Minggu, 18 Mei 2014

TB Resistan Obat, Penanganan Lebih Berat


Inilah mengapa dalam tulisan-tulisan sebelumnya saya sebutkan bahwa pengobatan Tb wajib secara tuntas, yaitu agar tidak terjadi Tb resistan obat. Minum obat  Tb  tidak diperbolehkan terputus satu hari pun selama 6 bulan. Jika pengobatan lalai atau terputus sementara masih ada baksil Tb yang masih hidup, maka dari baksil Tb tersebut memicu terbentuknya strain baru yang kebal dan lebih kuat. Akibatnya pengobatan yang telah dilakukan tidak efektif sehingga terpaksa diulang dari awal.


Tb resistan obat disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap isoniazid (H) dan rifampisin (R). Karena resisten pada lebih dari satu jenis obat dikenal juga dengan istilah Tb MDR (multi drug resistance). 

Ada 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru dan kasus telah diobati sebelumnya. Resistensi primer obat Tb yaitu apabila pasien terinfeksi galur M Tb yang telah resisten obat. Jika selama perjalanan terapi timbul resistensi obat lagi, maka disebut dengan resistensi sekunder atau Tb XDR (Extensively drug resistance).

Mekanisme Resistensi.

Resistensi disebabkan oleh mutasi genetik sehingga obat tidak efektif melawan basil mutan. Resisten lebih satu obat jarang disebabkan faktor genetik dan biasanya dikarenakan penggunaan obat yang tidak memenuhi syarat. Sebelum  penggunaan obat sebaiknya dipastikan baksil M Tb sensitif terhadap obat yang akan diberikan.

Populasi galur M Tb resisten dalam jumlah kecil dapat diobati dengan lebih mudah. Akan tetapi, terapi Tb yang tidak sesuai justru menyebabkan proliferasi dan meningkatkan populasi galur resisten obat. Bahayanya, penularan galur resisten obat pada sebuah lingkungan penduduk juga merupakan sumber kasus resistensi obat baru. Meningkatnya infeksi Tb bersama HIV mempercepat infeksi laten Tb  MDR  menjadi  
penyakit  dan meningkat penularannya. 

Banyak faktor penyebab Tb MDR, terutama disebabkan ketidakpatuhan pasien meminum obat.  Agar pengobatan berjalan efektif, dikembangkan metode DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course), yaitu pengawasan minum obat yang dilakukan oleh orang terdekat pasien. Pengawas minum obat ini mendapatkan pembimbingan tentang aturan minum obat dan menjaga pasien tidak lalai.  Sistem DOTS ini sudah dilakukan di 95% Puskesmas dan 30% Rumah Sakit. 

Diagnosis dan Pengobatan.

Langkah awal mendiagnosis resisten obat Tb adalah mengenal pasien seperti halnya mengenali pasien Tb baru.  Tandanya adalah pasien yang telah berobat tidak mengalami perbaikan kondisi setelah 1-2 bulan pengobatan.  Sebaiknya segera dilakukan uji laboratorium dan tes dahak. Penanda terpenting resistensi obat adalah riwayat terapi Tb sebelumnya, kemajuan klinis, radiologi, dan asal pasien dari daerah insiden tinggi resisten obat. 


Obat Tb kasus baru (lini pertama) adalah INH, Rifampisin, etambutol, streptomisin dan pirazinamid. Pada Tb MDR pasien resistan obat yg paling potensial yaitu INH dan Rifampisin. Kemudian penanganan kepada pasien Tb MDR akan diberikan obat  golongan fluorokuinolon, kanamisin, amikasin atau kapreomisin.  Pengobatan  Tb  MDR  lebih berat. Dibutuhkan waktu 2 tahun agar benar-benar tuntas dan dengan obat yang 100 kali lebih mahal dibandingkan pengobatan tahap satu.

Apabila terjadi resistensi obat lini kedua ini, maka terjadi Tb XDR. Tentunya pengobatan akan lebih sulit, rumit dan mahal.  Bukan menakuti-nakuti, ini adalah fakta yang terjadi pada pasien yang lalai meminum obat lini pertama.  Kunci pencegahan tb resistan obat adalah dengan mendiagnosis secara dini setiap pasien terduga. 

Prevalensi Tb di Indonesia tahun 2006 adalah 253/100.000 penduduk dengan angka kematian 38/100.000 penduduk. Diketahui 2% dari kasus baru adalah Tb MDR (Multi Drug resistant),  dan 19% dari Tb kasus lama didapatkan Tb MDR.



Kasus Tb resistan obat adalah satu batu sandungan program kesehatan dalam pengendalian Tb. Pengobatan pasien Tb MDR lebih sulit, mahal, efek samping  lebih banyak dan angka kesembuhannya relatif rendah. Parahnya lagi, pasien Tb MDR dapat menularkan baksil Tb yang lebih kuat pada orang di sekitarnya.

Beberapa negara melaporkan keberhasilan pengobatan sebesar 50-60 % pada pasien tb XDR tergantung dari seberapa berat penyakitnya. Pasien Tb resistan obat masih punya harapan sembuh asalkan patuh berobat dan disiplin ketat. Jangan pernah berhenti berharap untuk sembuh.

[Bersambung]

Tulisan ini diikutkan dalam Seri IV Lomba Blog "Temukan dan Sembuhkan Pasien TB" 

Referensi :
www.tbindonesia.or.id
www.stoptbindonesia.org
www.depkes.go.id
www.pppl.kemkes.go.id
www.cdc.gov
www.who.org
kncv.or.id

www.fhi.org
www.ppti.info

12 komentar:

  1. yuk sembuhkan TB supaya ga ada lagi TB di Indonesia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk...tb bisa mengancam siapapun tanpa pandang bulu

      Hapus
  2. Oh tidak ada kata-kata galur, mutasi, gen sama proliferasi berat berat hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau berat pembaca pusing. Lagipula nggak kompeten membahas ranah ilmiah

      Hapus
  3. ilustrasinya bagus mak.. semoga sukses ya./

    BalasHapus
  4. walaupun berat asal disiplin bisa sembuh ya mbak

    BalasHapus
  5. yuk ah yang terkena TB harus disiplin :)

    BalasHapus
  6. Maaaak....bersedia melanjutkan tongkat estafet LiebsterAward yaaa...tq
    :-)

    http://www.putrimadona.com/2014/05/liebster-award-dariku-untuk-mu.html

    BalasHapus