Senin, 08 Desember 2014

Persahabatan Inklusi


Satu minggu sejak putri saya, Cinta, merasakan suasana menjadi siswa SD, ada nada bahagia dalam cerita-ceritanya sepulang sekolah. Adalah tentang Maila, yang saya pahami adalah teman dekat dalam hari-hari pertama sekolah Cinta.

Saya terkejut, ketika berkesempatan menjemput Cinta pulang sekolah. Cinta berlari menghampiri saya. Di belakangnya mengikuti seorang anak perempuan dengan wajah seperti orang ras Mongolia. Sesuatu yang berbeda tampak dari wajah anak itu.

Mama, ini dia Maila, yang sering aku ceritakan itu,” kata Cinta memperkenalkan sahabatnya. Maila tersenyum memandang saya, tapi tidak mengulurkan tangan. Kemudian Maila melemparkan candaan yang kurang jelas maksudnya, namun Cinta sepertinya memahami. Mereka berdua tertawa, kemudian berlarian di halaman sekolah.


Sejenak saya menyadari kembali, bahwa Cinta bersekolah di sekolah inklusi. Sekolah inklusi menerima siswa dengan perbedaan  latar belakang, karakteristik, kemampuan dan kondisi, termasuk siswa difabel (different ability), atau siswa dengan keistimewaan.


Di kelas Cinta ada 2 siswa difabel, mereka penyandang Down Syndrome dan Autis. Beberapa kakak kelasnya juga ada yang menyandang autis. Tampaknya, semua berjalan normal dan baik-baik saja. Saat ini baik Cinta maupun Maila sama-sama kelas 4. Maila tidak pernah tinggal kelas.

Sekolah inklusi adalah sekolah reguler yang menerima siswa difabel dan menyediakan sistem layanan pendidikan yang disesuaikan untuk keduanya. Mereka tetap belajar di kelas reguler dengan guru pendamping bersamanya selain guru kelas. Semua anak belajar bersama dalam satu kelas tanpa memandang perbedaan. Mereka 
berinteraksi satu sama lain, saling berempati dan saling membantu. 

Penasaran tentang keseharian Maila, saya bertanya pada Cinta sepulang sekolah.

Cin, Maila kalau dikelas belajarnya bareng kamu? ” tanya saya.
Iya, Ma. Tapi dia mengerjakan worksheet yang berbeda,” jawab Cinta


Maila bisa menulis sendiri?”, tanya saya lagi. 
Maila diajari khusus sama Miss Neneng. Tapi duduknya dekat sama Cinta dan yang lain. Sekarang Maila sudah bisa nulis A-P-E-L dengan benar, ” jelas Cinta. “



Kebersamaan Cinta dan Maila dalam satu ruang yang sama menimbulkan interaksi positif antara keduanya. Cinta menyadari bahwa sahabatnya berbeda dan memerlukan perhatian khusus, peralatan dan perlakuan yang berbeda. Namun Cinta tidak memandang perbedaan itu sebuah keanehan. 


Semakin dini lingkungan berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus, dari playgroup, taman kanak-kanak dan sekolah dasar, maka semakin mudah anak regular menerima kehadiannya dan semakin mengakrabkan interaksi keduanya.  Walaupun istilah difabel kurang populer , namun karena interaksi yang intens, teman-teman sekelasnya secara perlahan akan mengerti. 

Cinta sering berbicara dengan Maila? ” tanya saya.
Iya, setiap hari,” jawab Cinta.
Bicara apa saja dia?”. Saya ingin tahu bagaimana Maila berkomunikasi.
Hmmm..nggak jelas sih, aku nggak bisa mengulang apa yang Maila bilang”.  
Dari penjelasan Cinta , saya artikan bahwa bicara Maila tidak terdengar dengan jelas, mungkin hanya berupa gumaman.
Tapi aku tahu maksudnya, Ma”, tambah Cinta. “Aku tahu dia ngajak main petak umpet atau kejar-kejaran

Rupanya masalah komunikasi yang kurang jelas tidak menjadi hambatan Maila untuk berinteraksi dengan Cinta dan teman-temannya. Bahasa tidak harus selalu diucapkan. Interaksi bisa dilakukan dengan gerakan tangan, tatap mata, gerak-gerik dan dengan hati.

"Kelihatannya Maila tidak pernah sedih ya?" tanya saya. 
"Pernah kok, waktu itu tiba-tiba menangis dan bilang, kangen kakaknya," kata Cinta. Ooouh, saya salah kalau mengira anak difabel tidak memiliki perasaan. Mereka seperti kita pada umumnya.

Kami semua sayang sama Maila. Soalnya Maila lucu. Maila suka peluk aku, aku juga suka peluk Maila. ” mata Cinta berbinar saat menceritakan hal itu.

Satu hal yang mengesankan saya, bahwa komunikasi dua arah antara Maila dan Cinta ini bukan hanya transfer informasi dari Cinta ke Maila namun juga sebaliknya. Artinya, selain Cinta yang mengajari Maila sesuatu, juga sebaliknya, Maila mengajarkan beberapa hal kepada Cinta. Saya tahu hal ini karena banyak lelucon dan kreasi gerakan tari dan tangan yang diceritakan Cinta kepada saya, yang ternyata dia pelajari dari Maila.


Saya masih penasaran, bagaimana tingkat kemandirian Maila di sekolah. Dari cerita Cinta, saya tahu bahwa pada saat pelajaran berenang, Maila juga ikut berenang. Dia diawasi oleh guru pendamping dan berenang di kolam yang dangkal. Dalam beberapa hal Maila masih membutuhkan pendampingan, misalnya saat pergi ke kamar mandi, atau mengambil air dari dispenser. Sifat pendampingan ini bukan menolong begitu saja, namun juga melatih. Tujuan akhirnya diharapkan anak tersebut dapat melakukan sendiri. 




Memasyarakatkan Inklusi.

Sekolah inklusi belum banyak dikenal oleh masyarakat kita. Tak jarang orang tua keberatan jika anaknya disatukan dengan anak difabel karena takut tertular, padahal difabel bukan penyakit menular. 

Kini sekolah inklusi terus meningkat jumlahnya seiring kesadaran bahwa pendampingan sosial adalah terapi terbaik untuk anak difabel. Pendidikan inklusif telah menjadi solusi alternatif mewujudkan pendidikan untuk semua. 

Saya sebagai orangtua justru menjadi lebih banyak tahu tentang kehidupan sehari-hari anak difabel dari putri saya. Peningkatan jumlah sekolah inklusi ini membawa dampak baik. Masyarakat, dimulai dari siswa reguler di sekolah inklusi, mengenal lebih dekat tentang kaum difabel dan memperlakukan mereka secara wajar. Menyikapi kehadiran anak difabel secara wajar tidak begitu saja mudah dihadirkan, perlu pembiasaan dari waktu ke waktu.

Bentuk dukungan bagi anak difabel bukan hanya terfokus pada diri sang anak, melainkan juga pada penciptaan lingkungan yang kondusif. Emosi positif yang terus diberikan lingkungan kepada mereka sangat membantu perkembangannya ke arah perbaikan. Mereka juga mempunyai masa depan selayaknya orang lain. Mereka mempunyai harapan.

****




Suatu sabtu, saya menghadiri pentas akhir tahun di sekolah Cinta. Seluruh siswa tampil berdasarkan kelasnya.  
Terlihat Maila naik ke atas panggung. Kemudian disusul berbaris teman-temannya yang lain. Gerakan tangannya lincah dan terarah, tidak ada bedanya dengan anak-anak yang lain. Semua tampil dengan semangat dan ceria. 

Entah kenapa, dalam setiap kegembiraan melihat Cinta tampil, hati saya selalu terharu. Hal kecil yang membanggakan. Semua orangtua bangga pada anaknya. 

Saya lirik Mommy-nya Maila. Matanya tak berkedip menatap putrinya, dan seulas senyum bangga terlihat dibibirnya.


Persahabatan inklusi antara Cinta dan Maila telah membuka mata hati saya.




Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog  "Proud of Inclusion"


http://ti2014.solider.or.id/info/pengumuman-pemenang-lomba-menulis-esai-blog/

33 komentar:

  1. Wah bagus mbak tulisannya, semoga menang ya..
    Ditunggu kunjungan baliknya :D

    BalasHapus
  2. semoga persahabatannya langgeng maila dan cinta yaaaaaa.....^^

    BalasHapus
  3. Sekolah yang keren. Cinta yang baik. Mudah2an interaksi inklusi ini menjadi hal yang luar biasa positif bagi Maila ... terharu membacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langkah positif yang diambil sekolah butuh "keberanian" karena tidak mudah mendedikasikan sebagai sekolah inklusi

      Hapus
  4. Inklusivitas memang merupakan elemen penting dalam memastikan pemenuhan hak para penyandang disabilitas, termasuk melalui pendidikan..Good to know we have more and more schools back home implementing it..pasti Cinta dan Maila menikmati proses pertemanan mereka :)..

    BalasHapus
  5. hai Cinta, persahabatan itu indah sekali..langeng ya dan suka sekali anak seusia Cinta mampu memahami sebuah perbedaan namun tidak meninggalkan perbedaan tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...mungkin kita orang dewasa juga harus membiasakan diri melihat perbedaan dan menghargainya

      Hapus
  6. menyentuh, semoga anak-anak kita semua saling mencintai

    BalasHapus
  7. wow selamat ya Mbak Arin, sudah jadi pemenang...
    tulisannya sangat menyentuh :)

    BalasHapus
  8. waah tulisannya bagus sekali mbak,ada makna tersendiri dari tulisan ini.sukses ya :)

    BalasHapus
  9. Sekolah anak sy yg sulung jg begitu mak, di klsnya ada anak berkebutuhan khusus yg memiliki guru pendamping/suster yg menemaninya seharian di sklh meski sudah SMP. Dan menurut anak saya temannya itu justru pintar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagian anak difabel lebih pintar iq nya

      Hapus
  10. Selamat, Mak... Tulisannya jadi juara. Kalau saya malah pernah mengajar di sekolah inklusi, Mak. Memang betul, ini adalah terapi yang positif untuk anak2 berkebutuhan khusus. Banyak cerita anak2 ABK yang ingin pindah ke sekolah inklusi yg welcome dengan mereka gara2 di sekolah biasa malah dibully sama teman2nya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, bu Guru Euisry ada cerita yg bisa dibagi?

      Hapus
  11. Membacanya ..... jd lebih paham ttg inklusi dan tamb ah wawasan tentunya.... bagus ceritanya nbak..selamat ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga baru paham arti inklusi setelah anak SD

      Hapus
  12. Menarik sekali tulisannya.. Semoga akan lebih banyak lagi sekolah di Indonesia yang mendedikasikan dirinya sebagai sekolah inklusi ya, Mbak :)
    btw, selamat ya Mbak.... juara satuuuu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba Diah. Alhamdulillah makin banyak sekolah inklusi. Semoga jadi concern pemerintah ya

      Hapus
  13. selamat mba arin...juara satu
    saya malah belum pernah melihat sekolah inklusi semacam ini. mungkin memang masih jarang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya sekolah biasa yg menerima siswa difabel.

      Hapus
  14. Selamat Mak Ariiin...juara lagi! Alhamdulillah...senang sekali, siswa difabel leluasa dapat tempat,sekarang. Anak sepupu saya ada yg demikian. Sedih kalau ia disisihkan oleh teman lain yang menganggapnya aneh. Nica Post!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasiiih...
      Sekolah inklusi memberi ruang lebih banyak kita bisa berinteraksi dg difabel. Mereka juga menyenangkan kok..

      Hapus
  15. Terharu baca tulisan ini, Mak. Terasa banget bagaimana sayangnya Cinta dan Maila :*

    Salam kenal, Mak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal krmbali ;) Alhamdulillah kelasnya Cinta kompak semuanya..

      Hapus
  16. Wah, tulisanya bagus banget Mbak, pantesan menang. O iya Mbak, tau gak kalo saya tuh suka sekali baca artikel2 Mbak Murtiyarini, karena saya bisa mempelajari cara menulis dan membuat artikel dari blog ini. Saya save di hp saya agar selalu terupdate berita terbaru dari Mbak.

    Btw, jika berkenan, koment balik ya ke artikel saya di
    http://kontesblogmuslim.com/karya-kbm3-6-tips-orang-tua-dalam-membentuk-akhlak-mulia-anak/

    Saya lupa, salam kenal ya dari saya Amir di kebumen, blog saya www.amir-silangit.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloo..makasih ya sudah mampir. Nanti saya kunjungan balik.

      Hapus
  17. Kisahnya mengharukan sekali mbk, tak banyak sekolahh yang seperti ini.

    BalasHapus