Sabtu, 03 Agustus 2013

Smart Parenting for "Mobile Internet" Kids

Anak pra remaja ini namanya Cinta. Dia gadget mania dan suka menggunakan internet dari ponselnya.



Kalau Cinta pegang smartphone versi baru sekalipun, dia akan langsung lancar menggunakannya. Blackberry, Android, Windows phone, hanya butuh hitungan menit untuk ditaklukkannya. Tau-tau bisa download program macam-macam, ganti-ganti screen saver, download gambar kartun favoritnya, dan tentu saja, games terbaru. Cinta adalah digital native. Sejak terlahir ke dunia sudah langsung berinteraksi dengan dunia digital. Kemampuannya menguasai mobile internet lebih cepat (bukan berarti lebih mahir) dari kami kedua orangtuanya.



Kecintaan Cinta pada mobile internet tak lepas dipengaruhi dari kami yang juga sama-sama gadget mania. Intip deh foto-foto keluarga gadget ini :D


Ayah Cinta gadget-an di tengah sawah :)

Mama Cinta yang mahir gadget-an dengan sebelah tangan :)




Another Native Digital 

Trend mobile internet menggeser minat penggunan internet dengan PC dan leptop. Mobile gadget memang menawarkan kemudahan lebih banyak hanya dalam genggaman tangan. Ringan, fitur-fitur yang memudahkan dan privasi lebih terjaga. Kebanyakan orang bergeser preferensinya ke mobile intenet, demikian juga dengan anak-anak.

Karena saya sebagai orangtua merasakan manfaat dari mobile internet, maka tidak ada alasan bagi saya untuk melarang anak menyukai hal yang sama. Mobile internet bisa memajukan anak, dengan berbagai rambu-rambu tentunya. Tugas saya adalah mengajarkan anak agar bijak dalam menggunakan mobile internet.

Orangtua adalah Contoh

Mungkin anda sependapat, bahwa saat ini  terdapat kecenderungan anak-anak melihat orangtuanya memegang ponsel saat menemaninya belajar, menyetir mobil, atau makan malam bersama. Ada juga anak-anak yang mengeluhkan orangtuanya yang selalu memandang layar ponsel saat menyuapkan sendok makanan ke mulutnya. Atau saat menidurkan mereka, orangtua membacakan buku cerita di tangan kanan sementara tangan kiri memegang ponsel dan mata melirik kanan kiri bergantian. Anak kemudian akan protes saat orangtua terdengar mulai ngelantur alur ceritanya.


Tanpa disadari, orangtua seperti gambaran di atas mencontohkan situasi dimana tingkat perhatian dan kepedulian pada orang-orang di sekitarnya menurun.

Tidak mengherankan jika fenomena ini kemudian menjadikan anak-anak lebih mahir main game daripada memasang kancing bajunya sendiri. Anak-anak juga lebih lambat menjawab ketika dipanggil. Anak mencontoh hobi orangtua bergadget ria. Dampak buruknya, anak berkurang kemampuan kognisi dan motoriknya.

Tentunya saya tidak ingin menuai dampak negatif mobile internet ini. Agar anak tetap terhubung dengan sekitarnya, saya mengingatkan diri sendiri pentingnya eye contact, bukan i-contact. Orangtua harus membuat dan mempertahankan hubungan emosional dengan anak tanpa gangguan gadget.


Pembatasan waktu dan tempat.

Seperti halnya pembatasan menonton TV bagi anak, demikian juga pembatasan penggunaan gadget. Penambahan jumlah gadget tidak berarti penambahan masa penggunaan setiap harinya. Jika anak memilih bermain game berarti dia telah menggunakan jatah nonton TV nya, begitupun sebaliknya. Berapa jam jatah ideal per harinya? Sebagian besar ahli mengatakan cukup 2-3 jam untuk semua jenis gadget pada anak usia diatas 5 tahun.

Masalahnya, apakah bisa menerapkan aturan ini sementara jam penggunaan internet mobile oleh orangtua jelas jauh diatas batas waktu yang ditentukan? Jawabnya: bisa.

Caranya, orangtua bermobile-internet disaat tidak bersama anak. Gunakan waktu bersama anak untuk berinteraksi. Cara kedua, beri pengertian pada anak bahwa orangtua berinternet untuk bekerja dan keperluan penting lainnya. Jelaskan bahwa banyak urusan orang dewasa yang harus diselesaikan dengan internet.

Selain pembatasan waktu, perlu juga pembatasan tempat. Jika tidak, anak akan menggunakan mobile internet dimanapun kapanpun. Pembatasan tempat misalnya dengan membuat aturan internetan hanya saat di rumah atau di dalam mobil. Tidak boleh saat bertamu atau berjalan-jalan. Selain mengurangi interaksi juga membahayakan keselamatan anak di tempat umum dan dijalan. Misalnya memancing kejahatan atau mengurnagi konsentrasi saat berjalan.

Menjadi Digital Parent yang handal

Ponsel boleh pintar dan mahal, namun jika fitur yang digunakan orangtua hanya sebatas sosial media, chating dan menelpon saja tentu sangat disayangkan.  Sementara itu, anak-anak sangat mudah belajar mengenali fitur-fitur gadget. Jika orang tua ingin bisa masuk ke dengan mudah berkomunkasi dengan anak, tentunya harus mengerti bahan yang mau dibicarakan.


Mobile internet adalah permainan dan hiburan bagi anak. Mengenal seluk beluk digital akan memudahkan orangtua berbaur dengan aktivitas anak


Mengajarkan safety internet.

Celah kejahatan internet banyak ditemui dari aplikasi sosial media seperti facebook dan twitter.  Sementara anak mencoba mencari jati dirinya  dengan bernarsis ria atau curhat di facebook. Penting bagi anak untuk mengetahui kemungkinan bahaya yang bisa dimanfaatkan oleh orang yang berniat jahat. Batas usia minimal yang diterapkan oleh sosial media dibuat bukan tanpa alasan. Pada usia 17 tahun sesorang dianggap sudah cukup dewasa dan megetahui baik-buruknya tindakanya di dunia maya.


Informasi-informasi pribadi seperti alamat, sekolah, foto dan tanggal lahir hendaknya tidak diumbar di media sosial mengingat bahayanya.  Dengan alasan itu juga, sangat mengherankan jika ada orangtua yang membuatkan akun facebook untuk balitanya atau memasang foto anaknya sebagai foto profil dan mengunakan nama anaknya. Mohon renungkan ini, apakah begitu kurang percaya diri orangtua atau justru saking bangganya sehingga meminjam nama dan foto anaknya.

Bersahabat dan berkomunikasi dengan anak

Orangtualah yang paling tahu cara efektif berkomunikasi dengan anak. Saya sering memulai komunikasi dengan menanyakan suatu program terbaru yang di download Cinta, dan kemudian saya memintanya mengajarkan cara penggunaannya. Anak merasa bangga jika orangtua bertanya dan dia berhasil menjelaskan. Obrolan saya dengan Cinta tidak bersifat interogasi atau testing. Saya benar-benar bertanya sesuatu yang belum saya ketahui.

Komunikasi seperti ini menjadikan kami saling terbuka sebagaimana sahabat. Cinta tidak canggung menceritakan aktivitas mobile internetnya, misalnya chating dengan siapa saja, searching atau download apa saja.

Saat ini Cinta belum punya akun facebook atau twitter. Pertemanan di dunia digital hanya pada aplikasi chatting. Kami membuat grup chat keluarga. Grup chat ini berguna untuk komuninasi secara umum atau bersilaturahmi dengan keluaraga besar.

Menghargai privasi dan memberi kepercayaan

Menjadi sahabat satu paket dengan menghargai privasi dan memberi kepercayaan. Saya membiasakan diri meminta ijin Cinta terlebih dahulu sebelum membuka-buka ponselnya. Pendekatan ini penting untuk membuat anak merasa nyaman menjadikan kita sahabatnya. Mengecek ponsel diam-diam akan membuat anak merasa tidak dihargai dan membuat jarak dengan anak.

Tentu saja sebenarnya ada kekuatiran kita akan konten negatif yang masuk baik sengaja atau tidak sengaja ke ponsel anak. Tetapi menurut saya cara terbaik adalah dengan berkomunkasi terbuka. Keberhasilan orangtua memposisikan diri sebagai sahabat menentukan seberapa anak mau jujur kepada orangtua.


Fitur parental control dapat membantu, tapi tidak menggantikan peran orangtua.


Program mobile internet seperti google chrome dan opera mini telah dilengkapi dengan filter untuk konten porno. Saya mengaturnya pada ponsel saya dan ponsel anak. Kadangkala anak tidak berniat mencari konten negatif, namun secara tidak sengaja me-recall history sebelumnya.

Pada Android, bisa diatur restriction atau pelarangan penggunaan aplikasi tertentu sesuai tingkat kedewasaannya.


Filter pada google search di Opera Mini


Filter google search pada google chrome


Filter konten dewasa pada Play Store Android

Yang perlu diingat, program parental control dibuat dengan batasan-batasan yang hampir seragam pada semua gadget, mampu medeteksi kata-kata porno dan kekerasan. Fitur parental control berlaku umum, sedangkan nilai-nilai dalam sebuah keluarga sangat individual. Kontrol langsung dari orangtua tetap harus diperlukan. Saya tidak sepenuhnya mengandalkan kontrol konten pada fitur parental control karena sebagian nilai yang dianggap wajar oleh kebanyakan orang, menurut saya tidak pantas diketahui anak-anak tanpa pendampingan.

Note this, saya prihatin dengan foto-foto korban bencana atau kekerasan yang digunakan oleh suatu situs religi dengan kalimat-kalimat taubat atau cinta sesama. Kata-kata boleh bijak, namun foto-fotonya tidak pantas dipertontonkan.

Maka dari itu, kontrol paling baik adalah dari orangtua langsung. Orangtua bisa menyaring hal-hal mana yang boleh diketahui anak sesuai usianya. Saya memilih memberikan pengertian-pengertian tentang nilai-nilai yang baik dan buruk pada anak sehingga sekalipun parental control hanya berfungsi sebatas alat, anak sudah punya bekal dari orangtuanya.

***

Telah terjadi pergeseran dari jaman analog ke digital. Tapi ada hal-hal yang lebih baik dari era analog yang tidak tergantikan, yaitu mengobrol, pelukan hangat dan tatapan kasih sayang. Dengan menjadi smart parent, kita dapat membesarkan bagi anak-anak sebagai penggemar mobile internet yang bijak. Mobile internet iya, ngobrol hangat iya juga.

4 komentar: