Sabtu, 26 September 2009

ASI Menyelamatkan Anakku dari Pneumokokus (Juara I lomba menulis ASI-Selasi)


Sedari hamil, saya sadar betul manfaat ASI yang luar biasa. Saya pun terus memperbanyak membaca artikel tentang ASI dari buku, majalah dan internet. Saya kian paham pada teknik-teknik memperbanyak produksi ASI, juga bagaimana menyiasati pemberian ASI jika sang Ibu bekerja. Saya bertekat akan memberikan ASI ekslusif 6 bulan pada anak saya dan akan meneruskannya hingga 2 tahun.

Juli 2005 putri saya pun lahir. Saya menamainya Cinta. Saya tidak menemui banyak hambatan dalam menyusui Cinta di bulan-bulan pertama karena saya masih cuti. Tapi menjelang putri saya berusia 3 bulan, saya harus merelakan pembantu rumah tangga berhenti bekerja. Alternatif lain pun saya ambil, saya mendaftarkan Cinta pada Tempat Penitipan Anak (Child Daycare).

Di kantor saya juga memerah ASI sebanyak 2 kali. Saya membawa ASI pulang dan di rumah saya pindahkan ke frezer, untuk cadangan. Kadang kala rasa lelah dan stres datang karena urusan kantor dan urusan pekerjaan rumah yang banyak. Tapi saya harus menjaga perasaan saya sendiri agar tidak terlalu stress karena dapat mengurangi produksi ASI. Saya mencoba berpikir positif dan menyakinkan diri bahwa saya bisa.

Cinta tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Daya tahannya sangat bagus meskipun setiap hari dibawa naik turun kendaraan umum menuju Daycare. Meskipun sudah melewati masa ASI ekslusif 6 bulan, saya tetap menyusui Cinta. Saya sadar betul bahwa tubuhnya masih memerlukan Asi untuk menjaga dayatahannya. Apalagi bergaul dengan anak-anak kecil lain yang tidak jarang ada yang batuk, pilek atau gatal-gatal kulitnya. Bagaimana mungkin saya membatasi keinginannya bermain dengan teman-temannya? Karena itu saya membekali dirinya dengan ASI yang saya tahu khasiatnya luar biasa.

ASI tak hanya bagus untuk tubuh Cinta, tapi juga untuk jiwanya, dan juga jiwa saya. Kegiatan menyusui sangat kami nikmati berdua. Saat menyusui kami bertatapan mata, saling memegang , mengusap dan seringkali sambil bercanda melepas kerinduan. Berbagai posisi menyusu nyaman dilakukan Cinta. Dan dari ekspresinya saya yakin betul, menyusu adalah kegiatan yang paling disukainya.

Menyusui juga menolong disaat genting dan darurat, terutama saat Cinta sakit. Biasanya ketika sakit anak tak mau makan dan minum, hanya mau menyusu. Bisa dipahami, anak yang sedang sakit biasanya merasa takut dan ingin selalu dekat ibunya. Disinilah peran ASI dan menyusui bertambah besar, yaitu untuk memberikan ketenangan. Sayapun membuktikan keampuhan ASI disaat-saat Cinta sakit. Suatu hari di usia 20 bulan, Cinta mengalami demam tinggi. Hari ke tujuh, demam belum turun. Cinta tampak semakin kurus. Nafsu makannya turun. Beberapa kali muntah dan air yang keluar sangat panas. Saya terus menggendongnya dan menyusuinya. Cuma ASI yang bisa diterima Cinta. Saya memeluknya, membiarkan panas tubuhnya mengalir ke tubuh saya. Saya ingin mengurangi penderitaannya.

Setiap usai memberi obat penurun panas, saya selalu berharap suhunya akan kembali normal. Dengan terus mendekap Cinta dalam dada saya, saya berdoa tiada henti, memohon kesembuhan Cinta. ”ya Allah, sembukan anak saya. Saya sudah memberinya ASI, memberinya cinta dan kasih sayang..semoga apa yang telah saya berikan itu menjadikannya kuat..”

Di hari ke 10 Cinta masih demam. Setelah serangkaian pemeriksaan, Dokter menjelasankan bahawa Cinta terinfeksi bakteri pneumokokus. Infeksinya sudah menyebar ke seluruh tubuh, dan mengalami sepsis, yaitu kondisi dimana bebarapa fungsi organ terganggu. Kami lemas mendengarnya. Saya hanya bisa menangis, apalagi saya tahu kemungkinan terburuknya bisa menyerang otak, menyebabkan kelumpuhan dan kematian.

Selama di rumah sakit, saya terus menyusui Cinta. Saya ikut berbaring di tempat tidur Cinta. Saat perawat menganti jarum infus atau memberikan suntikan, saya terus berada disampingnya. Menenangkan dia dengan mengelusnya. Usai perawat meninggalkan kamar, saya menyusui Cinta lagi hingga tenang. Saya sendiri juga berusaha tenang agar produksi ASI tetap lancar.

Keajaiban yang kutunggu datang. Demam Cinta turun pada hari ke 14. Suhu tubuhnya sekarang 37ยบ C. Dokter meminta kami menunggu hingga 2 hari hingga suhu tubuhnya stabil, baru memperbolehkan Cinta pulang.

Alhamdulillah, anakku bagaikan terlahir kembali. Kami mengadakan syukuran bubur merah putih menyambut kehadiran Cinta di rumah. Cinta pulang dalam kondisi sehat sempurna. Ya Allah, ini berkat ASI....Ya berkat ASI..!. Anakku bertahan dari penyakit ganas dan mematikan. Bertahan dari demam selama 14 hari. Jika saya mengingat itu kembali, bulu kuduk saya masih merinding membayangkan masa-masa paling menegangkan dalam hidup saya.

Saya benar-benar merasakan manfaat ASI. Saya pun terus melanjutkan pemberian ASI hingga 2 tahun lebih. Kini Cinta berusia 4 tahun dan daya tahannya semakin bagus. Satu hal lagi yang terpenting, Cinta sangat menyayangi saya. Dia tumbuh menjadi anak berkepribadian lembut, penyayang dan tidak bandel. Saya rasa, ini karena ikatan yang kami jalin selama menyusui, terjalin hingga sekarang dan saya yakin akan terus terjalin sepanjang masa. Saya bangga telah membekalinya dengan ASI untuk kehidupannya.


(Didedikasikan untuk ibu yg sedang berusaha menyusui: yakinlah anda bisa!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar