Minggu, 23 Desember 2012

Smart Mommy and The Team [Pemenang Utama Lomba Esai Smart Mommy Inspiration]

Perubahan status  menjadi mama membuat saya mengakui bahwa ibu saya memang smart.  Dulu saya heran bagaimana ibu bisa menyiasati uang belanja agar cukup, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang banyak, membagi waktu untuk keluarga dengan jumlah anak yang tergolong banyak, dan berbagai urusan lain. Ternyata menjalankan peran ibu membutuhkan strategi yang smart. Disamping itu, ibu selalu berusaha memberikan situasi yang terbaik untuk anak-anaknya. Tibalah kini giliran saya untuk menunjukkan seberapa smart saya bisa menjalankan berbagai urusan sebagai ibu.
Saya banyak belajar dari orangtua tentang bagaimana memilih sebuah keputusan, membuat rencana serta beralih ke rencana cadangan apabila rencana pertama gagal. Apapun yang terjadi dalam hidup harus dihadapi dengan optimis.
Kadangkala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.  Seperti yang saya alami, saat harus kembali bekerja usai cuti melahirkan, tiba-tiba pengasuh anak minta berhenti.  Ketika rencana A untuk memiliki asisten rumah tangga terpaksa gagal, saya beruntung Tuhan menuntun saya pada rencana B, yaitu menitipkan anak di daycare.
Sehari-hari saya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan membawa buah hati ke daycare di dekat kantor, lalu menjemputnya sore hari. Saya tidak memiliki asisten rumah tangga. Repot, sudah pasti.  Lantas saya berpikir, saya harus bisa menggalang kerjasama tim menyikapi situasi ini.  Saya berbahagia mempunyai tim yang lucu-lucu dan handal, mereka tak lain adalah Cinta si kakak (7 tahun) dan Asa si adik (2 tahun) dan tentu saja suami .  Dukungan mereka memberi kekuatan pada saya. Sudah 7 tahun saya menggunakan jasa daycare. Saat Cinta kecil saya membawanya ke daycare dan sekarang berlanjut pada anak kedua, Asa. Berhubung Cinta sekarang sudah SD sekarang, suami mengambil tugas untuk menjemput Cinta.
Dengan keterbatasan waktu dan tenaga, saya harus bekerja seefektif mungkin dan menentukan prioritas.  Manajemen waktu dan kesehatan adalah kuncinya.  Idealnya, pekerjaan kantor harus diselesaikan di kantor begitu juga sebaliknya dengan pekerjaan rumah.    Di rumah, seragam kantor berganti dengan kaos oblong dan celana pendek, siap bekerja dengan berbagai peralatan rumah tangga. Saya mendahulukan yang penting misalnya mengutamakan kebersihan rumah dan menomorduakan kerapihan. Tetapi saya tetap berusaha rapi lho.  Artinya, tidak masalah rumah sedikit berantakan, yang penting lantai sudah bersih.  Saya juga menyiapkan masakan sekaligus banyak untuk 2-3 hari ke depan sehingga hemat waktu dan energi.
Akhir pekan adalah saatnya memupuk kekompakan tim. Saya meminta si kakak untuk membantu membereskan pensil warna dan kertas gambarnya, mengajarkan si adik untuk mengembalikan mainan meskipun saya tahu dia belum mengerti.  Di sini diperlukan ide-ide kreatif dan smart untuk memancing keterlibatan anak-anak dalam pekerjaan rumah tangga.  Sebuah box container beroda yang ukurannya cukup besar berubah menjadi lokomotif kereta api, si Kakak menjadi masinis yang siap memungut mainan dan benda-benda apa saja yang berserakan.  Sementara si Adik duduk manis dalam kotak bersama mainannya.  Dalam kondisi Asa sedang tenang, saya harus bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan lain dengan cepat.
Bersyukur, suami adalah partner yang kompak.  Dia tidak segan dia juga ikut  merapikan rumah.  Bantuan yang menyenangkan bukan?  Ternyata suami lebih suka jika saya meminta tolong, termasuk dalam urusan rumah tangga. Suami juga dengan senang hati membantu berbelanja, atau antar jemput laundry.  Dia menyadari bahwa kehidupannya bukan hanya seputar pekerjaan kantor, tetapi juga di rumah bersama kami, dan tentu saja itu satu paket dengan pekerjaan rumah tangga. 
Dan apa yang kami dapatkan dari kesibukan rumah?  Suasana seru, bercanda sambil membereskan rumah, keakraban keluarga dan yang paling penting mengajarkan kepada anak-anak nilai-nilai kebersamaan, berbagi, kemandirian dan tanggung jawab.
Kesehatan adalah hal utama untuk dapat melakukan semua aktivitas baik di rumah maupun kantor.  Saya harus smart menyisihkan waktu untuk istirahat dan makan teratur agar tidak mudah sakit.  Hal ini juga berlaku untuk seluruh keluarga. Soalnya, kalau satu sakit, pasti yang lain ikut sedih dan repot.   Jika ada yang sakit, saya juga harus smart memilih obat yang tepat untuk keluarga.  Misalnya, saat batuk, saya memilih obat yang sesuai dengan jenis batuknya. Jangan sampai mengkonsumsi obat berlebihan atau menggunakan komposisi yang tidak diperlukan.
Saya masih terus belajar menjalani peran ibu. Saya menerapkan pola tarik ulur namun konsisten dengan alasan yang jelas agar anak-anak paham.  Kadangkala saya begitu serius, tapi lebih sering saya melonggarkan diri dari sebuah pola yang terlalu ketat.   Adakalanya saya membiarkan anak-anak bermain kotor, namun saya konsisten mewajibkan anak-anak segera mandi sebelum matahari terbenam.
Saya akui, tidak mudah untuk benar-benar konsisten terutama dalam menjaga mood sepanjang pekan.  Hari Jumat  menjelang akhir pekan adalah penantian penuh suka cita, Sabtu hari bersenang-senang, Minggu hari paling melelahkan setelah 2 hari libur dan bersama si kecil sepanjang hari, dan saat Senin tiba saya harus pandai-pandai menyiasati mood agar semangat kerja tetap baik.  
Sebagai penghargaan untuk diri sendiri, saya membuat jurnal keluarga. Kenangan indah ini akan menjadi hadiah yang nilainya tiada tara, sekaligus suntikan semangat buat saya.   Fotografi adalah cara paling menyenangkan untuk mengabadikan setiap momen keluarga. Sekarang Cinta juga sudah bisa menjadi fotografer.  Saya tidak berharap banyak hasil jepretan berupa foto berkualitas. Ada foto dengan gambar kabur, ada foto dengan gambar kaki-kaki tanpa kepala, tetap saya simpan sebagai kenangan indah.  Selain itu saya juga mendokumentasikan tumbuh kembang anak-anak dengan menulis di blog.  Jurnal itu akan menjadi benda-benda kebanggaan yang berharga bagi anak-anak kelak.
Am I a Smart Mommy? Saya yakin banyak ibu-ibu juga mampu melakukan banyak pekerjaan dalam waktu hampir bersamaan, efektif dan kreatif mengemas alur pekerjaan dengan sajian hasil yang paling baik. Itulah smart mommy  menurut saya.  Hasil konkritnya adalah pekerjaan rumah dan kantor terselesaikan dengan baik, hubungan dengan suami hangat dan yang paling penting anak-anak sehat dan bahagia. Semua yang terjadi pada saya mengalir begitu saja.  Tidak sempurna, namun semua berjalan dengan baik berkat tim yang kompak.  Saya pikir, untuk saat ini sudah sangat lengkaplah kehidupan saya.


Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis Smart Mommy Inspiration yang dioselenggarakan oleh Bisolvon dan Tabloid Nyata, memenangkan Voucer Carefour senilai Rp. 5.000.000,- undangan seminar di Hotel Ritz Carlton dan berbagai merchandise. Lebih dari itu semua, saya berkesempatan bertemu dengan sahabat-sahabat : Rina Susanti, Eka Candra Lina, Nunung Yuni, dan Murti Yuliastuti. Sebuah kopi darat yang mengesankan. Pada hari ibu 22-12-2012, kami merasa dimanjakan.

Liputan acara Smart Mommy Inspiration bisa dilihat disini http://asacinta.blogspot.com/2012/12/a-luxurious-mother-day-smart-mommy.html

8 komentar:

  1. emang layak juara mba...tulisannya lengkap..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak selalu jadi sumber inspirasi :)

      Hapus
  2. eka candra lina24 Desember 2012 09.04

    Its so cool Rin...I also do the same way with you sometimes...

    BalasHapus
  3. The power of love made us smart.
    Not the power of kepepet hahaha...

    BalasHapus
  4. Mbak, apakah masuk bekerja ya? masih PNSkah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Naqiyyah, PNS sok sibuk hihihi...

      Hapus
  5. tahun penuh prestasi ya mba arin. Smart Mom memang julukan yang layak disematkan kepadamu. selamat..

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah mba Ety, kebetulan lagi banyak even yg cocok tahun ini :)
    Mudah2an bisa smart juga pada prakteknya menghadapi anak-anak yg aktif.

    BalasHapus