Kamis, 30 Mei 2013

Wisata Kuliner (Rubrik Pelangi Majalah Paras)

Dimuat di rubrik Pelangi Majalah Paras edisi Mei 2013


Sebenarnya, jauh sebelum Bondan Winarno merintis acara wisata kuliner, saya dan suami sudah menyukai kegiatan tersebut. Baik dalam perjalanan jauh, dekat atau superdekat, makan di luar menjadi hobi kami. Dalam seminggu minimal 2 kali menyambangi warung, alasan pertama karena kami pecinta kuliner, dan alasan keduanya karena saya kadang malas memasak! He he he.


Berbagai menu telah kami coba di tempat makan berbeda, dari level paling bawah yaitu gerobak kaki lima, sampai level menengah yaitu rumah makan. Syaratnya, dapur atau tempat cuci piringnya bersih, atau kalaupun agak jorok minimal tidak kelihatan dari tempat pembeli duduk. Kalau sempat terlihat ember cucian piring dengan air yang sudah kecoklatan, kami tidak segan-segan untuk kabur meskipun sudah terlanjur memesan makanan. Khusus untuk tempat makan kelas “atas” alias restoran kami menunggu rekomendasi teman. Nggak rela dong, kalau harus membayar mahal untuk sebuah pengalaman (yang belum tentu enak). 

Alkisah, suatu ketika kami mudik ke Jawa Timur dengan berkendara mobil keluarga. Meskipun perjalanan jauh, tapi suami sebagai single driver rela menjalaninya, dengan harapan bahwa kita bisa mencoba warung-warung di sepanjang jalur Pantura. Kami membayangkan di sekitar Indramayu - Cirebon akan bosa menyambangi warung ikan bakar di pinggir pantai Eretan, atau berhenti di kedai empal gentong di pinggir jalan. Nyam..nyam…

Ternyata, berburu tempat makan di daerah asing tidak semudah yang kita bayangkan. Pasalnya, masing-masing anggota keluarga punya keinginan yang berbeda-beda. Kalau hanya mikirin selera saya dan suami sih gampang, menu dengan bumbu cabe kami suka, bahkan makin pedas makin oke. Tapi kami membawa anak-anak yang masih balita, jadi harus ada menu lain yang tidak pedas sedikitpun. Kadang-kadang persepsi saya dan penjual soto berbeda. Saya pernah memesan soto, eh ternyata sotonya sudah dicampur lada. Ketika saya protes, dia protes balik “Ibu kan pesannya tidak pedas, ya ini menurut saya tidak pedas! Mestinya pesannya tidak pake lada !” Oke deh…, saya terima mangkuk soto tersebut dan terpaksa masih harus mencarikan menu lain untuk anak saya.

Kriteria berikutnya adalah tempat makan yang ada mushola dan toilet. Karena ini perjalanan jauh, sekalinya turun kami bisa numpang buang air, mandi, sholat dan anak-anak bisa berlari-larian melepas ketegangan. Bisa 1-2 jam kemudian kami baru melanjutkan perjalanan. Untungnya belum ada pemilik rumah makan yang menegur kami gara-gara kelamaan nongkrong.

Saya akan lebih puas kalau di setiap warung yang kami jumpai terdapat menu baru yang belum pernah kami coba sebelumnya. Malam hari kami sempat melakukan ekplorasi kota Semarang berpandukan peta kuliner untuk mencari nasi goreng babat pak Taman, Lumpia gang Lombok, dan sate sapi Pak Kempleng di Simpanglima. Kadang-kadang meskipun namanya begitu bombastis dan unik, ternyata menu yang dimaksud adalah menu yang sudah populer, penjual hanya mengganti nama sebagai taktik marketingnya, misalnya saja ketika pagi harinya kami sampai di kota Madiun, kami sempat bingung memilih mana yang lebih enak, apakah pecel Madiun Mbak Yayuk atau pecel Madiun Mbak Ira. Keduanya jualan pecel dengan sajian yang nyaris sama. 

Pengalaman kami, jangan hanya mempercayai spanduk yang menampilkan berbagai pilihan menu dengan foto-foto makanan yang menantang. Saya pernah terkecoh berhenti di warung lumayan besar dengan spanduk menarik ini. Ketika mau memesan nasi rames kata pelayannya lauknya tinggal untuk satu porsi, memesan juice sawo katanya sawonya sedang tidak musim, dan ketika memesan segelas es teh ternyata esnya belum membeku. Walah...terus yang ada apa dong? Parahnya lagi, ada spanduk yang terpasang sementara ternyata warungnya sedang libur alias tutup. Spanduk hanya tinggal spanduk. Pemilik warung lupa atau sengaja membiarkan spanduk terpampang meskipun dia sedang mudik lebaran juga. 

Pilihan tempat makan juga disesuaikan dengan kondisi lalu lintas mudik yang padat dan ada tidaknya tempat parkir. Kami pernah tertarik oleh sebuah iklan rumah makan pada sebuah spanduk. Disitu tertuliskan “2 km lagi”. Ternyata rumah makan tersebut berada dikanan jalan. Dalam kondisi lalu lintas padat, tidak mudah untuk membelokkan mobil mencari celah ke seberang jalan. Akhirnya kami seleksi pilihan hanya pada rumah makan yang berada di kiri jalan. Ini pun tidak mudah. Seringkali kami kebabalasan karena papan iklan dipasang terlalu dekat dengan lokasi, sehingga ketika kami melewatinya mobil masih dalam kecepatan penuh. Saya sebagai navigator juga selalu telat memberitahu, maklum..saya juga tidak hapal daerah baru. Belajar dari sulitnya menemukan tempat makan, maka pencarian harus dilakukan minimal 30 menit sebelum waktunya makan.

Setelah penuh perjuangan dan beberapa kali melewatkan rumah makan yang menarik akhirnya kami berhasil memasuki area parkir yang cukup luas. Ayam lodho Pak Jusuf, hmmm…sepertinya pedas menggiurkan. Kami siap-siap turun mobil ketika petugas parkir datang mendekat, "Maaf bu, makanan sudah habis, silakan kembali besok pagi..." 


9 komentar:

  1. ayam lodho, kangeeeen masakan itu, hmmm klo gak jadi makan bakalan mimpi terus hihihi, pokonya harus dapet, pengalaman nyari2 langganan mi ayam di pare, klo udah dapet rasanya nikmat tak tergantikan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayam lodho is the best recipe in the world

      Hapus
  2. Hoaammm....
    Saat ini saya juga suka kuliner mbak, tapi berhubung mahasiswi jadi kulinernya yang kaki lima gitu deh, kalau misalnya ke Kudus mampir ayam bakar depan Pasar Kliwon Mbak, enaaakkk kali. Hahahaha, #bukan promosi ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mauuuu...kalo pas gak mudik lebaran berburu lebih mudah kali ya

      Hapus
    2. Wah, menggoda...ntar kalau mudik aku hunting ah..

      Hapus
  3. makasih sharenya, Mbk. bentuk tulisannya ringan ya ^_^

    BalasHapus