Senin, 13 Agustus 2012

14 HARI YANG MENEGANGKAN

Cerita berikut adalah tentang 14 hari paling menegangkan yang pernah aku alami.

Yaitu masa-masa putriku Cinta mengalami demam pada usianya menjelang 2 tahun.

Badai telah berlalu, selalu ada hikmah sesudahnya.

Bersyukur, Cinta kini sehat, ceria dan tumbuh kembangnya sangat baik.

Hari ke 1

Dini hari, aku dikejutkan oleh sentuhan panas di ujung dada. Anakku demam! Rongga mulutnya terasa lebih hangat dari biasanya. Aku merasakannya seketika saat dia menyusu.

Aduh, kenapa Nak? Tadi malam saat menyusu menjelang tidur, suhu tubuhmu masih normal.

Ini bukan yang pertama terjadi. Demam anak seringkali datang pada dini hari. Setelah anak beristirahat, tidur dengan nyenyak, sistem imun anak bekerja. Walau bukan pertama, tetap saja demam membawa kejutan, dan meresahkan.

Tidur Cinta mulai gelisah tidak nyaman. Kuambil thermometer, dan mengukur suhu tubuhnya, 38.5 derajat celcius. Aku harus memberinya pertolongan pertama. Kuambil Panadol Drops, penurun panas yang selalu ada di kotak P3K. Kuberikan Panadol dengan pipet. Setengah jam kemudian demamnya reda. Cinta kembali tidur.

Tidurlah, Nak. Semoga besok pagi engkau ceria kembali.

Hari ke 2

Pagi hari, 6 jam dari pemberian Panadol, Cinta kembali demam. Artinya, pertahanan tubuhnya masih berjuang. Demam adalah gejala, sedangkan penyakit yang sebenarnya harus dicari tahu untuk menentukan pengobatan yang sesuai. Sementara masih demam, pemberian Panadol bisa diulang 3-4 x sehari dalam jangka waktu 6 jam. Untung Cinta mau bekerjasama, dengan mudah dia mau meminum Panadol yang rasanya enak.

Aku merunut 1-7 hari ke belakang, kira-kira apa penyebab demam anakku kali ini. Dua hari sebelumnya kami jalan-jalan ke museum. Apakah Cinta merasa kecapekan dan terkena angin? Apakah terkena infeksi saat naik kendaraan umum? Apakah diantara makanan yang kami makan ada yang kurang higienis? Sepertinya, kami sudah sangat berhati-hati.

Hari ke 3

Cinta masih demam. Aku semakin was-was. Sudah waktunya kami membawa Cinta ke Dokter. Gejala yang terlihat hanya demam, tidak ada batuk atau pilek. Dokter merasa belum waktunya memberi antibiotik. Dokter hanya meresepkan suplemen untuk daya tahan tubuh. Untuk penurun panasnya, Dokter meresepkan Panadol Drop, sama seperti yang sudah tersedia di rumah, jadi aku tidak perlu membelinya lagi.

Teringat beberapa hari sebelum Cinta demam, aku memarahinya karena dia rewel minta ini-itu tidak jelas. Kamu mungkin belum mengerti alasan Mama, namun hatimu telah tersakiti. Seharusnya mama bisa bersikap lebih lembut. Apakah karena Mama marah lalu kami sakit, Nak? Maafkan Mama, Nak.

Saat petang menjelang, hari terasa kian suram. Malam terasa panjang menanti esok pagi dengan harapan demam akan hilang.

Hari ke 4

Aku mulai panik karena Cinta masih demam. Belum pernah dia demam lebih lama dari ini. Nafsu makannya mulai turun. Untung ada Panadol yang membantu meredakannya. Cinta mau makan, minum dan dapat beristirahat.

Namun penyakit sesungguhnya masih menjadi tanda tanya. Aku membawanya ke dokter lagi untuk pemeriksaan trombosit dan kemungkinan DBD. Ternyata hasil tes darah normal. Dokter menenangkan kami.

Kebimbangan hampir selalu datang disaat aku panik. Banyak masukan dari orang sekitar. Mungkin anakmu lagi tumbuh gigi, mungkin mau tambah pinter atau Mungkin anakmu kecapekan karena belajar merangkak dan kemungkinan-kemungkinan lain. Ada yang masuk akal, ada juga yang tidak. Dalam situasi ini aku berusaha menguatkan hati, mempertajam intuisi. Intuisi seorang ibu akan membawa kepada petunjuk tentang apa yang dialami anaknya.

Hari ke 5

Ya Allah, kenapa Cinta masih demam? Apa sakitnya?

Masa-masa paling menegangkan adalah masa di mana buah hati sedang sakit. Pada saat itu aku berharap bisa menyembuhkannya seketika. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Negoisasi dengan Tuhan pun aku lakukan. Sepertinya apapun siap aku tukar, asalkan Tuhan memberikan kesembuhan pada anakku.

Ya Allah, pindahkanlah sakit anakku ke badanku saja, aku rela menggantikannya asal dia tidak menderita

Hari ke 6

Kembali aku membawa Cinta ke Dokter. Kali ini adalah untuk pemeriksaan laboratorium penyakit typhus. Dan hasilnya negatif. Dokter belum merasa perlu merujuk Cinta untuk opname. Kami semakin bingung.

Aku lelah. Malam-malam yang kulalui terasa panjang. Aku hanya tidur saat Cinta tidur. Bergantian, aku dan suami menenangkan Cinta yang gelisah. Hampir setiap saat kuusap kening dan punggungnya, berharap suhu tubuhnya normal. Termometer tak pernah jauh dariku. Setiap 6 jam aku mengukur suhu tubuh Cinta sebelum kemudian memberinya Panadol. Dalam lelah, aku dan suami saling menguatkan hati. Kami harus tegar, kami harus kompak dan kami tidak boleh berhenti berharap. Karena harapanlah yang akan membawa kesembuhan.

Hari ke 7

Sudah tujuh hari Panadol telah membantu meredakan demam, namun penyakit rupanya masih ada. Pertahanan tubuh Cinta masih bekerja melawan penyakit, dan menimbulkan gejala demam. Cinta tidak mau makan, hanya mau ASI. Dengan terus mendekap Cinta dalam dada, aku berdoa tiada henti, memohon kesembuhan Cinta.

Ya Allah, sembuhkan anakku. Aku sudah memberinya ASI, memberinya cinta dan kasih sayang, semoga apa yang telah kuberikan itu menjadikannya kuat.

Hari ke 8

Anakku, maafkan Mama. Mama lalai menjagamu.

Mama menyayangimu. Mama berusaha menjagamu, namun ada yang terlewat.

Maafkan Mama, seharusnya Mama mengusahakan agar kamu suka makan.

Maafkan Mama, tidak selalu bisa menjagamu dari benda-benda kotor.

Maafkan Mama, membiarkanmu bermain terkena udara luar terlalu lama.

Maafkan Mama, tidak bisa selalu melindungimu.

Sembuhlah Nak, Mama berjanji akan menjadi Mama yang lebih baik untukmu.

Pengakuan dan janji lirih yang kuucapkan disamping telinganya, seraya mengelus punggungnya yang hangat.

Sebentar lagi Cinta minum Panadol ya Nak, agar demammu reda.

Hari ke 9

Cinta hanya mau digendong. Tidurnya gelisah. Jika panasnya tinggi Cinta sering berhalusinasi. Kami kian bertanya-tanya, apa sebenarnya sakit Cinta ini. Kami membawa dokter lain. Dokter kedua ini memberikan antibiotik untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi bakteri. Dokter juga menyatakan belum perlu opname.

Aku dan suami sempat berpikir ingin membawa Cinta ke pengobatan alternatif. Hati kami gelap rasanya, pikiran buntu. Kemana lagi kami harus bertanya? Kemana lagi kami harus meminta tolong? Ya Allah, terangilah hati kami. Mohon petunjukmu.

Hari ke 10 :

Cinta menggigil dalam gendongaku, padahal suhu tubuhnya panas. Intuisiku mengatakan Cinta harus opname saat itu juga. Kami memutuskan untuk membawanya ke RSAB Harapan Kita, Jakarta untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lengkap. Tidak lama, Dokter menyampaikan hasil pemeriksaan, Cinta mengalami bakteremia (infeksi darah) akibat Pnemokokus.

Bagaikan petir mendengar vonis tersebut. Dokter menjelaskan bahwa tingkat keparahannya sudah tinggi. Kami lemas seketika. Aku hanya bisa menangis. Ya Allah, apakah aku akan membawa pulang Cinta dengan keadan normal seperti sebelumnya? Kumohon pada Mu, Ya Tuhanku, berilah kami kesempatan kedua.

Kuusap rambut Cinta.

Kuat ya sayangku, bertahan ya Nak, begitu bisikku didekat telinganya.

Hari ke 11

Kami menyerahkan pengobatan terbaik kepada Dokter di RSAB Harapan Kita. Berbagai tindakan dilakukan, diantaranya tranfusi darah . Saat menyaksikan darah pertama menetes memasuki lengan mungilnya aku bertakbir lirih, Allahu akbar, Allahu akbar, Allah maha besar. Engkaulah yang kuasa menyembuhkan.

Selain itu dokter juga melakukan pemberian antibiotik dan imunoglobulin melalui infus, terapi inhalasi untuk menghilangkan lendir disaluran pernapasan, rontgen paru-paru, USG organ pencernaan, dan pemeriksaan THT.

Dapatkah infeksi dihentikan? Kapankah suhu cinta kembali normal? Pertanyaan penuh harap itu masih tersimpan di benak aku dan suami. Selama itu, aku masih memberi Cinta Panadol setiap 6 jam sekali untuk meringankan demamnya. Cinta pun bisa beristirahat disela-sela sakitnya. Semoga dengan ini tubuhnya semakin kuat melawan penyakit.

Hari ke 12

Selama di rumah sakit, aku terus mendampingi Cinta. Kadang aku ikut berbaring saat menyusuinya. Bahkan saat perawat mengganti jarum infus atau memberikan suntikan, aku harus membantu menenangkan Cinta, mengelusnya, memberinya rasa aman. Aku sendiri juga harus berusaha menenangkan diri sendiri. Aku harus kuat, agar ASI tetap lancar, agar aku tidak jatuh sakit, agar tetap bisa menolong Cinta.

Demam belum reda. Cinta masih berjuang, bersama Panadol yang meringankan deritanya. Kata Dokter, begitu demam reda setelah melalui satu kali periode pemberian Panadol, artinya setelah 12 jam tidak naik lagi suhu tubuhnya, berarti harapan sembuh besar.

Hari ke 13

Cintaku, Mama rindu bermain bersamamu. Mama ingin mengajakmu berlarian di rumput sambil menangkap gelembung. Mama rindu celotehmu yang baru pandai bicara. Mama rindu mendengar tawamu saat badanmu ku ayun-ayun seperti terbang.

Cintaku, Mama sudah menghapal lagu-lagu baru untukmu. Nanti kita nyanyikan bersama. Mama juga sudah menghapal cerita Franklin kura-kura kesukaanmu. Maafkan Mama, kadangkala Mama salah dalam bercerita. Mama tidak melihat buku, Mama hanya menghapal. Rupanya kamu tahu ada bagian yang terlewat. Mama tahu kamu anak yang cerdas.

Cintaku, sembuhlah Nak. Nanti kita berenang lagi. Nanti kita bermain layang - layang lagi. Bagaimana kalau kita melukis cat dengan tangan? Atau kamu ingin bermain boneka di teras rumah? Mama akan siapkan boneka Barbie baru untukmu. Mama tahu kamu pasti suka.

Hari ke 14

Keajaiban yang kutunggu akhirnya datang. Demam Cinta turun pada hari ke 14. Suhu tubuhnya sekarang 37ยบ C. Dokter meminta kami menunggu hingga 2 hari hingga suhu tubuhnya stabil, baru memperbolehkan Cinta pulang.

14 hari yang menegangkan. 14 hari menanti demam anakku turun. Panadol, telah mendampingiku melalui masa-masa sulit itu. Panadol adalah pilihan tepat, dengan jangka waktu pemberian yang agak lama, sesuai dengan dosisi anjuran, Panadol masih aman digunakan. Panadol tidak menimbulkan efek samping atau alergi pada anakku, juga tidak menyebabkan trombosit turun seperti yang ditemukan terjadi pada penggunaan jenis penurun panas yang lain.

Alhamdulillah, anakku bagaikan terlahir kembali. Kami mengadakan syukuran bubur merah putih menyambut kehadiran Cinta di rumah. Dalam beberapa bulan kemudian, Cinta masih rajin kontrol ke dokter untuk mengoptimalkan penyembuhan, dan mengejar ketinggalan berat badan akibat sakit. Banyak hal yang harus kami perhatikan demi menjaga kesehatan Cinta dikemudian hari.

Peristiwa ini membawa hikmah luar biasa bagi aku dan suami sebagai orangtua. Kami semakin menjaga karunia yang dipercayakan Allah. Karunia tiada tara, kebahagiaan memiliki anak. Mendengar tawa ceria Cinta, membuat dunia kami berwarna kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar