Senin, 23 April 2012

IPB Menjangkau Daerah dengan BUD ( Opini, Lingkar Jabar)


IPB MENJANGKAU DAERAH DENGAN BUD
Murtiyarini, Lingkar Jabar 29 Maret 2012

Biaya pendidikan di Indonesia mahal, terutama pendidikan tinggi. Jumlah mahasiswa menjadi puncak kerucut dari bagan piramida orang terdidik di Indonesia. Kesulitan pelajar untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi negeri tidak hanya dari aspek biaya, namun juga dari kemampuan akademis. Dengan kualitas pendidikan yang belum merata, sebagian besar pelajar asal daerah akan kalah seleksi pada saat ujian masuk sehingga tidak mendapatkan kursi di perguruan tinggi negri. Kalaupun memenangkan seleksi, mereka masih dibebani dengan biaya kuliah dan biaya hidup di kota besar yang tinggi.

Tahun 2012 ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mempunyai program prioritas yang tertuang dalam slogan “Menjangkau yang Tak Terjangkau”. Kenyataannya di lapangan masih banyak masyarakat Indonesia yang belum bisa mendapatkan akses pendidikan, atau harus berusaha keras untuk mendapatkan layanan pendidikan, terutama di daerah Papua dan Papua Barat.

Menyikapi hal ini, beberapa universitas negeri telah menjalankan program beasiswa untuk pelajar asal daerah. Program ini tak hanya menjembatani permasalahan biaya, namun juga menjadi solusi bagi kesenjangan standar pendidikan. Institut Pertanian Bogor dengan program Beasiswa Utusan Daerah (BUD) termasuk salah satu diantaranya, bersanding dengan Universitas Gajah Mada dengan jalur khusus Penelusuran Bibit Unggul Pembangunan Daerah (PBUPD), Universitas Indonesia melalui Kerja Sama Daerah dan Industri (KSDI), Institut Teknologi Bandung melalui Kemitraan Nusantara, dan Universitas Sriwijaya melalui Beasiswa Kemitraan Daerah.

Peduli Daerah
Ssumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkualitas penting bagi percepatan dan penguatan pembangunan dalam rangka peningkatan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. BUD merupakan program IPB terkait dengan program prioritas Kemdikbud guna menfasilitasi pendidikan tinggi bagi pelajar berprestasi di daerah. BUD adalah suatu cara penerimaan mahasiswa diploma, sarjana dan pascasarjana yang direkomendasikan dan dibiayai oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan atau lembaga swasta, yang bila lulus diharapkan kembali ke daerah untuk membangun daerah.

Pendaftaran BUD tahun ini dimulai bulan Februari sampai akhir Mei. Pendaftaran memang lebih awal, namun seleksi dan pengumuman dilakukan setelah jalur tanpa tes USMI (Ujian seleksi Masuk IPB) dan jalur tes SMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri). Seleksi awal BUD dilakukan oleh sponsor, kemudian seleksi akhir oleh IPB dengan mekanisme tanpa tes yaitu berdasar nilai rapor SMU.
Saat ini terdapat 5 Yayasan dan lembaga, 26 Perusahaan, 75 Kabupaten/Kota, 10 Provinsi dan 2 Pemerintah pusat yaitu Departemen Agama RI dan Departemen Kehutanan yang bekerjasama dalam program BUD IPB. Pelajar yang telah lulus SMU/SMK/MA jurusan IPA yang berminat masuk IPB dapat menghubungi dinas pendidikan pemerintah daerah setempat atau perusahaan swasta yang ada di daerah untuk mencari peluang menjadi penyandang dana. Pembiayaan seperti biaya kuliah, biaya buku, biaya penelitian dan biaya hidup sangat tergantung sponsor, minimal yang disepakati IPB adalah SPP selama 4 tahun. Tidak semua sponsor mengirim setiap tahunnya. Sekolah atau calon mahasiswa yang harus aktif mencari peluang beasiswa ke sponsor karena masih ada peluang sponsor baru untuk bekerjasama. Sementara itu, setiap tahun IPB melakukan promosi salah satunya melalui organisasi mahasiswa daerah

Jumlah mahasiswa IPB jalur BUD tiap tahun meningkat yaitu tahun 2003 sebanyak 8 orang, tahun 2004 sebanyak 74 orang, tahun 2007 sebanyak 209 orang, dan tahun 2011 sebanyak 213 orang dari kuota 250 orang pertahun. Jumlah ini hanya 7,4 % dari total mahasiswa sarjana saat ini yaitu sekitar 3400 orang. Peningkatan jumlah mahasiswa BUD ini diharapkan dapat mempercepat dan menguatkan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat daerah.

Mengurangi Kesenjangan
Dari segi kemampuan akademis, mahasiswa BUD memang rata-rata masih di bawah jalur USMI dan SMPTN karena seleksi juga dilakukan setelah kedua jalur tersebut. Namun pada saat berbaur kuliah, mereka cukup dapat bersaing. Angka drop out (DO) setiap tahun masih ada, namun tidak banyak. Tahap terberat adalah pada tahun pertama saat menjalani program Tahap Persiapan Bersama.

Untuk menjembatani kesenjangan nilai dan standar mutu mahasiswa, terutama bagi mereka yang berasal dari daerah, khusus mahasiswa BUD diikutkan dalam perkuliahan pra universitas. Diharapkan mahasiswa BUD tersebut nantinya dapat terus mengikuti perkuliahan sesuai standar yang ditetapkan oleh IPB, lebih giat mengejar ketinggalan, mengurangi angka DO dan mampu bersaing pada tahun-tahun berikutnya.
IPB melakukan seleksi ketat untuk jalur BUD. Karena kualitas sekolah mempengaruhi, IPB juga melakukan seleksi berdasarkan peringkat sekolah. Namun untuk wilayah Indonesia Timur seperti Papua, Papua barat, Maluku, dan Maluku Utara diberi kesempatan dengan perbedaan standar penilaian.

IPB telah berusaha menjangkau pelajar berprestasi dari daerah dengan program BUD ini, namun optimalisasi hasil lulusan harus diakui masih sangat tergantung dengan mutu pendidikan daerah, baik pendidikan akademis maupun pendidikan karakter. Tidak sedikit, mahasiswa daerah yang berhasil menyelesaikan studi di IPB karena memiliki karakter pembelajar yang tangguh.

Terkait upaya peningkatan mutu mahasiswa BUD, solusi ke depan dapat dilakukan perpanjangan masa pra mahasiswa, bahkan sejak dari SMU. IPB dapat memberikan bimbingan ke sekolah sesuai standar pendidikan di IPB, dan sponsor mengawal pelaksanaanya di daerah. Dukungan sponsor selama masa kuliah juga mempengaruhi kualitas belajar. Karena itu mahasiswa harus menjaga amanah dan komitmen kepada sponsor untuk benar-benar kembali mengabdi pada daerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar