Selasa, 01 Januari 2013

Problema Kekurangan Zat Besi dan Zinc Anak-anak Indonesia


Terjadi sebuah dialog menarik antara saya dan Cinta dalam perjalanan keliling kota akhir pekan kemaren. 
Sambil menikmati Milkuat Tiger di mobil, Cinta bertanya,

 “Ma, kenapa di botol Milkuat tulisan Besi dan Zinc lebih besar dari yang lain?”
“Karena kedua nutrisi itu sangat penting untuk pertumbuhan anak” jawab saya singkat.
“Ma, memangnya aku kurang gizi?”  tanya Cinta lagi.
“Kenapa kamu bertanya begitu? ” saya balik bertanya.
“Aku suka makan apa saja, kenapa masih minum susu?” tanyanya lagi.
“Oh, itu untuk memastikan kebutuhan besi dan zinc dalam tubuhmu terpenuhi.” Jawaban saya singkat lagi.

Cinta manggut-manggut walaupun mungkin belum sepenuhnya paham. Biasanya pertanyaan Cinta beruntun sampai dia puas. Namun tiba di lampu merah, obrolan kami terputus saat seorang pengamen kecil bernyanyi di samping jendela mobil. Tak lama, Cinta bertanya,

“Ma, siapa saja yang boleh makan bergizi? Apakah anak yang sedang mengamen itu gizinya tercukupi?”



Gizi itu milik siapa?


Saya terdiam sejenak. “Untuk menjawab pertanyaan kritismu Mama perlu belajar lagi, Nak.”


Anak Indonesia, cukupkah gizimu?

Mari sejenak kita lihat anak-anak di sekitar kita. 

Di sebuah lapangan dekat tempat tinggal kami, beberapa anak laki-laki sedang bermain bola. Kepandaian mereka menggiring dan menendang bola bak pemain Timnas. Di antara mereka, ada yang postur tubuhnya gemuk, kurus, tinggi dan pendek. Rambutnya ada yang tebal, tipis, hitam dan coklat kemerahan. Kulitnya ada yang cukup bersih dan mulus, namun tidak sedikit yang kusam, kering dan banyak bekas korengan. Mereka semua tertawa, tenggelam dalam asyiknya permainan.  Tidak terukur secara pasti mana anak yang kurang atau kelebihan gizi tertentu.  Kita hanya bisa menebak dari ciri-ciri fisik luarnya.  

Anak-anak pada usia pertumbuhan membutuhkan nutrisi makro dan mikro. Nutrisi makro adalah nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah besar, yaitu karbohidrat, protein, kalsium dan lemak. Sedangkan yang dimaksud dengan nutrisi mikro adalah nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah kecil (kurang dari 100 mikrogram per hari), yaitu berupa vitamin dan mineral. Walaupun sedikit, keberadaan nutrisi mikro dalam tubuh sangat penting. Dua jenis nutrisi mikro yang sering ditemukan kurang dalam tubuh anak-anak adalah zat besi dan zinc (seng).  Kebutuhan zat besi dan zinc ditentukan oleh jenis kelamin, usia dan berat badan anak. Anak-anak seusia Cinta, yaitu dalam kisaran usia 4-8 tahun, membutuhkan kebutuhan zat besi 10 mg/hari dan zinc 5mg/hari. Sementara anak usia 9-13 tahun membutuhkan zat besi dan zinc masing-masing 8 mg/hari.

Terdapat beberapa fakta terkait kebutuhan dan kecukupan zat besi dan zinc pada anak-anak Indonesia. Berikut fakta-faktanya:


Fakta 1: Banyak Ibu Mengkuatirkan Problema Makan Anaknya

Ibu mana yang tidak takut anaknya kurang gizi?  Gizi sangat erat kaitannya dengan kesehatan dan kecerdasan. Kekuatiran saya akan kecukupan gizi anak pernah saya bawa dalam sebuah diskusi  ibu-ibu dalam sebuah grup  facebook.  Ternyata, masalah makan anak-anak bervariasi.  Kebanyakan ibu-ibu dipusingkan dengan kebiasaan pilih-pilih makanan anak-anak mereka atau dikenal dengan istilah picky eater.  

Ibu Sukimah dari Malang bercerita “Rifqi (7 tahun) perawakannya tinggi agak kurus.  Rifki kalau disuapi makannya banyak. Apalagi kalau lauknya ayam goreng kesukaannya. Di luar jam makan, Rifki masih suka ngemil, misalnya sereal plus susu. Herannya, kenapa badan Rifki susah gemuk ya?”
  
Faris anak dari Ibu Nunung Yuni Anggraeni dari Bekasi tergolong picky eater. “Diantara teman-temannya Faris tergolong kurus. Habisnya, dia nggak mau sayur sama sekali. Buahpun hanya mau pisang.  Lauk favoritnya ayam kecap, jadi seminggu bisa 2-3 kali masak ayam kecap. Untungnya Faris masih mau minum susu 2-3 gelas sehari, jadi nutrisinya cukup tertolong” Hampir sama dengan Faris, Haya (9 tahun) anak Bunda Susan Sriyani dari Jakarta agak pilih-pilih makanan. Bedanya, Haya lebih memilih tempe dan tahu ketimbang ayam.

Lain lagi cerita Ibu Murti Yuliastuti dari Depok “Saya kadang merasa bersalah saat Anggita nggak mau makan.  Sebenarnya dia nggak picky eater, hanya saja karena saya malas masak dan kurang kreatif jadi mungkin Anggita bosan. Menu masakan saya berputar antara sop – bayam – sop – bayam terus. Untuk sarapan saya sering memasak menu sarapan”sejuta umat”, yaitu nasi goreng. Resolusi saya tahun depan ingin belajar memasak lebih kreatif.”  

Mama Rina Susanti dari Bogor, punya cara sendiri menyiasati agar Azka (4 tahun) cukup nutrisi. Azka hanya mau sayur bayam, kebutuhan nutrisi dipasok dari jus buah dan susu serta membuat nuget sendiri dengan campuran wortel.  Sementara itu, Mama Eka Candra Lina dari Bogor merasa senang anak-anaknya menyukai berbagai jenis makanan dan makan dengan lahap. Putrinya, Naurah (4 tahun) sedikit gemuk dengan berat badan 22 kg.

Itulah cerita para ibu tentang pola makan anak-anaknya.  Memberi anak makanan berimbang ternyata gampang-gampang susah. Mereka kuatir kebutuhan besi dan zinc anak-anaknya.


Ibu, orang pertama yang peduli gizi anak


Fakta 2: Anak Picky Eater dan  Food Neo Phobia Sebabkan Kurang Zat Besi dan Zinc

Saat anak mulai makan makanan padat, seringkali mengalami masa transisi yang diikuti dengan fase takut pada makanan baru atau dikenal dengan istilah Food Neo Phobia.  Biasanya, anak usia 2 tahun sedang pada masa negativistik, yaitu masa dimana senang menolak perintah, termasuk diantaranya perintah untuk makan sesuatu. Gabungan antara takut makanan baru dan suka menolak perintah menyebabkan asupan gizinya tidak terpenuhi dengan baik.  Anak hanya mau makan yang disukai saja. 

Sebagian anak menyukai makanan yang lembut dan empuk saja karena malas mengunyah. Anak terbiasa makan halus dari bayi dan tidak segera diperkenalkan pada tahapan makanan padat selanjutnya. Sebagian lagi menyukai rasa tertentu yaitu manis dan gurih, dan tidak menyukai rasa lain misalnya asam dan segar.  Ada juga anak yang hanya mau makanan tertentu saja, misalnya hanya mau mie dan roti. Dan yang umum adalah anak paling anti dengan sayur. Lidah mereka sensitif jika menyentuh wortel atau brokoli. Kemudian anak menyingkirkan sayur-sayuran itu pinggir piring dan diam-diam dibuang ke tempat sampah.

Pilih-pilih makanan bukan semata disebabkan oleh ketidakmampuan anak menerima suatu makanan, namun lebih dikarenakan faktor psikologi.  Sekali anak menyukai bentuk tertentu dia akan menyukainya terus menerus.  Ibu bisa menyiasati makanan dengan menyajikan jenis bahan berbeda dengan bentuk sama. Misalnya anak menyukai bakso, ibu dapat memasak olahan daging, ayam dan ikan dalam bentuk bola-bola menyerupai bakso.


Fakta 3 : Hidden Hunger, Ancaman Kecukupan Besi dan Zinc

 “Nggak mau tempe goreng dan sup. Pokoknya nggak mauuu,” kata anak saat ibunya mengantarkan sepiring nasi sup dan tempe goreng. Si ibu bingung. Anaknya pagi tadi hanya minum segelas susu. Eh, siangnya tidak mau makan.  Akhirnya si Ibu menggorengkan beberapa potong nugget agar anaknya mau makan.

Tampaknya si ibu menyerah dan memberi anak makanan pengganti yang tidak mengandung kecukupan gizi penting untuk pertumbuhan anak.  Lama-kelamaan, kondisi ini bisa mengarah pada hidden hunger, yaitu kondisi dimana anak kekukurangan vitamin dan mineral yang merupakan zat gizi mikro. 

Ajarkan anak memilih jajanan sehat
Hidden hunger seringkali tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas.  Anak bisa saja gemuk, namun pembawaannya lesu, mudah mengantuk dan sulit menerima pelajaran di sekolah.  Anak gemuk bukan jaminan kecukupan zat besi dan zinc.  Gejala kekurangan besi dan zinc baru tampak pada taraf lanjut. 

Pengukuran berat badan berdasar usia tidak digunakan sebagai patokan status gizi anak, melainkan ditentukan berdasarkan proporsi berat badan anak dibandingkan berat badan idealnya, yang dihitung berdasar median berat badan.  Namun untuk lebih mudahnya, ibu-ibu dapat memenuhi berat badan anak berdasar usia seperti dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) sebagai deteksi awal masalah pertumbuhan.


Fakta 4: Defisiensi Besi dan Zinc Anak Indonesia dalam Angka

Apa yang terlihat dari gambaran fisik ternyata tidak berbeda jauh dari fakta status gizi anak Indonesia dalam angka.  Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa anak-anak Indonesia mengalami defisiensi (kekurangan) gizi. Penelitian tahun 2011 oleh Departemen Gizi FK-UI terhadap 661 anak di SD di Jakarta Timur menunjukkan bahwa 85% mendapatkan asupan zat besi kurang dari 80 % AKG dan 98,6 % mendapatkan asupan zinc kurang dari 80 % AKG.

Menurut Saptawati Bardosono, ahli gizi dari Universitas Indonesia, dari penelitian terhadap 220 anak SD di Jakarta, sebanyak 94,5 % kekurangan kalori dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG 1.800 kcal). Fakta lain menyebutkan dari sejumlah anak yang diteliti 40 % diantaranya sering menderita infeksi tenggorokan, 56,4 % memiliki berat badan yang kurang, 35 % bertubuh pendek, 29,5% bertubuh kurus, dan 7,3% terindikasi gizi buruk. Endang Dewi Lestari dari Universitas Sebelas Maret Solo menemukan kondisi serupa pada anak sekolah dari keluarga kurang mampu di Solo. Yang menarik, 220 anak dari 10 SD yang diteliti semuanya mengalami kekurangan zinc. Angka lain disebutkan dalam situs majalah Ayahbunda, bahwa di Indonesia, kejadian anemia pada balita 30-40%.

Angka-angka mungkin berbeda, tergantung kapan penelitian dilakukan, oleh siapa dan pada siapa.  Namun benang merahnya jelas terlihat, bahwa anak-anak Indonesia masih dalam kondisi kekurangan Besi dan Zinc.


Fakta 5: Defisiensi Besi Berdampak Buruk  pada Anak

Menurunnya kadar zat besi dalam tubuh akan menurunkan kadar hemoglobin dalam darah. Kondisi ini dikenal dengan istilah anemia. Menurut standar WHO, anak usia 6 bulan – 6 tahun kadar hemoglobin ideal adalah 11mg/dl, dan 6-14 tahun kadar hemoglobin ideal adalah 12 mg/dl. Kurang dari angka tersebut, anak-anak dinyatakan menderita anemia.

Hemoglobin bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh untuk kelancaran proses metabolik. Organ yang paling membutuhkan oksigen adalah otak. Karena itu, penurunan kadar hemoglobin akan mengurangi kemampuan otak untuk berpikir, dengan kata lain, anak mengalami gangguan kecerdasan.  Hal ini berdampak panjang pada gangguan perilaku anak, misalnya menjadi lebih mudah marah, perasaannya sensitif, sulit memusatkan perhatian, dan lambat menerima informasi.   Anak yang mengalami kekurangan zat besi menunjukkan gejala fisik pucat, lemah, lesu, mudah lelah dan sering rewel.

Kekurangan zat besi bisa terjadi sejak anak masih dalam kandungan. Hal ini dikarenakan sang ibu mengalami anemia.  Kondisi ini biasanya terbawa saat anak lahir. Saat bayi mulai mengenal makanan padat, kekurangan besi terjadi karena pola makan yang kurang tepat. Peralihan konsumsi ASI ke susu sapi juga mengurangi asupan zat besi karena besi dalam susu sapi tidak mudah di diserap tubuh sebagaimana ASI.  Seiring dengan pertumbuhannya, bayi dan balita membutuhkan zat besi lebih banyak, sehingga kejadian kekurangan zat besi meningkat pada usia anak-anak Intinya,


Fakta 6: Difisiensi Zinc = Problema Kesehatan Anak

Zinc atau zat seng adalah co-factor sekitar 100 macam enzim yang berguna dalam metabolisme tubuh dan fungsi imunitas tubuh. Zinc juga penting untuk kelancaran metabolisme protein, yaitu proses sintesis DNA dan RNA. Zinc membantu fungsi perasa dan penciuman, sehingga jika kandungan seng dalam tubuh tinggi, selera makannya anak akan bagus. Kekurangan Zinc menyebabkan anak mudah terserang terserang penyakit. Tanda-tanda anak yang kekurangan zinc dilihat dari rata-rata pertumbuhan yang lambat, nafsu makan menurun, jika terluka atau sakit lambat untuk sembuh, mudah lelah dan rambut rontok.

Angka kecukupan zinc anak berbeda tergantung tahapan usia dan jenis kelamin. Beberapa literatur seperti Office Dietary Suplements National Institute of Health menyebtukan, kebutuhan zinc pada bayi sekitar 3 mg/hari, anak usia 1-3 tahun sekitar 3 mg/hari, anak 4-8 tahun sekitar 5 mg/hari. Walaupun asupan yang diperlukan sedikit, tubuh tidak mudah menyerap zinc, dari 2-14 mg/hari zinc yang dikonsumsi hanya 10-4-% saja yang terserap.


Fakta 7: Zat Besi dan Zinc Versus Infeksi

Ketika putri saya sakit karena infeksi bakteri,  hemoglobinnya turun hingga angka 8 mg/dl (nilai rujukan 10-11 mg/dl). Saya, ingin Cinta segera mendapatkan pertolongan. Saya minta dokter meresepkan suplemen penambah darah.  Lantas dokter memberikan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan vitamin tambah darah Dengan catatan, antibiotik diberikan terlebih dahulu agar infeksi berhenti, baru kemudian terapi tambah darah.  Langkah ini dianjurkan karena saat terjadi infeksi, bakteri juga menyerap hemoglobin sehingga kadarnya turun.

Antara infeksi penyakit dan defisiensi besi dan zinc menjadi lingkaran sebab akibat yang dapat terjadi terus menerus.  Kekurangan besi dan zinc dapat menyebabkan penurunan selera makan dan imunitas tubuh, sehingga mengundang terjadinya infeksi penyakit.  Sebaliknya, tubuh yang sakit dapat mengalami penurunan kemampuan penyerapan nutrisi. Misalnya karena sakit anak sulit makan, diare, muntah dan bahkan pendarahan.  Untuk mengatasinya harus disembuhkan dahulu sakitnya, sambil dilakukan terapi gizi. 


Fakta 8: Anak Orang Kaya Belum Tentu Cukup Besi dan Zinc

Bagi golongan mampu, membeli makanan bukan hal yang sulit. Ketersediaan makanan tidak hanya cukup, bahkan berlebih. Sebagai contoh, sebuah keluarga kaya, sang ibu mengisi kulkasnya dengan nugget, sosis, daging asap siap saji, keju, susu, coklat, risoles siap saji dan aneka kue.  Sayur dan buah juga tersedia, namun tidak banyak.  Sang ibu ingin anaknya gemuk, dan benar saja, anaknya gemar makan dan gemuk. Ibu kaya yang lain ternyata mengalami kasus berbeda. Di rumahnya tersedia aneka makanan, namun anaknya pilih-pilih makan tingkat berat sehingga berat badannya kurang. 

Baik anak yang gemuk maupun yang kurus tidak bisa dipastikan memperoleh kecukupan zat besi dan zinc dari asupan makanannya.  Karena kedua zat itu adalah unsur mikro yang kecukupannya tidak ditandai dengan berat badan dan kuantitas makanan, melainkan dari kualitas makanan. Anak yang gemuk sudah pasti cukup nutrisi makro, bahkan berlebih. Sedangkan anak yang kurus kurang gizi karena picky eater. Kedua kasus di atas menunjukkan bahwa walaupun kemampuan ekonomi berkorelasi positif pada kecukupan besi dan zinc, namun tidak semuanya berlaku demikian, faktor anak memegang peranan penting. 


Fakta 9: Anak Golongan Kurang Mampu Lebih Banyak Mengalami Defisiensi Zat Besi dan Zinc

Anak dari golongan mampu mungkin hanya mengalami masalah picky eater dan pilihan makanan. Mereka masih bisa memilih. Sedangkan anak dari golongan kurang mampu selain mengalami masalah picky eater juga dihadapkan pada rendahnya daya beli dan ketersediaan makanan.  Jangankan untuk memilih, untuk membeli saja sulit. Jangankan untuk memenuhi nutrisi, untuk bisa makan saja sulit.

Pada masyarakat ekonomi kelas bawah, mereka umumnya lebih mementingkan kuantitas makanan, tanpa peduli kualitas gizinya baik atau buruk.  Disini perlu adanya kampanye gizi seimbang tidak  selalu mahal.  Bagi keluarga yang tidak mampu, bisa menyiasatinya dengan mengganti bahan mahal dengan bahan murah yang kandungan gizinya setara. Contohnya mengganti daging dengan tempe dan telur, memilih jenis sayuran dan buah lokal, menanam sendiri sayuran di pekarangan dan mengurangi jajan anak-anak, diganti dengan jajanan sehat misalnya susu Milkuat. 


Fakta 10: Peran Orangtua Membantu Asupan Besi Dan Zinc

Jumlah asupan gizi pada anak sangat tergantung pada pengetahuan orangtua tentang gizi, pemilihan jenis makanan, upaya mencukupi asupan, hingga kreativitas cara penyajian.  Masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih diuntungkan dalam hal akses informasi daripada masyarakat daerah.  Karena itu, kita berharap pada perpanjangan tenaga kesehatan agar bisa sampai ke pelosok negeri, melalui puskesmas dan posyandu. Orang tua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kesehatan anak atau status gizi anaknya hendaknya dapat mengawasi pola makanan atau jajanan yang dipilih oleh anaknya. Perhatian dari kedua orang tua sangat diperlukan terutama pada  pemilihan jajanan dan makanan kesukaannya.

Peran keluarga penting karena anak adalah peniru ulung. Penelitian membuktikan orang tua pemilih makanan berkorelasi positif dg perilaku makan anak. Kebiasaan makan yang baik dimulai dari lingkungan keluarga. Makan bersama akan membuat suasana makan menyenangkan, tidak masalah apakah itu di meja makan atau di atas tikar yang digelar di lantai. Saat makan, anak akan senang jika diberi kebebasan menyendok sendiri walaupun berantakan.  Dengan membiarkannya menyendok sendiri, diharapkan kemauan anak mencoba berbagai jenis makanan akan terasah. 

Kreatifitas orangtua juga diperlukan, misalnya dengan menyajikan telur dadar dalam bentuk irisan panjang seperti mie, membentuk tempe goreng dengan potongan segitiga, menghias nasi dengan wortel, atau mengukus nasi dengan wortel atau bayam yang dihaluskan.  Variasi menu sehari-hari dengan bahan makanan berbeda menjamin terpenuhinya gizi anak.  Agar ibu lebih kreatif, tidak ada salahnya Ibu aktif dalam perkumpulan ibu-ibu dan mengikuti kegiatan belajar memasak dan menghias makanan. 

Satu hal yang sering dilupakan oleh orangtua, bahwa anak mempunyai kapasitas perut yang terbatas. Anak mudah kenyang karena lambungnya kecil. Karena itu penting bagi orangtua untuk menyajikan makanan dalam porsi kecil namun sering, dan mengenali kapan saat anak benar-benar lapar. Pemaksaan saat kegiatan makan berlangsung dapat membuat anak trauma dan malah enggan makan.

Di Dept. Gizi Masyarakat IPB saya bisa berkonsultasi masalah gizi anak.

Fakta 11 : Sekolah Berperan Mencegah Difisiensi Zat Besi dan Zinc

Peran guru juga dibutuhkan dalam menanamkan kebiasaan makan yang baik. Kebiasaan baik ini diantaranya mau makan buah dan sayur, mencuci tangan sebelum makan, makan tidak berbicara dan makan sambil duduk di meja makan.  Anak biasanya lebih mudah menerima penjelasan dari guru daripada dari orangtuanya. Selain itu, peran guru disekolah diperlukan untuk mengawasi jajanan anak-anak. Sekolah seharusnya menyeleksi jenis makanan yang boleh dijual di sekolah.

Anak suka makan bersama dengan teman-temannya.  Saat makan siang di sekolah, adalah saat yang tepat untuk memaksimalkan menu makanan anak.  Orangtua bisa membekali anak dengan bekal makan siang komplit dan biarlah anak-anak makan bersama teman-temannya di sekolah. 

Kebetulan, anak-anak saya hampir tidak pernah makan siang di rumah.  Si Kakak makan di sekolahnya, si Adik makan di penitipan anak.  Acara makan siang ini menjadi “penyelamat” kebutuhan gizi anak-anak karena biasanya menu sarapan tidak lengkap dan tidak banyak.  Selain itu, suasana makan siang bersama teman-temannya membuat anak makan dengan lahap.


Fakta 12: Fortifikasi Zat Besi dan Zinc Mencegah Defisiensi Gizi.


Pada tingkat difisiensi ringan, kebutuhan nutrisi dapat dilakukan dengan perbaikan pola makan. Sedangkan pada tingkat berat harus dilakukan suplementasi hingga transfusi darah, tergantung indikasi medis yang menyertainya.  Mengkonsumsi makanan dan minuman yang telah difortifikasi (ditambahkan) besi dan zinc sangat membantu kecukupan kedua nutrisi tersebut. Cara ini banyak dipilih mengingat banyaknyaknya jumlah dan jenis makanan yang harus dikonsumsi, sementara kemampuan makan anak tidak besar, maka kebutuhan besi dan zinc dapat dilakukan dengan menambahkan zat tersebut pada makanan kesukaannya. Misalnya adalah dengan memberikan susu yang telah ditambahkan ekstra zat besi dan zinc ke dalamnya. Suplemen zat besi diberikan pada semua anak dengan prioritas usia balita (0-5 tahun), terutama usia 0-2 tahun untuk mencegah kekurangan zat besi sebelum terjadinya anemia.



Yuk, Cukupi Kebutuhan Zat Besi dan Zinc


Anak memerlukan pendekatan yang baik agar mau mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan. Gizi seimbang memenuhi kebutuhan si kecil akan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, air dan mineral. Prinsip gizi seimbang ada 3 yaitu seimbang, variatif, dan cukup.  Seimbang artinya dalam satu kali makan diberikan kelima jenis sumber gizi.  Variatif artinya menyajikan bermacam jenis makanan pada anak sehingga antar jenis makanan berbeda saling melengkapi kebutuhan nutrisi anak. Cukup artinya tidak berlebihan juga tidak kurang, misalnya dalam pemberian gula, garam dan lemak.

Kebutuhan besi dan zinc dapat diperoleh dari jenis kacang-kacangan, sayuran hijau, sayuran berwarna, buah-buahan segar, daging tanpa lemak, hati dan ikan. Saat memasak, sebaiknya bahan makanan tidak dimasak terlalu matang. Makanan, terutama kacang-kacangan yang dipanggang, dikukus, atau direbus terlalu lama dapat mengurangi kandungan zinc hingga separuhnya. Jika anak kurang suka makan daging, tambahkan kacang-kacangan untuk mendongkrak jumlah zinc. Sekali lagi, jangan memasaknya terlalu lama agar kandungan zinc tidak larut.  

Ada beberapa makanan yang sebaiknya tidak dimakan bersamaan dengan sumber zat besi karena dapat mengurangi penyerapannya, misalnya teh dan kopi. Sedangkan beras merah sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung zinc.  Memang tidak mudah untuk benar-benar mengikuti aturan ini.  Cara menyiasatinya adalah tidak memakan makanan tersebut dalam waktu bersamaan, atau memakannya dalam porsi lebih banyak.

Ayo, Penuhi Gizi Anak Indonesia !!

Peduli Gizi Anak Indonesia

Gizi anak bangsa adalah hal utama, karena pada merekalah kita banyak berharap bisa membawa bangsa ini ke arah lebih baik. Persoalan gizi anak, termasuk diantaranya kekurangan zat besi dan zinc sebenarnya dari banyak aspek yang terjadi di negeri ini, di antaranya dampak krisis ekonomi, kekurangan pangan, dan problema sosial yang kompleks. Fakta-fakta di atas saya tuliskan dari kacamata ibu dan keluarga, dimana kita sering melihat langsung kondisi dan dampak kekurangan zat besi dan zinc.  Terus terang, saya belum bisa berbuat banyak untuk membantu mengatasi persoalan gizi anak di Indonesia.

Bagaimana jika kita mulai dari lingkungan di sekitar kita. Mari kita mulai dari anak sendiri. Jika memungkinkan, kita bantu anak-anak tetangga, setidaknya dengan memberikan sedikit pengertian tentang gizi. Kepedulian sosial saya pikir adalah cara yang damai dan bisa dimulai dari level manapun.


Kepedulian Kita untuk  Anak Indonesia


Referensi :

http://asacinta.blogspot.co.id/2016/06/rahasia-asa-pintar-bercerita.html


www.ayahbunda.co.id

http://pickyeaterschild.wordpress.com/2012/10/24/kebutuhan-mikronutrien-dan-dampak-kekurangannya-pada-anak/

http://ilmu27.blogspot.com/2012/09/makalah-permasalahan-gizi-pada-anak.html

http://health.kompas.com/read/2012/08/01/20314692/Jangan.Sampai.Anak.Kekurangan.Zinc


Wawancara pribadi dengan Ibu Sukimah Yono, Nunung Yuni, Susan Sriyani, Eka Candra Lina, Rina Susanti dan Murti Yuliastuti

Special thanks to Lentera Saka, sebagai model tamu.


Seluruh foto dalam blog ini adalah koleksi pribadi.

Tulisan ini diikutkan dalam final lomba menulis blog Milkuat - Viva log

http://log.viva.co.id/news/read/378713-problematika-kekurangan-zat-gizi-anak-indonesia



37 komentar:

  1. Alhmadulillah, sangat informatif dan bermanfaat, semoga menjadi pemenang bunda. :). Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Problema makan anak memang meminta kesabaran lebih ya :)

      Hapus
  2. Betul bunda, tinggal pintar-pintar sang ibu untuk mengolah masakan dimana anak bisa suka dan rajin maemnya :). Jadinya mengolah makanan yang bergizi dan gak kekurangan zat mikro wajib diperhatikan oleh ibu. Untung ada susu Milkuat ya bunda.. Memang milkuat selain sarat gizi, rasanya juga gurih, saya pernah nyoba bunda :).

    Wah selamat dulu ya bunda. Feeling saya bunda bakalan menang lagi. Tetaplah menginspirasi ya bunda. "Salam kemenangan berkelimpahan." Selamat tahun baru 2013. SEMOGA semuanya lebih baik. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba Nilam, met tahun baru juga ya. Sukses..

      Hapus
  3. Tulisannya bagus mba...detail, runut dan sangat informatif. semoga menang, sukses terus buat mba Arin...:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seneng kalo bisa manfaat. Makasih mba Nurul, met tahun baru :)

      Hapus
  4. horey...ada foto saya...thank u ya...n semoga menang mba kontesnya...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you testimoninya ya. Amiiiin doanya

      Hapus
  5. Infonya runut dari A to Z, foto-fotonya lengkap, wawancaranya okey, dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami itu ciri khas mb Arin-Murtiyarini banget. Aku Yakin kali ini tablet dalam genggamanmu. Bismillah deh Go Arin Go Arin Go ^_*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah....
      paham ya baca tulisan diatas? kalau gak paham berarti penulis gagal menyampaikan maksud hehehe

      Hapus
  6. Kayanya menang lagi nih mbak... Detail dan lengkap!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga juri setuju dengan mak Dina :)
      Sebenarnya nggak pengen panjang2, tapi ternyata problem anak ini kalau dibahas bisa panjaaaang...segini aja udah bingung ngeditnya, semua informasi penting

      Hapus
  7. tulisannya enak di baca mbak.. semoga menang ya :)

    BalasHapus
  8. Infonya lengkap buangetttttt
    jadi terinspirasi soal gizi dan susu sehat
    Foto pendukung yang buanyakkk, menandakan kalau tulisan ini ditulis dengan riset yang sepenuh hati, jadi info yang ada di sini bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan manfaatnya.

    Good luck mbak Arin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepenuh hati...iya bener, sepenuh hati.. ;)

      Hapus
  9. Bu Arin, artikelnya bagus :). Ibu dosen di IPB ya? saya kebetulan alumni IPB nih bu, angkatan 35. Kebetulan sy salah satu nominator juga. Salam kenal ya bu..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal kembali. Aku admin di proteksi tanaman. Mba Ririn fakultas apa?

      Hapus
    2. saya di Fapet bu jur. SEIP, dan baru 'ngeh' juga euy bu Arin member di grup IIDN ya? :) sy juga member tp ga aktif cuma jadi silent reader aja...:)

      Hapus
    3. Iya, dulu aktif di IIDN. Selain disitu, sekarang aktif di Kumpulan Emak2 Blogger. Sudah gabung belum?

      Hapus
    4. belum bu, oo..pantesan ada mbk myra, blio tmn FB saya, sy baru gebung di warung blogger...sy juga masih bnyk belajar nih bu, ok nnti sy mau gabung. Thnaks bu..:)

      Hapus
  10. Wah, keren pembahasannya mba. Salut dengan mba Arin. Semoga menang ya. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba, kebetulan topiknya "aku" banget, tentang urusan anak yang memang jadi pikiran sehari-hari heheh..

      Hapus
  11. Aku baru nengok blog mu teh arin... rame ya... blognya cantik dan mendidik. Secantik dirimu. Dan setelah kubaca artikel ini...
    Artikel yang sangat informatif teh arin.. keren, lengkap dan runut sekali. Dengan membacanya, bisa ditebak bahwa penulisan artikel ini sangat hati-hati dan detail... riset dan data yang disajikan maksimal. Sangat bermanfaat teh Arin. Semoga menang deh teteh yang cantik... muaachh... :)*kedip-kedip

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blog ini sebenarnya design sederhana, yg rame postingannya mba Jannah. Senang kalau artikel ini bermanfaat. Makasih yaaa...*kedip balik

      Hapus
  12. mba bagus bgttttt......bak seorang pakar gizi dan kesehatan,top markotop dah...

    BalasHapus
  13. Thank you...berusaha jadi ibu yg paham, walaupun prakteknya syusyaaaah banget :)

    BalasHapus
  14. Semoga menang lagi. kapan nih pengumumannya?h2c ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin...pengumuman tgl 5. Iya H2P harap2 pasrah hahaha...secara yg lain banyak datanya, sementara aku main di logika aja :)

      Hapus
    2. Sy jg minim data Mba. http://imamuhidate.blogspot.com/2012/12/belajar-cerdas-dari-bangsa-eropa-dan.html

      Hapus
    3. Halo mas Imam, tulisannya inspiratif & khas banget.

      Walau minim data angka, tetap berharap pesannya bisa diterima pembaca :)

      Hapus
  15. Menganggumi tulisannya... juga orangnya

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah...terimakasih *tersipu malu

    BalasHapus
  17. Amin, tapi aku gak pede mba Dwi ^^

    BalasHapus
  18. Wah...saya sudah gabung di IIDN & Emak2 Blogger tapi kurang aktif.
    Saking kebanyakan ikut komunitas jadi bingung bagi waktunya deh hihihi.

    Terkadang orangtua menganggap anak baik-baik saja karena tidak terlihat sakit. Padahal sebenarnya kekurangan zat besi & zinc ini tidak saja mempengaruhi kesehatan namun juga tumbuh kembang anak. Untung saja, saya langganan ke Markas Sehat untuk konsultasi, jadi banyak mendapat masukan dari dokter2 di sana.

    What a nice article^^

    BalasHapus
  19. Informatif, Bun.. Bahasanya juga enak dan mudah dipahami... semoga jadi pemenang

    BalasHapus