Kamis, 31 Mei 2012

Mantap Berbahasa Indonesia (Jawa Pos)



Saya adalah orang suku Jawa dan besar di Jawa Timur. Tapi, bisa dibilang saya lebih leluasa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Maaf, ini adalah pengecualian untuk saya sendiri, seorang Jawa yang hanya bisa menggunakan bahasa Jawa “ngoko (kasar)”. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya terbiasa menggunakan bahasa Jawa “ngoko” untuk berkomunikasi dengan orangtua. Lantas karena kaku berbahasa Jawa “kromo (halus)” maka saya sering menggunakan bahasa Indonesia pada orang-orang yang lebih tua, misalnya kepada guru.

Bagaimana dengan bahasa Indonesia anak-anak saya ? Saya beruntung, suami saya berasal dari suku Melayu Sumatera. Dalam percakapan sehari-hari kami menggunakan bahasa Indonesia . Anak-anak kami pun juga otomatis berbahasa Indonesia dari kecil. Namun ada beberapa dialek yang sulit dihilangkan dan masih membawa bahasa kedaerahan masing-masing. Saya biasa menggunakan kata “tak” untuk mengawali kata kerja, misalnya “nanti tak jemput ya (nanti saya jemput ya” atau “sini tak beritahu (sini saya beritahu)”. Anak saya pun protes dengan dialek saya ini, “Mama kok bilang tak-tik-tuk, sih? Pake kata ‘saya’ dong..” begitu dia membenarkan ucapan saya.

Untuk menyebut diri sendiri saya dan suami memilih kata “aku” atau “saya” dan bukan “gue”. Penyebutan nama untuk diri sendiri hanya berlaku pada anak-anak usia batita yang belum memahami konsep “aku” dan “kamu”. Setelah usia 3 tahun anak-anak saya sudah bisa menggunakan kata “aku” untuk dirinya sendiri. Hal ini penting untuk memantapkan jati dirinya,. Dalam dunia profesional, tidak disarankan menyebut nama untuk diri sendiri. Sementara untuk kata “kamu”, anak-anak saya sudah dapat memilah menggunakan kata “kamu” pada teman sebaya, sedangkan untuk orang yang usianya lebih tua menyebut nama yang bersangkutan. Berbahasa Indonesia yang baik dan benar tidak akan membuat pergaulan kita menjadi kaku. Kami terbiasa bercanda tetap dengan bahasa Indonesia yang baik.

Ditengah banyaknya kursus bahasa asing sejak usia dini (bayi dan balita), saya memilih menggunakan hanya bahasa Indonesia pada anak-anak saya sejak bayi hingga 5 tahun. Harapan saya dengan menggunakan satu bahasa anak-anak tidak akan bingung dan akan mencapai kemantapan berbahasa Indonesia. Kemantapan berbahasa Indonesia ini terlihat dari kemampuan anak saya menyusun kalimat dengan santun dan baik, bukan kalimat sepenggal-sepenggal seperti yang umum diucapkan oleh anak-anak seusianya. Pernah suatu ketika guru TK anak saya bertanya kenapa anak saya memilih kata “Tidak” untuk menolak sesuatu, bukan “Enggak” atau “Ndak”. Sebenarnya saya tidak mengajarkan sedetil itu, mungkin anak-anak saya belajar dengan sendirinya dari bahasa yang kami gunakan sehari-hari. Jika sudah mantap dengan bahasa ibu, anak-anak akan dengan mudah mencerna bahasa asing.

Aturan-aturan baku berbahasa Indonesia juga saya ingat dan mudah diterapkan baik dalam percakapan maupun penulisan. Kenyataannya, banyak orang-orang di sekitar saya merasa kesulitan dengan aturan-aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Salah satu dampaknya, mereka kesulitan dalam melakukan orasi maupun penulisan. Padahal dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa lancar menggunakan bahasa Indonesia, tapi bahasa Indonesia gaul alias alay menurut anak-anak jaman sekarang.

Bahasa Indonesia yang baik dan benar memang masih lebih banyak digunakan dalam penulisan, bukan dalam percakapan. Pergeseran terjadi ke arah yang lebih mudah. Alih-alih bahasa Indonesia digunakan dalam percakapan, bahkan dalam perkembangan dunia kepenulisan saat ini, para penulis lebih bebas berekspresi dengan menggunakan bahasa percakapan yang gaul dalam menulis. Permintaan pasar lah yang menjadikan menulis dalam bahasa percakapan semakin digemari.

Kebebasan berbahasa memang sudah menjadi hak setiap orang. Tidak ada yang bisa memaksakan untuk berbahasa Indonesia baku. Keharusan itu hanya ditemui dalam kegiatan-kegiatan formal dan resmi, namun dalam penulisan buku sudah bukan keharusan lagi. Apalagi dalam penulisan blog, orang bebas menggunakan dalam bahasa apapun.
Saya pribadi masih memilih menggunakan bahasa Indonesia yang (mendekati) baik dan benar dalam penulisan. Sesekali saya menggunakan bahasa percakapan seperlunya hanya sekedar untuk pemanis. Toh saya masih bisa membuat tulisan yang nyaman untuk dibaca tanpa harus memperbanyak bahasa gaul / alay. Masalah enak dibaca atau tidaknya sebuah tulisan bukan tergantung dari apakah bahasa Indonesia baku atau alay, namun dari pemilihan kata, kekayaan kosakata dan pemikiran serta pemilihan alur tulisan yang sesuai. Karena itu , untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan bercerita, baik lisan maupun tulisan diperlukan pemantapan bahasa Indonesia sejak usia dini

Tulisan ini dimuat di koran Jawa Pos , hari Kamis 31 Mei 2012

3 komentar:

  1. hebat nih ibu yang satu ini tulisannya nongkrong terus di media, selamat ya..

    topiknya segar :)

    BalasHapus
  2. Makasiiih mbak-mbak.. :) menulis untuk refreshing, so cari yg segar-segar

    BalasHapus