Selasa, 20 Mei 2014

Koleksi Museum Sebagai Perantara Sejarah



"Mama, tadi aku melihat Nandi di Museum Nasional. " Demikian kata putri saya, Cinta, usai kunjungannya ke Museum Nasional pada 9 Maret 2014 lalu.
"Apa itu Nandi ?" tanya saya. 
"Nandi itu adalah patung berbentuk sapi jantan. Nandi ditemukan dekat Candi Singasari Jawa Timur. Anehnya, Nandi itu memakai kalung mutiara, bunga, dan lonceng. Juga memakai pelana dan ikat pinggang," jelas Cinta. 

"Di Museum Nasional banyak sekali benda-benda dari jaman kerajaan kuno, Ma. Untuk apa sih Ma benda-benda kuno itu disimpan di museum?" lanjut Cinta.


/pic/nandi.jpg
Nandi, foto dari www.museumnasional.or.id
                                  
Satu hal yang saya petik dari kunjungan anak ke museum adalah mereka mengetahui penggalan cerita di masa lampau dengan melihat koleksi museum. Sebuah pengetahuan yang tidak didapatkan dari orangtuanya, atau kakek-neneknya. Yang museum ceritakan jauh melompati waktu sekian generasi. Tak hanya menghubungkan kisah lampau pada pengunjung museum, koleksi museum juga menghubungkan sejarah lintas wilayah pulau, negara bahkan benua. Seperti yang terlihat di museum Nasional, pengunjung tak hanya dari dalam negeri, banyak juga dari luar negeri.

Koleksi museum berupa benda-benda bisu. Ditemukan satu per satu, pada waktu yang acak. dan dari lokasi berbeda-beda. Ketika ditemukan sebagian besar benda tersebut tanpa cerita pengantar. Di sini peran para  arkeolog sangat besar untuk dapat menghubungkan kepingan-kepingan puzle sejarah. Benda-benda yang ditemukan dicari keterkaitan satu sama lain berdasar kesamaan tempat, fungsi dan perkiraan waktu pembuatannya. Arkeolog meneliti hingga kemudian mereka-reka sejarah yang paling masuk akal. Semakin kuno benda yang ditemukan, semakin sulit menguak sejarah yang menyertainya.

Sesuai dengan fungsi museum sebagai tempat menyimpan, memelihara dan mengelola koleksi benda-benda bernilai sejarah, maka pengembangan museum dititik beratkan pada  bagaimana koleksi-koleksi tersebut bisa lestari dan bermanfaat optimal lintas generasi.





Melestarikan Koleksi Museum Nasional

Museum Nasional berdiri sejak jaman pemerintahan Belanda di Indonesia, tepatnya 24 April 1978.  Museum ini didirikan untuk tujuan penelitian dalam  bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah. Museum Nasional dikenal oleh masyarakat Jakarta sebagai Museum Gajah, karena ada patung gajah di halaman depan. Dikenal juga sebagai "Gedung Arca" karena di  koleksinya banyak berupa arca. 

Museum Nasional kini dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Museum Nasional  terkait visi "Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa". 

Di Museum Nasional, terdapat koleksi prasejarah, numismatik-keramik, etnografi dan arkaeologi. Pemeliharaan koleksi dilakukan sehari-hari pada untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari warisan budaya. Caranya dengan menyimpan pada kondisi ruang yang memadai, pemantauan, pencatatan secara berkala, termasuk juga dokumentasi dalam bentuk digital.


Museum dan perkembangan jaman.

Seiring perkembangan jaman, museum perlu penyesuaian-penyesuaian. Perubahan yang dimaksud tentunya dengan tetap menjaga nilai-nilai histori. Koleksi museum sewajarnya bertambah dari waktu ke waktu (bukan berkurang karena pencurian). Penambahan jumlah koleksi memerlukan ruang lebih banyak. 

Koleksi museum pun merentang waktu lebih panjang.  Perlahan namun pasti, peradaban demi peradaban terekam dalam koleksi.  Masa kita saat ini pun kelak akan menjadi sejarah. Dan meninggalkan koleksi-koleksi baru.


Koleksi arkeologi adalah aset ilmiah Indonesia.  Karena itu harus benar-benar dijaga keamanannya dari pembalakan dan pencurian. Dalam era kompetisi, Indonesia harus banyak belajar pada negara-negara yang mengembangkan ilmu arkeologi dengan penuh kesadaran dan taat pada prinsip-prinsip ilmia. Arkeologi Indonesia harus mengejar ketinggalan, terutama dalam kegiatan analisis dan interpretasi melalui penelitian arkeologis.

Para arkeolog yang memahami prinsip pelestarian satu persatu akan pensiun. Artinya harus ada regenerasi. Tugas untuk melahirkan generasi-generasi baru ini diamanahkan kepada bangsa, khususnya pendidikan tinggi dalam bidang arkeolog.


Seiring waktu pula, masyarakat membutuhkan informasi yang lebih terbuka seputar koleksi-koleksi museum semakin. Di era digital ini, koleksi museum sudah saatnya dikemas dalam bentuk digital juga, yang bisa diakses melalui website atau multi media. Terkait hal ini perlu kerja keras pihak museum untuk menyusun data base dan mengemasnya dalam bentuk populer yang bisa diakses siapapun, dari manapun. Keterbukaan informasi dibalik koleksi tersebut akan menghubungkan lebih banyak kepingan puzle sejarah bumi.

Peran masyarakat untuk museum. 

Apa yang bisa kita lakukan untuk museum? Dimulai dari hal-hal mudah yang, antara lain: 
  • Membantu dalam menginventaris koleksi. Maksudnya, apabila ada yang menemukan sesuatu benda diduga bernilai sejarah, sebaiknya dilaporkan kepada pihak museum. Peran masyarakat sangat penting dalam hal ini agar temuan-temuan benda bersejarah tidak jatuh kepada oknum-oknum yang berniat memperjual-belikannya hingga ke negara-negara lain. 
  • Turut merawat koleksi. Caranya adalah dengan bersikap tertib saat berkunjung. Perhatikan anjuran dan larangan yang berlaku di museum. Misalnya dilarang menyentuh kaca penyimpanan artefak, tidak menyentuh pada koleksi yang rapuh, tidak bersandar pada arca dan sebagainya. Jika ragu-ragu jangan segan untuk bertanya pada petugas museum. 
  • Menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui museum. Caranya dengan sering mengunjungi museum, mencari tahu website dan berita terkait museum, dan menceritakan pada generasi muda terutama anak-anak tentang manfaat museum dan bagaimana dasar pengelolaan koleksi museum. 
  • Membangkitkan popularitas arkeologi di kalangan generasi muda. Caranya dengan lebih banyak memperkenalkan hal-hal tentang sejarah nusantara, kepurbakalaan, dan profesi arkeolog yang menantang dan menarik. Saat ini peminat jurusan arkeologi di perguruan tinggi masih sedikit. Hal ini terkait dengan kurangnya minat generasi mudah mempelajari sejarah dan kurangnya serapan lapangan pekerjaan dalam bidang arkeologi di Indonesia. 
*****


"Mama, apa artinya monumen di depan Museum Nasional, bentuknya melingkar seperti lorong pusaran air yang didalamnya ada bentuk orang-orang?" Tanya Cinta.
"Itu adalah gambaran pusaran waktu. Bukan benar-benar pusaran. Waktu digambarkan panjang seperti lorong atau pusaran dan kita manusia melewati di dalamnya. Dengan berbagai kegiatan dan peristiwa," jelas saya.
"Apa hubungannya dengan museum?" Tanya Cinta lagi.
"Iya, karena museum menyimpan koleksi-koleksi yang bisa membawa kita pada kisah-kisah di waktu lampau," jawab saya.
Museum collection make connection. Koleksi museum menjadi perantara sejarah. Biarlah anak-cucu kelak mengetahui peradaban nenek moyangnya dahulu dan kini.


 foto dari www.museumnasional.or.id
 foto dari www.museumnasional.or.id
 foto dari www.museumnasional.or.id
 foto dari www.museumnasional.or.id
Sumber :
http://www.museumnasional.or.id
http://asosiasimuseumindonesia.or

Tidak ada komentar:

Posting Komentar