Minggu, 05 Mei 2013

Filosofi Daun dan Teknologi Mobil Hijau





Sehelai daun menguning, kemudian gugur.  Tunai sudah tugasnya. Beberapa hari sebelumnya daun itu masih hijau.
Pada sebatang pohon yang baru saja ditinggalkannya masih ada ribuan daun hijau yang lain. Sebagian baru tumbuh dan berwarna hijau muda. Sebagian yang lain berwarna hijau tua.

Lihatlah peran daun bagi kehidupan. Kita bisa belajar banyak dari filosofi daun


Sehelai daun adalah organ penting sebuah tumbuhan. Daun mampu memenuhi kebutuhan energi dirinya, menjadi dapur makanan bagi sebuah pohon tempatnya tertancap, dan mampu memberikan kesejukan bagi udara disekitarnya. Daun mampu melakukan semua itu secara kodrati.

Daun mampu menyesuaikan diri dengan kondisi alam sekitarnya. Saat musim kering, daun rela menggugurkan diri untuk menjaga air tanah tidak menguap sehingga tanaman tetap hidup. Pada daerah padang pasir, daun berbentuk ramping dan memiliki lapisan kutikula yang tebal sehingga air dalam sel-selnya tidak mudah menguap.


Daun mampu bekerjasama. Sehelai daun bersama helaian-helaian daun lain saling mendukung untuk menjaga keberlanjutan proses alam. Semakin banyak daun tumbuh dan rimbun dalam satu pohon, semakin kuat akar mencengkeram tanah, semakin kokoh pohon berdiri dan semakin besar manfaat yang akan dirasakan oleh lingkungan.


Daun tidak menunggu dewasa untuk dapat bermanfaat. Sejak daun muncul dari tunas kecilnya, dia sudah mampu berfotosintesis dan memberikan manfaat untuk dirinya, pohonnya dan lingkungan sekitarnya. Energi dari hasil fotosintesis dialirkan ke seluruh bagian tumbuhan.


Sebagian banyak daun berwarna hijau, warna yang melambangkan keteduhan dan kesegaran. Daun tidak sekedar menjadikan hijaunya sebagai lambang, daun benar-benar mampu memberikan keteduhan dan kesejukan.


Lebih dari itu, daun mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan. Pada siang hari, zat asam arang CO2 yang ada di udara diserapnya. CO2 digunakan oleh daun untuk proses 'memasak' yang dikenal sebagai proses fotosintesis. Keluarannya akan terdapat dua zat bermanfaat, yaitu energi (zat gula) dan oksigen O2. Banyaknya oksigen yang dikeluarkan daun inilah yang menjadikan udara di sekitar daun pada siang hari menjadi terasa sejuk.


Sehelai daun saja bermanfaat. Apalagi ribuan dalam satu pohon.  Karena itu, satu pohon begitu berarti.  Pohon-pohon membangun hutan.  Hutan menjadi paru-paru dunia. Hutan menyimpan air untuk kehidupan. Hutan juga mencegah banjir dan tanah longsor.



Foto dari www.kwarta.wordpress.com



Demikianlah filosofi daun. Daun itu hijau, indah, menghidupi dan menyegarkan. Dengan sifat-sifatnya yang berperan besar dalam penyelamatan bumi, maka berbagai upaya penyelamatan bumi disebut sebagai aktivitas hijau. Semakin banyak daun tumbuh, semakin hijau bumi dibuatnya, semakin nyaman bumi untuk ditinggali. Yang perlu diingat, bumi ini bukan warisan, melainkan kita meminjamnya dari anak-cucu dan penerusnya. Karena alasan itu, tentunya kita harus mengembalikan dalam kondisi sebaik mungkin pada saatnya kelak mereka hadir di bumi.



Renungkan,  kita tidak cukup mengandalkan daun untuk menghijaukan bumi.



Kondisi hutan dan luasan hijau di Indonesia kian menipis. Sebelum tahun 2000 hutan Indonesia dianggap sebagai paru-paru dunia karena mencakup 67% dari total luasan hutan dunia.


Itu dulu, sudah berlalu lebih dari satu dasawarsa. Bagaimana kondisi hutan Indonesia saat ini?


Menurut data Kementerian Kehutanan, angka deforestasi (kerusakan hutan) periode 2006-2009 mencapai 0,83 juta ha per tahun. Deforestasi terbesar terjadi di dalam kawasan hutan mencapai 73,4% sedangkan diluar kawasan hutan, sebesar 26,6%. 



Hutan di berbagai daerah di Indonesia sedang mengalami krisis luasan dan fungsi.  Hutan banyak dijadikan lahan administratif, perumahan, hutan industri dan perkebunan.  Akibatnua, hutan di Indonesia mengalami deforestasi (kerusakan hutan dan ekosistem).  Indonesia memiliki kawasan hutan lindung seluas 32,43 juta hektar. Menurut Departemen Kehutanan tahun 2006, terdapat 24,78% dari total luas atau 6,27 juta hektar areal hutan lindung mengalami rusak parah.

Berikut adalah gambaran tentang luasan hutan di Pulau Kalimantan, sebagai pulau dengan luasan hutan terbesar di Indonesia: 



Grafik dari www.kitadanbumi.blogspot.com




Sementara itu kondisi langit sudah sedemikian pekat, memprihatinkan.


Berbagai tindakan kehidupan manusia berdampak pada lingkungan, tidak terkecuali transportasi. Emisi kendaraan bermotor memberi andil besar dalam polusi udara.  Sektor transportasi merupakan konsumen terbesar penggunaan energi primer (minyak) sebanyak 48% pada tahun 2005. Sebanyak 23% emisi CO2 dari sektor transportasi, dimana paling banyak adalah transportasi darat 90,7%.  Transportasi adalah sektor pengguna akhir yang melepaskan CO2 terbesar. Pada tahun 2010 emisi sebesar 67 juta ton CO2 di udara (http://lingkungan.net)


Selain CO2, terdapat gas buangan asap kendaraan bermotor yaitu CO (karbon Monoxida), HC (Hydro Carbon), NO2, Sulfur dioksida, dan Pb (Timah hitam). Kesemuanya dapat mengganggu kesehatan yang menghirupnya dan bisa menyebabkan keracunan hingga kematian.


Kenaikan jumlah kendaraan bermotor sangat pesat dalam 10 tahun terakhir dibandingkan sebelumnya. Dalam kurun waktu 1991-2001, kenaikan jumlah kendaraan bermotor sekitar 11,4 juta unit, dimana 1, 7 juta unit adalah mobil. Bandingkan dengan kurun waktu 2001-2011, kenaikan jumlah kendaraan bermotor sekitar 64,5 juta unit, dan 6,4 juta unit adalah mobil (sumber: Kepolisian RI dalam www.bps.go.id)


Tidak mengherankan, saat ini mobil menjadi kebutuhan penting karena transportasi umum tidak memadai dan tidak nyaman. Selain itu, gaya hidup, banyaknya model mobil baru yang bermunculan dan kemudahan kredit atau cara pembayaran mendorong keinginan masyarakat untuk membeli mobil. Menurut data yang diunduh dari www.kemenperin.co.id menyebutkan bahwa di Indonesia mengalami penjualan mobil sebanyak 103.219 pada Juli 2012, juni 2012 sebanyak 101.743 unit.


Kenaikan jumlah mobil yang tidak diikuti dengan perkembangan infrastruktur memadai menjadikan macet sebagai pandangan sehari-hari di kota-kota besar.



Foto dari www.okezone.com




Itu artinya, semakin banyak CO2 dilepas ke atmosfer, semakin memicu pemanasan global dan perubahan iklim. CO2 adalah gas yang dilepaskan saat pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas alam, batubara dll).

Bayangkan, 1 ton CO2 yang ukurannya kira-kira sebesar balon udara 200 m3 ternyata dapat dihasilkan dari: pembakaran 319 liter solar, penggunaan 300 kg kertas, perjalanan kereta api 25.000 km atau bernapas selama 500 hari.


Masalahnya, untuk mengurangi 1 ton emisi CO2 diperlukan 50 pohon harus tumbuh secara terus menerus dalam satu tahun.

Bisa dihitung, berapa pohon diperlukan untuk menetralkan 67.000.000 ton CO2 di Indonesia.


Sekali lagi, menghijaukan dan menyegarkan bumi tak hanya cukup dengan mengandalkan daun-daun pada pohon-pohon di hutan- hutan. 




Teknologi Mobil Hijau


Manusia sebagai pelaku kerusakan sudah semestinya bertanggung jawab. Berbagai tindakan yang disebut tindakan hijau merupakan upaya-upaya penyelamatan bumi.


Melalui Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia ingin memenuhi target 26 % penurunan emisi gas rumah kaca pada tahun 2020.  Dalam kaitannya dengan sumbangan terbesar bagi polusi udara adalah dari asap kendaraan, sudah saatnya diterapkan teknologi kendaraan (mobil) hijau.

Teknologi mobil hijau adalah kendaraan yang ramah lingkungan.  Teknologi mobil hijau menggunakan konsumsi bahan bakar yang dapat diperbarui, mampu menghemat penggunaan bahan bakar.



Peningkatan jumlah mobil dengan teknologi mobil hijau menjadi target dari Kementerian Perdagangan dan Perindustrian untuk menggantikan kendaraan konvensional.  Pada acara Indonesia International Motor Show (IIMS) 2012 diperkenalkan berbagai mobil dengan teknologi mobil hijau.  Pada kesempatan tersebut, Daihatsu memamerkan mobil dengan konsep ramah lingkungan.


Teknologi mobil hijau yang dikembangkan Daihatsu memiliki 3 tahapan  pengembangan yaitu:



Pertama, teknologi 'Eco-Idle', yaitu teknologi yang mampu mengatur mesin hidup dan mati secara otomatis. Sehingga, pada kondisi mobil berhenti karena macet atau lampu merah, mesin secara otomatis mati. Dengan teknologi Eco-Idle konsumsi bahan bakar akan lebih efisien dan emisi CO2 akan berkurang.  Fitur ini terdapat pada Daihatsu Mira e:S yang mana hanya memerlukan bbm 1 liter untuk jarak tempuh 30 km.


Kedua, teknologi mesin 2-silinder turbocharger. Mesin memiliki jumlah komponen lebih sedikit dan kompak sehingga bobot mesin lebih ringan, dan itu artinya menggunakam sumberdaya alam lebih lebih sedikit.


Ketiga, teknologi Precious Free Luquid Feed Fuel Cell (PMfLFC) yang mampu mengurangi emisi gas buang CO2 menjadi nol. Jelas, teknologi ini sangat ramah lingkungan.  Target penurunan emisi CO2 akan dapat dicapai dengan teknologi ini.  Teknologi ini berfokus pada penggunaan bahan bakar cair baru yaitu Hidrazin Hidrat. Zat ini memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dan tidak menghasilkan CO2.




www.daihatsu.co.id


Teknologi mobil hijau perlu dukungan perilaku 'hijau' berkendara antara lain:


1. Mempromosikan penggunaan kendaraan bahan bakar bersih atau murni.

2. Penggunaan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan.
3. Mempromosikan transportasi publik yang nyaman dan berteknologi hijau.
4. Perbaikan infrastruktur sehingga mengurangi kemacetan yang berguna dalam mengurangi penggunaan bahan bakar.
5. Mengisi mobil dengan jumlah penumpang optimal, artinya bersama-sama menggunakan mobil untuk tujuan yang sama.
6. Mengurangi pengunaan AC dengan membuka jendela mobil
7. Matikan mesin saat beristirahat di dalam mobil
8. Perawatan kendaraan sehingga mesin bersih dan tidak menghasilkan asap kendaraan yang hitam pekat.

Belajar dari filosofi daun dalam menjaga bumi, demikian juga teknologi mobil hijau  diciptakan.  




Sumber :

http://daihatsu.co.id/teknologi-hijau

http://ksdasulsel.org/konservasi/97-pembangunan-hutan-indonesia

http://lingkungan.net

http://kemenperin.go.id


http://bps.go.id

11 komentar:

  1. Keren, Mak, tulisannya. Semoga menang. :) Sekadar saran, mungkin labelnya ditambah "Hijau", "Daihatsu, "Mobil", dan kata-kata lain yang berhubungan supaya tulisan Mak Arin peringkatnya tinggi di Google. IMHO. :)

    BalasHapus
  2. Oh gitu ya mak. Soalnya yg diminta "teknologi" "mobil" "hijau" mungkin itu ya yg bisa dimaksukan label. Thanks ya mak.

    BalasHapus
  3. nice... kepp bloging... !
    mhon knjungn baliknya, trims :)

    http://achmadray.blogspot.com/2013/05/teknologi-hijau-dari-daihatsu.html

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Terimakasih doanya, walau...kecil harapanku :)

      Hapus
  5. Filosofi daunnya keren, semangaat...Luv

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mba Murti, keren kannn.. ehehehe...

      Hapus
  6. Hal-hal yang berbau filosofi itu memang punya 'insight' untuk dibahas, kemudian direnungkan. pantes ajaaaa....kalau menang bagi2 dong kameranya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak menang mak Nurul. Tapi aku puas nulis ini, gak banyak lihat literatur. Konsep ngalir aja langsung dari apa yg terlintas.

      Hapus