Sabtu, 28 Oktober 2006

Breastfeeding Father

Cerita ini dimuat di Majalah Ayahbunda no 22/1 November 2006 rubrik Ayah dan buah hati

Breastfeeding Father

Sejak anak pertama kami lahir (Larasati, 13 bulan), kami bertekad untuk memberikan ASI hingga anakku berumur 2 tahun. Kami tahu bahwa ASI adalah makanan terbaik bayi dan bayi yang diberi ASI mempunyai potensi memiliki IQ dan EQ delapan kali lebih tinggi daripada tidak diberi ASI. Dengan tujuan itu, berbagai cara kami lakukan agar anakku mendapatkan ASI yang berkualitas, diantaranya dengan menjaga kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi istriku. Akupun berusaha selalu menciptakan suasana menyenangkan agar istriku relaks dan ASI nya lancar. Semua tentang manajemen laktasi kami pelajari baik dari buku maupun internet.

Usaha kami tidak sia-sia. Aku bersyukur karena ASI istriku melimpah. Bahkan saking derasnya, ketika anakku menyusu payudara sebelah kiri, payudara yang kanan ikut mengeluarkan ASI sama derasnya, begitupun sebaliknya. Kami bahagia, meskipun istriku harus kewalahan karena bajunya selalu basah setiap kali menyusui.

Melihat keadaan ini aku jadi punya ide. Sebisa mungkin aku tidak ingin menyia-nyiakan ASI yang mengalir itu. Idenya begini : sementara anakku menyusu, aku menampung ASI yang mengalir dari payudara yang sebelah. ASI yang tertampung dalam botol susu dapat disimpan di kulkas dalam waktu lama. Ketika istriku sedang bekerja, ASI yang disimpan dapat diberikan pada anakku sebagai pengganti susu formula. Jadi kami tidak perlu beli susu formula lagi. Selain dapat menghemat, cara ini gampang dilakukan karena tidak perlu repot menyiapkan dan membersihkan pompa pemerah susu, cukup menyediakan botol penampung. Istriku juga tidak perlu merasakan payudaranya sakit ketika dipompa karena ASI memancar dengan sendirinya.

Kegiatan menampung ASI ini kami lakukan pada sore dan malam hari. Setiap kali anakku menyusu, aku segera mencari botol penampung dan mengikuti proses menyusui hingga selesai. Aku bangga, walaupun tidak menyusui langsung, tapi ikut terlibat dalam kegiatan yang terbukti bisa mendekatkan ibu dan anak, juga anak dan ayah. Senangnya melihat anakku menyusu sambil memandangi kami. Kegiatan menyusui menjadi hal yang kutunggu-tunggu. Anakku akhirnya mendapatkan ASI ekslusif hingga 6 bulan dan istriku tetap dapat berkarir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar