Kamis, 11 April 2013

[AKU DAN BUKU] CERITA DI BALIK NODA


Banyak buku telah menginspirasi saya, tapi buku Cerita Di Balik Noda ini meninggalkan kesan sangat  mendalam terkait persoalan ibu dan anak.
20130405_071943
 Judul : Cerita Di Balik Noda
Penulis     : Fira Basuki
Penerbit    : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) kerjasama dengan Rinso, PT. Unilever Indonesia
ISBN        : 978-979-91-0525-7
Cetakan    : Pertama, Januari 2013
Tebal       : 234 Halaman
Harga       : Rp. 40.000,-

Saya tertarik membeli buku ini karena penulisnya adalah Fira Basuki. Saya tahu Fira banyak melahirkan buku-buku best seller.  Selain juga karena judul buku ini  yang  membuat penasaran. Noda apa sih yang diceritakan? Kalau melihat covernya yang putih seperti kain dengan noda cipratan lumpur, ditambah di cover belakang ada logo Rinso sebagai sponsor, saya kira buku ini tak jauh dari noda kotor pada baju yang biasanya banyak dialami oleh anak-anak. Kenyataannya, buku ini memberikan lebih dari yang saya harapkan.

Cerita Di Balik Noda merupakan antologi (kumpulan kisah) yang terdiri dari 4 tulisan Fira Basuki dan 38 tulisan seleksi dari lomba menulis yang diselenggarakan oleh ditergen Rinso.  Sebagian besar cerita ditulis oleh para ibu, menceritakan tentang pengalaman bersama anak terkait dengan noda.  Dari noda ini, ternyata banyak pembelajaran seputar hubungan ibu-anak yang bisa dipetik.  Fira sebagai ibu dari 2 anaknya terlihat sangat menikmati saat menuliskan ulang kisah-kisah tersebut dalam buku ini.  Terlihat dari olah kata yang menjadikan tulisan-tulisan itu nyaman untuk dibaca, Fira juga mempunyai satu cerita tentang kisah pribadi keluarganya dalam judul Sarung Ayah.

Walaupun ini bukan buku parenting, namun setelah membaca buku ini saya merasa banyak mendapatkan masukan pada pola asuh anak-anak saya. Judul Sarung Ayah (halaman 54) menceritakan tentang seorang anak yang menyimpan sarung ayahnya yang sudah meninggal. Si anak tidak mau mencuci sarung tersebut demi meningat kenangan akan aroma tubuh ayahnya.

Cerita ini menyentuh sekali. Mengingatkan kita bahwa peran ayah dalam pengasuhan anak sangat besar. Ayah adalah sosok yang tidak bisa lepas dari sebuah keluarga. Kehadiran ayah dalam tumbuh kembang anak menjadikan jiwa anak tumbuh secara utuh.  Membaca kisah ini mengingatkan kembali keluarga kecilku, betapa suami sangat dekat dengan anak-anak dengan caranya sendiri.  Tentu saja cara yang berbeda dari saya.  Perbedaan ini menjadikan kekayaan dalam jiwa anak.  Mereka mengenal saya, ibunya dan ayahnya dengan karakter yang berbeda dan menemukan kedekatan yang berbeda.  Tidak ada alasan saya untuk tidak berterimakasih pada suami tercinta.

Sebagian besar cerita dalam buku ini tentang manfaat berani kotor itu baik.  Anak yang dibebaskan untuk berkotor-kotor dapat meningkatkan kreatifitas, keberanian, daya eksplorasi serta memberinya keleluasaan untuk memilih sikap.  Seperti dalam cerita Rayhan’s Pet Society (halaman 101) yang menceritakan tentang anak yang ingin memelihara hewan dan dia rela bersentuhan langsung dengan noda dan lumpur.  Atau pada cerita Koki Cilik (halaman 106) yang menceritakan tentang Nisa, gadis cilik yang ingin sekali bisa membantu memasak di dapur.  Dia ingin membuat kue seperti halnya orang dewasa tanpa risih terkena noda dari bahan-bahan pembuat kue.

Anak-anak memang tidak pernah jijik atau segan bersentuhan dengan noda.  Anak-anak mempunyai sifat eksplorasi yang tinggi secara natural.  Yang menjadi masalah biasanya adalah orang tua yang terlalu banyak memberikan perlindungan pada anak-anaknya sehingga justru membatasi ruang geraknya.  Ya Tuhan, saya teringat pada sikap sendiri, betapa saya sering kali melarang anak-anak saya, Cinta dan Asa untuk tidak bermain lumpur, hujan-hujanan atau  main di luar yang sudah hampir bisa dipastikan bakal kotor.  Saya menyadari, tampaknya saya terlalu protektif pada mereka berdua.  Mudah-mudahan berikutnya saya bisa lebih  tenang saat melihat anak-anak bermain kotor dan membiarkan mereka bereksplorasi.  Yang penting setelah berkotor-kotor badan dibersihkan dan baju di cuci dengan baik.  Noda bisa hilang kan? Tapi masa anak-anak tidak mungkin kembali.  Karenanya, harus dimanfaatkan sebanyak mungkin untuk memupuk kreativitasnya.

Bahkan, ada sikap anak-anak yang keluar spontan dan membuat kita tertegun, yaitu keinginannya untuk menolong sesama. Sikap ini akan terpupuk jika orangtua memberikan contoh, anak akan terkondisikan mengikuti sikap orangtua. Ada banyak kisah yang menggambarkan sikap spontan anak-anak dalam menolong sesama. Mereka mau berkotor-kotor karenanya. Seperti dalam judul Seribu Cinta (halaman 44), Untuk Bu Guru (halaman 72) dan banyak lagi.
Dalam menuliskan ulang kisah para orangtua dan anak tersebut, Fira Basuki tidak mengubah gaya penulisan masing-masing cerita sehingga menghadirkan kekuatan dan kekayaan karakter. Bagi saya, buku bersampul putih dengan gambar percikan noda ini secara keseluruhan sangat menarik, mampu memberikan ide-ide dan masukan baru dalam hal mendidik anak-anak. ”Berani Kotor Itu Baik” asalkan hati tetap bersih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar