Selasa, 20 Januari 2015

Catatan Penulisan Mommylicious, Dari Blog Jadi Buku

Awal pertemuan.
Januari 2011, adalah pertemuan saya dengan Rina Susanti. Kami sama-sama hadir dalam acara penyerahan hadiah pemenang lomba menulis dari 2 media yang berbeda. Hari itu kami tidak bertegur sapa. Hingga beberapa minggu berselang, saya iseng mencari nama-nama pemenang di facebook dan menemukan akun Rina Susanti.  Ternyata kami sama-sama tinggal di Bogor. Lantas kami janjian untuk ketemu, mencuri waktu saat makan siang pada hari kerja. 
Pas acara ini belum tegur sapa :)
Dalam obrolan makan siang yang hanya sebentar itu, Rina mencetuskan ide. 
"Nulis buku bareng yuk," katanya.
"Buku apa ya, udah banyak buku keroyokan," kata saya.
"Ya tulisan-tulisan seperti yang selama ini kita kirim dan  dimuat di media. Nggak sembarangan loh bisa menembus media, kualitasnya beda," kata Rina.
Hm, iya ya..benar juga. Selama ini kami "main"nya di media. Trus saya biasanya dari media saya tulis ulang di blog untuk dokumentasi. Ada juga tulisan lomba yang memang langsung ditulis di blog. Campur-campur.  Kalau Rina menulis di media lebih banyak dapat orderan dari Majalah Ayahbunda, selain juga menulis di blog. 

Konsep buku.

Berangkat dari menulis di media dan blog, saya dan Rina menyusun buku ini. Kopdar pertama disusul kopdar-kopdar berikutnya. Bertukar buku favorit yang menjadi contoh "do and don't" untuk calon buku.  
Gini nih suasana meja kopdar (foto dari rinasusanti.com)

Lalu apa dong yang nantinya bakal membedakan buku ini dengan kumpulan cerita yang sudah ada sebelumnya?

Konsep yang ingin kami tonjolkan adalah perbedaan pola asuh dua mama dalam ruang-ruang yang sama. Ruang tersebut adalah relasi antara ibu-anak, istri-suami, menantu-mertua, ibu-sosialita. Kami mengangkat perbedaan tujuannya untuk mengkampanyekan Stop Mom War. Mom war adalah perang opini antara para mama merasa pola asuhnya paling baik dan benar. Konsep buku ini adalah sedikit bentuk usaha menyuarakan damai, walau kami tidak yakin mom war yang sudah berlangsung lama akan bisa benar-benar berhenti.


Kami berangkat menyusun buku dari kumpulan cerita-cerita pendek yang telah kami buat sebelumnya, baik yang sudah dimuat di media dan blog serta sebagian masih disimpan di komputer. Cerita-cerita itu kita susun mengikuti konsep yang kami sepakati.  


Sengaja kami memilih cerita-cerita ringan, berani jujur menceritakan ketidaksempurnaan kami sebagai mama, namun secara implisit selalu ada nilai parenthood yang kami yakini baik. Kebetulan kami berangkat dari gaya penulisan yang hampir sama, gaya menulis untuk media dan blog.


Karena stock tulisan sudah ada, maka proses menulis relatif cepat. Hm, kira-kira 6 bulan sampai buku selesai ditulis. Apaaa??? 6 bulan dibilang cepat?? Belum terhitung proses kirim ke penerbit dan editing. *tutup muka*

Iya sih, dibandingkan para penulis yang kami kenal dalam lingkaran kami, tidak bisa dibilang cepat. Ada penulis jauh lebih produktif dan cepat menerbitkan buku. Untungnya kami menikmati proses penulisan ini, banyak kopdarnya, banyak curhatnya. BBM an sepanjang hari disela aktivitas harian, hehehe.
 
Akhirnya buku 90 % jadi baru kami berani mengirimkan ke penerbit. Beberapa bagian belum ditulis, tapi telah kami beri judul dan ringkasan.  Karena awalnya kurang percaya diri merasa newbie, draft kami kirimkan ke penerbit kecil. Dan, langsung ditolak dalam waktu singkat :)

Atas saran Fita Chakra (penulis), saya mengirimkan draft ke Penerbit Bhuana Ilmu Populer.  Saya mengirimkan dalam dua versi, email dan hardcopy.  Sebulan kemudian, kami mendapatkan email pemberitahuan bahwa buku akan diterbitkan. Antara senang dan setengah tidak percaya. Ciyus nih? Kesimpulan saya pribadi, penerbit kecil menolak bukan berarti buku kita "jelek" loh ya, tapi karena penerbit tidak berani mengambil resiko lebih jauh. Nah, penerbit mayor tentunya punya keberanian lebih untuk menerbitkan dan memasarkan sebuah buku, termasuk dari penulis baru.

Berkenalan dengan Penerbit dan Editor.
Editor yang bertugas "menggarap" buku kami adalah mba Vassilisa (Lisa). Ternyata mba Lisa tinggal di Bogor juga. Jadi kami langsung bertemu dan ngobrol konsep buku di Taman Koleksi, IPB.

Pertama kali, kami membicarakan judul. Awalnya kami memberi judul yang tidak menggambarkan isi buku. Memang niatnya pengen beda, gitu. Rupanya editor berpendapat lain. Judul sebaiknya menggambarkan isi buku. Lalu kami sodorkan judul Mommylicious. Pengennya sih bisa menggambarkan keceriaan, kerenyahan, agar berbeda dengan buku-buku motherhood yang biasanya mengharu biru. Editor dan timnya setuju.

Dalam pertemuan dengan mba Lisa, kami ngobrol banyak seputar parenting style masing-masing. Padahal mba Lisa belum berkeluarga loh, tapi tetap seru. Saya merasa mba Lisa ingin menyelami karakter kami berdua.  Saya tidak tahu apakah semua editor - penulis melalui proses  pendekatan seperti ini. Sebagai penulis kami dilibatkan dalam pemilihan desain buku, dari karakter ilustrasi, warna cover. ukuran buku, bahkan spasi dan font tulisan.  Terimakasih buat tim Bhuana Ilmu Populer, kami merasa dihargai. 

Saya bertanya pada editor, apakah tidak masalah tulisan yang sudah pernah publish di media dan blog akan dibukukan? Tidak takut tidak laku?

Menurut kebijakan BIP, hal itu tidak masalah karena pembaca media dan blog belum tentu sama dengan pembaca buku. Ada orang yang lebih suka membaca buku. Lagipula dalam buku Mommylicious, persentase tulisan yang belum publish lebih banyak kok. Dan tulisan yang sudah dimuat di media justru memberi nilai tambah buku. 

Momnylicious mengantarkan pada pengalaman pertama berurusan dengan penerbit dan editor yang menyenangkan. Kayaknya, buku-buku berikutnya jadi prioritas ditawarkan ke Bhuana Ilmu Populer lagi, nih :)

Proses Penerbitan.

Editor meminta kami segera melengkapi tulisan yang belum dibuat (10%) nya.  Saya bertanya, kapan deadlinenya? (gini nih biasa kerja mepet deadline). Editor tidak menentukan kapan harus selesai karena tidak ingin merusak "nyawa" dari buku ini kalau ditulis secara tergesa-gesa, namun kami sangat bersemangat dan berpikir tentunya makin cepat makin baik.

Beberapa sub judul diminta Editor untuk direvisi dan diperpanjang agar lebih terasa emosinya. Baik saya dan Rina Susanti merevisi masing-masing 3 sub judul. Dari total 6 sub judul yang kami revisi, sebagian menjadi lebih "bercerita", tapi 3 diantaranya tetap nggak dapat "feel" nya. Terpaksa dipangkas pada 3 sub judul tadi. Pemangkasan ini tidak membuat kami kecewa, justru kami senang karena editor demikian detil memilih cerita yang benar-benar mengena.  Bukan asal banyak-banyakin isi agar buku tebal, tapi lebih memikirkan bagaimana keseluruhan isi buku agar nyaman dibaca. Total jumlah halaman akhirnya 174 halaman, ini tergolong tipis. But it's okay.
Diskusi dengan tim editor dan marketing.
Diundang ke kantor BIP

Setelah editing, tiba giliran desain cover. Tim desain BIP menyodorkan beberapa opsi. Saya dan Rina tidak hanya memilih A atau B, tapi kami berkesempatan memberi masukan warna judul, warna cover dan pewarnaan ilistrasi. Kami berusaha menjelaskan karakter cover yang kami harapkan. Kami merasa spesial dengan dilibatkan dalam desain cover.

Sambil menunggu desain cover, saya dan Rina bergerilya mencari endorser. Maklum, newbie, masih sangat butuh endorser untuk memantapkan pembaca memilih buku ini kelak. Tentang endorser akan saya tulis terpisah ya.


Dan Alhamdulillah,12 Agustus 2014 Mommylicious terbit. Saatnya memasuki proses promosi. Lagi-lagi penerbit melibatkan kami. Maka kami beraksi memanfaatkan kemampuan sebagai blogger dan kemampuan sebagai penulis media untuk membantu jalannya promosi. Bhuana Ilmu Populer memberikan dukungan pada ide-ide promosi yang kami ajukan. 


MOMMYLICIOUS, pengalaman pertama saya dan Rina berurusan dengan penerbit. So excited to have this first experience! Lebih dari menerbitkan buku, Mommylicious adalah rekam jejak persahabatan saya dan Rina. Dalam hal ini kami tidak menghitung angka-angka penjualan, selain menyadari masih baru di dunia penerbitan buku, kami sudah sangat berbahagia atas lahirnya Mommylicious.


Mommylicious, jadi mama itu delicious ! 


#StopMomWar


38 komentar:

  1. delicious banget deh pokoknya jadi mama. Campur aduk rasanya tapi tetap nikmat ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benerrr... Mana lebih delicious jadi Lidya atau jadi Mama Cal-Vin ? hehe

      Hapus
  2. Pengalaman yang mengesankan. Saya jadi agak-agak terbayang dengan proses pembuatan buku.

    Makasih share nya, Mak Arin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi tiap penulis beda pengalamannya, ini buat nambah referensi aja sebagai penulis baru

      Hapus
  3. Wah....jadi tau gimana proses buku Mommylicius terbit...
    Selamat ya Mak Arin dan Mak Rina...
    :-)

    BalasHapus
  4. Mak arin sm mak rina keren deh, blm lama temenan, lgsg bikin project bareng. Sipp dah. Selamat m sukses buay mak arim juga mak rina :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tau tuh, langsung nyambung sejak jumpa pertama wkwkwk

      Hapus
  5. Kapan yaa bisa kolaborasi dg dua mama kerennn ini......??? *ngarep

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun ini yuuuk..kolaborasi ber 9 hehehe

      Hapus
  6. Inspiratif Mba Arin, meskipun buku pertama, saya lihat sukses ya. Di review di mana-mana. Selamat buat duo sahabat Arina (Arin dan Rina).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiaaah...Arina...hahaha...
      Terimakasih mba Ety yaa... *hug*

      Hapus
  7. Book your blog ya mb, sangat menginspirASI

    BalasHapus
  8. Seru yaa proses terbitnya mommylicious

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seruuu, banyak energi tercurah tapi seneng

      Hapus
  9. inspiratif hasil karya mak arin bikin para mama delicious bget deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba Dwiex...ikutan ya lomba reviewnya :)

      Hapus
  10. oh gini ceritanya mak, oke2 ternyata memang penting mempersiapkan bahan dulu ya setidaknya kalau sudah tahu mau fokus kemana tulisannya jadi gak mefet2 ngerjainnya ya :) sukses terus mak, aku juga punya impian nerbitin buku hehe mhn doanya juga biar nular ke aku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku lebih suka begitu, menulis yg kumau dengan tenang, edit2 dulu baru sodorkan. Tapi cara ini punya kelemahan, menyita waktu lebih lama.

      Hapus
  11. Menyimak perjalanannya. Berarti ada harapan saya juga bisa bikin buku kaya mak Arin dan Mak Rina ya, dari blog menjadi buku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa bangeet...semua orang punya kesempatan menulis buku.

      Hapus
  12. Senang baca perjalanan bukunya. Satu lagi buku yang bermula dari blog, berkembang jadi buku. Enam bulan itu menurut saya cepat lho. Sering baca, banyak penulis yang menulis bukunya bahkan lebih lama dari itu, dan menghasilkan kepuasan hati yang sepadan, ketimbang rusuh tergesa-gesa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 6 bulan...plus plus...dan sekarang masih belum menulis buku berikutnya. Enjoy saja

      Hapus
  13. Silaturrahiim yang meninggalkan jejak yaa...:) Alhamdulillah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul...beruntung kami dipertemukan.

      Hapus
  14. Wow asyiknya, bisa diskusi sama orang2 BIP ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin karena dekat. kalau ke makasar diskusi via email kali...hehehe

      Hapus
  15. Jadi tahu proses kreatif pembuatan buku seperti ini, berdua, menyelaraskan ide, dan lain-lain. Lumayan panjang juga, ya, mak.
    Terimakasih share nya
    #StopMomWar ...setujuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. panjang..tapi tidak melelahkan. Kami tidak diburu-buru

      Hapus
  16. bener2 mommylicious perjuangannya mak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya..perjuangan disela sela riweuh hahaha

      Hapus
  17. saya suka tujuan dari Mommylicious. #StopMomWar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. walau rasanya tak mungkin dunia tanpa perang hingga akhir jaman..tetap berusaha damai yuuk

      Hapus
  18. Seneng banget bisa kenal dg orang orang hebat, sebenarnya banyak orang tua yang hebat diluar sana tapi tidak semuanya bisa membagi kepada orang lain seperti kedua emak ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulis meniggalkan sejarah. Setidaknya sejarah untuk keluarga kecil kita.

      Hapus