Rabu, 07 Mei 2014

Ciptakan Lebih Sering Wajah Bermain



Anak-anak adalah sosok dengan ekspresi spontan dan jujur. Ketika mereka gembira mereka tertawa, sebaliknya ketika bersedih mereka diam.

Kembali membahas kebutuhan penting anak-anak adalah bermain. Ternyata bermain mendatangkan berbagai perasaan dalam diri anak dan keluar melalui ekpresi wajahnya. Dengan bermain anak-anak mengenal kreativitas, kegigihan, organisasi, kontrol diri, keterampilan sosial, ketekunan jiwa, mandiri, dan percaya diri. Seperti saat mereka mencoba sesuatu yang baru, mengambil resiko, bergerak untuk maju dan saat mereka menikmati dunianya.


Saya suka meng-capture ekspresi Cinta dan Asa saat bermain. Ternyata tidak selalu tertawa.  Tergantung aktivitas apa yang mereka lakukan.  Aktivitas fisik di luar rumah lebih banyak menunjukkan wajah bermain. 

Sejak kayuhan pertama pada pedal sepedanya, terlihat wajah Cinta mengerahkan tenaga. Begitu sepeda berjalan, terlihat Cinta menikmati kecepatan yang membuat angin menerpa pipi dan rambutnya. Saat bergerak lurus, berbelok, atau menghindari lubang di jalan menimbulkan ekspresi yang berbeda-beda. 

Berbeda lagi dengan Asa. Dia lebih ekspresif lagi, ditambah dengan suara jeritan dan tawa yang lepas.  Saat mengaduk-aduk lumpur, ekspresi Asa cukup serius dan fokus. Setelah puas dan dia memporak-porandakan danau buatannya dengan menyemprot air, ekspresi wajahnya berganti tertawa dan ceria.

Jika kita cermat mengamati, saat bermain ada wajah siap menjalani tantangan, ada wajah tengah berusaha, wajah tegang mencoba hal baru, wajah kaget, wajah penuh keingintahuan dan wajah bangga karena berhasil.

Menyenangkan sekali melihat ekspresi wajah bermain Cinta dan Asa. Wajah mereka tampak bersinar. Kelihatan sekali bahwa bermain adalah hal yang sangat disukainya.


Seberapa sering?

Video diatas adalah bagian dari Rinso Kids Today Project yang bertujuan mengajak kita merenung.  Sekarang yang menjadi pertanyaan buat saya selaku orangtua, seberapa sering anak-anak memiliki wajah bermain?  Dan pertanyaan kedua, seberapa sering saya menyaksikannya langsung?

Wajah bermain tentu saja sesering anak-anak melakukan aktivitas bermain. Terkait dengan kesibukan rutinitas sekolah anak, semakin sedikit tercipta wajah bermain, dan dipenuhi dengam wajah berpikir. Anak yang jarang bermain cenderung kurang bahagia, sedih, muram, pesimis, mudah marah, dan anti-sosial.  Betapa seriusnya dunia tanpa wajah-wajah bermain.

Dari keseluruhan aktivitas bermain anak baik di sekolah maupun di rumah, tidak bisa 100% saya saksikan. Walaupun hampir bisa dijadwalkan sehari hanya pada sore hari, saya tetap ingin melihatnya. Barang satu atau setengah jam saya melihatnya dari kejauhan.  

Dan ternyata, sesekali anak-anak melirik ke arah saya saat bermain. Ooo, mereka juga ingin dilihat. Dengan bangga mereka ingin Mama-nya tahu hasil karya "ajaibnya" dan ketangkasan barunya.  Mereka berharap ekspresi balasan saya sama gembiranya seperti mereka. Mau belepotan terkena lumpur, atau baju terkena cat, atau badan basa keringatan, rasa kaget dan marah saya pun terurungkan.  Mengapa marah kalau saya melihat wajah mereka bergembira ? 

Melihat betapa bahagianya mereka bermain, semakin besar tekat saya menciptakan waktu luang bagi anak-anak terutama, dan bagi kami orangtuanya, agar mereka bisa bermain lebih sering.


6 komentar:

  1. Yup aku juga sekali merekam ekspresi anak-anak Maaak, kadang dari situlah kita tahu bagaimana perasaan si anak. Apalgi si Faiz ekspresinya mudah berubah, kalau seneng bakal loncat-loncat kegirangan tapi kalau sedih..bisa nutup muka meskipun sedang diajak jalan-jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiii...harus sedia kamera terus. Biasanya aku pake hp. Trus fotonya candid gitu..hehehe

      Hapus
  2. dunia anak dunia bermain ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, kasihan kalau waktu mainnya kurang. Orang dewasa aja butuh refreshing, apalagi anak2.

      Hapus
  3. tulisan yg menarik , jadi pengen balik ke masa kecil ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak perlu balik..bisa kok kita nikmati ulang bersama anak2

      Hapus