Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

ONE STOP SERVICE POS INDONESIA

(Radar Bogor, 12 Nov 2011) Oleh : Murtiyarini Sejak berdirinya, Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone), kemudian menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel), pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero). Dalam usianya lebih dari 2,5 abad, tepatnya 265 tahun pada 26 Agustus 2011, PT.Pos Indonesia (Persero) dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan paradigma komunikasi dan pengiriman. Dua dekade terakhir, internet dan seluler telah mengguncang dunia telekomunikasi dan tentu saja sangat berpengaruh pada Pos Indonesia dengan model komunikasi surat menyurat. Untuk surat atau berkas penting yang harus dikirimkan dalam bentuk fisik, terdapat banyak jasa pengiriman yang menjanjikan ketepatan waktu, jangk

Memantapkan Bahasa Indonesia Sejak Usia Dini

Oleh : Murtiyarini Saya adalah orang suku Jawa dan besar di Jawa Timur. Tapi, bisa dibilang saya lebih leluasa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Maaf, ini adalah pengecualian untuk saya sendiri, seorang Jawa yang hanya bisa menggunakan bahasa Jawa “ ngoko (kasar)”. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya terbiasa menggunakan bahasa Jawa “ ngoko ” untuk berkomunikasi dengan orangtua. Lantas karena kaku berbahasa Jawa “ kromo (halus)” maka saya sering menggunakan bahasa Indonesia pada orang-orang yang lebih tua, misalnya kepada guru. Bagaimana dengan bahasa Indonesia anak-anak saya ? Saya beruntung, suami saya berasal dari suku Melayu Sumatera. Dalam percakapan sehari-hari kami menggunakan bahasa Indonesia . Anak-anak kami pun juga otomatis berbahasa Indonesia dari kecil. Namun ada beberapa dialek yang sulit dihilangkan dan masih membawa bahasa kedaerahan masing-masing. Saya biasa menggunakan kata “tak” untuk mengawali kata kerja, misalnya “nanti tak jemput ya

Menteri Keuangan Keluarga (Majalah Parents)

Empat Ibu berikut berbagi pengalamannya sebagai "Menteri Keuangan Keluarga". Tips nya dimuat di Majalah Parents Indonesia Edisi November 2011 Testimoni bisa dikirim ke editorial@parentsindonesia.com dengan melihat tema setiap bulannya di majalah atau di facebook Majalah Parents Indonesia.

Waktunya Mengerjakan PR, Sayang (Majalah Parenting Indonesia)

(Testimoni yang dimuat di Majalah Parenting , Edisi November 2011) Memasuki kelas 1 SD, saat ini Cinta berusia 6 tahun, itu artinya curi start 1 tahun dibandingkan saya dulu yang masuk SD umur 7 tahun. Selain masuk SD dengan usia lebih muda, beban kurikulum anak sekarang jauh lebih berat dibandingkan era 1980-an. Pemilihan SD untuk Cinta berdasarkan keamanan lingkungan sekolah, bangunan fisik yang kondusif, guru-guru yang ramah, jam belajar yang masih bisa diterima (jam 8-14.00 senin-jumat), dan metode mengajar yang menyenangkan. Akhirnya, pilihan jatuh ke SD Cipta Cendikia, sebuah SD swasta nasional. Dan berkenalanlah Cinta dengan PR setiap weekend . Hanya 2 lembar worksheet , kadang matematika, kadang bahasa Inggris, mandarin atau sains. Berganti-ganti setiap minggunya. Plus satu PR tetap yaitu menulis halus (menulis anggun, menurut istilah sekarang). PR yang sedikit itu bisa berarti banyak lho buat Cinta. Mengerjakannya satu kata trus istirahat, satu soal trus ngobrol dulu