Senin, 01 Oktober 2012

HARAPANKU, PLN UNTUK INDONESIA, BISA !

ditulis oleh : Murtiyarini
Lilin, alat penerangan jaman dulu. (Foto : koleksi pribadi)


Saya suka membaca. Bisa dibayangkan, apa jadinya kalau malam-malam ingin membaca tiba-tiba listrik padam? Masa iya, membaca segini banyak buku dengan penerangan lilin ? Jangan lah ya...



Antara Kecewa dan Harapan
Nyaris semua aktivitas saya sehari-hari menggunakan listrik.  Menggunakan lampu sudah jelas.  Kadang-kadang tidak hanya malam, siang saat matahari sembunyi dibalik awan saya menyalakan lampu untuk membaca. Selain itu saya membutuhkan listrik untuk sumber energi leptop dan gadget, memasak, mencuci baju, setrika, menonton TV, kulkas, penyedot debu dan lain-lain.


Tidak hanya di rumah, energi listrik diperlukan juga di kantor dan di jalan.  Di kantor sudah pasti komputer, internet dan alat komunikasi membutuhkan listrik, begitupun alat-alat laboratorium.  Alhasil, ketika mendadak listrik padam, otomatis aktivitas kantor berhenti. Tetapi mau pulang ke rumah masih mikir-mikir, untuk apa pulang kalau jalanan jadi macet gara-gara lampu lalu lintas tidak menyala, dan sesampainya di rumah juga tidak bisa melakukan apa-apa. Parahnya lagi, seringkali pemadaman ini tanpa pemberitahuan yang jelas sehingga kita tidak bisa bersiap-siap.  Mati listrik benar-benar membuat saya mati gaya.

Dari buku Energi dalam Perencanaan Pembangunan yang saya baca (link di sini), disebutkan bahwa Indonesia termasuk negara berkembang  dengan permintaan energi listrik sangat tinggi, dan meningkat 8-10 % per tahun hingga tahun 2010. Hal ini konon wajar dengan nilai konsumsi listrik per kapita di Indonesia yang masih rendah, yaitu rasio elektrifikasi nasional sekitar 53%.

Pemenuhan listrik di tanah air mengandalkan PT. Perusahaan Listrik Negara ( PT. PLN) dengan pola monopoli di seluruh wilayah tanah air.  Kekecewaan masyarakat pada layanan listrik secara langsung bermuara pada kekecewaan terhadap PLN. Sebagai orang awam, saya hanya bisa mengungkapkan kekecewaan dengan membuat daftar harapan-harapan.  Adapun solusi tepatnya, saya hanya mempelajari dari permukaan dan meraba-raba sepertinya banyak hal yang bisa diupayakan oleh PLN. 

Masih bisakah saya berharap pada PLN? Dengan adanya lomba blog yang diselenggarakan oleh PLN dan Blogdetik ini, saya berpikir tampaknya PLN membuka diri bagi kritik dan saran masyarakat luas dan ingin menggali lebih dalam harapan masyarakat.  Apalagi temanya sangat mengena “Harapanku untuk PLN”.

Keterbukaan PLN ini membawa harapan baru bagi saya, PLN mau melakukan perbaikan.  Karena itu, saya akan tuliskan semua harapan saya untuk PLN di blog ini. Bukan masalah menang atau kalah, setidaknya semua “uneg-uneg” tentang listrik di Indonesia dapat dibaca oleh pihak PLN.

Harapan #1. Listrik untuk Semua
PLN sebagai satu-satunya pemasok listrik nasional, tentunya semua harapan penerangan bertumpu pada PLN.  Seluruh rakyat Indonesia punya hak yang sama untuk menikmati fasilitas listrik.  PLN mengoperasikan sekitar 600 sistem penyediaan listrik di seluruh indonesia.  Paling modern adalah jaringan di Jawa, Madura dan Bali,. Sistem ini terinterkoneksi dengan jaringan 500 kV dan kabel laut 150 kV, memanfaatkan energi primer sebagai bahan bakar, melayani sekitar 13 giga watt atau lebih separuh permintaan listrik tanah air (data dari buku di link ini)

Diluar Jawa, Madura dan Bali, sistem yang dikembangkan belum efisien, masih menggunakan diesel yang mengandalkan BBM, dan belum terinterkoneksi.  Kongkretnya, masih banyak wilayah di Indonesia yang belum menikmati listrik, kalaupun ada listrik masih dengan penyalaan pemadaman bergilir.

Dampak luas ketiadaan listrik adalah terhambatnya proses belajar mengajar, aktivitas perekonomian dan arus informasi.  Bisa dibayangkan betapa gelapnya malam-malam daerah terpencil, sedangkan di kota besar saja ada beberapa ruas jalan tol yang sangat irit listrik, bahkan tidak ada lampu jalan.  Padahal penerangan jalan sangat penting demi keamanan lalu lintas.  Bandingkan dengan curahan lampu-lampu di pusat-pusat hiburan dan perbelanjaan di kota.  Jika dikurangi setengahnya saja, masih bisa dipastikan terang benderang. Jadi kenapa tidak dikurangi pada bagian tersebut? Rasa-rasanya kesenjangan ini kian terasa.


Kasihan, seorang anak belajar dengan penerangan minim.
(Foto: koleksi pribadi)

Gemerlap Ibu Kota. (Foto diambil dari sini)

Harapan #2. Sosialisasi Pemadaman

Sore hari, jika tiba-tiba hujan turun deras dan angin kencang, bisa diduga dalam beberapa menit kemudian listrik akan padam.  Karena sering terjadi hal ini, saya sudah siap sedia dengan dua benda andalan yaitu lilin dan lampu darurat.  Konon, pemadaman saat hujan ini adalah system pengamanan listrik yang bekerja secara otomatis agar gardu listrik tidak tersambar petir. Alasan yang bisa diterima.

Tapi lain waktu, siang bolong listrik tiba-tiba mati. Alasannya? Perbaikan atau penghematan? Tapi kok cukup sering ya? Di kantor, saat saya sedang mengantar seorang tamu dari Jepang melihat-lihat pekerjaan penelitian, tiba-tiba listrik padam. Seluruh alat laboratorium yang menggunakan listrik berhenti bekerja.  Sang tamu berkomentar begini : Di Negara kami listrik mati hanya jika ada hujan, badai, gempa atau bencana lainnya” . Saya jadi malu, bingung mau menjawab apa.


Ini adalah 2 benda andalan saya saat listrik padam. (Foto : koleksi pribadi)
Ya, saya berbaik sangka pada PLN, pasti ada alasan terkait pemadaman. Masalahnya, alasan tersebut tidak pernah saya tahu pastinya. Lebih senang lagi jika masyarakat diberitahu satu atau dua hari sebelumnya. Pemberitahuannya bisa dilakukan dengan cara yang efektif, melalui radio, siaran tv lokal, mobil keliling, masjid-masjid atau aparatur desa. Yang penting, semua mendapat informasi yang jelas, tidak sepotong-sepotong dan hanya sebagian kecil orang yang tahu.

Harapan #3. Tarif Listrik yang Wajar dan Kemudahan Pembayaran
PLN sebagai satu-satunya penyedia listrik nasional sangat menentukan harga listrik, dan mau tidak mau masyarakat yang ingin menikmati penerangan membayar tanpa banyak protes.  Harga pun ditetapkan oleh pemerintah dengan dalih”untuk kepentingan rakyat banyak”  Mungkin bukan saya sendiri yang merasa, tarif listrik terus naik dari waktu ke waktu, tapi listrik lebih sering padam.  Dimana logikanya?

Tingginya tarif listrik yang terjadi di beberapa daerah  dikarenakan jarak lokasi jaringan yang berjauhan dengan tiang eksisting, serta jumlah titik lampu yang akan dipasang di setiap rumah. Tingginya tarif juga disesuaikan kualitas kabel di beberapa daerah. Karena  setiap daerah memiliki sifat geografisnya berbeda, antara masyarakat yang tinggal di kota dengan desa atau pegunungan. Tarifnya akan lebih mahal di desa atau pegunungan, karena lokasinya yang jauh serta tidak merata penyebarannya (info dari sini).  Selain itu, tingginya tarif dasar listrik karena bahan bakar pembangkit listrik masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Jika harga minyak melambung, otomatis tarif dasar listrik mengalami penyesuaian.

Harapan saya, saat PLN menaikkan tarif dasar listrik tidak lupa untuk menyertakan sosialiasi alasan kenapa tarif tersebut naik, sehingga masyarakat memberikan pengertiannya. Namun, tentu saja, kenaikan tarif ini harus disertai dengan peningkatan pelayanan dan kestabilan suplai.
Belum lagi biaya ini itu misalnya untuk sambungan baru dengan proses berbelit-belit dan rawan pungutan liar. Upaya PLN untuk mempermudah permintaan instalasi dan sistem pembayaran sangat efektif mengurangi praktek-praktek illegal oknum PLN yang berdampak pada bengkaknya biaya-biaya.  Didukung dengan perubahan sistem pasca bayar menjai pra bayar yang memudahkan konsumen membayar kapan saja. Saya sangat mendukung sistem ini karena selain membuat konsumen belajar berhemat juga tidak menyebabkan PLN mengalami kerugian karena penunggakan pembayaran.  Listrik akan mati sendiri kalau pulsanya habis.

Tinggal klik www.pln.co.id untuk pasang baru atau tambah daya. Mudah kan?


Harapan #4. Pemeliharaan Perangkat Listrik yang Aman dan Pembangunan Infrastruktur yang Efisien.
Seringkali terdengar kabar sebuah kampung mengalami kebakaran dan menghanguskan puluhan rumah karena terjadinya hubungan pendek arus listrik atau korslet.  Menjadi kewajiban PLN untuk merawat perangkat dan pra sarana listrik dan memastikan layak guna dan aman untuk memasok listrik hingga tingkat rumah-rumah.  Tiang listrik yang miring, kabel yang kendor dan mengelupas penting untuk diperiksa.  PLN diharapkan melakukan pemeriksaan alat secara berkala ke rumah-rumah. Contohnya seperti yang dilakukan pada rumah susun di Tambora, Jakarta Barat (link di sini). 

Kegiatan ini juga harus dilakukan secara terstruktur agar terhindar dari penipuan dan korupsi oknum atau orang yang mengaku oknum PLN. Selain itu, PLN diharapkan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bagaimana penggunaan listrik yang aman. Tujuannya agar masyarakat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan misalnya kesetrum, kerusakan alat, hubungan arus pendek dan kebakaran. 



Kabel listrik yang kendor di suatu lokasi di Bogor.
Hanya sedikit lebih tinggi dari saya, 155 cm. (Foto : koleksi pribadi)


Sebuah tiang listrik di Sleman miring. Foto dari sini
Galian kabel PLN di tepi jalan. Foto dari sini
Di pinggir-pinggir jalan sering kita jumpai galian lubang, ada galian pipa PDAM, pipa gas, kabel telepon dan kabel PLN.  Boleh saja gali-gali jalan untuk pembangunan, namun petugas yang mengerjakan hal tersebut seharusnya tidak lupa untuk menutup lubang dan mengembalikan seperti kondisi semula. Yang sering terlihat, bekas galian dibiarkan begitu saja, tidak rapi dan membahayakan pengguna jalan.  Dalam setahun bisa saja beberapa kali gali lubang tutup lubang, sangat tidak efisien.  Harapan saya, dalam pembangunan infrastruktur, PLN berkoordinasi dengan dinas-dinas lain sehingga pekerjaan lebih efisien.

Harapan #5. PLN Transparan dan Bersih
Sebagai satu-satunya badan yang menyediakan listrik nasional,  PLN bertindak secara monopoli.  Dalam perkembangannya, praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) banyak dilakukan oknum PLN.  Yang langsung dirasakan oleh masyarakat adalah pungutan-pungutan liar pada saat masyarakat mengajukan penambahan daya listirk, membuka sambungan baru, membayar tagihan listrik yang terlambat, perbaikan alat dan lain-lain.  Dipicu oleh layanan PLN yang kurang memuaskan, kemudian muncul prasangka-prasangka terjadinya korupsi pada level yang lebih tinggi.

Demi membersihkan PLN dari praktek-praktek KKN ini, pemberantasan KKN harus dilakukan pada berbagai level manajemen dari tingkat atas yaitu pembuat kebijakan dan pengambil keputusan, pengelolaan anggaran, penyediaan teknologi, sarana dan prasarana, hingga pada level pegawai yang berhubungan langsung dengan masyarakat sebagai konsumen.

Harapan #6. Peningkatan Kualitas SDM
Untuk dapat menjalankan praktek penyediaan listrik bagi seluruh masyarakat Indonesia diperlukan pembaruan teknologi dan perbaikan pelayanan.  Kedua hal tersebut sangat tergantung pada kualitas SDM.  Karena itu PLN sepantasnya merekrut SDM yang cerdas, professional, memiliki wawasan kebangsaan yang baik, jujur dan berakhlak baik.  Untuk mendapatkan SDM yang sesuai harapan, maka dalam proses perekrutan PLN harus bebas dari KKN.  Beberapa tindakan yang diambil Menteri BUMN Dahlan Iskan adalah upaya nyata untuk meningkatkan kualitas layanan yaitu dengan memangkas birokasi PLN. (sumber dari sini)

Pada bidang teknologi, diperlukan SDM yang menguasai teknologi-teknologi pembaruan energi untuk penyediaan listrik.  Sedangkan pada bidang pendanaan dan regulasi diperlukan SDM yang mempunyai kemampuan manajemen yang tegas dan berakhlak baik agar terhindar dari tindakan KKN. Dan pada bidang pelayanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat diperlukan SDM yang ramah, komunikatif, cekatan, dan tentu saja bebas KKN, sehingga tidak melakukan pemerasan atau pungli.

Semboyan untuk pegawai PLN

 Harapan #7 PLN Mengembangkan Sumber Listrik Alternatif
Saat ini sumber listrik terbesar adalah dari tenaga air.  Padahal seperti kita tahu, banyak sumber energi listrik yang bisa dimanfaatkan di negara yang kaya akan sumber daya alam ini. 

Indonesia sebagai negara tropis mendapatkan curahan cahaya matahari sepanjang tahun.  Matahari bisa menjadi sumber energi alternatif dengan sistem panel-panel solar dan baterai yang bisa menyuplai listrik. Dalam waktu dekat biaya membangun pembangkit listrik matahari diperkirakan turun 40%. Ini adalah kesempatan bagi PLN sehingga dapat lebih serius mengupayakan membangun pembangkit listrik tenaga surya.  Sebuah riset menunjukkan tenaga surya dapat memasok listrik 200 MW  untuk Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.  Dan kabar baiknya lagi, investasi untuk pembangunan pembangkit tenaga surya sekitar Rp 5 trilyun akan akan balik modal setelah beroperasi selama 5 tahun, karena  sama dengan mengurangi kebutuhan BBM senilai Rp 1 trilyun per tahun.

Panel  listrik tenaga surya. Foto diambil dari sini
Indonesia juga memiliki garis pantai yang panjang dan hebusan angin yang kencang dari laut. Angin merupakan sumber alternatif yang bisa dimanfaatkan dengan menggunakan kincir-kincir angin seperti yang banyak ditemukan di negara Belanda. Angin adalah sumber energi bersih, dan secara keseluruhan, memiliki dampak lingkungan yang lebih sedikit karena tidak melepaskan emisi yang mencemari udara dan air. 

Kincir angin pembangkit listrik. Foto diambil dari sini.
Indonesia juga banyak memiliki gunung berapi yang potensial mengeluarkan panas bumi.  Energi panas bumi bisa dimanfaatkan dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. Dampak negatif pemanfaatan energi panas bumi ini tehadap lingkungan bisa dikatakan tidak menimbulkan dampak negatif.  Tidak ada emisi karbon, tidak ada hujan asam. Sehingga menjadikan panas bumi sebagai sumber energi yang ramah lingkungan.

Dan Indonesia juga memiliki jumlah penduduk besar dan setiap harinya menghasilkan tumpukan sampah.  Sampah –sampah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bio gas  yang juga menghasilkan listrik. 

Pembangkit listrik tenaga panas bumi. Foto diambil dari sini

Banyak alternatif sumber energi, pertanyaannya, mampukah PLN mengolah sumber energi itu saat ini atau dalam waktu dekat? Apakah PLN memiliki teknologi yang memadai dan aman untuk pemanfaatan energi alternatif itu.   Dan tentu saja, pengadaan teknologi tersebut membutuhkan biaya, cukupkah anggaran yang tersedia untuk energi listrik di Indonesia? Semoga, para pejabat dan ilmuwan PLN mampu segera mewujudkan impian Indonesia memiliki sumber energi listrik yang mampu mencukupi seluruh negeri.

 Harapan #8 PLN Mengembangkan Sumber Bahan Bakar Alternatif

Saat ini PLN  banyak menggunakan bahan bakar minyak untuk membangkitkan energi listriknya.  Padahal, seperti kita tahu, harga BBM sangat tinggi dengan ketersediaan yang terbatas. Harga minyak yang melambung berpengaruh pada kenaikan tariff dasar listrik.   Tidak hanya mengupayakan produksi energi alternatif, PLN juga sudah saatnya beralih pada sumber bahan bakar alternatif seperti batubara dan gas bumi.

Pemerintah mulai Mei 2012 memberlakukan kebijakan pelarangan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bagi operasional pembangkit listrik baru sebagai satu gerakan penghematan dan konversi BBM (sumber di sini). Berita gembiranya, PLN menargetkan semua pembangkit listrik di Pulau Jawa tidak lagi memakai bahan bakar minyak mulai tahun 2012 ini. PLN menargetkan pemakaian BBM turun dari 21,12 % tahun 2011 menjadi 10 % di tahun 2012  dan tahun 2012 menjai 1 % dari total campuran energi.  Hal itu seiring mulai beroperasinya pembangkit listrik tenaga uap dan penambahan pasokan gas untuk pembangkit. (sumber berita dari sini)

Saat ini, tiga pembangkit listrik di Jawa masih memakai BBM, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang dan PLTGU Tanjung Priok di Jakarta, serta PLTGU Muara Tawar di Bekasi, Jawa Barat.  Diharapkan mulai Agustus nanti, BBM tidak lagi digunakan untuk mengoperasikan PLTGU Muara Karang dan PLTGU Tanjung  Priok.

Harapan #9 PLN Memperbaiki Struktur dan Berkomitmen pada Rakyat
Pemerintah telah mengesahkan UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, menggantikan dengan UU yang sebelumnya, UU No. 15 Tahun 1985.  Perbedaan yang mendasar adalah pelaku yang terlibat dalam penyediaan tenaga listrik. Menurut pasal 11 ayat (1) UU 30 Tahun 2009, selain BUMN  (PT.PLN), BUMD, badan usaha swasta, koperasi dan swadaya masyarakat  juga punya hak yang sama dalam hal melakukan usaha penyediaan tenaga listrik.  

Teorinya yang dikenal secara umum, model kompetisi akan berpengaruh pada kinerja dan harga yang lebih efisien daripada pasar monopoli. Pengelolaan secara monopoli telah lama dikoreksi dan mengarah pada terjadinya restrukturisasi sektor energi Indonesia  seperti dituangkan melalui UU No 30/2009 dan menjadi semangat restrukturisasi. Keberadaan swasta dan pemerintah daerah dimaksudkan untuk tujuan membantu pemerintah mencapai target pelayanan yang sulit dilakukan apabila PLN bekerja sendirian.  Namun, PLN sebagai perpanjangan tangan dari Negara tetap menjadi pelaksana utama.  Rakyat berharap, restrukturiasi yang mengarah pada privatisasi tidak lantas berakhir pada penjualan saham PLN kepada negara lain.  

Selain perbedaan yang di atas, UU No. 30 Tahun 2009 juga mengatur regionalisasi penentuan tarif tenaga listrik (pasal 34) dan jual-beli tenaga listrik dengan Negara lain (pasal 37 – pasal 41).  Kembali, demi kepentingan rakyat banyak, segala PLN menerapkan UU tersebut sebaik-baiknya.  Semangat menciptakan badan yang bebas KKN menjadi pokok pemikiran yang penting pada Hari Listrik Nasional yang ke 67 Tahun.  Good Corporate Governance (GCG) harus ditegakkan di setiap sudut PLN.  Hal ini akan memperbaiki sistem dan kinerja dari PLN.

Harapan#10  PLN Mencintai dan Dicintai Rakyat
Rakyat sudah jelas tergantung dengan pasokan listrik dari PLN. Rakyat membutuhkan PLN. Namun, apakah rakyat sudah mencintai PLN ? Urusan cinta dalam hal ini ini sangat tergantung sikap dan pelayanan PLN dalam penyediaan listrik nasional.  Ajakan pada rakyat hemat energi dibarengi dengan kestabilan dan pemerataan suplai listrik, ajakan untuk tidak mencuri listrik dibarengi dengan tarif dasar listrik yang rasional, program listrik pra bayar dibarengi dengan pemberantasan praktek KKN.  Rakyat pasti dengan senang hati membantu gerakan-gerakan nasional yang memang positif, seperti hemat energi, hemat air, peduli keamanan kelistrikan dan lain sebagainya.  Kuncinya, PLN harus berkomunikasi intensif dan merangkul rakyat.

PLN memang tidak bisa berjalan sendiri.  Kerja PLN akan berjalan baik apabila didukung oleh rakyat dan pemerintah.  Karena itu saatnya PLN merangkul rakyat, caranya, PLN meningkatkan pelayanan, aktif bersosialisasi dan aktif berkomunikasi dengan rakyat. 

Aku Percaya PLN Bisa!
Saya memang hanya pengguna listrik yang hanya bisa berharap tanpa paham teknis apa dan bagaimana listrik itu bisa sampai kita nikmati.  Mungkin saya telah menlontarkan harapan yang cukup tinggi.  Saya tahu, tidak semudah membalikkan telapak tangan karena ini adalah hal besar dan melibatkan banyak pihak.  Namun, saya yakin, apabila PLN berusaha kuat mengatasi semua hambatan, Insya Allah, harapan-harapan rakyat ini akan terwujud. Di tangan PLN lah kami percayakan listrik untuk bangsa.  Semoga, di tahun ke 67 ini PLN makin jaya dan melayani rakyat sebaik-baiknya.

Tulisan ini diikutkan dalam Kontes Blog Aku dan PLN #HarapanUntukPLN 

19 komentar:

  1. keren tulisannya mbak Arin, apik banget dan penuh inspirasi. Good luck yaa ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih..amiiin... bisa posting karena listrik pas bisa diajak kompakan :))

      Hapus
  2. Wah, ini lengkap sekali mbak'e. niat dan kreatif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih. Ini sekaliaan melampiaskan uneg-uneg, Mas Agus... :)

      Hapus
  3. klo sang master sudah datang.. tulisannya selalu kerennn :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Master?? Gubrak!! Hahaha...
      Terimakasih apresiasinya mba Hana, yuk meramaikan :)

      Hapus
  4. Memang bagus ini artikelnya. Makasih jadi referensi untuk perlombaan berikutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir mas Amat, semoga tulisan ini bermanfaat:)

      Hapus
  5. lengkap bahasannya....kayaknay menang nich...:)

    BalasHapus
  6. Makasih udah mampir...minimal dibaca PLN, kalo menang ya sesuatu banget deh, hehehe...

    BalasHapus
  7. Wuiiiih..komplit banget tulisannya mbak Arin. Udah gitu enak dibaca lagi
    Semoga menang ya mbak :)

    BalasHapus
  8. Thanks mba Fardelyn, saya mencoba mengumpulkan harapan-harapan untuk PLN, yg terkumpul "hanya" 10 point di atas. Mudah2an ini jadi bagian puzle dan bisa dikumpulkan dg harapan peserta lain, biar lebih komplit :)

    BalasHapus
  9. bagus tulisannya mbak..enak bacanya, gampang dimengerti setiap kata-katanya..semoga menang ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mba Reeta, mudah dimengerti? Syukurlah, tulisan awam untuk sesama awam, pake bahasa yg mudah saja hehehe...

      Hapus
  10. bu Arin klo udah nulis emang ok punya. mudah2an ga hanya di baca PLN saja. Bu, ikutan lomba ini juga bu : http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/0/Blog.html bukan soal menang kalah, tapi kepedulian kita buat berantas korupsi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mba Evrina, setuju, bentuk kepedulian blogger, kalo menang ya siapa nolak hehehe... Terimakasih udah mampir, seneng ditengokin juara blogdetik ;)

      Hapus
    2. waduh ibu siapa yg juara, malu dibilang gitu hehe, sy blm beres jg nulis buat KPK, bingung hehe

      Hapus
  11. Lengkap, keren, banyak juga konsep baru untuk PLN, keep writing mbak

    BalasHapus
  12. Tulisannya sangat bertenaga, melebihi tenaga listrik. Layak menang. :D

    BalasHapus