Sabtu, 23 Mei 2015

Yang Berubah Di Prasekolah (Responden Majalah Ayahbunda)

Sudah cukup lama saya tidak menulis artikel untuk media cetak. Kangen, pakai banget! Tapi aktivitas  blogging dan kantor sangat menyita waktu, jadi ide-ide untuk media masih diperam. Apalagi sekarang lagi siap-siap lahiran buku kedua yang ditulis keroyokan.
Karena rindu, saya seneng banget ketika mba Rina Susanti meminta saya menjadi responden untuk artikel lepas yang ditulisnya untuk majalah Ayahbunda. Enaknya gini nih, punya teman kontributor media nasional :)

Wawancara pun lewat whatsapp. Jadi kayak chatting sehar hari aja. Tema kali ini tentang perbedaan aturan di prasekolah. Saya punya pengalaman dari anak-anak saya, Cinta dan Asa. Mereka prasekolah di tempat yang sama. Hanya saja selisih wakti 5 tahun. Kepala sekolahnya pun sudah ganti.

Perbedaan masa 5 tahun membawa banyak perbedaan. Menurut saya, perubahan-perubahan tersebut baik-baik saja, karena menyesuaikan kebutuhan jaman. Memang sebagian orangtua pada awalnya merasa enggan mengikuti perubahan. Tapi jika sekolah tegas dan memberikan sosialisasi yang jelas, semua pihak akan mengikuti aturan barunya.


Opini saya 'nyempil' di kotak kiri bawah itu. Selebihnya tulisan mba Rina Susanti dari responden lain.

Soal aturan baru.
Beberapa perubahan aturan prasekolah yang saya rasakan antara lain adalah:
  1. Dulu : Anak batuk pilek masih boleh sekolah, kecuali demam dan diare. Sekarang: Batuk, pilek, gatal sudah tidak boleh ke sekolah. Alasan, agar sakit tidak bertambah parah dan karena takut menulari teman-temannya.
  2. Dulu : saat kegiatan outing siswa boleh diantar orangtua. Sekarang : hanya perwakilan orangtua yang boleh mendampingi. Alasan, agar anak lebih mandiri. Hadirnya orangtua membuat anak memisahkan diri dari kelas dan memilih nempel dengan orangtua.
  3. Dulu: ulangtahun pada jam sekolah menjelang pulang. Sekarang : ulangtahun seusai pulang sekolah. Alasan, agar waktu belajar tidak berkurang. Bayangkan jika dalam satu bulan ada 3-4 anak yang ulang tahun? Btw, soal ulangtahun ini secara pribadi saya tidak rayakan lagi untuk si adik. Dulu si kakak sempat 2 kali ultah di sekolah. Sekarang si adik belum pernah ultah. Alasan pribadi: agar tidak membebani orangtua lain menyiapkan kado. Saat Asa ultah saya hanya membagikan godiebag tanpa acara khusus. Pilihan snacknya adalah buah, telur dan susu. Saya nggak mau membagikan makanan ringan yang mengandung MSG. Setidaknya, meminimalkan MSG ya. 
Itulah sebagian perbedan aturan di prasekolah Cinta dan Asa. Selama untuk kebaikan bersama, saya setuju.

5 komentar:

  1. nyengir baca ini,jadi inget pas ngajar PGTK di Batam. Setiap hari adddaa aja yang ulang tahun,jadi sudah dipastikan pesta setiap minggunya. Kalau ditempat saya dulu,ngerayain ultahnya 10 menit sebelum bel pulang,itupun yg hadir hanya ibu sama ayah/keluarga inti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau ngelarang nggak enak ya mbak... tapi emang harus ada ketegasan dari pihak sekolah sih..dan bisa kerjasama dengan komite sekolah

      Hapus
  2. Yup, kalau utuk kebaikan aku jg oke2 aja mak arin...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu perubahan yang kadang berat...yaitu kenaikan uang sekolah hehehe

      Hapus
  3. Hihihi...anakku belum prasekolah, jd punya info nih siap-siap masuk PG

    BalasHapus