Kamis, 21 Oktober 2010

Bump to birth : Transfusi Darah sebelum Induksi (Mother and Baby)



Karena anemia, Murtiyarini (Arin) harus menjalani transfuse darah sebelum induksi dan memilih bius ILA untuk mengurangi sakit. Memasuki minggu 33 kehamilan, Arin mengalami hipertensi, berat badan naik 20 kg dan kaki membengkak. Dokter memberi Arin obat penurun tekanan darah tinggi. Namun hingga usia 37 minggu tekanan darah tetap tinggi. Induksi pun menjadi pilihan.

Namun dari tes laboratorium menunjukkan bahwa Arin mengalami anemia, hb nya rendah sampai angka 8. Dokter mengharuskan Arin menjalani transfuse darah dulu sebanyak 750 cc hingga mendapatkan hb 10. Dengan Hb yang rendah dikuatirkan tubuh sulit merespon induksi dan gagal terjadi pembukaan.

Setelah transfuse semalam di rumah sakit, pukul 13.00 siang induksi dimulai. Jam 17.00 Arin baru merasakan kontraksi. Dua jam kemudian terjadi pembukaan 3. Pembukaan yang lambat dan sakit yang hebat membuat Arin patah semangat. Akhirnya muncul dipikiran Arin untuk minta bius. Melihat kondisi yang tampak lemah dan kesakitan, Dokter anestesi pun melakukan bius ILA. Seketika nyeri kontraksi hilang, tapi Arin masih sadar. Dalam 3 jam, bagian pinggang kebawah tidak merasakan sakit dan Arin bisa istirahat.

Pukul 22.00, Arin mulai kesakitan lagi. Setelah diperiksa ternyata sudah pembukaan 8. Dokter menawarkan bius tambahan, tapi karena merasa sudah dekat, Arin menolaknya. Dokterpun memecahkan ketuban dan kontraksi semakin hebat. Kepala bayi mendesak ke bawah. Arin merasakan sakit yang luar biasa. Suaminya dengan sabar menyemangati. Seperempat jam kemudian pembukaan sempurna, Arin dipersilakan mengejan. Arin yang merasa sudah kehabisan tenaga tidak menyangka bayinya akan keluar dengan mudah dalam 3 kali mengejan, tepat pukul 23.00 tgl 1 juni 2010. Ari Budiawan, sang suami, berkesempatan untuk memotong tali pusatnya dan mengazani sementara bayi Asaku Mulia melakukan IMD di dada Arin.

Dampak dari bius ILA Arin masih merasa melayang dan muntah setiap kali minum selama kira kira 6 jam. Seminggu setelah melahirkan tubuh Arin mengeluarkan banyak cairan melalui kencing dan berat badan Arin turun 15kg, tekanan darahpun berangsur normal setelah 3 minggu. Arin, suami dan Cinta Ing Larasati, sang kakak, sangat bahagia menyambut si kecil.

Dimuat di Mother & Baby, edisi November 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar