Selasa, 29 April 2014

Kesan Indonesia Moderen di Dunia Fantasi





TAMAN Impian Jaya Ancol berdiri tahun 1966, merupakan salah satu ikon tempat wisata di ibukota, bahkan Indonesia. Bagian hiburan paling spektakuler di Taman Impian Jaya Ancol adalah Dunia Fantasi, atau lebih dikenal dengan istilah singkat Dufan berdiri tahun 1985. Dunia Fantasi berkembang sebagai pusat rekreasi penuh hiburan dan petualangan, dengan memasukkan modernitas wahana-wahana di dalamnya.

Masyarakat berbagai kalangan pun masih bisa menyempatkan diri ke Dunia Fantasi. Tiketnya sepadan dengan kepuasan yang didapatkan. Bagi wisatawan luar Jakarta, ke Dufan belum tentu sekali dalam setahun rasanya tak akan rugi membayar Rp. 260.000 / orang. Tak heran pada hari libur, Dunia Fantasi ramai pengunjung. Antrean panjang sudah menjadi pemandangan rutin di hampir semua pintu masuk masing-masing wahana.


Kebanggaan Indonesia

Perlu diakui bahwa menjual kemoderenan di saat negara lain lebih moderen tidak semudah menjual keetnikan kultur dan kekhasan Indonesia. Dunia Fantasi harus bertahan ditengah maraknya wisata luar negeri yang moderen dan murah di Malaysia, Singapura, Thailand dan Hongkong. Dunia Fantasi harus berjuang menyajikan kesan bagi rakyat Indonesia sendiri.

Menilik wahana-wahana yang ada di Dunia Fantasi, sebagian sudah diusahakan untuk meng-Indonesia. Ini bisa menjadi salah satu upaya pengelola Dunia Fantasi agar wisatawan asing tertarik dengan dengan ke Indonesiaan tersebut, sementara bagi wisatawan lokal dapat menumbuhkan nasionalisme. Upaya yang dimaksud terlihat dari penamaan pada sebagian besar wahana dengan nama-nama lokal, misalnya Halilintar untuk roalercoaster, Kora-kora untuk swinging ship atau perahu ayun, Bianglala untuk ferris wheels, Laga Logon dan Ubanga-banga untuk boom-boom car, Turangga-rangga untuk komidi putar atau carousel, dan Alap-alap untuk kereta layang.

Dengan lebih menggali keunikan Indonesia dan mewujudkannya dalam wahana yang menghibur akan menjadikan Dunia Fantasi berbeda dengan Disneyland. Target selanjutnya memang untuk lebih menarik wisatawan asing. Jikapun masyarakat masih latah bahwa yang disukai bule itu bagus, setidaknya menambah satu lagi kebanggaan Indonesia memiliki Dunia Fantasi sebagai tempat wisata bertaraf dunia. Jadi, siapapun yang baru pulang dari Dunia Fantasi, dapat berbangga seperti halnya mereka yang baru pulang dari Disneyland.

Wahana-wahana Baru.

Dunia Fantasi selalu memperbarui dirinya dengan wahana-wahana baru. Ini sangat mempengaruhi daya pikat Dunia Fantasi sebagai kawasan wisata yang moderen.

Januari 2013 Dunia Fantasi diperkaya dengan Wahana Treasureland. Wahana ini menghadirkan pagelaran teater berdurasi sekitar 25 menit dengan aksi menegangkan dari stuntman asal Amerika, jerman, China, dan Brasil. Treasureland mengangkat kisah tentang arkeolog yang mencari artefak di kuil kuno. Penonton akan mmenikmati efek-efek menegangkan seperti ledakan, batuan yang runtuh, pasir hisap, dan aksi tembak-tembakan. Melalui pertunjukkan teater ini kita jadi bisa mengetahui kebudayaan dan peninggalan masa lalu yang seru dan menegangkan.

Kemudian di awal 2014 Dunia Fantasi memiliki wahana baru Ice Age Sid’s Arctic Adventure. Wahana ini merupakan hasil kerja sama Taman Impian Jaya Ancol dengan 20th Century Fox dan menggambarkan keempat film Ice Age. Wahana ini berkonsep petualangan dalam lorong gelap dengan panjang lintasan 365 meter dan berdurasi 8 menit. Pengunjung akan berpetualang ditemani karakter- karakter Ice Age, yaitu Manny, Sid, Diego, dan Scrat yang dikemas dalam bentuk animasi.




Kesan Kunjungan ke Dufan

Pertama kali pergi ke Dunia Fantasi Ancol bersama teman-teman pada masa kuliah. Tepatnya tahun 2000. Berbekalkan uang pas-pasan, kami mengejar untuk mendapatkan tiket promo terusan Dunia Fantasi yang hanya Rp.8.000,- per orang. Bandingkan dengan harga sekarang ya?

Baru-baru ini saya ke Dunia Fantasi bersama suami dan anak-anak. Harga tiket terusan Dunia Fantasi Rp.260.000, per orang. Berharap dengan harga tiket tersebut kami bisa menikmati sebanyak mungkin wahana permainan.




Merasa kurang lama di kunjungan sebelumnya, kali ini kami datang ke Dunia Fantasi pukul 8 pagi. Saya kira pintu masuk sudah akan dibuka pukul 9 pagi. Ternyata saya salah. Pintu masuk Dunia Fantasi dibuka pada pukul 11.00 wib. Artinya kami masih harus menunggu selama sekitar 3 jam.

Selain saya dan keluarga, banyak rombongan calon pengunjung yang lain sama-sama menunggu pintu dibuka. Untuk menghabiskan waktu, saya dan anak-anak berjalan di koridor dari pintu tiket luar ke pintu bagian dalam di depan Balai Kota Intan.

Perlu saya informasikan, sekarang Dunia fantasi banyak berbenah. Di koridor menjelang pintu masuk kita disambut dengan pilar-pilar besar bergambarkan kartun animasi tokoh-tokoh Dufan Defender. Ada Kabul (katak bulat), dan Garin (Garuda Indonesia) . Kesan yang tertangkap moderen futuristik.






Agak ke dalam ada taman yang luas dengan kursi-kursi taman yang nyaman untuk bersantai. Saya akui kebersihan Dunia Fantasi dibandingkan tempat wisata lain. Hal ini tak lepas dari komitmen Dunia Fantasi menyediakan tempat sampah yang cukup dan merata di berbagai titik. Kebersihan itu penting banget. Bukankah hal utama yang membuat kita terkesan dari wisata luar negeri adalah kebersihannnya? Nah, kalau soal kebersihan saja, pastinya mudah dan murah untuk diwujudkan. Tinggal kemauan dan kesadaran seluruh pengujung menjaga kebersihan.

Di beberapa titik terdapat mesin penjual minuman otomatis. Itu loh, mesin yang begitu kita masukkan uang sesuai yang diminta akan keluar minuman sesuai tombol mana yang kita pencet. Cuaca Ancol yang panas diredam dengan kipas blower yang menghembuskan rintik-rintik embun yang sejuk. Dan untuk menghibur calon pengunjung yang menunggu pintu dibuka, tersaji hiburan live musik dari band yang menyanyikan lagu-lagu hits tahun 1970-an bersama penari-penarinya. Mereka mengajak para penonton untuk ikut turun menari dan menyanyi. Sebagian pengunjung terlihat tengah asyik berfoto dengan badut-badut Dufan.





Tak terasa juga, pukul 11.00. Pintu gerbang di Balai Kota Intan dibuka. Antrian sudah memadati pintu gerbang. Dan saya beruntung, karena menggunakan voucer khusus jadi tidak ikut antri, melainkan melalui pintu masuk dari Kantor Fatahilah.





Karena akhir pekan, antrian setiap wahana permainan terlihat sangat panjang. Kami bermain di wahana yang cocok untuk anak-anak.

Pertama kali kami datangi adalah istana boneka. Kami mengulangnya hingga dua putaran. Hehehe…tidak bosan kok, karena di sana anak-anak saya benar-benar terhibur. Saat itu antrian belum panjang.

Istana Boneka berupa lorong gelap. Kita berkeliling di dalamnya dengan menggunakan perahu. Satu keluarga satu perahu. Istana boneka ini berisi aneka boneka bergerak dari berbagai suku di Indonesia dan suku manca negara. Melihat Istana Boneka anak-anak belajar kebudayaan berbagai daerah dalam dan luar negeri. Di beberapa tikungan di dalam Istana Boneka terlihat beberapa kali lampu kilat menyala. Oh, rupanya kami di foto secara candid dari bagian atas istana. Fotonya bisa kita beli saat keluar nanti dan menjadi kenangan abadi.





Selanjutnya kami mencoba halilintar versi kecil, yaitu alap-alap. Walaupun kecil, ternyata permainan ini masih menakutkan buat saya dan anak-anak. Hahaha….

Lelah berjalan, kami berhenti di foodcourt untuk makan siang. Sementara anak-anak makan, saya mampir ke souvenir shop yang menjual pernak-pernik khas Ancol yang lucu-lucu. Melewati wahana histeria, saya dan keluarga hanya berani memandang ke atas. Tampak orang-orang diangkat lalu turun seolah-olah dihempaskan. Dari bawah terdengar lengkingan jerit mereka. Kami tertawa melihatnya, ya hanya berani melihat saja.








Perjalanan pun dilanjutkan, kami kembali mengunjungi wahana-wahana favorit yaitu arung jeram, bianglala, komidi putar, dan film 3 Dimensi. Aaarrrgh, kami ingin mencoba semua. Tapi waktu terasa berjalan cepat. Saat berada di puncak Bianglala, saya melihat pemandangan laut di kejauhan. Di sisi lain, tampak matahari sudah mau tenggelam. Tak terasa sudah pukul 5 sore. Saya mengajak anak-anak meninggalkan berbagai wahana permainan itu.








Saat berjalan kaki menuju pintu keluar, mendadak kami diminta minggir oleh petugas Dunia Fantasi. Oh, rupanya ada atraksi parade yang mau melewati jalan utama Dunia Fantasi. Kamipun kemudian asyik melihat parade. Ada drumband, pawai kostum, mobil hias dan atraksi badut. Sungguh tampak profesionalisme para pekerja seni di Dunia Fantasi. Mereka menari dengan senyuman menyapa ramah para pengunjung.

Kunjungan kami ke Dunia Fantasi ditutup dengan sangat manis dan penuh kesan. Kami meninggalkan Dunia Fantasi sambil menyusun rencana kunjungan selanjutnya. Pastinya kami ingin mencoba wahana lama dan baru, semuanya seru. It’s a never ending fun! Inilah Dunia Fantasi kami, wisata Indonesia yang membawa kebanggaan bagi kami anak-anak negeri. Inilah Dunia Fantasi, mengingatkan kembali bahwa Indonesia punya wisata bergengsi yang moderen, tak kalah dari wisata-wisata bermain di luar negeri. Sebuah memorable moment di Dunia Fantasi. Buat kami, liburan tak perlu jauh dan ribet, ke Dufan aja yuk !!




Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Penulisan Blog “INI DUFAN KAMI ”

#IniDufanKami #NeverEndingFun #MemorableMoment

Info lebih lanjut :

Like Fanpage Ancol ( www.facebook.com )
Follow Twitter Ancol ( @ancoltmnimpian )


9 komentar:

  1. hickz..seumur2 blm pernah ke dufan saya mak...smg bisa kesana deh.pnasaran asli ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus segera direalisasikan tuh...

      Hapus
  2. Wiiiih keren. Ayo mbak kita kopdar ke Dufan rame -rame main seru seruan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayooo, ibu-ibunya aja yuk jejeritan naik kora-kora hahaha

      Hapus
  3. belum sempat ngajak anak2 ke dufan...harus diagendakan nich..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mei banyak libur mba, bisa diagendakan

      Hapus
  4. Sama dengan mbak Zwan, aku juga belum pernah masuk Dufan hehehe, pernah ke sea worldnya itu satu kawasan ya mbak kalau tidak salah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. seaworld dan dufan dua tempat berbeda, tapi keduanya bagian dari Taman Impian Jaya Ancol.

      Hapus
  5. wah foto2nya komplit :) sukses mak

    BalasHapus