Jumat, 17 Desember 2010

Menggagas Keindonesiaan Modern di Ancol (Lomba Jurnalistik Ancol)

Yuhuuu...udah dapat tiket untuk ikut lomba jurnalistik ancol
Baca di sini yaa..
http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/974

Jumat, 10 Desember 2010 10:55 WIB
TAMAN Impian Jaya Ancol (berdiri tahun 1966), merupakan satu dari dua ikon tempat wisata di ibukota selain Taman Mini Indonesia Indah (berdiri tahun 1975). Berbeda dengan TMII yang menampilkan kebhinekaan Indonesia, sekaligus pencatat sejarah nasional dengan adanya museum-museum, Taman Impian Jaya Ancol yang berkembang sebagai pusat rekreasi penuh hiburan dan petualangan, dengan memasukkan modernitas wahana-wahana di dalamnya.

Ancol bisa dibilang sebagai tempat hiburan nomor satu di Indonesia yang moderen dan komplit. Wisata air, wisata kuliner, wisata seni dan belanja, maupun wisata permainan dan petualangan ada di sana, plus tersedia resort bagi yang mau menginap. Dengan harga tiket Dunia Fantasi Rp 133.000 (Rp 163.000 untuk weekend), Atlantis Water Andventure Rp 88.000 (Rp 113.000 weekend), Gelanggang Samudera Rp 73.000 (Rp 93.000 weekend) relatif terjangkau oleh masyarakat menengah ke atas. Sebagian masyarakat bawah pun masih bisa menyempatkan diri ke Ancol dengan dalih sekali seumur hidup. Pada atau menjelang hari libur, Ancol ramai pengunjung. Antrean panjang sudah menjadi pemandangan rutin di hampir semua pintu masuk masing-masing wahana.
Sayangnya, kebanggaan masyarakat pada Ancol tidak seperti kebanggaan terhadap Pulau Bali. Hal ini bisa jadi karena adanya tempat-tempat serupa di berbagai negara yang lebih terkenal dan menjadi ikon wisata dunia, misalnya Disneyland di Hongkong, Jepang dan Amerika. Menjual kemoderenan di saat negara lain lebih moderen tidak semudah menjual keetnikan kultur dan kekhasan Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri, masyarakat kita masih latah menganggap sesuatu yang disukai bule lebih bermutu. Bali lebih disukai bangsa asing karena keunikan kultur dan keindahan alamnya, dan ini sangat mendongkrak promosi Bali bahkan untuk masyarakat domestik sekalipun. Fenomena ini menjadikan Ancol hanya sebagai tempat wisata semata, dan belum menjadi kebanggaan.
Menilik wahana-wahana yang ada di Ancol, sebagian sudah diusahakan untuk meng-Indonesia. Ini bisa menjadi salah satu upaya pengelola Ancol agar wisatawan asing tertarik dengan dengan keindonesiaan tersebut, sementara bagi wisatawan lokal dapat menumbuhkan nasionalisme. Upaya yang dimaksud terlihat dari penamaan pada sebagian besar wahana dengan nama-nama lokal, misalnya Halilintar untuk roalercoaster, Kora-kora untuk swinging ship atau perahu ayun, Bianglala untuk ferris wheels, Laga Logon dan Ubanga-banga untuk boom-boom car, Turangga-rangga untuk komidi putar atau carousel, dan Alap-alap untuk kereta layang.
Namun istilah-istilah lokal untuk permainan-permainan ini belum familiar di telinga masyarakat dan masih sering menyebutnya dengan istilah asing atau nama umumnya. Dengan kata lain, Ancol masih gagal memperkenalkan nama-nama yang menjadi kekhasannya kepada masyarakat. Selain karena kurangnya promosi, juga karena wahana-wahana tersebut belum memiliki ciri khas yang membedakan dengan permainan serupa di tempat hiburan lain.
Lebih lanjut, pengelola Ancol dapat mempertimbangkan perubahan yang lebih signifikan, yaitu mengubah nama-nama wahana yang sudah sangat akrab dengan telinga masyarakat misalnya mengganti Wahana Niagara dengan air terjun Sigura-gura di Asahan, Sumatera Utara atau air terjun Payakumbuh di Sumatera Barat yang merupakan air terjun tertinggi di Indonesia. Wahana Arung Jeram juga bisa mengambil nama dari sungai Wampu dan Asahan di Sumatra Utara, atau sungai Cimandiri dan Citarik di Sukabumi, Jawa Barat. Perubahan ini tentu saja harus dibarengi sosialisasi yang gencar agar tidak mengurangi jumlah pengunjung.

Sinema 4D di Gelanggang Samudra Ancol merupakan Sinema 4D yang pertama di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara bisa juga menjadi sarana penting dalam mengentalkan kekhasan Indonesia di Taman Impian Jaya Ancol. Pihak pengelola bisa mengadakan film petualangan bertema Komodo, Harimau Sumatra atau Hutan Kalimantan sebagai alternatif dari film Monster of The Deep yang selama ini diputar Sinema 4D.

Untuk penambahan wahana baru yang eksotis, pembangunan Ancol bisa mengambil ide dari keindahan tiga rupa Danau Kelimutu di Flores NTT atau keindahan bawah laut di Raja Ampat Papua, Ambon dan Bunaken. Sedangkan untuk permainan yang memacu adrenalin, ide permainan dapat diambil dari lompat batu Nias, ubur-ubur ramah di Danau Kakaban Kalimantan Timur, atau hiu paus yang jinak di Pulau Ahe Nabire, Papua.

Dengan lebih menggali keunikan Indonesia dan mewujudkannya dalam wahana yang menghibur akan menjadikan Ancol berbeda dengan Disneyland. Target selanjutnya memang untuk lebih menarik wisatawan asing. Jikapun masyarakat masih latah bahwa yang disukai bule itu bagus, setidaknya menambah satu lagi kebanggaan Indonesia memiliki Ancol sebagai tempat wisata bertaraf dunia. Jadi, siapapun yang baru pulang dari Ancol, dapat berbangga seperti halnya mereka yang baru pulang dari Disneyland.

Report By : Murtiyarini
Gambar diambil dari http://images.travelpod.ca/users/lilasepang/10.1261352736.amusement-park-dufan-ancol.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar