Selasa, 26 Februari 2013

Mengenali Talenta Si Pengggemar Kereta Api

Tidak terasa, putraku Asaku Mulia berusia 2 tahun 8 bulan.  Sejak mula saya bertanya, apa kira-kira bakat Asa. Saya merasa wajib mengenali bakatnya sejak dini agar tidak salah langkah dalam memupuk dan mengarahkan bakat anak.  Tentu dengan rambu-rambu yang harus selalu saya ingat, jangan sampai anak merasa terpaksa.

Mengenali bakat anak bisa dilihat dari kesenangannya. Sejak kecil Asa menyukai mainan dan segala sesuatu terkait kereta api.   Namun tidak langsung bisa dikatakan Asa kelak akan menjadi insinyur atau masinis kan?  Dari hobinya bermain kereta api, saya melihat ada 3 talenta Asa yang potensial untuk dipupuk, yaitu :

1. Bakat Kinetik Fisik, yaitu bakat menggunakan anggota tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaannya.  Asa sangat aktif bergerak saat bermain, dia pandai menirukan gerakan suatu obyek dan bermain peran.  Keingintahuan Asa sangat besar, dia membongkar pasang mainan itu.  Sering kali Asa melakukan mix and match antara lokomotif dan gerbong.   Jari-jarinya terampil menyusun kereta api berderet pada garis lantai ubin yang dianggapnya sebagai rel.  Motorik halus dan kemampuan visualnya sangat baik.

2. Bakat Bahasa, yaitu bakat menggunakan kata-kata secara efektif, baik oral maupun verbal. Saat bermain kereta api Asa suka berbicara sambil menggerakan mainannya.  Asa memang menonjol kemampuan bahasanya. Perkataannya sudah sangat jelas dan lancar, serta dapat menirukan dialek-dialek orang dewasa.  Asa suka menirukan kata-kata yang didengarnya saat menonton film kereta api favoritnya, Thomas and Friend. Asa juga suka melucu untuk menarik perhatian saya.  Bakat bahasa ini bisa dipupuk sehingga kelak dia dewasa mempunyai kemampuan komunikasi dan menulis yang baik.

3. Bakat Logika dan Matematis, yaitu bakat untuk mengerti berhitung dan berlogika.
Dari bermain kereta api, Asa belajar berlogika.  Dia bertanya “Jalan nggak kereta apinya? Ada rodanya nggak? Ada asapnya nggak? Bisa terbang nggak?" Kadang pertanyaannya sangat lucu, "Mama, mana anak kereta apinya?" Asa menyamakan lokomotif sebagai ibu, dan gerbong di belakangnya sebagai anak.  Kereta api juga menjadi sarana Asa belajar warna, bentuk dan ukuran.  Asa sangat teliti jika ada salah satu gerbong kereta apinya yang hilang. Walaupun belum bisa berhitung, namun dia sudah menyadari jumlah kereta apinya berkurang. 

Bakat Asa perlu mendapat dukungan dan perhatian, diantaranya dengan memberinya nutrisi yang cukup, mengajaknya berkomunikasi, mendampingi bermain dan memberinya sarana bermain untuk melatih kreativitas. Saya tidak membebankan harapan kelak Asa menjadi kreator, inventor atau inovator. Saya lebih mengharapkan semoga Asa mampu beradaptasi dengan jaman, tetap menjaga diri menjadi orang yang baik dan bermanfaat.

Itu sedikit cerita potensi talenta Asa dilihat dari satu jenis kesukaannya, kereta api. Masih banyak kesukaannya yang lain yang perlu terus digali.  Sungguh, senang sekali punya anak multi talenta seperti Asa.



3 komentar:

  1. senangnya asa kecil2 udah segala bisa :)

    semoga jadi anak yang shaleh.. salam kenal bun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimaakasih bun. Maaf baru balas komentarnya

      Hapus
  2. Hebat Asa....persis sekali dengan anak saya Arief juga sama gemar bermain kereta dan gaya bermain Asa sama persis seperti Arief, dan kadang Arief suka berkata-kata seperti suara-suara di information center station kereta api yang pernah dia dengar. Kadang saya suka ketawa sendiri kalau dengar Arief main, lucu kata-katanya....."kereta Api Bogor yang menuju stasiun Kelender segera diberangkatkan....". Salam kenal Bun :)

    BalasHapus