Jumat, 22 Maret 2013

Memikat Juri Kompasiana

Baru saja berlalu, Lomba Menulis Anmum Bunda Inspiratif yang diselenggarakan sebuah produk susu Anmum Essential, bekerja sama dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis.  Naluri kompetisi saya langsung terpanggil, apalagi melihat hadiah untuk juara 1 adalah sebuah benda yang saya impikan dalam beberapa bulan terakhir : Samsung Galaxy Note II !!!!

Sebenarnya, apakah yang membuat tulisan kita bisa menjadi juara? Apakah karena tulisan yang bagus? Lantas ada pertanyaan, tulisan sudah bagus, tapi kok nggak menang? Masalahnya banyak peserta yang tulisannya bagus-bagus, jadi juri bingung memilihnya. Jadi, kata kunci kemenangan adalah bagaimana memikat hati juri agar menjatuhkan pilihan pada tulisan kita.  
Karena itu, setiap membaca sebuah pengumuman press release sebuah even lomba, yang menjadi target utama saya adalah bagaimana memikat hati juri.  Kelengkapan persyaratan jelas menjadi syarat admnistratif yang tidak bisa diganggu gugat.  Setelah itu, saya melihat tema, siapa penyelenggara, dan siapa jurinya.  

19 Maret 2013, saya mendapat undangan dari Fonterra (produsen Anmum) untuk hadir di kantornya di jl. Casblanca Jakarta.  Saya diundang bersama belasan ibu-ibu peserta lomba yang ada di wilayah Jabodetabek.  Agenda utama adalah pengumuman pemenang.  Sebelum pengumuman, Fonterra memberikan presentasi sekilas tentang perusahaan dan produk susu tanpa tambahan gula, Anmum Essential. Sesaat sebelum pengumuman, seluruh undangan diberitahu mekanisme penjurian oleh seorang juri tamu dari Kompasiana, yaitu mas Iskandar Zulkarnaen.
Mata saya langsung melek, telinga kembali mendengarkan, karena memang inilah yang saya cari : apa sih kriteria juri? Mas Iskandar Zulkarnaen memaparkannya poin demi poin apa yang menjadi kriteria juri.  Dan satu persatu, saya merasa kok mendekati tulisan saya ya? jadi GE-ER deh..
1. Kesesuaian dengan tema
Penting banget bagi kita untuk bisa membaca maksud dari sebuah tema yang ditentukan oleh penyelenggara.  Dari tema kita membaca arah tujuan penyelenggara.
Anmum menawarkan 3 tema, mengajarkan anak untuk konsentrasi, mengoptimalkan anak untuk konsentrasi dan asupan sehat tanpa gula tambahan. Saya pribadi mempermudahnya dalam 2 kata : konsentrasi dan asupan tanpa gula tambahan. Saat membaca tema yang cukup luas, saya pikir saya tidak perlu tidak perlu mengulas produk terlalu dalam, saya memilih lebih banyak porsi cerita tentang anak sendiri, toh masih dalam cakupan tema. Memilih cerita tidak berarti seluas-luasnya tema kita capai, cukup mengambil satu atau dua poin cerita dan itu yang akan diulas mendalam.
2. Orisinalitas dan keunikan ide
Poin ini tampaknya menjadi paling utama di setiap lomba.  Orisinalitas biasanya terlihat dari cara penuturan dan isi.  Karya orisinil lebih banyak memuat pengalaman pribadi, bukan sekedar copy paste atau mengutip dari berbagai sumber.  Jadi kita harus percaya diri dengan ide kita.  Satu kalimat yang saya suka dari mas Iskandar, "Harus berani cari ide yang berbeda. Pilihannya ada dua, kalah sama sekali, atau menjadi juara"
Saat peserta lain kebanyakan memilih cara melatih konsentrasi visual (penglihatan), saya memilih melatih konsentrasi auditori (pendengaran).
Dan apakah ibu-ibu peserta membaca detil kriteria di pengumuman lomba berikut : Orisinalitas, kreativitas, eksplorasi ide dalam membuat artikel sesuai dengan ruang lingkup yang ada
Seberapa detil? Saya menyoroti bagian akhir kalimat, "sesuai dengan ruang lingkup yang ada."  Dari situ saya ketahui bahwa juri tidak menginginkan tulisan ilmiah atau materi berat diluar kapasitas kita sebagai ibu.  Jadi, saya merasa tidak perlu mencari sumber data atau literatur terlalu banyak. Di samping memang panjang tulisan sangat dibatasi.
3. Keutuhan Tulisan dan Kedalaman Pesan
Saat memberi penilaian, juri tidak menilai pada awal, tengah atau akhir tulisan.  Juri menilai pada keseluruhan tulisan, membaca dari awal sampai akhir baru memberi penilaian.  Kira-kira, pesan apa yang ingin disampaikan harus jelas, harus ada benang merahnya.  
Tema utama yang ingin saya sampaikan adalah melatih konsentrasi pendengaran.  Namun satu pesan lain yang saya sampaikan dalam judul, kalimat tengah dan kalimat penutup adalah : Perhatian orangtua adalah faktor utama melatih konsentrasi !
4. Sembunyikan Promosi
Tulisan yang diharapkan Juri ternyata adalah promosi yang tidak kelihatan ! Caranya, buat tulisan yang natural sesuai pengalaman. Jangan terlalu sering menyebut merk atau terkesan mempromosikan merk tersebut.  Fokus pada cerita anda, jangan fokus pada produk.
Saya hanya satu kali menyebutkan merk produk, itupun tidak mengulasnya, dan tidak mengajak pembaca untuk mengkonsumsinya :
Adakah kalimat anak saya meminum susu? Atau saya membeli susunya?
5. Perhatikan Psikologi Pembaca Online
Pembaca online, apalagi yang awam pada topik tersebut, biasanya mudah bosan jika membaca tulisan yang terlalu panjang.  Karena itu, untuk lomba menulis blog, biasanya panjang tulisan dibatasi.  Tulisan yang baik tidak selalu menyisipkan kata-kata sulit, kata-kata dalam bahasa Inggris diusahakan mencari padan katanya sehingga membuat pembaca nyaman.
6. Deskripsikan dengan Detil
Buat pembaca merasakan apa yang anda tulis dengan menceritakan kejadian secara detil. Visualkan dalam tulisan anda sehingga pembaca mengerti.  Dengan panjang tulisan yang dibatasi, membuat tulisan dengan detil menjadi tantangan.  Akhirnya, kita dituntut mengutamakan kalimat penting dan membuang kalimat tidak penting.
Saya membagi beberapa poin cerita dalam paragrap-paragrap yang masing-masing menceritakan cara melatih konsentrasi.  Konon, juri lebih menyukai bentuk paragrap karena lebih mengalir daripada poin-poin atau penomoran.
7. Beri sentuhan akhir  Akhir tulisan menentukan bagaimana pembaca menangkap pesan anda.   Jika penutup menggantung pembaca mungkin akan bingung. Penutup dapat berupa kalimat ajakan, kalimat positif, atau kalimat bertanya yang memancing rasa pembaca.  Misalnya, "ini pendapat saya, bagaimana dengan anda?"
Biasanya saya mengakhiri tulisan dengan harapan atau perenungan.  Seperti dalam kalimat ini :
8. Kurangi Foto Narsis
Foto adalah penunjang tulisan dalam blog yang sangat penting, tapi jangan narsis ! Misalnya ingin menceritkan tentang tempat wisata, tidak harus selalu ada foto penulis menghadap kamera.  Foto kegiatan anak juga tidak harus tampak wajah anak. Ambil foto senatural mungkin.
Kebetulan sekali, saya jarang foto sendiri atau memotret anak tampak depan.  Untuk foto produk yang menjadi persyaratan lomba, kali ini saya kreasikan dengan sebuah agenda yang tidak kalah menarik perhatian yang melihatnya. Saya berharap pembaca lebih fokus pada foto agenda.

Demikian sebagian yang saya tangkap dari penuturan mas Iskandar. Pada akhir penjelasan beliau saya tanyakan, apakah kriteria tersebut berlaku untuk kompetisi blog di Kompasiana ? 
"Tergantung siapa juri dan penyelenggaranya" katanya sambil tertawa.
dan ternyata, feeling saya benar...horeeee...

6 komentar:

  1. terima kasih buat sharingnya, mbak :)

    BalasHapus
  2. waaah selamat mba. eh ternyata tipsnya itu hampir mirip dgn yang aku tulis sesuai pengalamanku, padahal blm pernah baca ini.
    http://windiland.blogspot.com/2013/04/just-sharing-how-to-be-winner.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti antar juri gak beda2 jauh seleranya :)

      Hapus
  3. wow...luar biasa, banyak belajar dari blog ini tentang lomba menulis, makasih mba arin

    BalasHapus
  4. terima kasih banyak buat ilmunya ya bunda ^_^

    BalasHapus