.
  5. Terdapat pembengkakan kelenjar getah bening, ditandai dengan adanya tonjolan-tonjolan di sekitar leher dan pundak.
  6. Diare kronik. Walau tidak tergolong berat tapi terus menerus dan tak bisa diobati dengan obat biasa.
  7. Air seni keruh pada penderita TB tingkat lanjut.



Tidak semua penderita TB menunjukkan gejala tersebut tergantung pada ketahanan tubuh masing-masing. Ada yang hanya menunjukkan sebagian gejala dengan intensitas samar-samar.

Gejala TB pada anak berbeda daripada orang dewasa. Anak-anak penderita TB jarang menunjukkan gejala batuk. Hal ini dikarenakan tingkat kekebalan anak masih rendah sehingga baksil TB tidak hanya bersarang di paru, melainkan menyebar ke berbagai organ tubuh. TB pada anak dikenal dengan nama sesuai organ yang terserang antara lain TB tulang, TB hati dan limfa, TB selaput otak atau meningitis.

Ada beberapa pengalaman saya dalam melihat gejala penderita TB.

Kasus 1. 
Penting bagi orangtua memperhatikan kecukupan berat badan anak. Beberapa obrolan dengan ibu-ibu di ruang tunggu di rumah sakit adalah tentang anak-anaknya yang terindikasi TB dilihat dari berat badannya kurang. Setelah pemeriksaan, dokter menyatakan positif TB.

Dari situ saya belajar. Saat putri saya berusia 2 tahun, nafsu makannya kurang. Berat badannya sangat lambat dibanding pertambahan bulan-bulan sebelumnya. Anak saya cukup sering batuk pilek. Khawatir terkena TB saya memeriksakannya ke dokter. Setelah melakukan sejumlah pemeriksaan yaitu tes darah, rontgen dan tes mantoux, dokter menyatakan NEGATIF. Alhamdulillah. Saya telah waspada TB.

Rupanya anak saya mengalami gangguan pencernaan sehingga enggan makan dan hal itu menurunkan daya tahan tubuhnya. Jika dibiarkan bisa berakibat pada infeksi-infeksi penyakit termasuk diantaranya TB. 

Dari sini saya berkesimpulan, pemenuhan gizi pada anak sangat penting. Anak boleh aktif, tapi bukan berarti pembenaran anak boleh kurus.   Banyak kita lihat anak kecil yang berat badannya kurang dari seharusnya (sesuai standar Kartu Menuju Sehat). Sebagian orangtua mengkhawatirkan dugaan ke arah TB.  Sebagian lagi orangtua menganggap berat badan kurang dikarenakan anak aktif.

Anak kurus, aktif ataupun tidak perlu diperiksa lebih lanjut. Keaktifan anak bukan berarti dia terbebas dari dugaan TB. Anak aktif karena memang usia anak-anak mempunyai energibyang sangat besar untuk bergerak


Kasus 2.
Saya mendapati seorang rekan kantor yang berat badannya kurus sejak lama. Orangnya aktif. Akhir-akhir ini mengalami batuk dan sering merasa kurang enak badan.  Saat saya perhatikan, terlihat beberapa tonjolan kelenjar di sekitar leher.  Awalnya saya ragu memintanya memeriksakan diri ke klinik terdekat. Ternyata hanya masalah memulai pembicaraan, ketika saya sampaikan adanya kemungkinan TB, beliau tidak keberatan memeriksakan diri. Beliau terbukti positif TB dan telah berobat selama 6 bulan. Sekarang beliau sehat dan tubuhnya sedikit lebih berisi.



Kenali lingkungan berpotensi TB


Tak hanya mengenali gejala penderita TB, untuk menemukan penderita TB bisa dilakukan dengan mengenali lingkungannya. 

Baksil TB berkembang pada lingkungan yang lembab, kotor dan populasi yang padat. Karena itu perlu upaya menyadarkan masyarakat agar menjada kebersihan lingkungan, membuka jendela agar sirkulasi udara baik dan cukup cahaya.  Lingkungan yang sehat tidak hanya menekan baksil tetapi juga meningkatkan daya tahan manusia yang menghuninya sehingga tidak mudah tertular TB.

Lingkungan yang perlu diwaspadai contohnya adalah pasar tradisional yang lembab dan kotor, pasar modern dengan sirkulasi udara ber AC dan ruang tertutup, asrama dengan jumlah penghuni ramai dalam satu kamar, tempat penitipan anak yang kurang sanitasinya, dan ruang kelas yang kurang cahaya dan sirkulasi udara.

Tugas detektif TB adalah memberikan pengertian pentingnya lingkungan yang sehat. Tugas ini dapat dilakukan dalam lingkup kecil disekitarnya, yaitu keluarga, sekolah atau kantor.

Kenali Orang dengan Laten TB

Sebelum TB benar-benar menginfeksi, menjaga kesehatan adalah cara menangkal penyakit TB berkembang.  Ada orang-orang yang sesungguhnya dalam tubuhnya terdapat baksil TB namun karena kondisi kesehatannya prima, maka gejala-gejala TB tidak muncul. Kejadian seperti ini disebut sebagai TB laten, yaitu keadaan seseorang yang terinfeksi TB namun tidak didapatkan bukti klinis maupun mikrobiologis sakit TB. 

Menemukan dan merawat penderita TB laten merupakan salah satu tantangan pemberantasan TB.  Pada 10%  penerita TB laten diketahui berkembang menjadi TB aktif. Seseorang dengan TB laten, beresiko menjadi TB Aktif apabila mengalami penurunan kebugaran tubuhnya sehingga gejala klinis muncul.  Satu-satunya metode yang digunakan secara luas untuk menilai infeksi TB laten adalah uji tuberkulin atau sering dikenal sebagai tes mantoux. 

Dugaan bahwa seseorang menderita TB laten adalah apabila dalam lingkungan terdekatnya terdapat penderita TB aktif. Keluarga adalah lingkup terkecil yang harus diawasi. Jika ada anggota keluarga kena TB, seluruh keluarganya harus diperiksa juga.

Bahaya laten TB juga terdapat pada bayi-bayi yang tidak diberi imunisasi BCG.  Bayi yang masih mengkonsumsi ASI ekslusif ketahanan tubuhnya masih baik. Setelah mengenal makanan tambahan dan bergerak aktif mengenal lingkungan yang lebih luas, kemungkinan terinfeksi TB menjadi lebih besar. Karena itu penting untuk mengingatkan para ibu untuk memberikan imunisasi BCG kepada bayinya.



Pemeriksaan TB sebagai langkah lanjutan 

Selanjutnya, antar atau anjurkan tersangka TB ke dokter atau Puskesmas. Diagnosa akan dilakukan oleh dokter atau tenaga medis. Pada orang dengan gejala TB akan dilakukan pemeriksaan darah, pengambilan sampel dahak, pemeriksaan rontgen paru dan tes mantoux.

Kendala menganjurkan pasien untuk periksa.


Tidak mudah menyarankan seorang tersangka TB untuk memeriksakan diri. Beberapa alasan yang sering dikemukakan adalah malu menerima kenyataan dirinya terkena TB, ketiadaan biaya, rasa malas, menganggap remeh penyakit karena gejala kurang terlihat dan kurangnya pengetahuan tentang bahaya TB.

Sebagai solusi, yang paling penting adalah edukasi masyarakat tentang apa dan bagaimana penyakit TB. Edukasi bisa dilakukan melalui siaran radio, televisi atau internet dengan bahasa yang mudah. Diharapkan dengan cara ini lebih banyak masyarakat yang sadar pentingnya peduli dan memeriksakan diri.


Untuk mengatasi keengganan memeriksa dikarenakan faktor biaya, perlu diinformasikan secara resmi dan luas bahwa pengobatan TB dapat dilakukan secara gratis di Puskesmas terdekat.

Sampai disini tugas sebagai Detektif TB sudah tunai. Masih ada peran berikutnya menanti. Yaitu menjadi pengawas minum obat. Soal pengobatan TB akan saya tuliskan pada seri-seri berikutnya.


[Bersambung]


Tulisan ini diikutkan dalam Seri I Lomba Blog "Temukan dan Sembuhkan Pasien TB" 




Referensi :
www.tbindonesia.or.id
www.stoptbindonesia.org
www.depkes.go.id
www.pppl.kemkes.go.id
www.cdc.gov
www.who.org
www.kncvtbc.org
www.fhi.org 
http://www.info.gov.hk/tb_chest/contents/c126.htm
http://www.menkokesra.go.id/content/hari-tb-sedunia-ini-permasalahan-tuberkulosis-di-indonesia
http://health.kompas.com/read/2013/05/30/14350652/Tiap.Jam.175.Orang.Meninggal.karena.TB )
http://m.okezone.com/read/2014/01/27/482/932121/indonesia-bahas-tuberkulosis-di-who

2 komentar: