Sabtu, 15 Februari 2014

TELADAN SEORANG SUPIR BIS


Kebaikan suatu kelompok tergantung dari pemimpinnya. Kalimat ini berlaku juga pada sebuah kendaraan bernama bis karyawan. Sebuah kendaraan akan berjalan dengan baik apabila dipimpin oleh supir yang baik pula.


Adalah Pak Nanang, seorang supir bis jemputan karyawan di instansi tempat saya bekerja. Setiap hari, bis Pak Nanang menempuh rute bagian utara kota, untuk menjemput karyawan yang tinggal di sekitar jalur itu. Pak Nanang bukan satu-satunya supir bis. Selain Pak Nanang masih ada 7 supir bis lagi yang bertugas dengan rute berbeda. Tapi Pak Nanang terdengar begitu istimewa di telinga penumpang, bahkan penumpang bis lain. Ini karena beliau terkenal dengan citra sebagai supir bis yang sangat baik.

Mengawali perjalanannya di pagi hari, Pak Nanang selalu berdoa sebelum menjalankan kendaraannya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di jalan raya yang padat dengan jarak tempuh satu jam. Banyak hal bisa terjadi mengingat di jalan kita akan menjumpai motor yang berseliweran, jalanan yang macet, atau berbagai kejadian diluar dugaan. Kekuatan doa mampu menenangkan hati dalam menghadapi berbagai situasi di jalan. Doa inilah yang menjadikan perjalanan kami sehari-hari menjadi berkah, dilindungi dan menyenangkan.

Pak Nanang sangat ramah pada semua penumpang bisnya, tidak peduli jabatan orang tersebut. Keramahannya juga diperuntukkan kepada seluruh karyawan, walaupun bukan penumpang bis nya. Kadangkala ada karyawan yang ingin ikut naik bis, Pak Nanang dengan senang hati mempersilakan pegawai tersebut naik. Atau di lain kesempatan ada karyawan perempuan yang membawa anak balitanya, dengan senyum ramah Pak Nanang menerimanya. Karena kebaikannya, tak heran jika bisa Pak Nanang selalu penuh penumpang. Penumpang rela jika harus duduk bertiga untuk bangku yang semestinya diisi dua orang.

Disela padatnya bis, Pak Nanang berbincang dengan penumpang, saling bertukar informasi dan saling menasehati. Pak Nanang juga suka menghibur kami dengan senandung dan guyonan-guyonannya. Begitu hangat dan damainya perjalanan kami menuju dan pulang kantor. Di pagi hari, suasana bis menyemangati, sedangkan di sore hari, suasana bis mampu menenangkan karyawan yang lelah. Ini tak lain dan tak bukan karena terbawa suasana tenang dan ikhlas dari supirnya.

Pak Nanang tidak enggan melayani telepon atau sms dari penumpang. Kadangkala ada penumpang yang ketinggalan bis. Jika waktu masih memungkinkan, dan dengan persetujuan penumpang lain, Pak Nanang akan menunggu penumpang yang ketinggalan tersebut.

Rasa kekeluargaan terjalin diantara sesama penumpang bis. Ini karena Pak Nanang mampu mengajak kami saling peduli dengan kesulitan sesama penumpang. Ketika ada anggota bis yang mempunyai acara pernikahan atau sunatan, Pak Nanang mengumumkan di bis dan mengajak kami untuk hadir. Begitupun jika ada berita duka dari anggota bis, Pak Nanang mengajak kami untuk menyumbangkan dana sebagai bukti ikut berbelasungkawa.

Sikap Pak Nanang tak hanya baik kepada penumpang bis, tapi juga baik kepada pengguna jalan yang lain. Toleransinya sangat tinggi. Pak Nanang menghadapi motor dan mobil yang kadang-kadang kurang bersahabat dengan hati lapang. Bahkan Pak Nanang bersikap ramah kepada ‘polisi gopek’ yang melakukan pungli di setiap tikungan. “Mereka pasti tidak ingin menjadi ‘polisi gopek’, keadaanlah yang memaksanya. Niat saya membantu, saya ikhlas, jika bisa membantu mereka kenapa tidak ?” demikian kata Pak Nanang bijak.

Adalah benar bahwa rejeki diatur oleh Allah, dan berbanding lurus dengan usaha dan kebaikan yang kita tanam. Rejeki tak hanya berupa materi, namun juga kesehatan dan kebahagiaan. Pada setiap awal bulan setelah gajian, sudah menjadi kebiasaan penumpang untuk menyisihkan uang sekedarnya sebagai tanda terimakasih kepada supir bis yang dinaikinya masing-masing. Tanpa bermaksud menghitung materi, kebaikan Pak Nanang ternyata menjadikan uang yang terkumpul untuknya lebih banyak dibanding pada supir bis yang lain. Namun begitu Pak Nanang tidak pernah merasa sombong. Hatinya tulus menjalankan tugas sebagai supir. Beliau menyadari betul bahwa bis yang dikendarainya adalah milik instansi, bukan miliknya, dan bukanlah alat untuk meminta hormat atau alat untuk bersombong. Sebenarnya kenyataan ini sudah jelas, namun ternyata tidak semua supir bis menyadari hal tersebut. Sebagian diantara mereka ada yang pilih-pilih penumpang, bersikap angkuh pada penumpang, dan kurang melayani.


Sebuah kebaikan dan jiwa kepemimpinan bisa berasal dari siapa saja. Termasuk dari seorang supir bis. Kami sebagai penumpang bis selalu berdoa, semoga Pak Nanang diberi kesehatan dan panjang umur agar dapat lebih lama bersama-sama menikmati perjalanan dengan bis karyawan.




Tulisan ini dimuat di majalah Paras edisi Februari 2014

26 komentar:

  1. Banyak orang biasa yang patut dijadikan teladan ya Jeng. Ucapan,sikap dan tingkah laku, semangat,ibadahnya dan lain sebagainya.Hal yang baik kita tiru yang kurang baik kita jadikan pelajaran agar kita bisa mengupgrade diri
    Terima kasih
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. nderek komentar, leres sanget pakdhe.

      Hapus
    2. Inggih pak De Cholik dan bude ida :)

      Hapus
  2. supir idaman nih ya mbak, anadai semuanya seperti beliau

    BalasHapus
  3. Memang banyak ya Mak Arin teladan yang bisa kita dapatkan justru dari mereka yang berpangkat bukan pejabat. Mestinya para pejabat itu malu pada Pak Nanang, dalam kesederhanaan dan keterbatasannya, beliau masih memiliki sifat seperti itu. Semoga makin banyak barokah untuk Pak Nanang dan Mak Arin yang menuliskan kisah ini.

    BalasHapus
  4. Hmm...andai semua pengendara kendaraan di jalan ini seperti pak Nanang. Mungkin kita ngga akan stress saat berada di perjalanan. ^^

    BalasHapus
  5. Bagus Mbak tulisannya. Amat menginspirasi buat sopir2 yang lain agar berlaku yang sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah, bu anita inu saksi kebaikan beliau...iya kan bu?

      Hapus
  6. tuisannya mak Arin kereeenn, rapih dan teratur ^^
    betul mak, kita bisa belajar ttg teladan dari siapapun termasuk bapak supir bis tsb..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulisnya sambil terharu membayangkan kebaikan beliau

      Hapus
  7. damainya jalan raya dan tenangnya hati kalau semua supir bis seperti beliau ya Mak Arin ... *salam kenal dari saya :)

    BalasHapus
  8. Mak arin bersyukur sekali ya mak mendapat supir bus yang baik. Saya juga dapat bus dg supir yg baiik.
    Bekerja di instansi apa mak?

    BalasHapus
  9. Jalanan banyak sekali memberi pelajaran ya, Mak. Baik itu para supir, preman-preman jalanan, pengamen, dkk. Aku sendiri pernah dapat pelajaran berharga banget dari seorang supir angkot tua yang paham sampe akar-akarnya dunia sastra dan perbukuan, dan dua orang pengamen bergaya punk yang pembicaraan antara mereka adalah persoalan agama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul..jangan anggap remeh. Mereka juga membaca dan belajar.

      Hapus
  10. banyak mendapat pelajaran dari orang di sekitar kita ya mak....

    BalasHapus
  11. pak nanang itu sangat populer ya mam..bhkan di sekolahpun beliau slalu jdi bhan perbincangan oleh anak2..hehe

    BalasHapus