Selasa, 07 Agustus 2012

PERPUSTAKAAN RAMAH ANAK UNTUK INDONESIA MEMBACA (Juara 3 Kontes Blog VOA Periode Agustus 2012)

Saat saya membaca artikel di link VOA ini : http://www.voaindonesia.com/content/lsm-as-bangun-perputakaan-bagi-anak-anak-di-indonesia/1216537.html , saya sempat trenyuh, dan bertanya, dimana kita? Dimana kepedulian kita pada anak-anak bangsa? Tapi kemudian saya memilih lebih bernalar, dan berusaha menarik benang merah dari berita tersebut, lantas saya menemukan tiga kata kunci : minat baca, anak-anak dan perpustakaan. Semoga tulisan berikut membawa pencerahan.




Permasalahan minat baca di indonesia

Kita masih prihatin, sejak puluhan tahun, minat baca masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut Andy F. Noya, host acara Kick! Andy yang juga duta baca 2011, “Potensi bangsa Indonesia sangat tinggi secara kuantitas. Namun, fakta membuktikan bahwa kondisi minat baca di Indonesia berdasarkan temuan UNDP tahun 2010, Human Development Indeks, masih sangat rendah, berada di peringkat 112 dari 175 negara.”

Apa yang menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia rendah selama berpuluh-puluh tahun? Berbagai faktor menjadi sumber permasalahan tersebut antara lain sistem pendidikan dengan beban berat namun tidak mengarah pada kebiasaan membaca, tingkat ekonomi dan daya beli buku yang rendah, terjadinya lompatan dari budaya lisan ke budaya menonton yang mana seharusnya di antara kedua budaya ini terdapat budaya membaca dan menulis, dan yang memprihatinkan adalah semakin banyaknya hiburan seperti mal dan arena permainan yang lebih menyenangkan dibandingkan membaca. Membaca masih dianggap sebagai sesuatu hal yang memberatkan, anak-anak tidak mendapatkan kebebasan untuk membaca buku kesukaannya, mereka masih diarahkan untuk lebih membaca buku pelajaran sekolah.

Menurut data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, menunjukkan bahwa masyarakat lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%).


Perpustakaan sebagai perangkat membaca

Terdapat 4 poin penting yang sumber permasalahan minat baca, yaitu sistem pendidikan, budaya masyarakat, ketersediaan buku, dan daya beli yang rendah. Keempat poin tersebut mengacu pada satu perangkat penting yang dapat mengatasi persoalan, yaitu perpustakaan. Masyarakat berharap banyak dari perpustakaan sebagai alternatif toko buku. Di sana, masyarakat bisa menjadi anggota dan meminjam buku. Jadi peran perpustakaan sangat strategis sekali untuk menunjang pertumbuhan minat baca siswa dan masyarakat. Pelayanan, program, dan koleksi perpustakaan menjadi penting untuk menguatkan gerakan tersebut.

Dibutuhkan perencanaan struktural untuk mencapai tujuan tersebut yang melibatkan peran pemerintah, swasta maupun masyarakat. Untuk membangun sistem yang berjalan baik, perpustakaan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan ini bisa didapat salah satunya dengan subsidi pemerintah. Pemerintah daerah dibantu oleh praktisi pendidikan, media masa, komunitas cinta buku dan pihak swasta bersama-sama mendukung pendirian perpustakaan-perpustakaan dilingkungan masyarakat seperti desa/kampung yang pengelolaannya diserahkan kepada unsur masyarakat setempat. Dalam lingkup sekolah, peran kepala sekolah dibantu guru dan pustakawan sangat penting dalam menciptakan perpustakaan yang kondusif agar menarik jumlah pengunjung sebanyak mungkin. Pemerintah daerah juga mempunyai kemampuan untuk memfasilitasi perpustakaan sekolah dengan cara menggandeng pihak-pihak swasta sebagai sponsor atau mitra.


Budaya membaca sejak dini.

Kegiatan membaca buku merupakan kegiatan kognitif yang mencakup proses penyerapan pengetahuan, pemahaman, kemampuan analisis, kemampuan sintesis, dan kemampuan evaluasi. Dengan terbiasa membaca maka seseorang akan memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, kreativitas terbuka, imajinasi tinggi, pemikiran yang maju dan berkembang serta menjadi cikal bakal pemberdayaan manusia yang cerdas dan berintelektual. Membaca adalah wujud dari sifat pembelajar. Sangat pantas jika buku disebut sebagai jendela dunia dan membaca merupakan investasi masa depan.

Agar membaca menjadi suatu hobi dan bukan hanya tugas semata, maka perlu pembiasaan sedini mungkin dan menjadikan kegiatan membaca adalah hal yang menyenangkan. Karena itu, program Gerakan Peningkatan Minat Baca akan lebih efektif jika disasarkan kepada anak-anak.


Ibu,orang pertama yang memperkenalkan anak pada membaca.


Di Negara maju seperti Jepang, gerakan membaca telah dirintis sejak 30 tahun lalu. Jepang memberlakukan gerakan membaca 20 menit untuk ibu dan anak. Dalam gerakan ini seorang ibu dianjurkan membacakan buku 20 menit untuk anaknya yang bisa dipinjam dari perpustakaan umum. Tak diragukan lagi, kemajuan yang dicapai Jepang pada saat ini merupakan buah dari kerja keras pemerintah Jepang untuk membangun budaya literasi yang dimulai sejak dari anak-anak.

Di Belanda, pemerintahnya sangat serius dalam usaha menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak. Membaca dan menulis sudah merupakan gaya hidup dan dimulai sejak usia dini. Walaupun anak-anak kecil belum bisa membaca, pembacaan dongeng atau cerita sebelum tidur, adalah salah satu ritual penting bagi hampir seluruh anak Belanda. Pemerintah Belanda bekerja sama dengan perpustakaan, taman bermain, taman kanak-kanak dan sekolah dasar, menyelenggarakan sejumlah kegiatan gemar membaca yang berlangsung reguler.

Salah satu negara tetangga yaitu Australia, menumbuhkan minat bacanya masyarakatnya dengan menjadikan anak-anak sebagai sasaran utama. Sejak warganya masih bayi, Pemerintah Australia sudah memperkenalkan dengan buku, caranya setiap ibu yang melahirkan mendapatkan kunjungan dari lembaga kesehatan pemerintah untuk melihat kondisi ibu dan membawakan buku pertama bayi. Buku tersebut dibuat berdasarkan penelitian, sehingga sangat berguna untuk bayi.

Di South Australia dan Victoria, pemerintah daerah menyelenggarakan Premier’s Reading Challenge atau Tantangan Membaca dari Premier (Kepala Pemerintahan Tertinggi). Kegiatan ini ternyata sangat berdampak positif bagi anak-anak. Setiap hari anak-anak meminjam buku yang berbeda dari sekolahnya untuk dibaca malam harinya. Dan yang menarik, mereka membaca tanpa paksaan.

Departemen Pendidikan dan sekolah di Australia menumbuhkan minat baca sejak anak-anak belum bisa membaca. Sekolah menerapkan Reading Journal, yaitu catatan harian masing-masing anak tentang buku apa yang telah dibacanya setiap hari. Catatan tersebut akan diperiksa oleh guru pada akhir bulan dan anak yang berhasil membaca 25 buku dalam sebulan akan mendapatkan penghargaan. Penghargaan yang dimaksud bukan berupa materi, hanya sebuah stiker kecil bertuliskan “25 Night Reading Certificate” yang ditandatangani sang guru. Penghargaan sederhana ini sudah sangat membuat anak-anak gembira dan semangat untuk membaca.

Dari contoh-contoh di atas, terlihat bahwa perlu adanya keterlibatan secara aktif dari berbagai pihak seperti orangtua, guru dan pemerintah untuk menumbuhkan minat baca sejak dini. Sulit mengharapkan anak-anak dan remaja untuk datang ke perpustakaan tanpa ada upaya yang jitu dan daya tarik dari perpustakaan itu sendiri. Menghadirkan perpustakaan yang ideal dan ramah anak adalah salah satu titik penting keberhasilan tujuan ini mengingat daya beli masyarakat terhadap buku masih rendah.


Membangun Perpustakaan Ramah Anak

Dua kata kunci, yaitu perpustakaan dan anak-anak, yang kemudian digabungkan menjadi perpustakaan ramah anak, dirasa menjadi investasi jangka panjang yang masuk akal dalam meningkatkan minat baca bangsa.

Sebenarnya anak-anak bangsa ini haus buku bacaan. Mereka menjadikan perpustakaan sekolah atau perpustakaan di daerahnya sebagai tempat favorit. Mobil-mobil perpustakaan keliling pun selalu ramai dikunjungi. Lalu bagaimana dengan Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah? Kebutuhan membaca bagi anak-anak seringkali dinomorduakan. Perpustakaan daerah, perpustakaan umum, juga perpustakaan nasional belum menyisihkan ruang memadai untuk anak. Perpustakaan anak justru dikembangkan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang peduli pada pendidikan anak.

Dunia anak identik dengan keceriaan bermain. Karena itu untuk dapat menjadikan suatu perpustakaan sering dikunjungi anak-anak, maka diperlukan konsep perpustakaan ramah anak. Tentu saja isi perpustakaan itu harus menarik. Pertama yang anak lihat adalah penampilan fisik dari perpustakaan itu. Perpustakaan ramah anak menyatukan fungsi sebagai wahana pendidikan dan sekaligus hiburan bagi anak sehingga anak betah di perpustakaan. Perpusatakaan ini didesain sedemikian rupa agar tujuan awal pendirian perpustakaan dapat tercapai.

Di Indonesia juga telah ada perpustakaan ramah anak meskipun jumlahnya belum banyak dan belum berskala nasional. Di Bandung juga telah didirikan Perpustakaan Anak Salman (PAS) yang dibangun atas inisiatif Pembinaan Anak-Anak Salman (PAS) ITB dengan pendanaan dari alumni Salman ITB. Selain buku anak, fasilitas ini juga akan dilengkapi multimedia untuk anak. Irfan Ramdani, ketua PAS ITB, menuturkan bahwa perpustakaan tersebut setiap minggunya, akan menjadi tempat pembinaan adik-adik PAS ITB. Harapannya perpustakaan ini bisa banyak dikunjungi oleh anak-anak dan mereka nyaman berdiam diri di perpustakaan. Perpustakaan Anak Salman akan menjadi tempat paling bersih di komplek Salman ITB. Penataan ruangan meliputi pemilihan warna, pengecatan ruangan, pemasangan lampu, pemasangan karpet, hingga pembuatan gapura membuat perpustakaan ini menarik.

Di Surabaya, tepatnya di Jalan Mayjen Sungkono , terdapat perpustakaan anak yang merupakan cabang dari Perpustakaan Wilayah Propinsi Jawa Timur, yang didirikan khusus untuk anak-anak. Fasilitas yang akan dibangun meliputi ruang koleksi, ruang baca, ruang bermain, ruang mendongeng, ruang audiovisual, ruang komputer, konter sirkulasi, lobby dan fasilitas pendukung lainnya. Konsep yang digunakan dalam perancangan adalah `taman bermain’.


Perpustakaan swadaya "anak bangsa", foto diambil dari sini

Menilik dari berbagai contoh perpustakaan anak tersebut diatas, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam menciptakan perpustakaan anak ataupun perpustakaan umum ramah anak, antara lain:

Suasana interior.
Anak-anak pasti menyukai ruang perpustakaan yang cerah dengan dinding berwarna terang, ditambah foto atau lukisan yang menarik di dindingnya. Ruang baca sebaiknya tidak terlihat gelap dan pengap aroma buku. Sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan yang cukup penting untuk menciptakan ruangan yang nyaman, sekaligus sebagai langkah perawatan buku agar tidak mudah rusak karena udara lembab. Untuk membangun perpustakaan seperti ini tidak harus mewah. Dengan mengandalkan kreativitas, sebuah rumah bisa disulap menjadi perpustakaan. Saat ini kehadiran rumah baca cukup banyak dan menggembirakan.

Koleksi buku dan CD audio visual.
Persoalan koleksi buku menjadi sorotan utama pengguna layanan perpustakaan. Tentu saja tidak hanya masalah jumlah yang harus diperbanyak, perpustakaan juga harus mampu menjadi penyedia sekaligus filter dengan menyediakan buku-buku bermutu saja. Buku bermutu yang dimaksud tidak hanya buku baru, namun juga buku dari masa ke masa. Mengenal buku dari jaman anak-anak belum lahir tentu menambah wawasan dan menjadi suatu pengalaman yang menarik.

Pelayanan perpustakaan.
Keceriaan anak-anak seringkali menyebabkan suasana gaduh dalam ruang perpustakaan. Untuk mengatasi hal ini, perlu ditempatkan petugas perpustakaan yang sabar dan mampu memberi penjelasan kepada anak-anak tentang peraturan perpustakaan. Sang pustakawan juga harus mengerti bagaimana memperlakukan anak-anak dengan ramah, dan membantu kesulitan mereka dalam mencari koleksi buku yang diinginkan.

Anak-anak yang masih relatif baru dengan berkenalan dengan perpustakaan tentu akan semangat meminjam buku. Semangat ini hendaknya didukung dengan penerapan system peminjaman yang mudah bagi mereka.

Mendengarkan Cerita.
Anak-anak memang masih terbatas kapasitasnya dalam membaca. Karena itu diperlukan bantuan orang dewasa untuk membacakan buku cerita. Pembacaan cerita atau story telling adalah kegiatan yang umum dilakukan di perpustakaan-perpustakaan ramah anak. Dengan kegiatan ini, tidak ada batasan bagi anak yang belum bisa membaca sekalipun untuk dapat mengkonsumsi buku bacaan. Story telling dapat dilakukan secara berkala seminggu sekali atau dua kali dengan jam dan tempat yang telah diinformasikan kepada umum.


Anak mana yang menolak menyimak story telling?


Dengan adanya perpustakaan ramah anak diharapkan anak-anak Indonesia gemar mengunjungi perpustakaan dan menjadikannya sebagai tempat favorit mereka. Dari membaca mereka juga akan terbiasa berdiskusi dengan teman tentang hal-hal yang terkait bacaaan mereka. Dengan begitu, anak-anak akan merasa terbiasa dan nyaman dengan suasana perpustakaan.

Tidak sekedar impian jika seluruh kenyamanan tersebut dapat dipenuhi, anak-anak akan lebih suka berkunjung ke perpustakaan daripada ke area permainan di mal. Apalagi jika perpustakaan dijadikan sebagai jadwal kunjungan hari libur, sehingga anak-anak akan terbiasa melakukan studi literature. Menumbuhkan kebiasaan lebih mudah dilakukan sejak anak-anak. Kebiasaan untuk menjadikan buku sebagai gudang ilmu dan sumber informasi akan lebih mudah ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Jika saat ini budaya anak-anak membaca dilakukan, maka 5-10 tahun lagi target Indonesia membaca akan tercapai.

Referensi :



http://bpad-kepri.pnri.go.id/content/andy-f-noya-duta-baca-indonesia

http://adronafis28.wordpress.com/2010/12/20/minat-baca-dan-generasi-kompetitif/
Damayanti, Mia dan Ayu Sekar Sari, WNI yang tinggal di Adelaide Australia. (Wawancara pribadi)
http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_4531.html
http://salmanitb.com/2010/09/pas-itb-bangun-perpustakaan-khusus-anak/
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/perpustakaan-anak-belanda
http://bz.blogfam.com/2006/03/mengintip_perpustakaan_anak_di.html


Tulisan ini diikutkan dalam Kontes Ngeblog VOA

dan memenangkan Juara Ke 3 Periode Agustus 2012



11 komentar:

  1. Di Indonesia masih banyak orang tua yang belum mengerti bahwa mendukung anak pada minat baca itu sama dengan mengasah kecerdasan mereka. Dianggapnya aktivitas membaca itu tidak menghasilkan apa-apa. Mereka juga tidak mau susah-susah mengantar anak ke perpustakaan, apatah lagi membeli buku bacaan. Menyedihkan sekali.

    BalasHapus
  2. Yup, disini yg namanya dukungan membaca hanya berlaku untuk buku pelajaran. Sementara kalo buku cerita atau majalah dianggap mengganggu sekolah. Mudah-mudahan lambat laun paradigmanya berubah ya..

    BalasHapus
  3. wah.. bermanfaat sekali mbak arin..
    mulai hari ini insyaalloh mau mulai bacain buku cerita buat dedek bayiQ ^^b

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun, sedini mungkin lebih baik. Biarpun sekedar pegang-pegang buku :)

      Hapus
  4. waduh,,, kalo gitu saya akan donengin anak saya di tiapa malam dech

    BalasHapus
  5. iya bener, waktu anakku masih 3th aku selalu bacain buku cerita tiap mau tidur.alhasil sekarang usia 6th suka baca dan ngarang cerita seperti dia gambar orang lalu di kasih tulisan percakapan (mirip komik). tapi kalau ngajak anak ke perpustakaan masih belum pernah deh, perlu di coba ahh...hehe

    BalasHapus
  6. mencerahkan mbak Arin, ijin mengutip dengan menyebut nara sumber ya

    BalasHapus
  7. ajarkan membaca sedini mungkin walaupun hanya pegang-pegang dan robek buku, huhuhu...

    BalasHapus
  8. Salam santun Mba Arin, blog'a menginspirasi sekali...
    di Indonesia memang sangat minim sekali orang Tua yang menerapkan
    Budaya membaca kepada anak-anaknya sebagai hal mutlak yang lebih dari
    sekedar kewajiban. Saat ini membaca kerap hanya menjadi hobby bukan prioritas' dan kebutuhan primer yang mendasar...
    Padahal kita tau bahwa pendidikan informal yang paling efektif adalah melului buku dan perpustakaan.
    Kurangnya penanaman Nilai dan budaya membaca sejak awal sangat mempengaruhi
    perkembangan pedidikan dan minat dalam mencintai ilmu pengetahuaan saat ini..
    Keinginan daya beli pun menjadi rendah karena kesadaran dari penanaman nilai yang minim tadi' Buku" hanya di padang sebagai bahan bacaan yang bersampul Indah... Bukan seperti Emas bahkan lebih dari Berlian...
    yah' perlu di akui bahwa pemerintah Indonesia belum maksimal dalam meningkatkan Upaya membrantas kebodohan' dan mencerdasakan kehidupan bangsa.
    Media-Media sosialpun kerap hanya menyediakan berita-berita yang kurang bermutu'
    Jarang menampilkan Upaya-upaya untuk menyediakan jasa pelayanan perpustakaan dan kefahaman akan mutu perpustakaan terhadap dampak-dampak sosial'pendidikan bahkan dalam segala aspek moril, sangat jarang media-media bahkan Iklan2 di Indonesia yang menjadikan buku adalah produk paling berharga' apalagi dalam memotivasi kesadaran masayarakat terhadap kesadaran dan pentingnya upaya kita sendiri untuk mengapresiasi penuh segala hal yang dapat meningkatkan minat baca...

    Harapan'saya semoga kelak lebih banyak para pustawakan yang mau memproklamir
    habis-habisan tentang dampak perpustakaan dalam seluruh aspek tidak hanya pendidikan saja' tetapi ke segala bidang dalam meciptakan karya seni maupun pengembangan kreativitas bangsa...

    Amin...:D

    BalasHapus