Langsung ke konten utama

Intuisi, Penuntun Ibu Dikala Buah Hati Sakit.

Dini hari, saya dikejutkan oleh sentuhan panas pada dada saya. Sentuhan bibir mungil yang menyusu di sela-sela tidur, malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Kemudian, menyusul perasaan galau, was-was, dan bertanya-tanya, merunut kejadian 1-7 hari ke belakang, kira-kira apa penyebab demam anak saya kali ini.

Sejak 6 tahun menjadi ibu, terutama di 2 tahun pertama, masa-masa paling menegangkan adalah masa di mana buah hati yang sangat saya cintai sedang sakit. Pada saat itu saya berharap bisa menyembuhkannya seketika, namun kenyataannya saya tak berdaya.

Negoisasi dengan Tuhan sering saya lakukan. Sepertinya apapun siap saya tukar, asalkan Tuhan memberikan kesembuhan pada anak saya.
“Ya Allah, pindahkanlah sakit anakku ke badanku saja, aku rela menggantikannya asal dia tidak menderita”
atau
“Ya Allah, ampunilah dosaku, angkatlah penyakit anakku dan saya akan berusaha lebih baik”
Atau
“Ya Allah, saya berjanji akan lebih tepat waktu melaksanakan sholat dan kumohon sembuhkan anakku”
Dan banyak lagi..
(Biasanya saya baru menyadari kenaifan sikap saya ketika anak sudah sembuh)

Dalam 6 tahun itu pula saya terus mencari sikap yang paling baik dalam menghadapi anak sakit. Banyak peristiwa mengantarkan saya pada keyakinan : percayai intuisimu sebagai ibu! Dan itulah yang masih saya pegang hingga saat ini.

Kebimbangan hampir selalu datang disaat saya panik. Hari pertama demam biasanya saya masih tenang. Jika disertai gejala lain seperti batuk pilek saya mudah menebak sakit apa anak saya. Tapi jika demam tanpa disertai gejala, akan muncul pertanyaan-pertanyaan, terus mencari sakit apa kira-kira kali ini.
“Mungkin anakmu lagi tumbuh gigi”
“Mungkin mau tambah pinter”
“Mungkin anakmu kecapekan karena belajar merangkak”
Dan penjelasan yang dicari-cari demi menenangkan hati dengan puluhan “mungkin-mungkin “ yang lain dari para “penasehat” di sekitar saya.

Saya tak mau buru-buru memberi obat (sebut : antibiotik) karena saya memang meminimalikan pemberian obat apapun. Jika anak baru demam satu hari, bisa saja hanya batuk pilek yang disebabkan virus, biasanya akan sembuh dengan pertahanan tubuh yang baik. Jadi, suplemen nutrisi dan penguat imunitas menjadi pilihan pertama. Jika gejala masih bisa ditolerir maka pemberian obat saya tunda, misalnya parasetamol hanya jika demam di atas 38ÂșC atau pseudoefedrin_HCL hanya jika pilek mengalir. Sebelum itu, saya lakukan kompres air hangat dan mengoleskan minyak kayu putih untuk meringankan derita anak. Lebih baik saya menggendong dan memeluknya semalam suntuk demi mengurangi demamnya dengan metode skin-to-skin (memindahkan panas tubuh dengan sentuhan kulit). Saya pun (dulu) memilih dokter anak yang sepaham dengan saya dalam hal ini.

Bagaimana jika demam tak kunjung turun ? Adalah sebuah pengalaman berharga yang saya alami, tentang bagaimana saya harus mengambil keputusan dalam ketidaktahuan tentang ilmu medis. Di saat saya merasa diagnosa paramedis belum dapat membantu, dan nasehat teman dan keluarga begitu membingungkan, maka kemudian tindakan yang saya ambil saya landaskan pada hati nurani saya yang terdalam, yaitu intuisi.

Pernah suatu ketika, Cinta (anak pertama saya) mengalami demam hingga lebih dari 3 hari. Dokter A memberinya vitamin dan pereda panas, namun belum memberinya antibiotik. Saya pun membawa Cinta untuk tes laboratorium, namun dengan beberapa kali tes belum Dokter belum dapat menentukan penyakitnya.

Intuisi saya mengatakan untuk mencari Dokter kedua. Ternyata, Dokter kedua ini masih mengatakan anak saya baik-baik saja karena hasil laboratoriumnya baik. Entah mengapa hati saya berontak dan tidak puas dengan diagnosa kedua dokter tersebut. Bagaimana mungkin anak saya yang sudah demam 8 hari, tidak mau makan dan enggan minum, masih dinyatakan baik hanya karena hasil laboratorium tidak menunjukkan DBD atau typhus? Kemudian , intuisi saya mengatakan : rawatlah Cinta di rumah sakit ! Apapun sakitnya, yang penting dia mendapatkan pertolongan pertama, yaitu bantuan nutrisi dan cairan melalui infus.

Belum cukup sampai disitu, satu hari di rumah sakit A, Cinta belum mendapatkan kepastian diagnosa, dan hanya berputar di masalah DBD dan typhus. Intuisi saya kembali bicara, bawa anakmu ke rumah sakit lain di Jakarta ! Saya pun membawa Cinta ke Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta. Dan akhirnya kami menemukan jawabannya disana, Cinta terinfeksi bakteri ! Kembali hati saya menuntun, saya merasa disinilah akhirnya kami menemukan tempat pengobatan yang tepat untuk Cinta. Akhirnya Cinta sembuh dan saya banyak belajar dari pengalaman ini.

Disini mengingatkan, bahwa intuisi ibu sangat penting untuk diasah. Kapan ibu harus menahan diri dengan tidak mudah memberikan obat yang tentu saja tidak bebas efek samping, kapan ibu harus mengambil inisiatif tindakan, misal meminta dokter melakukan cek lab, atau langsung merujuk untuk opname. Tidak satupun ibu yang tega dengan jarum infus, namun jika kondisi klinis memerlukan demikian, maka membawa anak ke rumah sakit dan meminta opname adalah solusi yang lebih baik.

Anak adalah makhluk dengan tubuh yang rentan. Apabila seorang anak terkena penyakit maka perkembangan penyakitnya akan lebih cepat daripada orang dewasa, sehari lalu masih ceria, hari ini bisa saja dia terkulai lemah. Karena itu keputusan tindakan yang cepat sangat diperlukan. Namun perlu diingat juga bahwa anak adalah makhluk yang sensitif, maka dalam memilih tindakan juga harus cermat agar tidak terjadi efek samping yang membahayakan. Titik di mana waktu yang tepat untuk mengambil tindakan akan teraba jika intuisi sang ibu terasah dengan baik.

Anak tidak bisa mengidentifikasi penyakitnya dan rasa sakitnya dengan tepat, maka ibu harus telaten menginterogasi, dimana bagian yang sakit, rasa sakitnya seperti apa, apakah seperti tertusuk jarum, terkena air panas, seperti dicubit dan sebagainya, sesuai dengan pengalaman yang pernah dialaminya. Intuisi seorang ibu juga dapat mendeteksi sakit si anak dengan melihat perubahan yang terjadi diluar kebiasaan.

Anak yang sehat adalah anak yang tumbuh dan berkembang. Badannya sehat dan kuat, kepandaiannya bertambah sesuai usianya. Kecukupan nutrisi adalah mutlak diperlukan. Saya membuktikan, dengan berat badan yang cukup anak akan lebih baik responnya ketika sakit datang. Jadi, tak ada lagi pembenaran : “Biarlah anak kurus, yang penting aktif” . Tidak bagi saya! Anak aktif memang indikasi yang baik, namun kurus bukan sesuatu yang bisa dibiarkan. Jadi, saya akan berusaha semaksimal mungkin demi pencapaian berat ideal anak.

Pengalaman dari pengasuhan anak pertama menjadikan saya lebih tegar dan tenang dalam mengasuh anak kedua.
Intuisi ibu terbukti dapat membantu menentukan ‘critical time’ serta tindakan yang sebaiknya di tempuh, bahkan disaat dokter berkata lain. Dengan terus mempertajam intuisi, menambah pengetahuan dan berkomunikasi dengan dokter menjadi pegangan saya dalam membesarkan anak-anak saya, Cinta dan Asa.


*Tulisan ini menjadi bagian dari buku Ketika Buah Hati Sakit, terbitan Indie Publishing
*Senang berada diantara ibu-ibu penulis yang pintar.

Komentar