Kamis, 27 Desember 2012

Air Harapan di Kota Hujan




Kota Hujan pun Kekurangan Air Minum

Saya pernah mengalami rasanya kesulitan mendapatkan air bersih. Tepatnya sewaktu saya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di wilayah Desa Mekarwangi, kecamatan Tanah Sareal, Bogor, Agustus tahun 1999.  Warga desa kesulitan air bersih.  Mereka umumnya mengebor tanah dan mengambil air dari sumur. Namun saat itu air tanah sedang kering, jika tetap diambil yang keluar adalah lumpur.  Akhirnya kami para mahasiswa KKN harus beradaptasi. Kami hanya bisa mandi hanya dengan lap basah, karena air harus dihemat untuk minum dan sikat gigi.  Itupun dengan kualitas yang meragukan.   Ketersediaan air bersih pada 13 tahun silam saja sudah sedemikian sulit, apalagi dengan perkembangan urbanisasi saat ini.  Pembangungan kota semakin giat, sementara upaya konservasi air dan penghijauan semakin jauh dari harapan.

Bogor sejak lama dikenal sebagai kota hujan.  Hampir setiap sore hujan. Bahkan pada saat kemarau panjang, Bogor masih dikaruniai hujan. Walaupun hujan tidak  setiap hari, Bogor tidak sekering daerah lain di Indonesia.  Bogor dulu menjadi harapan untuk konservasi sumber air minum dan udara bersih bagi wilayah kota madya dan kabupaten Bogor serta daerah sekitarnya, terutama Jakarta.

Kenyataannya saat ini, Bogor tidak hanya menjadi kota hujan.  Bogor telah berkembang sebagai kota mal (banyak mal), kota hijau (karena banyak angkutan kota berwarna hijau) dan kota macet.  Bogor bukan lagi harapan bagi ketersediaan sumber air minum. Saat di Bogor terjadi hujan terus menerus tiada henti selama 2 hari, warga Jakarta mulai merasa resah akan datangnya “banjir kiriman”. 

Ironisnya,  sebegitu banyaknya air di Bogor, masih banyak warga Bogor yang mengalami kesulitan air bersih.  Kemarau panjang 2012 ini menyebabkan 57 desa di 9 kecamatan di Bogor mengalami kekeringan. Akibatnya, belasan ribu warga desa kesulitan mendapatkan air bersih. Warga berharap dari sumur bor namun air tidak keluar, berharap dari air sungai ternyata sungainya penuh sampah, dan ketika berharap dari air hujan,  ternyata air tidak banyak tersimpan baik dalam tanah maupun kolam penampungan. Akibatnya, air hujan hanya numpang lewat, mengalir langsung dikirim ke dataran yang lebih rendah, yaitu Jakarta.  Andai saja curahan yang banyak itu bisa menjadi sumber air minum, tentu tidak terjadi krisis seperti yang sering terjadi.

Fakta dalam data :
Sekitar 6 juta masyarakat miskin Indonesia membeli air bersih dari penjual keliling dengan harga yang melebihi harga air PDAM.
[ESP, http://digilib-ampl.net/detail/list.php?tp=fakta&ktg=airminum&jns=]

Kita diberi air, tapi kita membuangnya begitu saja. Manakala musim kemarau tiba, air begitu berharga dan langka. Sampai kapan kesadaran kita terpanggil?


Air Minum : Air Sehat Yang Layak Diminum.
Air di Bogor banyak, tapi tidak semua bisa diminum.  Padahal air adalah kebutuhan mutlak makhluk hidup.  Air kotor masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman. Air mentah namun bersih dapat digunakan hewan untuk minum . Sementara itu, manusia dengan derajat kehidupan tertinggi memerlukan air minum yang bersih untuk keperluan luar tubuhnya, misalnya mencuci dan mandi.  Untuk minum, manusia membutuhkan lebih dari sekedar air bersih, yaitu air layak minum dan sehat. 

Air yang layak untuk diminum yaitu air yang jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung bakteri, tidak mengandung zat beracun, tidak mengandung mineral berlebihan, pH antara normal + 7.  Kandungan mineral dalam air juga mempunyai batas maksimal yang ditoleransi tubuh. Standar air minum murni memiliki TDS (Total Dissolved Solid) atau jumlah zat padat terlarut maksimal 10 ppm. Sedangkan menurut NSF (National Sanitation Foundation), air bersih dan murni memiliki TDS kurang dari 40 ppm (sumber dari sini). Jika standar kelayakan air minum tidak terpenuhi, maka akan terjadi dampak-dampak negatif dari konsumsi air tidak bersih seperti sakit pencernaan, gangguan ginjal, gangguan hati, masuknya kuman dalam tubuh dan menurunnya daya tahan tubuh.
Today 1 child die every 21 seconds from water related disease. 
Only a few years ago this number was every 15 seconds.
[UNICEF, WHO 2009 in water.org]
Mengapa Kekurangan Air Minum ?
Ironi. Warga Bogor masih kekurangan air minum, padahal air hujan melimpah, dan memiliki pegunungan dengan mata air - mata air.  Sumber air minum ada, namun kualitas air hingga sampai ke masyarakat sudah rusak.  Banyak aktivitas manusia yang sengaja maupun tidak sengaja, langsung maupun tidak langsung, merusak sumber air minum. Ada dua faktor utama penyebab berkurangnya sumber air minum, pertama adalah pencemaran air dan kedua adalah berkurangnya resapan air sehingga cadangan air tanah berkurang.

Pencemaran sumber air minum yang utama berasal dari aktivitas rumah tangga dan pertanian. Aktivitas rumah tangga menghasilkan limbah rumah tangga berupa cairan yang mengalir ke saluran air kemudian mencemari tanah. Limbah cair tersbut misalnya sabun, ditergen, penyemprot serangga, minyak jelantah, dan sisa minuman. Selain itu juga ada limbah padat seperti plastik, kaleng, kertas dan bahan organik yang seharusnya dapat dibuang dengan rapi, namun perilaku masyarakat seperti membuang sampah ke sungai sudah pasti dapat mencemari air sungai.  Sedangkan dalam kegiatan pertanian membutuhkan pupuk dan pestisida.  Pupuk dan pestisida yang mengalir ke sungai dapat mencemari sungai, sedangkan yang mengalir ke tanah dapat mencemari tanah. Jika persawahan dekat dengan pemukiman penduduk.

Bogor juga mengalami penurunan jumlah wilayah resapan air. Kurangnya resapan air disebabkan antara lain karena penggundulan hutan dan pepohonan.  Urbanisasi telah merubah wajah sebuah wilayah menjadi perumahan.  Di kawasan Puncak saja terlihat perubahan yang drastis dalam 10 tahun terakhir. Pembangunan restoran dan vila meningkat pesat, dan mengorbankan pepohonan di sekitarnya.

Masalah rendahnya sanitasi masyarakat juga menjadi faktor pencemaran air.  Masih banyak warga yang tidak melakukan buang air besar dan buang air kecil pada tempatnya. Bayangkan jika penduduk Indonesia tidak BAB dan BAK pada tempatnya.

6,4 juta ton dan 64 juta meter kubik adalah produksi tinja dan urin per tahun. 
Kalau 51% penduduk masih digolongkan BAB sembarangan, berarti 3,2 juta ton tinja dan 32 juta meter kubik urin dibuang per tahun dibuang sembarangan: mencemari sungai, sumber air, selokan, pelataran, dan sebagainya.
Atau tiap hari kita mencemari lingkungan dengan tinja seberat 8700 gajah dan urin sebanyak volume 21 Danau Toba.
 [Ketika Angka Banyak Bicara, Percik November, 2010].

Potensi Sumber Air Minum di Bogo

Tercatat pada tahun 1631, Bogor memiliki sungai yang bersih dan jernih. Sungai itu melintasi tengah kota Bogor dan berlanjut membelah Jakarta hingga ke Pantai Ancol. Sungai itu adalah sungai Ciliwung.  Sungai Ciliwung pernah meluap pada tahun 1980 sehingga Pemerintah Hidia Belanda membangun bendungan Katulampa di Bogor.

Sungai adalah sumber air minum potensial di Bogor.  Dari mata air gunung Salak dan Pangrango, air mengalir ke sungai-sungai dan menghidupi warga.  Sayangnya,  kita tidak pandai menjaga kelestariannya. Kini, Bogor masih memiliki sungai Ciliwung, namun dengan kondisi yang berbeda. Dia tidak lagi bening, bahkan sangat kotor. Semakin ke hilir semakin kotor.  Bagi anda yang pernah pergi ke daerah Ancol, Jakarta, tentu pernah mencium aroma tak sedap dari sebuah sungai besar berair hitam pekat. Itulah sungai Ciliwung. 

Bogor juga memiliki sumber air minum potensial berupa air tanah, air hujan, air terjun dan mata air pegunungan.  Sumber air alternatif yang paling potensial di Indonesia adalah air hujan. Setiap tahunnya, curah hujan di Indonesia dapat mencapai  rata-rata 2000-4000 mm,  sedangkan di Bogor adalah 3500-4000 mm . Ini menunjukkan curah hujan di Bogor lebih tinggi dari wilayah Indonesia lainnya.  Andai saja sebagian mal atau perumahan yang sudah terlanjur berdiri itu dibangun danau-danau buatan untuk menampung air hujan, tentu pada kemarau datang warga Bogor masih tetap memiliki cadangan air.

Penampungan air hujan adalah sumber air minum potensial.  Jika belum ada yang memiliki teknologi pemurnian air hujan menjadi air minum, setidaknya air hujan dapat digunakan untuk keperluan mencuci dan mandi sehingga menghemat penggunaan air PDAM.  Sisi baik lainnya, sebagian air dari penampungan air hujan yang meresap ke tanah menambah cadangan air tanah, kemudian melalui proses penyaringan alami dalam tanah dan dapat mengalirkan kembali air-air pada sumur bor di sekitarnya.

Danau buatan di Pustendik, Sawangan, Bogor

Melestarikan Sumber Air Minum
Bayangkan, anak cucu kita kelak tidak terbiasa mandi demi menghemat air bersih untuk minum. Bayangkan, tumbuhan tumbuh kerdil dan tanah kian gersang.  Kita tidak tahu tepatnya kapan hal itu terjadi.  Tentu saja kita tidak menginginkannya.  Karena itu, kewajiban kita adalah melestarikan sumber air minum.  Melestarikan dalam artian menjaga ketersediaan air minum di alam selama mungkin. 

Tujuan melestarikan sumber daya air  adalah meningkatkan jumlah air tanah, menghemat pemakaian air, dan memperbaiki kualitas air terutama air minum.   Jangan sampai sumber air minum lebih tercemar dari saat ini, bahkan kita terus berusaha membersihkannya kembali.  Jangan sampai karunia air dari alam terbuang sia-sia.  Inti melestarikan adalah menjaga kebersihannya dan menjaga keberadaannya.


Situ Gede, Dramaga, Bogor
Menjaga sumber air minum dari pencemaran dapat dilakukan dengan pengelolaan sampah.  Saat ini dikenal konsep 3R yaitu reduce (mengurangi jumlah sampah), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang sampah menjadi benda baru).  Konsep ini sebaiknya di dikembangkan di Kota Bogor secara sistematis  dengan pendekatan berbasis masyarakat.

Cara berikutnya untuk menjaga kebersihan sumber air minum adalah dengan sanitasi masyarakat yaitu penyediaan kamar mandi, cuci, dan kakus pada titik-titik pemukiman sehingga masyarakat tidak mandi, cuci dan kakus di sungai.  Program sanitasi masyarakat ini telah menjadi program pemerintah dan memerlukan peran aktif masyarakat untuk menjaga sarana dan prasarana. 

Melihat kondisi sungai Ciliwung saat ini, Pemerintah ingin lebih serius menangani pencemaran di Sungai Ciliwung. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama intansi terkait menyusun rencana pemulihan Sungai Ciliwung untuk kurun waktu 20 tahun .  Sungai Ciliwung merupakan salah satu dari tiga belas sungai prioritas nasional 2010-2014. Berdasarkan data dari KLH, kondisi sungai tersebut telah mengalami penurunan tutupan hutan di wilayah.

Hujan adalah sumber air potensial di Bogor, maka pengadaan kolam penampungan air hujan merupakan tindakan konservasi yang masuk akal.  Masyarakat desa dapat mencari lokasi bekas tambang galian, bekas persawahan atau wilayah dengan cekungan, kemudian dibentuk sedemikian rupa membentuk kolam besar.  Beberapa titik di desa dibuat kolam-kolam kecil yang mengalirkan air besar ke kolam besar. Pada kompleks perumahan dapat dibuat saluran pembuangan air hujan terpadu yang terkumpul pada satu titik tampungan besar.

Sistem air di alam bersifat komplek dan kuat keterkaitannya dengan alam, maka pelestarian sumber air minum dapat dilakukan dengan langkah-langkah yang sama dengan pelestarian alam.  Langkah pelestarian alam seperti menambah zona hijau, membangun kota berbasis ekologi, mempertahankan sawah sebagai tempat menyimpan air sangat berdampak pada kembalinya kualitas dan kuantitas air tanah.

Nah, jika bingung dengan langkah apa yang bisa dilakukan oleh kita sebagai masing-masing individu, maka kita bisa memulainya dari rumah.  Dimulai dari kesadaran diri dengan berperilaku domestik yang ramah lingkungan, misalnya menghemat air untuk mencuci dan mandi, menyiram tanaman dengan air bekas mencuci, memperbaiki kran dan pipa yang bocor, dan mengurangi keluaran sampah rumah tangga.

Mengolah Air Menjadi Layak Minum
Air bersih tidak serta merta layak minum, apalagi air kotor.  Proses pemasakan dapat membunuh kuman dan bakteri. Cara ini yang paling banyak ditempuh masyarakat Indonesia.  Namun pemasakan relatif boros energi.  Pemasakan juga tidak menghilangkan kandungan mineral dan endapan dalam air.

Telah banyak ditemukan teknik-teknik yang mengubah air dari berbagai sumber menjadi air layak minum. Pemurnian air (water purifier) diantaranya adalah sebagai berikut :

Teknologi Water Purifier untuk Air Hujan.
Air hujan mengandung banyak mineral, endapan dan kuman. Apalagi air hujan terpapar di alam tanpa kemasan apapun.  Saat ini, ada teknologi yang dapat mengubah air hujan menjadi air minum.  Beberapa tahapan yang ditempuh adalah filtrasi (penyaringan) untuk menghilangkan komponen anorganik, desinfeksi untuk menghilangkan komponen organik seperti kuman dan bakteri.  Desinfeksi dapat menggunakan kaporit atau klorin seperti yang umum ditemukan pada air PDAM.  Jumlah zat disinfeksi ini harus benar-benar terkontrol karena jika terlalu banyak menjadikan air tidak layak minum.  Cara lain desinfeksi adalah dengan radiasi sinar matahari selama 5-6 jam.  Karena cara radiasi cenderung lama, kemudian ditemukan teknologi disinfeksi dengan cara fotokatalisis. Teknologi ini melibatkan reaksi fotokimia oleh suatu katalis sehingga dinding dan membran sel bakteri rusak dan kemudian bakteri mati.

Teknologi Water Purifier untuk Air Gambut 
Air di lahan gambut cenderung bersifat asam.  Air gambut dapat diolah dengan cara koagulasi (diendapkan) menggunakan aluminium sulfat. Endapan ditampung dalam bak sedimentasi, sedangkan air dialirkan dan disaring dengan pasir silika dan antrasit. Selanjutnya digunakan penyaring karbon aktif untuk menghilangkan bau, warna, dan rasa. Warna air gambut yang pekat dan mengandung asam humat dapat diserap oleh karbon aktif.

Kita telah terbantu dengan teknologi pemurnian air minum. Namun, teknologi pengolahan tidak akan dapat dimanfaatkan jika air yang akan diolah tidak tersedia.  Karena itu, melestarikan sumber air minum adalah mutlak. Demi kita, demi anak cucu kita. 

*data dirangkum dari berbagai sumber.

2 komentar:

  1. Aku sudah baca ........... kerennnn
    boleh nyontek gak ... aku belum nulis lho .... hehehhehehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whaaat? Nyontek?
      Hm...emang tulisan ini beneran keren, sampai mba Astri mau nyontek @_@

      Hapus