Selasa, 06 Desember 2011

PERPUSTAKAAN RAMAH ANAK

Ayo Membaca
Prihatin, minat baca masyarakat Indonesia dikatakan rendah, terutama golongan anak-anak. Pernyataan ini dikeluarkan UNDP tahun 2008/2009 bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat 96 dari negara di seluruh dunia. Padahal kegiatan membaca buku merupakan kegiatan kognitif yang mencakup proses penyerapan pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dengan terbiasa membaca maka seseorang akan memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, imajinasi tinggi, kreativitas terbuka, pemikiran yang maju dan berkembang serta menjadi cikal bakal pemberdayaan manusia yang cerdas dan berintelektual. Membaca adalah wujud dari sifat pembelajar. Agar membaca menjadi suatu hobi, perlu pembiasaan sedini mungkin dan menjadikan kegiatan membaca sebagai hal yang menyenangkan. Gerakan Peningkatan Minat Baca akan lebih efektif jika disasarkan kepada anak-anak.

Minat baca = Aset Negara
Negara-negara maju telah lama menyadari bahwa minat baca sejak dini adalah aset penting bangsa. Sebagai contoh, di Jepang diberlakukan gerakan membaca 20 menit untuk ibu dan anak. Seorang ibu setiap hari dianjurkan membacakan buku 20 menit untuk anaknya. Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun dimana pola pendidikan di Jepang mendorong siswanya untuk aktif membaca. Para guru mewajibkan siswa-siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar dimulai. Siswa juga diharuskan mempresentasikan karya sastra klasik, membuat kelompok story telling berdasarkan buku yang telah dibacanya.

Di negara-negara Eropa, pemerintahnya sangat serius dalam usaha menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak. Walaupun anak-anak kecil belum bisa membaca, pembacaan dongeng atau cerita sebelum tidur, adalah salah satu ritual penting bagi hampir seluruh anak.

Bukti kepedulian pemerintah Australia pada minat baca terlihat dari kunjungan lembaga kesehatan pada setiap ibu yang baru saja melahirkan untuk melihat kondisi ibu sekaligus membawakan buku pertama bayi. Pemerintah South Australia dan Victoria menyelenggarakan Premier’s Reading Challenge yaitu tantangan bagi anak-anak untuk meminjam buku yang berbeda setiap hari dari sekolahnya. Mereka membaca tanpa paksaan. Sekolah menerapkan Reading Journal, yaitu catatan harian masing-masing anak tentang buku apa yang telah dibacanya setiap hari. Bagi anak yang berhasil membaca 25 buku dalam sebulan akan mendapatkan penghargaan berupa sebuah stiker kecil bertuliskan “25 Night Reading Certificate” yang ditandatangani sang guru. Penghargaan sederhana ini sudah sangat membuat anak-anak gembira dan semangat untuk membaca.

Meskipun belum terpadu, di Indonesia saat ini mulai digalakkan minat baca pada anak dengan program-progam membaca yang diterapkan di sekolah-sekolah dan meningkatnya jumlah buku bacaan untuk anak.


Perpustakaan Ramah Anak

Upaya peningkatan minat baca selayaknya dibarengi dengan ketersediaan perpustakaan ramah anak sebagai sumber bahan bacaan bermutu, murah, dan terjangkau .
Dunia anak identik dengan keceriaan bermain. Karena itu, agar perpustakaan banyak dikunjungi anak-anak maka perpustakaan harus menarik, menyatukan fungsi sebagai wahana pendidikan dan sekaligus hiburan sehingga anak betah di perpustakaan.

Suasana interior. Anak-anak pasti menyukai ruang perpustakaan yang cerah dengan dinding berwarna terang, sirkulasi udara yang baik ditambah foto atau lukisan yang menarik di dindingnya. Desain interior dan eksterior perpustakaan anak dapat mengambil tema laut dengan bangunan berdesain seperti kapal, atau hutan dengan konsep rumah pohon. Apapun desainnya, sebenarnya konsep keceriaan tidak harus menghabiskan dana yang besar.

Properti yang dibutuhkan untuk perpustakaan ramah anak antara lain rak buku yang kokoh dan terjangkau dengan ukuran tubuh anak, perabot yang aman dengan tepian oval dan minimalisasi bahan kaca, dilengkapi tangga yang aman dan mudah digunakan oleh anak untuk mengambil buku, meja dan kursi yang sesuai dengan ukuran badan anak-anak. Karpet lantai yang hangat sangat cocok untuk anak-anak yang tidak mau duduk berlama-lama sehingga memungkinkan mereka bergerak leluasa disela-sela kegiatan membaca. Tentu saja, diperlukan penerapan aturan yang jelas bahwa di perpustakaan tidak boleh berisik sekaligus untuk mengajarkan anak perilaku sopan di perpustakaan.
Karena anak-anak belum dapat menahan haus dan lapar, sebaiknya perpustakaan menyediakan food corner, untuk anak-anak dapat membeli makan atan menikmati bekalnya tanpa mengganggu temannya yang tengah membaca, juga tidak mengotori ruang baca dengan remah-remah makanan.

Koleksi. Inti dari perpustakaan adalah koleksi pustakanya. Semakin banyak koleksi buku dan CD, semakin menarik perpustakaan untuk dikunjungi. Idealnya perpustakaan anak mempunyai koleksi buku dan CD anak dari masa ke masa agar anak mengenal khasanah budaya dari era orangtuanya. Ragam buku yang dapat melengkapi perpustakaan antara lain buku-buku fiksi, ilmu pengetahuan umum, kamus, ensiklopedia, dan buku-buku pelajaran. Pengelompokan buku-buku bukan saja dari kategori jenis buku, tapi juga berdasarkan usia anak misalnya 0-2 th, 2-5 th, 5-8 th. Tak ada salahnya memperkenalkan kepada mereka sejarah Indonesia atau ilmu pengetahuan versi ringan, tentu saja dengan panduan orang dewasa untuk membacakan. Katalog manual maupun digital sebaiknya dikemas dalam bentuk buku atau program yang memudahkan anak-anak mencari buku yang diinginkan. Katalog ini sifatnya adalah pembelajaran unsur-unsur perpustakaan. Artinya anak-anak tidak harus memahami dan menggunakan katalog tersebut. Biarlah anak-anak bebas memilih buku langsung dari raknya. Dengan pelabelan yang tersusun rapi memudahkan anak-anak mencari buku.

Fasilitas penunjang dalam perpustakaan adalah jaringan internet dengan filter anti pornografi dan kekerasan. Anak-anak dapat memanfaatkan internet untuk mencari referensi buku bagus sekaligus sebagai media belajar yang menyenangkan. Diharapkan anak-anak berkunjung ke perpustakaan bukan hanya karena tugas, melainkan karena mereka memang senang belajar dan ingin membaca buku kegermarannya.

Dari segi kelengkapan, perpustakaan San Francisco Public Library, Fisher Children's Center dilengkapi media dari berbagai penjuru dunia (sekitar 55 bahasa). Pusat ini memelihara literatur internasional dan lokal yang berprespektif anak-anak. Tujuannya, tak hanya anak-anak yang dapat menggunakan perpustakaan ini, tetapi juga orang dewasa yang sedang melakukan penelitian tentang perkembangan anak.

Layanan. Keceriaan anak-anak seringkali menyebabkan suasana gaduh dalam ruang perpustakaan. Sang pustakawan sebaiknya mengerti bagaimana memperlakukan anak-anak dengan ramah, dan membantu kesulitan mereka mencari buku yang diinginkan. Pustakawan yang interaktif membuat anak-anak senang berkomunikasi dan merasa nyaman di perpustakaan.

Semangat anak-anak meminjam buku memerlukan keleluasaan dalam hal jumlah buku yang dipinjam, masa peminjaman dan jam buka perpustakaan. Semangat ini hendaknya tidak dilunturkan hanya karena sistem peminjaman yang dirasa sulit bagi mereka. Indikator prestasi bagi sebuah perpustakaan apabila mampu meminjamkan buku sebanyak-banyaknya kepada pengunjung.

Story Telling Anak-anak memang masih terbatas kapasitasnya dalam membaca. Karena itu diperlukan bantuan orang dewasa untuk membacakan buku cerita. Dengan kegiatan ini, tidak ada batasan bagi anak yang belum bisa membaca sekalipun untuk dapat mengkonsumsi buku bacaan. Story telling dapat dilakukan secara berkala seminggu sekali atau dua kali dengan jam dan tempat yang telah diinformasikan kepada umum.

Semakin Banyak
Di Indonesia juga telah ada perpustakaan ramah anak meskipun jumlahnya belum banyak. Di Bandung juga telah didirikan Perpustakaan Anak Salman (PAS) yang dibangun atas inisiatif Pembinaan Anak-Anak Salman (PAS) ITB. Di Surabaya, tepatnya di Jalan Mayjen Sungkono , terdapat perpustakaan anak yang merupakan cabang dari Perpustakaan Wilayah Propinsi Jawa Timur, yang didirikan khusus untuk anak-anak. Konsep yang digunakan dalam perancangan adalah `taman bermain’. Pengelola Perpustakaan Daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. bekerjasama dengan sebuah LSM Jakarta (Yayasan PAKTA), mengintrodusir perpustakaan digital sebagai pusat pembelajaran warga. Beberapa ruang perpustakaan juga diubah fungsinya mirip shelter untuk penitipan anak-anak mengingat di sekitar gedung perpustakaan memang banyak bangunan Play Group, TK dan SD. Usai jam belajar, banyak anak-anak yang menunggu jemputan orangtua dapat mampir ke perpustakaan. Di Kampung Buku (Cibubur, Jakarta Timur), anak-anak dapat membaca sambil menikmati udara segar karena perpustakaan ini terletak di lingkungan persawahan dan sungai kecil. Sebaliknya, konsep perpustakaan di pusat keramaian telah dikembangkan oleh Taman Bacaan Masyarakat yang terletak di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan, sehingga menjadi sarana orangtua menitipkan anaknya sementara orangtua berbelanja. Dan yang paling banyak dikembangkan secara swadana adalah perpustakaan rumah, seperti Rumah Baca Zhaffa (Jakarta Selatan) dan Rumah Baca Asma Nadia (Depok Timur) merupakan rumah yang mengalami perombakan untuk dijadikan perpustakaan.
Semakin banyaknya perpustakaan ramah anak menjadi kabar gembira bagi peningkatan minat baca anak-anak Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar