Kamis, 30 Desember 2010

MENANTI 4G UNTUK MEMPERKUAT CITIZEN JURNALISM DAN TANGGAP DARURAT BENCANA

Seluler, Paradigma Baru Jurnalistik

Jurnalisme di Indonesia sebagai kegiatan penyebaran berita dan opini kepada masyarakat luas telah melalui beberapa kali kebangkitan dilihat dari penggunaan teknologi dan karakteristik penyampaian berita. Sejak 1962, TVRI memulai siaran perdananya. Waktu itu teknologi termutakhir adalah televisi hitam putih, TVRI dalam jam-jam tertentu menghadirkan berita nasional dan internasional yang selalu ditunggu masyarakat. Durasinya sangat terbatas, sekitar 30 menit untuk masing-masing acara Berita Sore dan Dunia Dalam Berita. Jam “nyala” televisi juga hanya dari sore hingga tengah malam. Sebagai stasiun televisi satu-satunya di Indonesia saat itu, TVRI menjadi kiblat berita masyarakat. Begitupun dengan media cetak. Surat kabar dan majalah beredar dalam jumlah yang terbatas. Di kota Trenggalek, kelahiran saya, koran terbitan Jawa Timur bisa hadir sebelum sarapan pagi. Lain halnya dengan koran terbitan ibu kota yang baru saya dapatkan sore hari atau malah keesokan harinya, itupun kalau masih kebagian.

Tahun 1989, televisi swasta pertama hadir di Indonesia dan terus berkembang pesat hingga saat ini. Media cetak juga semakin beragam. Majalah dan koran pun melahirkan anak-anaknya dari penerbit induk. Masyarakat mulai mempunyai pilihan. Acara berita bisa ditonton beberapa kali sehari. Kalaupun ketinggalan berita pagi, masih bisa melihat sore harinya, atau bisa mencoba ganti channel untuk menemukan berita sejenis di stasiun tv lain. Bosan dengan berita serius? Kita bisa berganti ke film atau sinetron atau berita yang masih berbau hiburan yaitu infotainmen. Wartawan berlomba mencari berita tercepat dan seakurat mungkin. Siapa yang berhasil menemui narasumber (termasuk mewawancarai buronan) menjadi kebanggaan karena telah berhasil menghadirkan berita ekslusif.

Sekitar tahun 1992 internet mulai memasuki Indonesia. Jurnalistik mendapatkan hawa baru dalam cara penyampaian berita. Disusul dengan kehadiran telepon seluler pada tahun 1993 dan berpengaruh luas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di antaranya bidang jurnalistik. Layanan SMS (short message service/layanan pesan singkat) menjadi sarana yang murah dalam membantu sang jurnalis mendapat informasi dari jaringannya. Begitu lekatnya ponsel bagi masyarakat hingga akhirnya muncul pepatah baru kreasi pengguna seluler “lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan hp”. Singkat cerita, ponsel mengalami metamorfosa fungsi. Dari tingkatan sederhana, berupa handphone yang hanya bisa sms dan telepon, berkembang tren handphone berkamera, dan kini handphone terintegrasi dengan internet. Istilah ponsel dan internet kini melebur. Operator pun tak hanya menjual layanan sms dan percakapan, namun juga layanan data baik untuk ponsel maupun PC. Wartawan bisa langsung mengabarkan berita dari tempat kejadian dengan mengirim foto atau video streaming. Pekerjaan wartawan tak lagi melulu di meja komputer, naskah berita bisa dibuat dimanapun, kapanpun dan dikirim dari lokasi manapun. Sistem percetakkan juga bisa dilakukan lintas daerah. Redaksi pusat hanya perlu mengirim file surat kabar untuk selanjutnya dicetak di daerah sehingga bisa terbit pagi hari, tanpa harus melalui proses pengiriman darat, laut dan udara. Selama sinyal internet di notebook atau handphone nya bagus, maka tak ada lagi kata terlambat dalam pengiriman berita.

Citizen Jurnalism, Kecepatan berita dari genggaman

Fungsi handphone sebagai alat komunikasi antar personal bergeser menjadi alat komunikasi yang lebih luas dalam jejaring sosial, blog dan media-media online. Komunikasi seluler kini tak sekadar hubungan personal, melainkan sudah membentuk komunitas. Jurnalisme masyarakat tumbuh subur dengan sarana jaringan sosial. Semua ingin berbagi, tidak hanya tulisan, tetapi juga melalui foto dan video. Bahkan julukan narsis sekalipun tak mengurungkan seseorang untuk berbagi berita dan foto tentang dirinya sendiri. Informasi apapun bisa dibagi, dari siapa saja dan untuk siapa saja. Dari masalah pribadi hingga masalah negara. Dari berita politik negara sampai berita info kemacetan di sebuah ruas jalan. Dari info rumah makan favorit, hingga info TKI yang teraniaya di negeri orang. Era keterbukaan telah tiba, dimana setiap orang dapat mengunggah berita ke berbagai situs jejaring dan media online. Kemajuan teknologi media membuat akses publik untuk memasuki ranah jurnalistik semakin terbuka. Kebebasan pers kini bukan hanya monopoli media konvensional, tapi juga siapapun yang menggunakan telepon seluler, kamera video dan peranti lunak blogging serta teknologi lain untuk mengabarkan berita dan opininya pada dunia. Jurnalisme bukan lagi sebuah wilayah yang semata-mata milik para jurnalis, melainkan sudah melibatkan publik. Citizen jurnalism telah membangkitkan demokrasi di bidang informasi.

Dari sebuah ponsel dalam genggaman seseorang, sebuah kabar berita dapat tersampaikan dengan cepat. Sebagai contoh, dalam kejuaraan sepakbola Piala AFF Bulan Desember 2010 ini. Walaupun tidak menonton pertandingan dari TV, saya dengan cepat mengetahui bahwa Gonzales baru saja semenit lalu mencetak gol dalam pertandingan semifinal Indonesia-Philipina. Informasi gol indah tersebut justru saya dapatkan ketika menikmati sebuah burger di sebuah restoran franchise sambil membaca facebook. Bagaimana tidak, sebagian besar teman FB saya langsung update status hanya sekian detik dari gol itu terjadi. Di kesempatan sebelumnya, saya mendapatkan informasi tentang status kesiagaan Gunung Merapi dari tweet yang bersahut-sahutan di timeline twitter, bahkan lebih cepat daripada berita televisi atau surat kabar. Secepat itu juga saya bisa mendapatkan gambaran keadaan keponakan saya yang kos di daerah Kaliurang, radius 26 km dari Merapi.

Berita apapun bisa dikabarkan dan dibaca dalam genggaman tangan kita, tanpa harus menyalakan TV atau membaca surat kabar. Berita yang disampaikan juga realtime, tanpa sensor, detil dan variatif karena berasal dari banyak pewarta. Masalah keakuratan dan kejujuran berita tentu saja tidak ada yang bisa menghakimi, siapa saja berhak memberikan informasi. Pembaca sendirilah yang harus bijak mencerna masing-masing berita.

Mengikuti perkembangan tersebut, televisi dan surat kabar mengembangkan sayapnya dalam bentuk media online. Dan masih dengan kekhasan jurnalis, semua berlomba-lomba menghadirkan berita yang akurat, cepat dan menarik. Kehadiran media online ini menambah banyaknya berita yang dapat dipilih sendiri oleh masyarakat. Strategi media online dalam menghadirkan berita yang variatif, cepat dan luas selain dengan menempatkan koresponden di berbagai wilayah Indonesia, juga dengan membuka kolom untuk pembaca. Semacam surat pembaca, opini pembaca, warta pembaca dan nama-nama lain yang sebenarnya merupakan bentuk dari citizen jurnalism.

Citizen Jurnalism untuk Kecepatan Tanggap Bencana

Demokrasi informasi ini membawa kekuatan yang dahsyat. Berbagai kasus booming dan akhirnya mendapatkan kepedulian publik. Masih hangat dalam ingatan “Gerakan 1.000.000 Facebooker dukung Chandra Hamzah dan Bibit S. Riyanto” berhasil menarik cause sebanyak 1,5 juta orang. Begitu juga dengan kasus pencemaran nama baik RS Omni yang menimpa Prita Mulyasari akibat surat keluhan yang dikirimnya ke milis. Publik mencium tanda-tanda ketidak adilan sehingga memicu kemarahan publik. Gerakan Koin Peduli Prita membuktikan bahwa adanya kekuatan publik yang besar yang akhirnya menyelesaikan kasus ini.

Citizen jurnalism juga menghadirkan kecepatan informasi publik. Hal ini sangat penting dan bermanfaat dalam situasi darurat dan tanggap bencana. Dalam peristiwa meletusnya gunung Merapi, selain tim tanggap bencana dari Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BPNB), bermunculan aksi-aksi sosial sebagai wujud kesetiakawanan sosial. Relawan-relawan dalam komunitasnya masing-masing mengkoordinasi bantuan mereka dengan menggunakan jejaring sosial twitter atau facebook. Dari akun twitter @jalinmerapi #merapi atau http://merapi.combine.or.id/ relawan dan masyarakat luas bisa mendapatkan informasi penting terkait merapi, realtime melalui streaming siaran radio pos pemantauan Balerante. Komunitas Jalin Merapi juga mengumpulkan dan meretweet info dari warga sekitar.

“URGENT NASI BUNGKUS: 5000 pengungsi di SMKN1 Magelang Kelaparan. Respon please C:Bembi 081513044164#merapi”
demikian twitt dari @jalinmerapi pada tanggal 4 November 2010. Info ini di retweet oleh puluhan orang pada jejaringnya. Di halaman facebook Fan Page Yogyakarta juga terjadi gerakan mendatangkan ribuan nasi bungkus. Mereka membangun dapur umum di Jalan Taman Siswa Nomor 150-F, Yogyakarta. “Kami membutuhkan relawan dan logistik untuk menyiapkan 5.000 nasi bungkus untuk dibagikan ke pengungsi di Stadion Maguwoharjo. Ada yang bisa bantu?” demikian tulisan seorang facebooker Yogyakarta. Dan dalam waktu singkat, pengungsi pun mendapat pertolongan nasi bungkus, bahkan lebih banyak dari yang dibutuhkan. Saling membantu, @jogjaliner justru menawarkan kelebihan nasi bungkus “Wilayah Jogja dan sekitar Magelang mana yang butuh nasi? Kami @jogjaliner punya banyak” (tempointeraktif).

Foto dan video amatir tentang kondisi pengungsian juga banyak diunggah di dunia maya oleh relawan. Dengan melihat kondisi yang sebenarnya, masyarakat dari seluruh Indonesia dapat dengan mudah mendeskripsikan kebutuhan pengungsi seperti makanan bayi, obat tetes mata, masker, pakaian layak pakai, selimut dan lain-lain. Untuk keperluan komunikasi ini, relawan membutuhkan bantuan pulsa yang tidak mudah diisi ulang di lokasi bencana. Adalah ide dari Pungkas Riandika untuk mengumpulkan sumbangan pulsa bagi para relawan yang dikoordinasikan melalui twitter #PulsaUntukRelawan @pungkas. Dengan bantuan pulsa dari masyarakat, komunikasi relawan lebih lancar dan informasi berita selalu baru.

Informasi situasi pengungsian yang ditulis hanya 140 karakter, bisa sebegitu cepatnya menyebar luas melalui twitter dan mendapatkan respon sangat cepat, salah satunya dari tweet @mitigasibencana #MBN untuk berbagi kabar tentang mitigasi bencana nasional. Data dan informasi makin lengkap dengan adanya peta sebaran posko pengungsian dan zona aman. Informasi detil tentang kondisi lokasi bencana dan kondisi pengungsian tidak akan mudah diketahui tanpa adanya kontribusi dari pewarta-pewarta amatir yaitu masyarakat sekitar yang berada tidak jauh dari lokasi. Solidaritas bangsa ini terbukti masih sangat bagus. Melalui citizen jurnalism atau bentuk lain demokrasi informasi kekuatan publik berbicara. Masyarakat pewarta menjadi titik-titik informasi yang penting.

Kehadiran 4G, harapan baru untuk Citizen Jurnalism


Tren industri telekomunikasi makin bergeser ke arah layanan data. Para operator kini sudah tidak lagi hanya berkutat pada bagimana menghadirkan layanan yang cepat dan terjangkau melainkan juga menghadirkan konten yang bermanfaat bagi pengguna. Kebangkitan citizen jurnalism di Indonesia memerlukan data broadband multimedia yang kian besar dengan kecepatan dan kualitas layanan yang tinggi. Harapan baru para citizen jurnalist terletak pada hadirnya teknologi akses wireless 4G. Dengan teknologi ini akses internet bisa mencapai 54 Mbps, diklaim akan memiliki kecepatan 10 kali lebih tinggi daripada 3G. Untuk bisa cepat mengunggah berita berupa data, suara dan multimedia, jurnalist tak harus menunggu tengah malam. Dengan kehadiran 4G, tak ada lagi istilah berita basi atau loading lambat.

Ada beberapa teknologi yang dapat disebut mendekati teknologi 4G yakni long term evolution (LTE), ultra mobile broadband (UMB) dan worldwide interoperability for microwave access II (Wimax). Wimax adalah teknologi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita lebar layaknya WiFi namun jangkauannya lebih luas, biaya instalasi lebih murah dan kemampuan transmisi lebih cepat dari layanan 3G yang ada sekarang. Sementara dengan LTE, penyelenggaraan siaran langsung televisi dipermudah. Dengan LTE memungkinkan para user maupun subscribers menikmati beragam media (multimedia) seperti musik, internet, film sampai game dalam satu peralatan yang masih saling terhubung.

Masyarakat jurnalis sudah sangat antusias menyambut kehadiran teknologi 4G. Akankah teknologi ini berhasil menjalankan fungsi sebagaimana diharapkan? Mengingat kegagalan implementasi 3G di Indonesia, sudah 4 tahun beroperasi di Indonesia, orang masih jarang yang melakukan video call atau nonton TV digital di layar ponsel. Agar kondisi ini tidak terulang lagi pada implementasi 4G mendatang, perlu adanya kesiapan dari regulator, operator, vendor dan user. Keberhasilan implementasi 4G sangat tergantung pada seberapa operator berhasil membuat konten yang user friendly, harga gadget dan data yang murah dan sosialisasi operator agar masyarakat mengetahui apa saja yang ditawarkan oleh teknologi 4G. Citizen Jurnalism telah menunjukkan kekuatannya di negeri ini. Untuk perkembangannya dibutuhkan sarana yang memadai, dan teknologi 4G adalah teknologi yang membawa harapan baru jurnalisme di Indonesia.


Referensi :

http://tekno.kompas.com/read/2010/12/23/09494144/Ekspektasi.Baru.dengan.Hadirnya.LTE
http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2010/11/06/brk,20101106-289855,id.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Internet_Indonesia
http://bataviase.co.id/node/244035

Tidak ada komentar:

Posting Komentar