Rabu, 20 Maret 2013

Lihat Ma, Dengar Ma !

Sumber : http://murtiyarini.staff.ipb.ac.id/2013/01/14/lihat-ma-dengar-ma/


 “Lihat Ma, Asa seperti kerbau,” kata Asa (2 tahun) sambil kedua telunjuknya di atas kepala.   Tak lama kemudian dia merangkak di lantai. “Mama dengar suara Asa seperti kucing, meoow!”
Gerakan, suara dan ekspresinya menghayati peran. Saya geli sendiri melihatnya. Aduh Nak, masa meniru gaya-gaya binatang sih? Tapi, apa iya harus dilarang? Asa sedang tahap belajar, mengenali dan meniru apa yang dilihatnya. Seringkali, aktivitasnya jadi tidak fokus. Memberinya ruang gerak akan memupuk keberaniannya bereksplorasi.


Kecerdasan bahasa Asa tampak menonjol. Asa sudah bisa menyusun kalimat 5-6 kata dan menyambung 2-3 kalimat dalam satu kali bicara. Apa yang dipikirkan langsung dikatakan. Pendengarannya juga tajam. Saat saya berbisik pada suami, Asa dapat menangkap pembicaran kami dan ikut bicara. Saat saya mengganti kata “mainan” dengan “toys”, eh Asa ternyata sudah tahu artinya. “Asa mau dibelikan toys baru di toko”, katanya. Anak menyerap bahasa dengan cepat .
Asa sedang pada golden age, otak dan kecerdasannya berkembang pesat. Ada 100 milyar syaraf yang akan terhubung seiring banyaknya stimulasi. Kecerdasan didukung oleh daya konsentrasi. Padahal rentang konsentrasi anak sangat pendek.  Karena itu, anak perlu dilatih berkonsentrasi sesuai tahapan usianya. Kelak, saat golden age berlalu, anak masih dapat mengandalkan daya konsentrasi untuk bernalar dan memanggil memori.
Terkait kecerdasan bahasa Asa, saya melatih agar Asa tidak hanya banyak bicara tapi juga konsentrasi. Maksudnya, apa yang dikatakan adalah hal yang sedang dilihat, dilakukan atau dipikirkannya. Saat dipanggil juga mau menjawab. Berimajinasi sambil berceloteh boleh, tapi bukan bicara kosong atau bergumam.
Hal terpenting melatih konsentrasi bicara adalah memberi perhatian saat anak bicara dan menunjukkan ekspresi yang sesuai. Ini sekaligus mengajarkan anak berempati pada perasaan orang lain, sedih atau gembira. Saya juga berbicara dalam berbagai intonasi, kadang keras, kadang berbisik, ditambah dengan gerakan tangan saat bicara.  Dengan begitu, Asa tertarik untuk menatap wajah saya dan mau mendengarkan.  Saat berbicara dengan Asa, saya letakkan majalah atau blackberry yang sedang saya pegang. Mengajarkan konsentrasi tentu dengan konsentrasi juga kan?
Banyak kosakata Asa  berasal dari meniru namun tidak selalu mengerti artinya. “Asa masih kecil, kalau Mama masih besar.” Asa belum mengerti penggunaan kata “masih”. Dengan bicara sesering mungkin membuat Asa semakin memahami kata baru dan konteks kalimat yang benar. Ada juga kata-kata berkonotasi negatif.  Selain menghindari sumber negatif sebagai antisipasi, saya respon kata-kata Asa dengan dengan lembut “Tidak boleh bilang kata tersebut, mendingan menirukan suara kodok yuk”. Lantas kami lanjut bermain dan Asa lupa dengan kata “aneh”nya.
Saya pernah kesal, saat saya berbicara dengan orang lain, Asa ikut bersuara dengan lantang. Lagi-lagi anak ingin menarik perhatian orangtua. Di saat lain saya beri kesempatan Asa berbicara terlebih dahulu. Saya dengarkan ceritanya sampai dia puas, lalu saya katakan “Sekarang giliran mama bicara dulu ya.” Cara ini perlahan mengajarkan Asa sabar menunggu giliran bicara. Saya memujinya setiap kali Asa mau menunggu.  Ketika mendadak saya harus bicara dengan orang lain, Asa mulai terlatih untuk menunggu.
Tebak-tebakan adalah cara menarik untuk melatih anak konsentrasi saat bicara. Saya menanyakan hal yang sama berulang kali, kemudian tiba-tiba saya tanyakan sesuatu yang berbeda. Misalnya, bagaimana suara gajah? Kalau suara monyet? Suara kucing? Rumah beruang dimana? Pertanyaan terakhir konteksnya berbeda dengan pertanyaan sebelumnya. Asa terbiasa dengan tebakan seperti ini. Saya memujinya setiap kali Asa mau menjawab. Perhatian dan pujian akan memupuk keberanian anak. Saat anak merasa berani dan percaya diri, dia akan lebih mudah berkonsentrasi.
Daya konsentrasi perlu didukung dengan pemenuhan gizi seimbang. Yang penting diperhatikan adalah  asupan gula tidak boleh berlebihan karena dapat menurunkan daya konsentrasi.  Sebentar lagi saya menyapih Asa. Karena terbiasa dengan ASI yang tidak manis, kebiasaan ini akan diteruskan dengan mengkonsumsi susu tanpa gula tambahan.  Saat bergabung di Anmum Club dan situs Anmum, saya mendapatkan inspirasi dari para bunda tentang pilihan susu.  Untuk anak seumur Asa, banyak bunda yang telah memilih Anmum Essential 3.
Jadi, kalau pandai berbahasa begini, kira-kira kelak Asa mau jadi apa ya? Presenter ? Dosen? Penulis bestseller? Atau dokter yang ramah?
Jalan masih panjang.
Sekarang, yang pasti ketika Asa memanggil “Lihat Ma, Dengar Ma!” saya harus siap menjadi teman bicaranya.

Anmum Essential 3 dan Jurnal Mama
Asa suka mainan, Mama suka buku IIDN
Interaksi melatih konsentrasi
Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Competition Anmum Bunda Inspiratif dan menjadi juara 1

2 komentar:

  1. suka..tulisannya mba Arin.
    ikut merasakan kebahagiaan menjadi seorang Ibu..

    BalasHapus