Selasa, 21 Oktober 2008

Menyiasati Residu Pestisida (Majalah Ayahbunda)


oleh : Murtiyarini (Naskah Asli artikel Tanpa Racun AB 21/16 Oktober 2008)

Jika produk organik sulit diperoleh, banyak cara menyiasati residu pestisida dalam buah dan sayur

Residu Pestisida pada Buah dan Sayur

Bukan rahasia lagi, banyak tanaman yang disemprot pestisida dalam proses budidayanya. Terlebih lagi pada tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran yang memang lebih rentan serangan hama dan penyakit. Efeknya, hampir semua buah dan sayur yang kita konsumsi menyimpan residu (sisa) pestisida antara lain dari bahan aktif abamektin, deltametrin, spinosad, diazinon, finitrothion, fenfoat dan khlorfyrifos.

Residu ini sudah banyak dilaporkan berbahaya bagi kesehatan apabila terakumulasi secara terus menerus dan dalam waktu panjang. Tinggi rendahnya residu dipengaruhi oleh jenis tanaman, jenis pestisida, dosis pestisida dan frekuensi penyemprotan serta kapan terakhir kali penyemprotan dilakukan sebelum panen.

Sebagian pestisida bersifat lokal, disemprotkan tanaman yang terserang hama. Hama akan mati setelah tubuhnya mengalami kontak langsung dengan zat racun tersebut. Sebagian lagi bersifat sistemik, masuk melalui tanah, air atau udara lalu menyebar ke seluruh jaringan tanaman mengikuti alur transportasi. Terakhir pestisida akan mengendap di daun atau bagian lain tanaman. Nah, serangga yang memakan tanaman ini akan keracunan dan mati. Ada pestisida yang mudah terurai (nonpersisten) sehingga kadarnya cepat berkurang, ada juga pestisida yang dapat bertahan lama di alam (persisten).

Petani yang sadar pentingnya keamanan pada hasil panen akan memilih pestisida yang nonpersisten, dan menyemprot dengan dosis tepat paling akhir 2 minggu sebelum panen. Tujuannya agar pestisida sudah terurai saat dipanen dan residunya minimal. Kenyataannya, di lapang sulit untuk benar-benar menerapkan hal itu, begitu juga sulit untuk memantaunya. Bisa saja petani baru menyemprotkan 2-3 hari sebelum panen. Bisa dibayangkan betapa racun-racun itu masih melekat pada tanaman yang dipetik. Siapa yang tidak khawatir akan adanya residu pestisida pada sayur dan buah? Apalagi ibu-ibu yang merasa bertanggung jawab pada menu keluarga. Begitupun ibu-ibu yang masih menyusui, mereka khawatir dalam ASInya akan terkandung pestisida.
Namun mengingat manfaatnya sebagai sumber vitamin, mineral dan serat, maka konsumsi buah dan sayur tidak boleh surut. Menyiasati residu pestisida Tanaman organik mulai banyak dilirik konsumen. Lepas dari keterbatasannya dalam hal pilihan citarasa, besaran buah dan tampilan yang tidak selalu mulus, buah dan sayur organik menjadi pilihan yang lebih baik.

Sayangnya, pertanian organik di Indonesia masih sedikit jumlahnya dan terbatas pada daerah-daerah tertentu sehingga ketersediaannya masih sangat kurang dan harganya lebih mahal. Belum banyak konsumen yang dapat menikmati buah dan sayur organik. Memang sebaiknya kita tahu asal-usul sayur dan buah yang akan kita beli. Namun tidak mudah bagi konsumen memperoleh informasi tentang sebuah komoditi, termasuk ada tidaknya residu pestisida. Apa boleh buat jika sayur dan buah organik sulit didapat, sayur dan buah ‘biasa’ pun tidak perlu dihindari. Dalam hal ini konsumenlah yang harus pandai-pandai mengolah sayur dan buah. Kehati-hatian kita sangat diperlukan !

Berikut adalah tips-tips mengurangi konsumsi buah dan sayur dengan residu pestisida

  • Mencuci dengan air mengalir dapat mengurangi 20-70 % residu pestisida yang menempel, tergantung jenis pestisidanya. Cucilah bagian-bagian tanaman dengan detil, misalnya pada lipatan-lipatan kubis, tangkai-tangkai bayam, serta gumpalan-gumpalan kuntum bunga kol dan brokoli. Ada kemungkinan pestisida masuk ke dalam celah-celah tersebut. Tidak disarankan mencuci menggunakan air diam (merendam) karena racun yang telah larut dapat menempel kembali pada sayur dan buah. Sayangnya, pestisida sistemik yang tersimpan dalam jaringan tanaman tidak dapat hilang hanya dengan pencucian.
  • Menggunakan sabun khusus saat mencuci dapat membantu mengurangi residu yang menempel, terutama jika pada kulit buah masih terdapat lilin atau minyak yang menjerap partikel pestisida. Setelah itu buah dan sayur harus dibilas dengan baik agar tidak ada sisa sabun yang tertinggal. Selain mengurangi residu, manfaat lain pencucian adalah membuang kotoran yang mungkin mengandung kuman, bakteri atau telur cacing.
  • Mengupas kulit buah efektif menurunkan sisa pestisida jika kulit tanaman tersebut mampu menghambat translokasi zat racun ke jaringan lainnya. Kupas kulit buah dengan pisau, jangan digigit dengan gigi. Tanaman umbi-umbian seperti kentang, bawang, dan ubi juga perlu dikupas karena pestisida dapat masuk melalui tanah.
  • Jangan segan membuang lapisan terluar dari sayuran yang berlapis-lapis seperti selada, kubis dan sawi. Bagian terluar ini paling banyak terpapar pestisida.
  • Merendam dengan air panas dapat menurunkan residu cukup besar, 38-97%. Hal ini karena terjadinya pelepasan dan penguraian pestisida ke dalam air dan uap air.
  • Merebus sayuran, seperti halnya merendam dengan air panas, dapat menurunkan residu pada sayuran jauh lebih rendah daripada bahan mentahnya, termasuk residu pestisida yang tersimpan dalam jaringan tanaman.
  • Variasi Menu Makan sayur dan buah secara bervariasi dengan mengganti menu setiap hari penting untuk saling mensubsidi sebagian nutrisi dan serat yang hilang dalam proses pencucian dan pengupasan. Juga disarankan membeli buah dan sayur dari sumber yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mengurangi paparan salah satu jenis pestisida tertentu dan mencegahnya terakumulasi dalam tubuh. Biasanya produk dari satu sumber yang sama menggunakan teknik budidaya yang sama, termasuk jenis pestisidanya.
Cermat memilih Jika memungkinkan pilih sayur dan buah yang berlabel. Tapi di pasar tradisional masih jarang dijumpai. Karena itu kita mesti cermat memilih, berikut tips nya:
  • Beli sayuran dan buah segar yang sedang dalam musimnya, dimana tidak membutuhkan penyimpanan dan distribusi yang panjang. Kadangkala, pestisida diaplikasikan di tempat penyimpanan untuk mencegah pembusukan buah oleh jamur dan bakteri, juga kerusakan yang disebabkan oleh hama gudang. Keuntungan lain dari membeli buah dan sayur yang sedang musim adalah harganya murah dan komoditinya lebih segar.
  • Hindari buah impor yang kulitnya terlalu mengkilat. Lapisan yang mengkilat ini adalah lapisan parafin (lilin) yang dimaksudkan untuk mengurangi penguapan sehingga buah tidak cepat keriput. Di negara asalnya, usai dipanen buah diberi lapisan parafin lalu disimpan dalam gudang. Buah didistribusikan berdasarkan urutan waktu panennya. Bisa jadi yang dilepas dulu ke pasar adalah buah hasil panen musim sebelumnya.
  • Waspadai bercak putih pada sayur dan buah karena mungkin saja merupakan sisa-sisa pestisida yang disemprotkan pada tanaman dan telah mengering.Sebenarnya, lebih baik memilih buah dan sayur yang sedikit berlubangatau robek. Ini menunjukkan bekas gigitan ulat/hama. Ada kemungkinan tanaman tersebut adalah produk organik, atau paling tidak hal itu menunjukkan pestisida terakhir diaplikasikan jauh hari sebelum dipanen. Pernyataan ini tidak selamanya benar karena sekarang ini banyak hama yang telah resisten terhadap pestisida.
  • Jika memungkinkan, pilih sayuran hidroponik. Cirinya tanaman hidroponik yaitu memiliki akar yang panjang. Biasanya tanaman ini dipelihara dalam rumah kaca tertutup sehingga jarang terserang hama dan mengurangi kemungkinan adanya aplikasi pestisida.
  • Menanam sendiri sayur dan buah menjadi alternatif yang baik. Beberapa tanaman dengan ukuran tidak terlalu besar mudah ditanam di dalam polybag dan cepat dapat dipetik. Bayam , seledri, kailan, sawi, selada, kemangi, kenikir dan terong dapat dipanen setelah umur 1-2 bulan, sedangkan cabai dan tomat dipanen umur 2-3 bulan. Pemetikan dapat dilakukan beberapa kali hingga habis masa produksinya. Tauge adalah sumber vitamin E yang paling mudah ditumbuhkan sendiri di rumah 
Jadi Bu, jangan ragu lagi menyediakan sayur dan buah dalam menu keluarga !
Belum ada data terpadu tentang besarnya kandungan residu pada masing-masing komoditi. Saat ini pendugaan didasarkan pada seringnya aplikasi petani di lapang. Sayuran dan buah dengan residu pestisida tinggi biasanya berdaging lembut, mudah diserang hama dan penyakit dan telah dibudiyakan skala luas sehingga cenderung menerima aplikasi pestisida lebih banyak. Residu pestisida kecil: Katuk, Genjer, Kemangi, Kangkung, Kenikir, Pakis, Daun Singkong, Daun Melinjo, Lengkeng lokal, Rambutan, Jambu air, Manggis, Duku, Durian, Nangka, Sirsak, Salak Residu pestisida tinggi: Brokoli,Kembang kol,Kubis, Selada,Kailan, Seledri, Bayam, Daun bawang, Buncis, Kacang Panjang, Cabe, Tomat, Ketimun,Pisang, Anggur, Stroberi, Apel, Peach, Pear
Tahukah anda :
- Meskipun residu pestisida pada apel tinggi, tetapi apel yang telah di jus residunya menurun drastis. Jus apel bagus untuk mensubsitusi apel nonorganik.
- Residu pada peach kalengan menurun drastis daripada peach segar. Proses pengalengan memerlukan pencucian yang kuat sehingga membuang residu pada kulit.( http://www.eartheasy.com/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar