Sabtu, 31 Mei 2014

Tantangan Besar Infeksi Gabungan HIV -TB


Maaf, ini adalah kabar buruk bagi peyandang HIV 
(human immunodeficiency syndrome). Orang yang hidup dengan HIV mempunyai resiko 30 kali lebih mungkin terinfeksi TB dibandingkan orang tanpa HIV. 

Proses terjadinya Ko-Infeksi 
TB-HIV.

Secara singkat saya jelaskan kronologinya.
HIV menyerang sistem kekebalan tubuh melalui pertukaran darah yang terjadi karena gesekan atau luka antara penderita dengan orang baru.  Seharusnya, penyakit yang disebabkan virus bisa sembuh dengan sendirinya jika sistem imun tubuh baik. Virus akan tetap berada dalam tubuh namun tidak menimbulkan gejala sakit apabila kondisi kesehatan baik. Masalahnya, pada penderita HIV, justru sistem imunnya yang dirusak. Sehingga bisa dikatakan HIV tidak dapat disembuhkan, hanya bisa support kondisi penderitanya.
Sementara itu, raksasa penyakit lainnya bernama TB sangat mudah menular melalui udara kepada siapapun. Karena orang dengan HIV mengalami penurunan imunitas, tak pelak lagi TB sangat mudah menyerang penderita HIV dan kedua penyakit tersebut menyerang bersama-sama. Infeksi gabungan ini dikenal dengan istilah Ko-Infeksi.

Pintu masuk koinfeksi HIV-TB bisa dari HIV maupun TB. Artinya, seseorang yang terinfeksi HIV baru kemudian terpapar TB dan sebaliknya.  Namun terkait cara penularannya TB lebih mudah dibanding HIV, maka lebih banyak yang terjadi sesuai proses pertama. 

TB menular melalui paparan konstan dengan orang yang terinfeksi, seperti orang yang berada pada satu tempat kerja atau tempat tinggal. 
baksil menular di tempat-tempat dengan ventilasi yang buruk atau kondisi yang penuh sesak. 

Jika seseorang positif HIV, sebaiknya segera mempertimbangkan apakah aman untuk terus bekerja di tempat-tempat seperti: rumah sakit, klinik, atau dokter atau penampungan bagi tunawisma.

HIV dan Jenis Infeksi TB.

Ada dua jenis infeksi TB, laten dan aktif. Jika seseorang memiliki infeksi laten, kuman tetap dalam tubuhnya, tetapi tidak menimbulkan gejala. Jika sistem kekebalan tubuh lemah, kuman dapat berkembang biak dan menjadi aktif, dan memunculkan gejala dan penyakit.


Penyakit akan aktif menginfeksi jika seseorang memiliki HIV, terutama jika jumlah CD4 di bawah 200. Apa itu CD4 ? CD4 adalah sel sistem kekebalan tubuh. Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko TB aktif adalah kehamilan, kurang gizi, peminum alkohol, dan pengguna narkoba. Nah loh, jadi wajib jauhi alkohol dan narkoba!


Mendiagnosis TB dengan HIV.

Segera setelah tahu bahwa terkena HIV, pasien mendapatkan tes kulit tuberkulin/ mantoux. Seseorang HIV-positif harus diuji untuk TB untuk membantu mengontrol dan pengobatan, juga untuk mencegah kerusakan yang lebih besar sistem kekebalan tubuhnya.



Mengobati TB pada pasien dengan  HIV.

Pasien TB bisa diobati segera dan menyelesaikan proses terapi sesuai petunjuk dokter.  Obat untuk HIV dan obat-obatan untuk TB dapat berinteraksi satu sama lain. Dokter akan menentukan kombinasi obat yang terbaik bagi pasien. Selama jumlah CD4 tidak terlalu rendah, dokter anda dapat merekomendasikan mengobati tuberkulosis sebelum menempatkan memberikan antiretroviral untuk HIV. Pasien diminta dikarantina selama beberapa minggu sehingga tidak menyebarkan penyakit. Setelah sekitar tiga minggu pengobatan, pasien tidak akan dapat menularkan penyakit lagi karena biasanya batuk reda.

TB-HIV pada Ibu Hamil dan Anak.


Bayi yang dilahirkan dengan HIV-positif beresiko tertular penyakit TB justru dari imunisasi.  Karena itu penting untuk mengetahui ada tidaknya infeksi HIV pada bayi yang ibunya mengidap HIV. 

Dokter harus menyadari dan bertindak. Sekali seseorang telah teridentifikasi sebagai pasien HIV-positif, dan diketahui telah menerima BCG, maka dapat memulai pengobatan antiretroviral dari awal untuk mencegah dampak negatif. Komite Keamanan Vaksin WHO pada merekomendasikan untuk penundaan BCG vaksinasi sampai anak berusia enam minggu.


Penularan vertikal.

Penularan TB dari ibu-ke-bayi sejak dalam rahim, dengan menyebarkan melalui darah di tali pusat atau dengan menelan cairan ketuban yang terinfeksi. Selama persalinan, penyakit juga dapat menyebar dari ibu ke bayi melalui kontak dengan cairan atau sekret genital.

Mendiagnosis TB pada kehamilan tidak mudah karena banyak gejala tertutup oleh gejala-gejala kehamilan seperti mudah lelah dan penurunan berat badan tidak terlihat karena kenaikan berat badan kehamilan.

Jumlah tertinggi infeksi HIV dan TB terjadi pada wanita usia subur (15-49 tahun). Ko-infeksi selama kehamilan dan setelah melahirkan sering mengakibatkan kematian bayi dan ibu.

Untuk mengatasi TB terkait HIV WHO merekomendasikan kegiatan TB-HIV kolaboratif. Informasi lengkap tentang kegiatan kolaborasi TB-HIV ini bisa dilihat pada link http://www.tbindonesia.or.id/tb-hiv/

Kita berharap banyak kegiatan kolaborasi ini dapat mengurangi beban masyarakat pada kedua penyakit tersebut dan koinfeksinya. Mengutip kata-kata Nelson Mandela "Kita tidak dapat memenangkan pertempuran melawan AIDS jika kita tidak melawan TB juga".



[Bersambung]

Tulisan ini diikutkan dalam Seri V Lomba Blog "Temukan dan Sembuhkan Pasien TB" 

Referensi :
www.tbindonesia.or.id
www.stoptbindonesia.org
www.depkes.go.id
www.pppl.kemkes.go.id
www.cdc.gov
www.who.org
kncv.or.id

www.fhi.org
www.aidsmap.com
www.irinnews.org


4 komentar:

  1. TB - HIV pada ibu hamil dan anak....duh gak kebayang....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi ini kenyataan lho...tantangan besar yg harus dihadapi

      Hapus
  2. duet maut ini ya mbak, harus egera disembuhkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah kalau bisa jangan sampai tersenggol sedikitpun. Senggolannya maut...euy..

      Hapus