Selasa, 04 Juni 2013

Kopi dan Me Time Mama

Sebuah Cerita Di Balik Noda


Gambar dari www.womantribe.com

Kupandangi kaos katun pink kesayanganku. Kaos itu kado dari suami beberapa tahun silam. Warnanya tetap awet walaupun semingggu sekali kupakai. Aku lega, noda kehitaman pada bagian dada telah berhasil hilang setelah kucuci dengan Rinso. Kutarik napas dalam-dalam. Kucoba mengikhlaskan kejadian  sehari sebelumnya.

Sabtu pagi, saatnya bersantai. Bagiku, hal yang selalu kudambakan adalah bersantai dipagi hari tanpa diburu-buru rutinitas pagi  seperti pada hari-hari kerja. Inginnya bisa bersantai menikmati secangkir kopi tubruk panas dan sepotong kue manis. Kue boleh berganti-ganti, asalkan tetap dengan secangkir kopi panas.  Aku penyuka kopi, dan harus panas. Kalau terlambat meminumnya karena lupa, aku terpaksa membuatnya lagi. Karena itu, minum kopi selagi panas menjadi menit-menit berharga. Kalau bukan akhir pekan, sulit rasanya bisa menikmati me time sederhana itu. Bagi seorang mama dengan kerepotan mengurus keluarga, me time menjadi momen yang sangat didambakan, namun tidak selalu bisa didapatkan.

Maka sabtu pagi itu, kuseduh kopi tubruk panas. Mumpung kedua anakku Asa (3 tahun) masih nyenyak. Aku membuat 2 cangkir, satu untuk suamiku. Kusajikan bersanding dengan pancake madu. Sebuah majalah siap menemaniku menikmati me time. 
Kopi panas menanti. Aroma harum kopi telah kuhirup. Namun masih terlalu panas kalau langsung kuminum. Kudiamkan 2 menit terlebih dahulu. Berharap tidak ada interupsi dalam tempo itu. Karena kalau itu terjadi, artinya aku sudah melewatkan kopi panas yang nikmat. 

Rumah masih berantakan dan aku juga belum memasak. "Sebentar ya Mas, aku nikmati kopi dulu selagi panas, setelah itu aku akan beraksi" kataku meminta pengertian suami. "Ya santai aja dulu, tapi jangan lama-lama, nanti semua kelaparan," gurau Suamiku.

Mendadak Asa terbangun. Ah, kenapa sih mesti bangun sekarang, pikirku. Seperti tidak rela Mamanya santai sejenak, prasangkaku pada Asa. Biasanya kalau bangun Asa pasti dengan acara merengek dulu. Segera aku ke kamar berusaha memberinya sambutan seceria mungkin agar moodnya baik. "Pagi Asa, sudah siang nih, bangun yuk," ajakku. Berharap dia mau kutemani menonton sambil aku menikmati kopi, kuatir keburu dingin kopinya. 
"Nggak mau, mau disini saja". Asa menolak bangun. "Oh, mau bobo lagi? Ya udah boleh deh," kataku sambil berharap dia segera bobok lagi kalau memang masih mengantuk. Dan aku bisa kembali pada kopi panasku.
"Nggak mau, nggak mau bobok," rengeknya. Menit-menit berikutnya berisi dialog rengekan dan bujukan yang tidak segera berakhir. 
Aduh, keburu dingin deh kopiku. Dan biasanya aku akan menyeduh kembali kopi berikutnya, dengan situasi yang belum tentu sama

Dan benar, setelah berhasil membujuk Asa, kuseduh kopi kedua. Kali itu akan kunikmati sambil memangku Asa menonton TV. Apa boleh buat, walau tidak lagi leluasa setidaknya aku bisa menikmati kopiku.

Sesaat kemudian kuangkat cangkir hendak menyeruput kopi panasku. Kupegang cangkir dengan hati-hati, menjaga agar tidak mengenai Asa di pangkuanku. Harum kopi sudah menggoda sejak tadi. Hmm, lumayan, senang bisa menikmati kopi walau tidak benar-benar sempurna me time-nya. 

Tiba-tiba Asa bangkit dari pangkuanku dan berlari mengambil mainannya. Aku kaget dan kehilangan kontrol. Kopi tumpah mengenai baju yang saat itu kupakai. Kaos pink kesayanganku. 
"Asaaaaaa!!" teriakku dengan ekspresi kesal.
"Kenapa sih kamu tidak merelakan Mama bersantai sejenak! " Hardikku marah. Asa berdiri diam terpaku. 

Suamiku datang menengahi kami. "Asa, main bola dulu yuk. Biar Mama bisa santai sebentar. Kasihan Mama." Mereka pun keluar ke halaman untuk bermain. Sambil pergi Asa menoleh ke arahku dengan tatapan menyesal campur heran.

Selanjutnya, aku tidak lagi membuat kopi yang ketiga. Sudah hilang moodku. Aku beranjak mandi, lalu mencuci kaos kesayanganku yang terkena kopi. Kuhabiskan pagi itu dengan beraktivitas memasak dan membereskan rumah. Aku melampiaskan kekesalan karena kehilangan me time, momen berharga seorang ibu. 
Saat kujemur kaos pink yang telah bersih dari noda kopi, berkilasan ekspresi tanda tanya Asa. Matanya menyiratkan sesal karena menjadi penyebab tumpahnya kopi mama. Mungkin hanya itu yang dia tahu. Dia belum paham arti "me time" bagi Mama. Bagi dia yang paling diinginkan adalah selalu bersama Mama. Lantas mengapa Mama ingin sendiri?

Terhenyak hati ini. Astaga, kenapa aku begitu emosi? Apakah me time ku lebih penting dari perasaan anakku? Ya Tuhan, seharusnya aku mengikhlaskan berbagi waktuku dengannya. Me time tidak salah, seorang mama memerlukannya. Namun tak lantas menjauhkan dirinya dari anak-anaknya.

Suamiku masuk bersama Asa. Mereka berkeringat usai bermain bola. Kusambut Asa dengan pelukan. Sesaat dia heran, namun kemudian dia balik memelukku.
"Mama mau dibuatin kopi lagi? Yuk Asa bantu," katanya. Penuh haru dada ini mendengar kata-katanya, ingin menangis namun kutahan. "Yuk, Mama bikin kopi, Asa bikin susu, ya, " sambutku. Kugandeng tangannya ke dapur.

"Lain kali, biar Asa sama aku kalau Mama sedang ingin ngopi," kata suamiku penuh arti. Terimakasih suamiku atas pengertiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar