Langsung ke konten utama

Tantangan Juri Give Away dan Lomba

Walaupun istilahnya GA itu lomba atau hajatan yang dilaksanakan atas dasar persahabatan sesama blogger, tapi soal kualitas bukan main-main. Semangat menulisnya tetap maksimal, peserta berusaha menyajikan yang terbaik. Buktinya, ada peran juri di dalam GA. Baik itu yang jadi juri adalah si empunya gawe, juri bayaran (sohib yg dibayar dg cinta untuk jadi juri) atau juri todongan (sohib yg ditodong jadi juri), apapun itu, ada juri dalam GA.  

Jadi juri nggak mudah loh. Tantangan jadi juri GA adalah bagaimana menilai dengan obyektif. Banyaknya peserta dari kalangan teman sendiri bisa membuat penilaian subyektif.

Nah, gimana caranya kita bisa berlaku seadil mungkin dalam penilaian? Pengalaman saya menjadi juri GA di blog sendiri tahun lalu membuktikan kalau subyektifitas sulit dihindarkan.
Beberapa poin yang saya catat dari pengalaman menjadi juri GA adalah sbb:
  1. Tulisan peserta yang masuk pada awal-awal periode tampak lebih bagus dan siap. Subyektif? atau karena saya punya waktu lebih banyak dan tenang saat membacanya? 
  2. Tulisan peserta yang datang keroyokan menjelang DL, walaupun bagus tapi karena dibaca dengan waktu yang terbatas jadinya yaaaa...gitu deh...kurang menanamkan kesan di hati juri. Kurang diingat :)) 
  3. Tulisan teman dekat yang sering kita baca blognya, yang sudah tahu gaya nulisnya, sedikit banyak menarik penilaian.
  4. Saya ikut-ikutan kriteria penilaian juri profesional, yaitu orisinil, tulisan enak dibaca, jumlah komentar, dan nilai informatif (kriteria tiao juri bisa beda) . Saya buat daftarnya tuh..biar rapi. Trus ditotal nilainya hingga dapat 20 besar. Nah, kadang walaupun sudah terpilih 20 besar secara numerik, tetap saja ada sedikit perubahan geser sana-sini karena tulisan favorit tersingkir. Tahap ini galauuuu banget deh!
  5. Sedikit mengurangi subyektifitas, akhirnya saya meminta juri tamu. Tapi saya tetap tidak rela 100 % penilaian padanya, akhirnya cuma saya bagi porsi 30% hihihi...takut beda selera.

Hmmm..kesimpulan dari saya...tantangan saya saat jadi juri adalah kecenderungan bersikap subyektif. Bagaimana pengalaman emak2 yang pernah atau sedang jadi juri GA ? gimana ngatasinya? yuk mariii ditunggu sharingnya hingga....ada monday sharing berikutnya hehehe..

Pendapat Winny Widyawati :

Saya pernah menyelenggarakan GA kecil-kecilan dan sekaligus jadi jurinya juga. Betul mak Arin, bukan nggak bisa dihindarkan lagi, subyektivitas juri itu mutlak karena juri juga manusia, maksudnya juri jg punya "cita rasa" pribadi yang pasti mempengaruhi penilaiannya.

Karena itu, dulu saya mengajak teman lain bwt jadi juri tambahan, maksudnya spy menambah ruang pandang yang lebih luas dlm menilai karya peserta GA. Ini menurutku juga bentuk penghargaan kepada peserta GA yg sdh meluangkan waktu dan pikirannya buat ikutan GA kita ya.

Tapi, peserta GA-pun menurutku punya hak (sedikit atau banyak) buat tahu apa yang menjadi alasan (para) juri memenangkan seseorang dalam GAnya.

Makanya saya senang kalau ada penyelenggara GA yang diawal pemberitahuan GAnya menyebutkan point2 yg akan dinilai, dan saat pengumuman pemenang juga menegaskan lagi alasan/point apa saja yang dia nilai.

Rasanya itu fair buat peserta GA, buat yg menang jadi tahu kelebihan apa yg perlu dia pertahankan dan kembangkan, buat yg belum menangpun jadi tahu kekurangan apa yg dia harus perbaiki ke depan.

Selebihnya, jadi juri juga perlu tetap mengedepankan kesantunan, sikap arogan juri atau penyelenggara GA bisa bikin peserta kapok ikutan GAnya lagi.

Pendapat Lusi Trisnawati :
Lebih enak jadi juri lomba blog drpda GA, apalagi kalau panitia lomba blog kinerjanya keren, jadi bisa fokus membabat peserta tanpa perasaan wkwkkkk.... Tapi kalau juri GA itu adanya gak tega, secara niat GA adalah untuk silaturahim (kalau saya, krn ada juga yg utk nambah followers). Akhirnya, hadiah di tambah2 sendiri supaya yg menang agak banyak. Alhamdulillah selama ini belum sampai bangkrut. Doain banyak rejeki, ya.


Aku bedain antara GA (giveaway/free gift) dg lomba blog. Lomba blog harus profesional krn ada pertanggungjawabannya dengan sponsor. Tapi GA harusnya lebih friendly, tapi ya gitu deh, maksud hati nggak selalu hasilnya baik kalau ketemu peserta GA yg memperlakukan GA spt lomba blog. Suasana silaturahimnya jadi ilang. Tapi mungkin akunya yang salah mengartikan GA juga kali ya? Mungkin GA sekarang dianggap sama aja dg lomba2 bersponsor brand lainnya. Kalau iya, berarti aku harus upgrade pengetahuan
Kalau GA, karena syaratku nggak macem2, paling utama sesuai tema dan asik dibaca aja
Giveaway: an event at which things are given away. A giveaway is a type of marketing promotion where something is given away for free. Giveaway: a thing that is very easy to achieve. Macem2 ya terjemahannya? Tapi garis besarnya, GA mestinya mudah & fun. 
 
Pendapat Uniek Kaswargati :
kali ini versi serius Mak Arin- Murtiyarinihehehee... saya sih seneng aja dicolek2, gak pa2 koq, menambah tinggi rating pertemanan

Etapi sebelumnya saya minta maaf ya, ini bukan karena saya jago nulis loh terus berani nyap nyap urusan penjurian kayak gini. Kebetulan aja disambati oleh teman blogger yg seirama dan sesendal macam Muna Sungkardan Nurul Noe, yg sebenarnya bikin saya bingung, kenapa juga saya yg jadi jurinya, wong jalan2 aja sekarang gak pernah hehehe... Mana peserta GA mereka banyak pulak, tujuh puluh lebih *sisir bulu mata lagi aaahhh

Kedekatan pertemanan maupun sedikit ketidaksukaan pada peserta sama sekali tidak mempengaruhi penilaian saya. Yg penting tulisannya sesuai temanya, tidak 'nggladrah' alias dipanjanglebarin, nilai inspiratif maupun entertainingnya, dan ada keunikan kisah (unik tapi tidak dibuat-buat loh ya). Kembali lagi soal selera juri, masing2 peserta silakan kenali saja gaya bertutur jurinya. Caranya? Kepoin blog jurinya dooonkk *haaalaaahhh modus No no, itu cuma intermezzo. Meskipun saya sering mbayol dan enggak serius klo nulis postingan, tetapi saya suka koq membaca tulisan yg serius, runtut dan 'klik' di hati.

Di atas semua itu, seikhlasnya aja lah nulisnya. Meskipun ada juri di tiap GA, tujuan utama GA kan untuk silaturahmi. Jadi mari kita gunakan ajang silaturahmi ini dengan asyik mesra sembari update blog biar enggak berdebu (kalau itu saran utk diri sendiri abaikan ya). Lagian, di tiap GA, selalu ada peserta yang rajin bewe ke tulisan peserta lainnya. Mari kita sambut kunjungan sahabat2 blogger itu dengan berkunjung balik. 


ini saya komen lagi mak Arin-, bukan dlm kapasitas sebagai juri, tp lbh pada sohibul hajat. sebagian peserta ada yg memang blm paham ttg tetek bengek pemasangan link. nah, di situ bedanya dg lomba blog yg ketat aturannya. klo sy yg empunya gawe, akan sy minta mereka utk lengkapi, seringnya malah ngajarin gimana itu cara pasang link. tak masalah buat saya. tp klo pun tetep tidak bisa ya wes piye meneh misalnya ada tulisan yg bagus tp syarat nge-link tdk dilakukan meskipun udah dikasih tau, yaaahh... apes deh klo pas ketemu juri yg bukan si empunya gawe sendiri, yg memegang teguh aturan sesuai syarat GA

Secara keseluruhan niatan ikut GA kan memang buat asyik2an meskipun bukan berarti nulisnya boleh serampangan. Subjektivitas memang sulit dihindari, baik dari si pemilik gawe maupun jurinya (bila jurinya bukan penyelenggara). Semoga yg ikutan GA tdk semata2 mengejar hadiah, nilai silaturahimnya yg diambil, jadi tdk kecewa saat tulisannya tdk terpilih. *ngomong sama diri sendiri yg suka mewek klo gak dpt hadiah
 

Oya, ada satu lagi tipe juri yg pernah saya tau, saya tak bisa menyebutkan itu siapa di sini. Dia minta shohibul GA untuk copy paste tulisan ke dalam word tanpa nama si penulis. Katanya sih utk menghindari subjektivitas. Bener2 yg dinilai tulisan krn foto2 pun tak masuk ke dalam naskah yg dicopas itu.


Tadinya aq pengin gitu, tapi koq kecian sama penyelenggara GAnya, apalagi klo dia lagi kesulitan sinyal utk mampir ke semua tulisan blog utk mengcopynya, belum lagi klo yg diprotect, kan harus kontek sama pemilik tulisan dulu hihihiii...

 
Pendapat Nurul Noe :
Pengalaman jd juri waktu GA nya mak Indah Nuria Savitri, sumpah awalnya nggak pede. Lha ngeblog aja moody, tulisan gaje kebanyakan curcol kok diminta jd juri. Hehehe.

Pengalaman jd juri memang banyak rasa yaa.. betul apa yg dibilang mak arin, kedekatan atau ketidak dekatan dlm pertemanan kadang bikin penilaian jd subyektif. Tp tetep berusaha objektif dg ttp berpatokan pada tema, sesuai ngga tulisan dg temanya, ya seperti apa kata mak uniek... setiap org pasti punya gaya dan ciri khas dlm menulis. Dan meskipun aku punya ciri sendiri yaitu kebanyakan curcol dan sok puitis. Hehehe.. tp bkn berarti yg dimenangin adlh mereka yg gaya tulisannya sama. Yg terpenting itu enak dibaca dr awal sampe akhir. Mau gayanya penuh humor & ngocol, agak resmi2 dikit, naratif, puitis, atau apapun.

Menilai biasanya pakai tabel. Tentuin dulu apa yg akan dinilai. Kesesuaian tema, foto, dll. Nanti di rank nilainya ambil 10 atau 20 besar.

Nah hasilnya kasih deh ke pemilik hajat. Lalu diskusi2.. mana juara satu dua tiga dst.

Pendapat Myra Anastasia :
berusaha seobjektif mungkin *pasang kacamata kuda
Lihat persyaratannya juga. Sebagus apapun tulisan kalau gak sesuai persyaratan langsung saya coret

Kalau ada 2 tulisa dengan kualitas yang sama biasanya saya pilih yang duluan kirim

Yuni Andriyani
Gunankan Hati Nurani dan semangat profesionalisme saja mak untuk meminilaisir subjektifitas.
Walaupun Juri mempunyai hak subjektifitas dan memutuskan 100%, akan tetapi dengan semangat profesionalisme memberikan kesadaran dan pemahaman bahwa mereka yang ikut lomba (kontestan) telah mencurahkan sekian waktu untuk menulis, merangkai kata dan mencurahkan energi.

Dalam setiap lomba itu pasti ada parameter-parameter penilaian yang telah ditentukan. Itulah yang menjadi pijakan dewan juri.

Sayang sekali kalau ada peserta yang tulisannya harusnya bagus harus tersingkir gara-gara hal yang sepele.

Riski Fitriasari
Saya sama seperti mak Arin- Murtiyarini, ada juri tamu di kuis yang saya adakan, biasanya mereka bukan blogger tapi yang sudah pakar di bidangnya, sebisa mungkin sih tantangan dalam kuis saya itu bisa dinilai dg obyektif, makanya untuk memikirkan tantangan kuis yg saya bikin saja saya butuh waktu satu bulan itu sudah termasuk persyaratan, apa saja yang dinilai dan mencari juri tamu yang capable tentunya..

Zuhana Anibuddin Zuhro
Mak Arin- Murtiyarini, saya ikutan nimbrung disini ya. Alhamdulillah sudah 6 kali diamanahi menjadi juri. 4 kalinya giveaway (yang diadakan blogger), 2 kalinya bentuk kontes menulis (bukan kalangan blogger). Kalau saya pribadi penerapan penjurian yang paling utama, tulisan harus mengandung 3 unsur : rekreatif, informatif dan edukatif. Itu berlaku untuk semua tema. Tapi khusus untuk giveaway. Karena kalau GA di blog pake bahasa skripsi, gak asyik kayaknya. Kehilangan kesan bloggernya, hihihi. Namun untuk lomba-lomba yang sifatnya ilmiah dan non blogger sih tetap pada aturannya.

Selain 3 penilaian tersebut, saya biasanya juga memberi nilai lebih pada pengambilan ide. Dikala 30 peserta menuliskan sesuatu yang umum dan dengan cara yg umum pula, trus ada 1 peserta yang pengambilan idenya unik serta penyampaiannya kreatif, tentu saya akan memberikan nilai lebih pada 1 peserta itu. Tentu saja, setelah memenuhi 3 syarat penilaian utama, dan tidak meleset jauh dari tema yg telah ditetapkan. Dan satu lagi, saya lebih menyukai tulisan yg detail, mengalir dan pernah dialami oleh si penulis (untuk GA non fiksi). Sebagai catatan, detail disini tak harus panjang.

Kalau untuk yang poin 2, saya pribadi tidak pernah memasukannya dalam penilaian. Mau daftar di awal atau di akhir, bagi saya tidak masalah. Meskipun daftarnya akhir kalau tulisannya memang masuk di penilaian dan layak menjadi pemenang, yang menang. Hehe... Hal ini juga berlaku untuk poin 3. Teman atau nggak teman kalau memang layak menang ya menang, hehe.

Seperti contoh, sebuah giveaway tentang perjalanan. Ketika semua orang memiliki satu frame yg sama, bahwa sebuah perjalanan harus dengan destinasi yang jauh. Sebuah petualangan haruslah selalu berhubungan dengan kegiatan alam bebas. Dari 30 peserta menulis dengan frame yang sama. Namun ketika ada satu saja yg berani tampil beda dengan penceritaan sudut pandang yg berbeda, tentu saja saya akan memberikan penilaian tersendiri untuk satu peserta itu. Ini sebagai contoh saja ya Mak

Terlepas dari semua yg saya tuliskan di atas, semua juri punya kriteria penilaian masing2. Semua punya sudut pandang sendiri-sendiri. Jadi ya tergantung jurinya

Giveaway: an event at which things are given away. A giveaway is a type of marketing promotion where something is given away for free. Giveaway: a thing that is very easy to achieve. Macem2 ya terjemahannya? Tapi garis besarnya, GA mestinya mudah & fun.

Mak Arin- Murtiyarini, aku biasanya baca semua setelah DL Mak. Sesuai kesepakatan biasanya, sohibul hajat dulu yang ngasih komentar, baru setelah melewati DL, jurinya bergerilya. Makanya biasanya aku minta waktu ke sohibul hajat. Waktunya disesuaikan sama tema dan banyaknya peserta. Biasanya ambil waktu maksimal. Saya biasanya kalau pesertanya banyak, minta waktu maksimal 2 minggu. Kalau sebelum itu sudah selesai ya gpp

Ade Anita

Maaf baru hadirrrr mak Arin- Murtiyarini... aku lagi cuti efbe sebenernya krn lagi nyelesein sesuatu. Setuju dengan apa yang dikatakan oleh mak Uniek Kaswarganti dan zuhanna priit apikecil...bahwa tiap2 juri punya sudut pandang sendiri alias selera pribadi dan ini yang membuat juri pada akhirnya punya subjektifitas tersendiri..tapiii.. itu tetap subjektif positif sih selama penilaian tidak didasarkan pada pertemanan tapi karena karya yang dihasilkan.

Aku sendiri, lagi jadi juri ceritanya saat ini utk 2 lomba..yg satu lomba resensi yg satu GA pertamaku sendiri.

Untuk keduanya, lagi2 aku setuju dengan zuhanna .. yaitu bahwa tulisan yg jadi peserta adalah tulisan dari para blogger. Jujur saja, aku tuh sebenernya dah wara wiri kenal dunia website Dah lebih dari 10 tahun. Nah keluhan utama dari pembaca website dan sekarang blog adalah: tulisan gak boleh terlalu berat dan gak boleh menghabiskan waktu baca lebih dari 5 menit. Karena gak semua pembaca blog itu punya komputer sendiri dan modem pribadi. Seringnya itu komputernya berbagi dengan anggota keluarga lain atauuuu dia sengaja datang ke warnet. Nahhhh... ngapain bayar sewa warnet cuma buat baca tulisan yang menghabiskan waktu baca lebih dari 5 menit? Itu protes dari pembaca website dan blog yg aku temui.

Jadi... kriteriaku dalam menilai tulisan yang tersaji di blog adalah: dia ringan, informatif, dan bisa menghibur.

Informatif disini artinya secara singkat dia bisa menyajikan informasi dari tema yang dilombakan. Aku kurang suka tulisan yg kelewat panjang. Biasanya suka aku skip (*ini masalah perhitungan pulsa sih. Kalo emang butuh info yg detail dan banyak dengan jumlah pulsa yg aku miliki mending aku buka wikipedia kan?).. tapi aku suka tulisan yang punya kekhasan tersendiri (*karena yakin aja bhw dengan gaya khas itu dia punya penggemar tetap.. nah.. tujuan lomba kan agar "hajatan" kita dibaca banyak orang dan semua kalangan. Tujuan ini akan tercapai jika si tulisan tidak meninggalkan kekhasannya (*krn penggemarnya pasti akan melahap apapun tema yg ditulis oleh blogger itu. Tapi begitu blogger itu mulai sama dgn orang lain gayanya maka pembaca akan pergi meninggalkannya. Jadi tujuan tidak tercapai dong. Hmm.. komenku mulai belibet..hahahaha... intinya.. aku suka kalo ada peserta lomba yang konsisten dengan gayanya menulis. Tidak ikut2an gaya tulisan blogger lain.

Damai Wardanimeski masih kelas nol kecil, perkenankan saya ikut nimbrung mak. terlepas dari semua pendapat emak2 yang kece badai di atas, saya ambil kata kunci "penilaian" sbg bahasan utama. Namanya "nilai" pasti punya tolak ukur, dan tolak ukur memang ada dua: subjektif (individual/relatif) dan objektif (teruji, bersifat pasti). Sayangnya manusia hakikatnya makhluk individu, jadi dalam "menilai" pun bisa jadi ada unsur subjektivitas; sekalipun tolak ukur sudah diterapkan. Terlebih untuk penilaian terhadap hal yang berkaitan dengan manusia, jangan-jangan objektivitas itu justru subjektivitas berjamaah (misal: penilaian tulisan terfavorit, survey capres terpopuler, atau pemenang peserta putri terfavorit). Barangkali itulah kenapa Rosul bilang, perbedaan adalah berkah. Wallohu'alam. -CMIIW-

Nurul Wachdiyyah
suka sama kalimat mak Lusiana Trisnasari, GA kudu fun dan mudah saya baru sekali bikin GA, kayaknya bakal dibuat sebulan sekali dalam rangka 'tertentu' dan berpegang teguh dengan konsep fun & easy itu Yang pertama syaratnya cuma komen aja di postingan blog. Hadiahnya buku. Ada 25 blogger yg komen dan kayaknya semuanya dari Emak-emak Blogger deh *tepuktangan*. Karena baru pertama kali bikin GA, banyak yg harus dievaluasi. Kalo dalam milih pemenang, intuitif sih, saya suka yang mana komennya. Tadinya mau diundi aja tapi kok rasanya gak adil ya. Saya minta suami milih juga, nyortir juga. Terus kami milih tiga orang yang ternyata sama, ya udah mereka yang jadi pemenang seru ya jadi juri ternyata, walo sekelas kecil-kecilan gini juga menyenangkan. kapok enggak, nagih iya. mhuahahaha :))

suka sama kalimat mak Lusiana Trisnasari, GA kudu fun dan mudah saya baru sekali bikin GA, kayaknya bakal dibuat sebulan sekali dalam rangka 'tertentu' dan berpegang teguh dengan konsep fun & easy itu Yang pertama syaratnya cuma komen aja di postingan blog. Hadiahnya buku. Ada 25 blogger yg komen dan kayaknya semuanya dari Emak-emak Blogger deh *tepuktangan*. Karena baru pertama kali bikin GA, banyak yg harus dievaluasi. Kalo dalam milih pemenang, intuitif sih, saya suka yang mana komennya. Tadinya mau diundi aja tapi kok rasanya gak adil ya. Saya minta suami milih juga, nyortir juga. Terus kami milih tiga orang yang ternyata sama, ya udah mereka yang jadi pemenang seru ya jadi juri ternyata, walo sekelas kecil-kecilan gini juga menyenangkan. kapok enggak, nagih iya. mhuahahaha :))

Komentar