Kamis, 30 Oktober 2014

Jumput, Pegang, Goreskan !

Catatan tentang stimulasi kecerdasan motorik pada Asa.
***
 "Mama, Asa belum mau memegang crayon dan belum bisa memegang pensil dengan benar. Mohon Asa dibimbing agar lebih sering belajar menggambar di rumah" 

ttd. Bu Guru


Saya lemas seketika, saat membaca buku penghubung TK milik Asa, jagoan kecilku. Laporan mingguan itu saya terima dengan jutaan rasa bersalah.
Aduh, kemana saja diriku? Ngapain aja selama ini bersama Asa?

Berlintasan flashback hari-hari kami berdua. Asa memang lebih bagus motorik kasarnya dibanding motorik halusnya. Saya akui telah mengubah pola stimulasi antara si kakak Cinta dan si adik Asa. Setelah ternyata si Kakak yang lebih dominan motorik halusnya dan kurang pada motorik kasarnya,  saya akhirnya lebih banyak melatih motorik kasar pada Asa. Lagi pula dia laki-laki, pikir saya. 

Nah, sekarang saya baru merasa ada yang terlewat, saya kurang merangsang motorik halusnya. Atau karena saya memanjakannya? Makan disuapi. Membuka sedotan susu dibantu. Membuka kemasan kue dibantu. Jarang menulis, lebih banyak bermain. Dan sederet daftar penyesalan lainnya.

Secara fisik Asa tumbuh dan berkembang normal. Ukuran badannya sedikit lebih besar dari rata-rata sebayanya. Asa suka berbicara, suaranya lantang. Asa suka bergerak, menari, tetapi tidak agresif. Asa suka bermain mainan-mainan dalam ukuran kecil, tetapi tidak suka memegang pensil. Asa suka makan, tetapi tidak mau suap sendiri.

Saya catat dalam target saya, ada ketinggalan motorik yang harus dikejar. Saya harus secara rutin saya meluangkan waktu khusus untuk mengejar ketinggalan tersebut. Motorik halus adalah salah satu dari berbagai jenis kecerdasan. 
Perkembangan anak terdiri atas 4 kategori, yaitu motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan kemandirian. Dari keempat kategori ini, motorik halus dan kemandirian Asa yang harus mendapatkan perhatian khusus. 

Stimulasi kecerdasan pada masa kecil akan mempengaruhi kemampuan pengetahuan anak dalam mengembangkan aktivitas berpikir. Anak akan mudah mengenal segala sesuatu yang diserap melalui panca indera. Maka dari itu orang tua perlu konsisten memberikan stimulasi tepat sejak dini pada balita. Kalau si kecil cerdas, dia memiliki kemampuan untuk belajar dan menyerap informasi dari lingkungan, memiliki kapasitas untuk belajar dan memahami masalah.

Sudah jalan dua bulan ini saya membuat semacam jadwal khusus. Tidak ketat jadwalnya, fleksible mengikuti mood anak. Seringnya sore hari saat saya pulang kantor atau akhir pekan. Di mulai dari kegiatan harian yang secara tidak sadar mampu menstimulasi kemandirian dan kecerdasan anak.

  • Saat buang air dan mandi, saya biasakan Asa melepas sendiri celana dan bajunya, juga mengambil sabun, mengambil shower, menyalakan kran dan menyiram badannya sendiri.
  • Saat memakai baju saya minta dia memakai celana sendiri. Sedangkan mengenakan kemeja atau atasan masih saya bantu.
  • Saat makan, kami bergantian memegang sendok. Satu kali saya suapi, satu kali Asa suap sendiri. Kemudian secara bertahap perbandingannya diubah hingga nanti harapannya lebih banyak Asa yang menyuap sendiri.
  • Menyisihkan waktu 10 menit per hari untuk menggambar sebelum bermain mainan lainnya.
Asa sudah TK A, alias 4 tahun dan belum mau memegang pensil. Umumnya anak 3 tahun sudah mulai menyukai memegang pensil dan mencoret-coret. Sedikit lega bahwa Asa masih dalam batas wajar dimana anak bisa menulis pada usia 3-5 tahun. Lega, masih ada sisa waku mengejarnya. Saya tidak menargetkan banyak, minimal Asa mau membuat coretan saja sudah senang.

Stimulasi yang saya lakukan untuk melatih Asa mau memegang pensil ada beberapa tahapan.

  1. Menjumput dan meremas. Jauh sebelum anak bisa dengan baik memegang alat tulis, anak bisa dilatih untuk menjumput dan meremas. Latihan ini bisa dengan alat bantu berupa mainan ataupun makanan. Mainan yang merangsang motorik halus misalnya menyusun lego, menyusun balok, meremas play dough, bermain tanah liat, atau bisa juga dengan bermain menjumput kerikil dan pasir. Anak pasti suka bermain seperti ini.  Makanan juga bisa menjadi sarana merangsang motorik halus anak. Sebelum anak bisa memegang sendok sendiri, anak dibiasakan memegang makanannya sendiri. Makanan yang mudah dipegang oleh anak misalnya biskuit atau cookies dan buah dalam bentu finger food. 
  2. Memegang Alat Tulis. Saya memulainya dengan memegang spidol besar dengan media whiteboard. Pasalnya, Asa masih enggan memegang crayon karena meninggalkan bekas kotor di tangannya. Secara bertahap dari alat tulis berdiameter besar saya ganti dengan yang berdiameter kecil, misalnya spidol kecil. Kenapa saya memilih spidol? Agar tidak butuh tenaga terlalu besar untuk menggoreskannya.
  3. Menggoreskan Alat Tulis.
    Setelah anak bisa memegang alat tulis, saya meminta Asa mencoret apa saja pada kertas dan white board. Kadang kala coretannya keluar melampaui media yang tersedia dan mencoret meja atau lantai. Dia tertawa kalau itu terjadi. Tapi saya ingatkan agar kembali pada papan putih atau kertas. Dari coretan asal-asalan, kemudian menghubungkan titik-titik, menebalkan garis, dan divariasikan dengan coretan bebas kembali.
Agar Asa bersemangat, belajar menggambar  saya sertai dengan cerita-cerita. Tak jauh-jauh dari tema Dinosaurus kesukaannya. Ada rumput taman jurasik yang panjang tak beraturan, ada lingkaran telur dinosarus, ada rintik-rintik hujan.

Stimulasi yang tercipta dapat merangsang kecerdasan multiple, tak hanya kecerdasan motorik halusnya saja. Semakin bervariasi stimulasi, makin kompleks hubungan antar sel. Anak berhak atas kebutuhan dasar untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Tumbuh kembang ini harus secara rutin dipantau, sehingga ketika ada ketinggalan segera dapat dikejar. Seperti kasus yang dialami Asa. 

Eh, tau-tau Asa sudah beres menggambarnya. Ini dia lukisan Asa hari ini :) 


11 komentar:

  1. katanta meremas koran salah satu cara juga ya mbak. Biasanya dengan mencocok juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh dicoba tuh... jadi koran bekas juga bisa termanfaatkan

      Hapus
  2. anak kedua saya lebih mandiri dibanding anak pertama saya mak...
    Mungkin karena anak pertama ya, jadi apa2 diladenin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak pertamanya laki atau perempuan? jangan2 bukan karena urutan tapi karena jenis kelamin. laki2 lebih manja hehehe

      Hapus
  3. Waah baru tau ada Monde Boromon.Makanan yg dapat merangsang motorik halus anak.Info menarik mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya kuinfokan ke mba nung..nanti kalau punya baby lagi jangan lupa cobain kasih Monde Boromon

      Hapus
  4. senengnyaaa asa rajin dan mau belajar... ibunya kudu sabar yaa^^
    untung ada snack yang juga cocok buat asa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Snacknya baru muncul akhir-akhir ini :)

      Hapus
  5. Baru baca postingannya...
    Alhamdulillah asa skrg sudah mau memegang pensil....beberapa minggu yg lalu ketika belajar di sentra sains kognitif asa dapat menyelesaikan tugas menggambar awan yg sedang turun hujan dengam baik tanpa di bantu dan selesainya yang pertama :')

    BalasHapus