Sabtu, 14 Juni 2014

Kompleksitas Beban Ekonomi dan Kematian Akibat Tb


Ketika seseorang terkena sakit, beban yang akan disandangnya bukan hanya beban fisik dan mental juga beban ekonomi. Logikanya, sakit ringan saja dapat menurunkan produktifitas, apalagi sakit Tb yang sudah jelas tergolong sakit berat dan butuh pengobatan lama.

Kemiskinan dan Tb adalah lingkaran setan.


Karakteristik baksil Tuberkulosis menyebar 
melalui udara sehingga mudah menular dalam satu kerumunan masyarakat. Kawasan masyarakat dengan ekonomi lemah dan padat umumnya rawan penyebaran Tb.  Pemukiman yang padat kurang memiliki ventilasi udara dan pencahayaan yang baik. Masyarakat miskin juga terbentur pada kurangnya gizi dan akses layanan kesehatan. Faktor-faktor tersebut menjadikan Tb di daerah miskin lebih cepat menyebar.Belum lagi kesadaran masyarakat untuk mau berobat sampai tuntas.  Walaupun obat Tb gratis, biaya lain-lain bukan jumlah sedikit. 

Padahal terganggunya kesehatan karena Tb menjadikan tingkat produktivitas menurun. Penghasilan keluarga pun berkurang, dan bahkan ada yang hilang sama sekali. Yang sudah miskin bertambah miskin karena sakit Tb. Begitulah, beban ekonomi pada masyarakat miskin lebih berat dan berputar-putar menjadi lingkaran setan.

Miskin dan kondisi hidup dalam pemukiman yang penuh sesak meningkatkan risiko infeksi menular. TB dan kemiskinan menciptakan lingkaran setan, dimana penyakit memperburuk kemiskinan, yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan tertular TB. Ini adalah berita yang sangat menyedihkan bagi 2,7 miliar di seluruh dunia yang hidup dengan $ 2 per hari atau kurang.

Sementara yang tadinya kaya atau mampu bisa berkurang produktivitasnya, penghasilanpun berkurang. Lambat laun, jumlah masyarakat miskin akibat Tb akan meningkat jika tidak segera diatasi.

Beban Ekonomi dan Kematian karena Tb.

Beban biaya ekonomi karena sakit Tb antara lain adalah biaya medis perawatan pasien Tb, biaya rumah tangga pasien Tb, kerugian produktivitas akibat disabilitas selama sakit, dan kerugian produktivitas akibat kematian.

Pasien Tb yang mendapatkan perawatan dan yang tidak terdapat perbedaan biaya. Biaya perawatan memang tinggi, namun tidak sebesar kehilangan yang terjadi akibat kematian pasien Tb. 
Beban kematian prematur pasien TB yang tidak mendapat perawatan dapat mencapai 20 kali lipat dari pasien yang mendapat perawatan. Pada kasus Tb MDR, beban pasien yang tidak mendapat perawatan 7 kali lipat lebih besar.

Beban penanggulangan Tb masih cukup tinggi. Setiap tahunnya ada 460.000 kasus baru dan 67.000 diantaranya meninggal.

Foto dari www.nypost.com

Dampak TB pada Keluarga.


Pengobatan TB memang gratis, tetapi pasien menanggung biaya lainnya, seperti biaya transportasi dan rumah sakit. Pada saat yang sama mereka beresiko mengurangi jam kerja atau berhenti bekerja. WHO memperkirakan bahwa pasien TB kehilangan rata-rata tiga sampai empat bulan pekerjaan dan sampai 30 persen dari pendapatan rumah tangga tahunan.

75 persen kasus TB muncul selama tahun-tahun paling produktif masyarakat, antara usia 15 dan 54.  Dalam sebuah keluarga, apabila sang ayah terkena Tb, secara signifikan berpengaruh pada ekonomi keluarga. Ayah sebagai tulang punggung keluarga akan sering absen kerja karena sakitnya dan butuh waktu untuk pergi berobat. Masih untung jika sang Ayah tidak kehilangan pekerjaannya. Tidak sedikit pasien Tb yang terpaksa resain atau malah terkena PHK karena dikuatirkan menularkan wabah Tb di lingkungan kerja.

Jika Tb mengenai ibu, akan berpengaruh dalam roda rumah tangga mengingat peran ibu sangat penting. Secara langsung berpengaruh pada kinerjanya sendiri. Secara tidak langsung mempengaruhi kinerja suami dan proses belajar anak. Beban TB terbesar bagi wanita pada usia subur mereka. Selama lima tahun ke depan, tanpa pengobatan yang efektif, empat juta wanita akan meninggal akibat TB dan 50 juta anak-anak akan menjadi yatim piatu. 

Selanjutnya, ratusan ribu anak-anak akan meninggal akibat TB selama periode yang sama. Diperkirakan bahwa 250.000 anak menderita TB setiap tahun dan 100.000 mati. Namun, TB ini sangat sulit untuk mendiagnosis pada anak-anak dan karena itu banyak ahli percaya beban pediatrik TB bahkan lebih tinggi.


Gambar dari www.etsy.com

Pengaruh Tb pada beban anggaran negara

Dalam biaya layanan Tuberkulosis, Indonesia memiliki komitmen untuk mandiri. Pernyataan sikap tersebut disampaikan serempak oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit, Penyehatan Lingkungan Kementerian, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung dan Kementerian Kesehatan RI. Komitmen untuk mandiri dari donor tersebut juga diterapkan pada keberlanjutan pembiayaan program penanggulangan tuberkulosis di Indonesia.

Pemerintah mengharapkan, pada tahun 2016, 80% dari seluruh kebutuhan pendanaan untuk pelayanan program tuberkulosis dapat bersumber dari domestik. Oleh sebab itu, diperlukan informasi biaya pelayanan program TB dan beban ekonomi TB di Indonesia.




Dengan estimasi adanya 460.000 kasus TB/ tahun otomatis butuh biaya besar untuk mengatasinya. Satu kasus Tb bernilai $20 sen per kapita. 
Setiap pencegahan kasus TB dapat menghemat beban biaya yang dikeluarkan pemerintah. Pencegahan kasus Tb menghemat biaya sistem kesehatan hingga mencapai $171 dan mengemat pengeluaran keluarga hingga $791. Sedangkan untuk MDR-TB, biaya yang dapat ditekan mencapai $ 4.972 dan beban keluarga mencapai $ 4.077.

Dampak TB di Dunia.

Bank Dunia memperkirakan bahwa hilangnya produktivitas disebabkan TB mencapai 4 sampai 7 persen dari PDB beberapa negara . Seluruh ekonomi dipengaruhi oleh epidemi TB di dunia. Selain biaya perawatan medis, setiap kasus Tb menguras dana sistem-sistem kesehatan yang sudah terstruktur. Tak heran, banyak negara TB-endemik tidak mampu untuk mengobati pasien mereka sendiri karena beban epidemi TB pada sistem kesehatan nasional.

TB akan menguras negara-negara termiskin di dunia dari sekitar $ 1 sampai $ 3 trilyun selama 10 tahun ke depan. Dampaknya tidak proporsional di mana 94 persen kasus TB dan 98 persen kematian akibat TB terjadi justru di negara berkembang. Bagaimanapun akan mengganggu bagi kesejahteraan dunia pada umumnya.

Investasi negara dalam pengembangan obat TB lini pertama mengacu pada dua hal, kepentingan kemanusiaan dan kebijakan ekonomi. Sebab, penelitian menunjukkan mengobati MDR-TB lebih panjang, rumit, dan mahal biayanya.  Investasi dalam pengembangan obat pada Tb lini pertama lebih pendek, lebih aman, dan terjangkau.  Untuk alasan ini, dunia harus berinvestasi dalam pencegahan dan pengobatan kasus baru.


[Bersambung]

Tulisan ini diikutkan dalam Seri VI Lomba Blog "Temukan dan Sembuhkan Pasien TB" 

Referensi :
www.tbindonesia.or.id
www.stoptbindonesia.org
www.depkes.go.id
www.pppl.kemkes.go.id
www.cdc.gov
www.who.org
kncv.or.id

www.fhi.org
www.tballiance.or

5 komentar:

  1. salah satu penyakit yang menyebabkan penurunan pendapatan juga ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sakit sehari dua hari masih bisa ditolerir. Lha kalau sebulan? Oh no....

      Hapus
  2. semoga indonesia lepas dari TB... semangat

    BalasHapus
  3. Selamat, jadi jawara di edisi ke-6 Mbak:)

    BalasHapus