Langsung ke konten utama

Postingan

Jalan Malam di Khaosan Road. Antara pijat berjamaah, tatto dan ikan bakar.

Malam kedua di Bangkok (11 November 2018). Walaupun siangnya kami sudah gempor menyusuri permukaan Chatuchak Weekend Market, malamnya kami tak ingin melewatkan waktu tanpa kemana-mana. Pilihannya, yang dekat-dekat saja dari tempat kami menginap di Samsen Road, yaitu ada satu kawasan yang sangat popular, Khaosan Road . Ya, selepas magrib kami berjalan kaki 500 meter ke Khaosan Road. Jalan ini tidak terlalu panjang. Juga tidak terlalu lebar. Tidak seberapa dibanding Malioboro, Yogya. Namun bule-nya jauuuuuh lebih banyak dari Malioboro, hehehe. Why? whyyyy? Jam segitu di Khaosan Road pedagang-pedagang baru 'buka lapak'. Di kanan kiri jalan banyak rumah-rumah pijat. Nggak tanggung-tanggung, kasur pijatnya digelar berjajar sampai ke pinggir jalan. Semakin malam semakin banyak yang pijat 'berjamaah' di sini. Seandainya enggak ingat malu, enak banget bisa bergabung bersama ikut dipijat. Pijat aja kok, enggak macam-macam. Yang memijat juga jenis kelaminnya sama dengan yang
Postingan terbaru

Danone Festival Isi Piringku

Stunting? Ketika mendengar istilah ini yang terbayang adalah pertumbuhan lambat atau gagal tumbuh tinggi pada anak-anak, sehingga hingga dewasa tinggi badannya masih di bawah rata-rata. Di Indonesia, angka stunting masih cukup tinggi. Karena itu, penting sekali untuk pemenuhan gizi seimbang terutama pada anak-anak usia dini (PAUD) dimana sedang tumbuh pesat. Persoalannya, anak usia dini kebanyakan masih picky eater dan tidak mengerti pentingnya nutrisi seimbang. Jadi tanggung jawab siapa dong? Tentu saja pemenuhan gizi seimbang pada anak-anak ini menjadi tanggung jawab orang-orang dewasa di sekitarnya, yaitu orang tua dan keluarga inti, guru, dokter dan nutritionist. Cegah Stunting- Pendekatan Kesehatan dan Pendidikan Acara dibuka oleh Vera Sugijanto selaku VP General Secretary Danone Indonesia. Tantangan penerpan gizi seimbang semakin berat terutama dalam masa pembelajaran jarak jauh (PJJ). Nah, ibu-ibu pasti pada mengalami yang namanya anak tidak tertib jam makannya, begitupun tidak

Let’s Read, Mencukupi Hak Anak melalui Cerita Bergambar

Selama belajar dari rumah, beberapa kali Asa (10 tahun) diberi tugas membuat cerita bergambar, berupa poster atau komik.  Dia suka sekali tugas sejenis ini, karena memberi kesempatan buat dirinya berekspresi melalui tulisan dan gambar.  Sejak kecil, Asa memang menyukai menggambar di kertas maupun digital. Dia mencoba berbagai karakter gambar dengan cara belajar dari berbagai contoh dari buku maupun internet.  Sebagai bentuk dukungan atas minatnya, saya membelikannya buku-buku cerita bergambar dan aplikasi digital buku bergambar. Karena saya sadar, adalah hak anak untuk mendapatkan informasi , pendidikan dan mengembangkan kreatifitasnya. Jadi kalau anak bertanya, itu adalah haknya. Kewajiban orangtua memberikan jawaban yang benar sesuai usianya, bukan dibohongi. Anak itu juga kritis, nanya ini itu tentang apa saja yang dilihatnya dan dipikirkanya. Anak berhak untuk berkembang. Salah satu bentuk perkembangannya adalah memiliki pengetahuan akan dunia dan mengembangkan kreatifitas dari dal

Scarlett Whitening Body Care, My First Impression and Review

Akhir-akhir ini di timeline instagram saya wara-wiri review produk body care berwarna-warni ceria, namanya Scarlett Whitening . Sedikit penasaran, produknya seperti apa sih? Semula saya kira produk dari luar negeri, apalagi setelah kepoin harganya, ternyata enggak "murahan". Scarlett Whitening ini adalah produk yang dikreasi oleh artis Felycia Angelista , produk karya anak negeri. Tertarik? Terus terang iya. Makin penasaran karena setelah nonton dan baca reviewnya bagus.  Sebenarnya, bagi saya yang berkulit (cukup) cerah, memakai produk whitening bukan bertujuan untuk membuat kulit lebih cerah lagi atau malah transparan, enggak laaah :D Ketika bicara soal ' whitening ' dalam body care , BUKAN berarti mengubah seseorang berkulit gelap jadi ujug-ujug terang yaa, bukan begitu. Whitening yang dimaksud disini yaitu mengembalikan kecerahan kulit pada warna sebagaimana harusnya kulit sehatmu.  Nah, ini yang menjadi konsen saya belakangan ini, bahwa kulit cerah saya ini mulai

Merawat Kulit Wajah Keluarga

"AAAHHH," saya menjerit ketika melihat setitik butiran merah 'calon jerawat' di wajah Asa. Sekaligus teringatkan bahwa Asa sudah memasuki usia pra remaja. Tahun ini, si bungsu ini sudah 10 tahun, sebentar lagi masuk masa pubertas. Mengingat pengalaman yang dulu-dulu betapa sulitnya mengobati jerawat, maka saya tekatkan "Jerawat ini harus dicegah. Harus dicegah!" Dalam satu keluarga, ada problema kulit wajah yang berbeda-beda , tergantung jenis kelamin, usia, aktivitas dan ketelatenan merawat diri.  Pertama-tama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi permasalahan kulit dan penyebabnya apa.  Namun, walau berbeda problema, solusinya hampir sama, dan  sabun wajahnya cukup satu saja untuk sekeluarga.  Begini gambaran kondisi kulit wajah di keluarga saya: Ayah Ari, usia 43 tahun.   Kulit wajahnya sawo matang, pori-pori kecil, kering. Hampir tidak pernah jerawatan. Karena faktor usia, sudah mulai tampak keriput di sekitar mata dan bintik hitam mirip tahi la

Gizi Seimbang Selama Sekolah dan Bekerja dari Rumah

Sebulan pertama, Sang Ibu senang bisa bekerja dari rumah. Kesempatan beberes rumah dan memasak untuk keluarga lebih banyak. Sementara itu Sang Anak senang karena bisa belajar dari rumah sambil ditemani ibu. Terlebih bisa makan masakan ibu setiap hari, pagi siang sore. Sejenak, di rumah saja terasa seperti hari libur yang menyenangkan. Bulan kedua, ketiga... dan sekarang sudah bulan ketujuh. Bosan pun mulai melanda. Situasi pandemi belum mereda. Kita masih harus sekolah dan bekerja dari rumah. Sang Ibu mulai kehabisan ide menu harian, juga ketakutan keluarga sudah mulai bosan akan masakannya. Sementara itu membagi pikiran antara urusan rumah, sekolah anak dan kantor tidak mudah. Membuat kreativitas memasak semakin menguap. Anak pun mulai ogah-ogahan makan. Di sisi lain, menghadapi pandemi ini dibutuhkan daya tahan tubuh yang baik melalui penerapan gizi seimbang dalam keluarga.  Apakah anda merasakan problema yang sama? Ya, kita tengah menghadapi tantangan kesehatan global yang mengharu

Melepas Kangen ke Cibinong City Mall

Benar apa yang dikatakan Dilan, rindu itu berat. Seberat itu kami menahan rindu pada Cibinong City Mall. Bagaimana kami, keluarga yang doyan banget nge-mall, bisa menahan diri tidak jalan-jalan ke mall selama masa pandemi COVID-19 ini. Mau sampai kapan menahan rindu? Setelah sekitar 6 bulan bersabar di rumah saja, tidak ke mall, akhirnya bulan ini kami melepas rindu ke Cibinong City Mall. Tentu saja karena memang ada keperluan yang sangat penting yang harus dibeli di sana. Kepentingan berikutnya, demi menjaga otak kami tetap waras, sehingga kami putuskan nge-mall secara singkat dan padat.  Hari itu bagi kami merupakan one fine day at Cibinong City Mall . Acara melepas kangen ini terasa sangat istimewa, selain karena sudah saking rindunya, ada hal-hal baru yang kita temui selama di Cibinong City Mall. Apa saja? Yuk simak cerita ini. Suasana Nge-mall di Era New Normal. Kita sedang menjalani era new normal, yang mana diharapkan aktifitas ekonomi bisa berjalan normal dengan adaptasi kebias