Rabu, 25 Februari 2015

Kisahku tentang Buah Lokal Indonesia


Cinta itu adalah memberi dan menerima.
Cinta itu soal rasa. 
Cinta itu empati dan memelihara
Cinta itu lestari.

Wah, kisah romantis nih???
Tunggu dulu, bagaimana kalau cerita soal cinta itu adalah cinta pada buah-buahan, khususnya buah lokal? 

Karena cinta itu adalah memberi dan menerima.
Cerita saya berawal lebih dari 30 tahun lalu. Selain ASI, makanan pertama saya saat bayi adalah pisang ambon. Kok tahu? Iya, ini cerita dari ibu saya. Lalu seiring bertambah usia, saya berkenalan dengan alpukat, pisang susu, jeruk, jambu air, jambu klutuk, sawo, manggis dan banyak lagi. Semuanya buah lokal. Jaman dulu bahkan saya tidak mengenal buah impor. Buah-buahan itu dibeli di Pasar Pon, yang buka setiap hari :) 

Makan buah menjadi rutinitas semi wajib. Agar lancar buang air besar dan sehat. Dulu segitu saja pemahaman saya tentang manfaat buah. Pengertian yang sederhana, tentang sebuah manfaat yang sesungguhnya luar biasa. Dan aku jatuh cinta pada buah yang setiap hari disajikan oleh ibu dengan penuh cinta pula. Percaya, bahwa yang diberikan adalah yang terbaik untuk saya. 

Seiring bertambah ilmu, semakin saya tahu bahwa buah dibedakan atas buah lokal dan buah impor dilihat dari sumber pengadaannya. Buah lokal adalah buah yang ditanam di Indonesia. Buah lokal ada yang asli tanaman Indonesia, ada yang tanaman dari luar negeri kemudian cocok dibudidayakan di Indonesia serta mengalami adaptasi. 

Cinta itu hadir ketika dia menyelamatkan (situasi).
Sewaktu hijrah ke Bogor dan jadi anak kos, tahun 1996, saya mulai mengetahui masuknya buah-buah impor di supermarket.  Harganya selangit untuk ukuran anak kos. Apalagi tahun 1998 saat dollar melonjak dari kurs 2.000 rupiah menjadi 15.000 rupiah, otomatis harga buah impor makin tak terjangkau. Untungnya ada "penyelamat" gizi anak kos. Ada pisang yang bisa dibeli di warung Tegal, ada rambutan sumbangan dari Ibu kos, ada cempedak oleh-oleh dari teman saat mudik. Di awal bulan saat baru terima kiriman uang, saya memborong jambu, alpukat dan apel Malang di pasar.  Untung ada buah lokal yang masih terjangkau.

Eh, nggak hanya kantong anak kos yang terselamatkan oleh buah lokal. Dengan harga yang terjangkau, buah lokal menyelamatkan keluarga-keluarga Indonesia dari kekurangan vitamin.  Kebutuhan akan vitamin itu wajib, nggak pandang status ekonomi. Nah, kebuuhan vitamin bisa dipenuhi darimana? Ya dari buah lokal yang murah dan mengandung vitamin tinggi.


Dengan alasan kesehatan ini juga saya memilih buah lokal. Pasalnya saya tahu bahwa di balik mulusnya buah impor, ada lilin dan pestisida yang melekat di kulitnya. Tak lain dengan tujuan agar buah tidak membusuk dalam proses pengiriman. Lha iyalah, kirimnya jauh dari Amerika atau Eropa. Buah impor harus disemprot pestisida agar tidak terkenan hama dan penyakit dalam penyimpanan. Nggak mau kan makan buah dengan residu pestisida tinggi? Ya pilih buah lokal saja. Buah lokal produksi dalam negeri, begitu panen   cepat dipasarkan dan dikonsumsi dalam kondisi segar.

Sekarang buah-buahan lokal juga banyak ditemui di supermarket. Selain melebarkan pasar juga menaikkan pamor buah lokal. Ini kabar gembira buat saya sebagai ibu-ibu yang suka shopping tapi harus bijak menggunakan uang belanja. Pengennya belanja hemat badan sehat, ya pilih buah lokal.

Cinta adalah soal rasa.  Saya suka banget makan rujak buah. Irisan kedondong yang asem, pepaya mengkal, nanas, jambu air, timun dan bengkoang, berpadu dengan bumbu kacang dan gula merah pedas. Aroma segar menyeruak. Membuat produksi air liur meningkat, bahkan hanya dengan membayangkan rujak buah. Apalagi rujakan bareng teman-teman, aduuuh...nikmat sekali ! Sampai-sampai sepotong buah pun diperebutkan. 

Ada lagi jenis rujak yang banyak dijumpai di Bogor, yaitu  rujak be-bek. Bahannya campuran pisang mengkal, jambu air, kedondong dan buah bulet-bulet kecil (maaf tidak tahu namanya) yang dihaluskan bersama hingga menghasilkan aroma segar-sepet yang khas. Enak ! Lalu ketika kuliah di Bogor, saya berkenalan dengan Asinan Bogor. Isinya buah-buahan juga serupa rujak. Hanya beda kuahnya saja. Waaah, ini semakin menguatkan cinta saya pada buah asli Indonesia. 





Dalam sebuah acara fruit summit yang di selenggarakan oleh Sunpride pada tahun 2013, pengetahuan saya semakin terbuka tentang manfaat buah. Di acara itu saya jadi tahu cara asyik makan buah. 

Dari fruit summit, saya jadi tahu bahwa di Indonesia ada perusahaan lokal yang membudidayakan buah dengan memperhatikan kualitas baik rasa dan tampilan. Pisang, jambu kristal, nanas, melon dan pepaya bermerk Sunpride itu buah-buahan Indonesia loh, dibudidayakan di Indonesia. Bahkan saya kenal dengan penemu pepaya Calina, yaitu ibu Sriani Sujiprihati (Almarhumah) yang juga mantan dosen bidang pemuliaan tanaman.  Pepaya Calina ya, bukan pepaya california. Calina, asli Indonesia.



Pepaya hias
Cara asyik konsumsi buah
Kelapa, melon, nanas yang segar
Pisang segar + coklat, yummy!

Salah satu buah favorit saya adalah Jambu Kristal atau Guava Crystal, nama jambu kristal ini saya kenal akhir-akhir ini. Menurut saya perpaduan dari jambu biji/jambu batu dan jambu bangkok. Jambu kristal ini asal muasalnya dari Brasil, lalu ke Thailand dan Indonesia. Keunggulan jambu kristal ini adalah tidak banyak memiliki biji, namun soal rasa lebih manis dan enak dari jambu bangkok. Gizinya juga sangat baik. Vitamin C Jambu Kristal sangat tinggi. Jadi baik untuk menjaga daya tahan tubuh. 
Guava Crystal

Cinta adalah empati dan memelihara. Kembali ke soal cinta buah lokal. Kita bisa lihat sebagian besar buah lokal dibudidayakan oleh petani dan dijual oleh pedagang di pasar. Produk makanan berbahan buah juga dijual oleh pedagang kaki lima. Sampai kapan mereka mampu bertahan di tengah gempuran masuknya buah impor ? Dikuatirkan lambat laun petani dan pedagang berpaling karena menyerah pada pasar yang sulit. 


Ketersediaan buah lokal untuk konsumsi masyarakat dalam negeri dan ekspor bisa dicukupi dengan menguatkan produksi buah lokal.  Konsumen saat ini sudah tahu kualitas. Karena itu agar menarik minat konsumen, kualitas buah lokal harus ditingkatkan. Jalan utama untuk perbaikan kualitas adalah melatih dan membimbing petani buah lokal agar melakukan budidaya buah lokal dengan baik dalam setiap prosesnya.  Petani harus disadarkan akan orientasi pasar yang penuh persaingan, dan sangat ditentukan oleh kualitas produksi. 



Kita bisa berharap pada siapa? Adalah mereka para stake holder agribisnis, para peneliti pertanian, dan pemerintah yang mampu membawa perbaikan dalam produksi dan pemasaran buah lokal.  Perusahaan Sewu Segar Nusantara bisa menjadi mitra pemerintah untuk membimbing petani lokal. Lebih lanjut, perusahaan agribisnis bisa menambah jenis buah lokal yang dibudidayakan dengan eksplorasi bibit-bibit buah lokal asli dari berbagai daerah di Indonesia.

Ssst... saya tahu Research and Development Sunpride sangat memperhatikan kualitas dan tampilan buah. Kok tahu? Iya, soalnya pernah datang ke Departemen Proteksi Tanaman (tempat saya bekerja saat ini) untuk berkonsultasi bagaimana menjaga buah-buahan dari serangan hama dan penyakit tanaman. Pantas saja buah-buahan dari Sunpride sangat terjaga kemulusan kulitnya.


Fresh dari Kebun #Fruit4Love

Karena cinta adalah melestarikan. Jaman boleh berganti, tapi cinta pada buah lokal harus dilestarikan.  Caranya adalah dengan mengenalkan buah lokal pada adik-adik kita, anak-anak kita, murid-murid kita. Buatlah kebiasaan memilih buah lokal, mengonsumsi buah lokal dengan cara menyenangkan, kenalkan manfaat buah lokal, dan kenalkan cara budidayanya. Sedini mungkin dan sesering mungkin anak berinteraksi dengan buah lokal, cintanya akan bertumbuh.  Berawal dari kecintaan pada buah lokal, mereka kelak yang akan menjadikan ilmunya sebagai pelestari buah lokal.  



Tulisan ini diikutkan dalam Blogging Competition #Fruit4Love 

Dear pembaca, sengaja pasang banyak foto buah biar tambah cinta dan selalu pengen makan buah lokal :)

Hadiahnya kiriman buah selama 6 bulan. Yipiie!


44 komentar:

  1. Kalo saya, yang tinggal di daerah ndeso dan jarang ke supermarket ini emang santapannya ya buah lokal, Mbak Arin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukurlah mba, masih banyak tetangga kanan kiri ngantar buah-buahan dari pohon di rumahnya

      Hapus
  2. Cintanya dalem bgd ya mak sm buah lokal...top dah...memang harus gt ya mak..
    Baiklah, sukses bwt mak arin, ulasannya cakep :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejak kecil udah kenal buah lokal, masa mau berpaling...hehe..kan tipe setia

      Hapus
  3. Cinta memang menumbuhkan ya mak...Tapi memang benar mak Arin, buah lokal keluaran Sunpride ini kualitasnya ajib banget..Coba ya semua buah lokal yang beredar di pasar-pasar kualitasnya bisa menyerupai Sunpride, pastinya buah kita makin dicintai...Semoga sukses lombanya Mak Arin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buah-buahan Sunpride bikin makin semangat makan buah.

      Hapus
  4. Hahaha aduuuh wajah Asa itu di bawah gemesin banget! :D

    BalasHapus
  5. astrid prasetya26 Februari 2015 06.54

    Keren banget tulisannya Mak.. Atraktif dengan foto-foto yang colorfull :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto2nya sebagian pas acara Sunpride, buah dihias cantik

      Hapus
  6. Udah cinta mati gitu ya mak arin sm buah lokal..btw..fotonya keren-keren mak. Sukses ya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih yaaa...
      Cinta terus dooong sama buah lokal

      Hapus
  7. pokoknya buah lokal bikin kita jatuh cinta, ya, Mak Arin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak kenangan membekas dihati....cieeee...

      Hapus
  8. wih buahnya memang bener2 fresh ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. fresh lebih baik. Konsumsi sebelum makan nasi lebih baik, kata Pak Sobir di acara fruit summit Sunpride

      Hapus
  9. Pepaya hiasnya cantik, asa imut banget tulisannya keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih..btw itu pepaya yg mengukir tim sunpride

      Hapus
  10. Balasan
    1. Pisang memang buah paling populer di tropic

      Hapus
  11. buah lokal murah mudah di dapat dan memajukan petani lokal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Margin harga juga tidak banyak jadi petani lebih untung

      Hapus
  12. saya juga sering beli buah lokal mak, kebetulan pedagang di pasar tahu bahaya buah impor jd hampir semuanya yg dijual buah lokal/buah musiman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pedagangnya sudah pinter ya..coba semua gitu..

      Hapus
  13. kreatif sekali ya mbak pembuat pepaya hias

    BalasHapus
  14. Tulisannya keren. Folback ya mbak :)

    BalasHapus
  15. Balasan
    1. Buah lokal emang keren :) terimakasih mba Sonta

      Hapus
  16. Buahnya banyakkk ^^ Selamattt ya mbakkk
    *2 kali komen 2 kali ngucapin :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Cha, coba dekat, kubagi tiap kiriman datang

      Hapus
  17. buah lokal sebenarnya jauh lebih keren dibanding buah impor yaa
    apalagi dalam hal bahan tambahan pengawetnya itu lho...

    BalasHapus
  18. pepaya nya baguuuuusss....
    ada bunganya!!!

    BalasHapus
  19. ngiler mbak liat buah-buahnya pada fresh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Jelly, gak minat jualan buah lokal?

      Hapus
  20. dari dulu ingin sekali bisa mengukir buah dan sayur seperti itu tapi sampai sekarang belum kesampaian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus kursus itu sih..mungkin ke sekolah perhotelan

      Hapus
  21. memang beda rasa buah impor dengan lokal. kalau saya si lebih suka dengan buah lokal hehehe

    BalasHapus