Sabtu, 31 Oktober 2015

Cerita Sukses Penyelenggaraan Lomba Blog #PiknikItuPenting (Penjurian)



Ini bagian yang ditunggu-tunggu kan? setelah sebelumnya saya menulis tentang mendapatkan sponsor, bagaimana mempromosikan info lomba dan demografi peserta.

Sukses lomba ini saya ukur dari jumlah banyaknya peserta. Sedangkan penjurian sifatnya sangat relatif. Bagi anda yang terbiasa dengan lomba, pasti maklum akan hal ini. Selera juri itu relatif. Tapi bukan berarti suka-suka.


Sering memenangkan hati juri membuat saya terbawa oleh selera yang mendekati para juri kebanyakan, yaitu menilai dari ide yang unik, kualitas tulisan dan teknik penyajian.

Terus terang penjurian kali ini saya deg-degan, saya harus serius menjuri dan mengurangi subyektifitas. Semua peserta harus dihargai karyanya. Fokus pada karya. Bukan pada siapa.

Seperti yang pernah terdengar santer di media sosial baru-baru ini, tentang adanya lomba yang dipertanyakan kredibilitas juri dan penyelenggara gara-gara sebagian pemenangnya adalah buzzer.
Bukan berarti buzzer nggak boleh ikut lomba dan menang. Tentu saja boleh asal bukan pada lomba di mana di situ dia dibayar.  Ingat lho, para peserta juga cerdas menilai mana karya yang layak menang dan mana karya yang biasa saja dan dimenangkan. Maka muncullah dugaan ada buzzer bayaran yang sengaja disisipkan menjadi peserta dan menang, padahal tulisannya nggak spesial. Ya begitu deh, sekedar opini publik, tetap tidak akan mengubah keputusan juri. Dugaan tetap jadi dugaan. Selesai.

Kita ambil aman saja, biasanya percuma saja kalau peserta protes.   Saya pernah mengalami kasus serupa, sebagai peserta saya pun belajar menandai, mana-mana penyelenggara dan juri yang nggak perlu lagi diikuti lombanya. Saya sering di posisi peserta. Saya sering menang, juga sering kalah. Sata tahu rasanya legowo dengan pemenang yang pantas. Dan pernah ngalami kecewa dengan pemenang yang terlihat bagus hanya oleh juri. Anggap saja selera juri berbeda. Itu alasan pamungkas paling masuk akal.  Tidak perlu mengembangkan dugaan-dugaaan.  Curhat :p

Godaan Juri
Menjadi juri tidak mudah, loh. Tantangan jadi juri adalah bagaimana menilai dengan obyektif. Banyaknya peserta dari kalangan teman sendiri bisa membuat penilaian subyektif.  Beberapa poin yang saya catat dari pengalaman menjadi juri di lomba sebelumnya (GA Aku dan Pohon, dan GA Sekolah Impian) adalah adanya godaan-godaan sebagai berikut :
  1. Tulisan peserta yang masuk pada awal-awal periode tampak lebih bagus dan siap. Apakah ini subyektif? Ataukah karena saya punya waktu lebih banyak dan tenang untuk membacanya?
  2. Tulisan peserta yang datang keroyokan menjelang DL, walaupun bagus, tetapi karena dibaca dengan waktu yang terbatas jadinya kurang berkesan dan kurang diingat :)) Maaf ya, ini realita untuk para deadliner.
  3. Tulisan teman dekat yang sering kita baca blognya, yang sudah tahu gaya nulisnya, apalagi yang sering saya kunjungi karena ngefans, sedikit banyak menambah penilaian.
  4. Tulisan seseorang yang saya tahu beliau banyak followernya dan blognya sudah tenar, menggoda untuk dimenangkan kalau hadiahnya berupa buku atau produk. Biar bisa diendorse, gitu. (Nah, naah, kok kayak kasus saya sebut di atas) Jadi????
  5. Tulisan jawara lomba yang sudah sering menang, sebaiknya dimenangkan atau tidak? Pernah nggak terpikir begini: Ah, kayaknya doi sudah sering menang, mending yang lain aja deh ! Lhooo??? 
  6. Tulisan teman dekat, dimenangkan tidak ya? takut dikira KKN, nggak usah dimenangkan saja? Hiks, hiks, kok gitu?
Stop! Nggak boleh menuruti godaan-godaan itu. Ya sebisa mungkin obyektif. Fokus pada karya 

Dan beginilah cara menjuri saya pada lomba kali #PiknikItuPenting :
  1. Semua link baru dibaca setelah penutupan pendaftaran. Jujur ini bakal menyita energi. Saya nggak boleh nyicil. Tapi demi keadilan. (Cara ini hanya berdasar sifat saya pribadi ya, bagi anda yang bisa mencicil dengan obyektif, silakan dicicil)
  2. Fokus pada karya. Lupakan alexa, DA, follower dari blog peserta. Kalau lomba tujuannya untuk buzzing, sekalian aja diadakan lomba buzzing, yang pesertanya khusus buzzer.
  3. Teman dekat/blog favorit fokus dibaca hanya pada post yang dilombakan. Fokus, fokus! Juri harus berani jujur pada diri sendiri kalau tulisan yang dilombakan bagus/jelek.
  4. Teman dekat boleh menang asalkan karyanya bagus. Katanya harus adil, nggak fair ah kalau setiap teman dekat menang dituduh KKN.
  5. Langganan menang boleh menang lagi, asalkan karyanya bagus. Fair juga buat si jawara ya, dia sudah bikin karya sebaik mungkin tapi masa iya harus tersingkir karena alasan udah sering menang. Kalau memang kebijakannya untuk pemerataan, penyelenggara juga harus berani menyebutkan di syarat ketentuan : Jawara lomba kagak boleh ikut. Itu baru fair... :)) 
  6. Meminta bantuan juri tamu untuk seleksi awal. Dengan peserta yang banyak ini, saya kuatir lelah membaca pada giliran akhir. Jadi saya minta 2 orang blogger untuk menjadi juri. Dari 228 karya dipilih 30 karya peserta jabodetabek dan 30 karya peserta luar jabodetabek yang terbaik versi juri tamu. Kriterianya sudah saya berikan sebelum mereka mulai menilai, yaitu cerita piknik paling berkesan, paling menarik dan membawa hikmah.
  7. Walaupun sudah dipilih 60 karya terbaik, saya tetap blogwalking ke 228 post untuk memastikan tidak ada tulisan menarik (versi saya) yang terlewatkan.  Dan memang nyatanya ada 2-3 karya yang saya pilih dan masuk seleksi berikutnya. Selebihnya saya cocok dengan pilihan juri tamu. 
  8. Dari 60 karya saya memilih 32 pemenang utama dan hiburan (2 kelompok). Di sini tantangan semakin berat karena memilih yang terbaik diantara yang baik. Saya mengurutkan 1-60 karya peserta. Saya membaca berulang, masing-masing 2-3 kali membaca. Dalam proses ini ada yang posisinya naik dan turun silih berganti. Dalam hal ini saya tidak menggunakan skoring. Saya menggunakan penilaian kualitatif, percaya pada 'rasa' saat membaca. 
  9. Dan akhirnya MANTAP memilih 32 pemenang. Alhamdulillah...
Menjadi juri tidak lepas dari galau dan bingung. Wajar, karena juri bukan mesin robot. Kalau masih galau, coba baca berulang dan temukan yang terbaik.

Seseorang menasehati saya untuk tidak menunjukkan kegalauan ini (terimakasih sobat), namun saya memilih bercerita. Semoga bermanfaat.

Teman-teman punya pengalaman menjuri/dijuri ? sharing yuk.


30 komentar:

  1. Alhamdulillah postinganku masuk selera mbak Arin :D

    BalasHapus
  2. Nggak mudah ya mba, mengadakan lomba, menjadi juri yang adil dan obyektif. kebayang energi yang terkuras untuk itu.
    Dengan adil dan obyektif, dengan sendirinya kredibilitas penyelenggara akan terjaga

    BalasHapus
  3. Asyik..kalau teman dekat menang bukan berarti KKN ya.Tapi karena tulisannya memang layak.

    BalasHapus
  4. Semua memang harus dilihat dari karyanya ya mba Arin, mau itu temen atau pun langganan menang. KAlau karyanya bagus, pasti layal jadi pemenang. Mantep neh ceritanya, bisa jadi tips buat saya, kalau nanti-nanti ada yang butuh juri hihi.

    BalasHapus
  5. Asyik... Tulisanku nyantel juga :-) tinggal nunggu hadiyahnya

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah, masih masuk dalam pemenang hiburan. Dari 228 peserta, aku masuk di dalam salah satunya! Makasih, Mbak. :))))

    BalasHapus
  7. jadi peserta lomba ketar ketirnya itu pas nulis, setelah send 'enter' maka pesertanya bisa bobo pules..biarkan waktu yang bicara. Nah, abis itu gantian jurinya yang ketar ketir dan ga bisa bobo pules gegara gelisah galau merana milih yang terbaik diantara yang terbaik. hahaaa..

    BalasHapus
  8. jadi peserta lomba ketar ketirnya itu pas nulis, setelah send 'enter' maka pesertanya bisa bobo pules..biarkan waktu yang bicara. Nah, abis itu gantian jurinya yang ketar ketir dan ga bisa bobo pules gegara gelisah galau merana milih yang terbaik diantara yang terbaik. hahaaa..

    BalasHapus
  9. Sejauh ini baru lomba resensi mak. Sama ga kecil2an. Iya kadang yg subyektif2 itu sempet mengusik. Selain yang unik biasanya saya juga seneng sama yang tulisannya rapi, bebas typo n mengalir enak dibaca gitu

    BalasHapus
  10. waaah no 2 itu kudu dicatat ya sebagai peserta. Terus aku sendiri takut komen2 ke juri kalo ikutan GA takut selera juri tergoyahkan xixixii....alhamdulillah ya tulisanku ikut nyantol, thanks sharingnya mbk, bisa jadi bahan pertimbangan kalo kelak bikin GA :)

    BalasHapus
  11. Pernah sekali jadi juri, waktu mengadakan giveaway menyambut ramadhan. Memang agak susah ya mba... Tapi betul kata mba arin, harus subyektif. Saya juga membaca postingan peserta setidaknya 3x. Dan ketika pengumuman, saya jelaskan juga alasan saya menjadikan mereka pemenang.

    Harus belajar lagi nih dari mba arin. :)

    BalasHapus
  12. wiih ngebayangin capeknya jadi juri ya Mba .....makanya saya selalu antusias ikutan kuis dan GA mbak Arin (udah berapa kali ikut yah) karena penilaiannya fair and lovely *Eh

    BalasHapus
  13. terimakasih ceritanya mbak arin, jadi tau ternyata segitu susahnya jadi juri :)

    BalasHapus
  14. saya paling gabisa menilai, bisa subyektif, kalo ngadain lomba kayanya harus ada juri tamu kalo saya

    BalasHapus
  15. Kereen ikh mba arin...
    Saya jadi tahu cerita dibelakang layar penjurian hihihi...

    BalasHapus
  16. Wuwuwuwu aku juga kerepotan sendiri kalo ngadain GA, padahal kecil-kecilan. :v Tapi karena soal selera ya, yaudah hajar wae.

    BalasHapus
  17. Tiba tiba aku jd pingin bikin GA ni, tp ga punya hadiah huahuaaa

    BalasHapus
  18. jadi peserta lomba ketar ketirnya itu pas nulis, setelah send 'enter' maka pesertanya bisa bobo pules..biarkan waktu yang bicara. Nah, abis itu gantian jurinya yang ketar ketir dan ga bisa bobo pules gegara gelisah galau merana milih yang terbaik diantara yang terbaik. hahaaa..

    BalasHapus
  19. bisa kebayang deh, jadi juri itu memang beraaat...

    BalasHapus
  20. Membaca postingan secara extra ya mba klo jadi juri itu hehehee...dan aku belum beruntung di GAmu kali ini. Next time ikutan lagi aaaahhh :)

    BalasHapus
  21. Aku belum beruntung jadi pemenang, mbak, hihiii... gpp sih, ikutan GA itu menurutku untuk senang2 juga :D

    BalasHapus
  22. pemilihan pemenang itu yang berat menurutku mba, kudu obyektif pisan ya....

    BalasHapus
  23. Semoga, semakin banyak event/lomba yang metode penjuriannya seperti yang dilakukan Mbak Arin ya. Aamiin *doa dateliner*.

    BalasHapus
  24. selamet ya mbak, sukses lombanya, semoga lomba selanjutnya saya busa ikut, nambah2 in kerjaan juri aja ya aku

    BalasHapus
  25. ternyata menjadi juri ngak mudah ya mak

    BalasHapus
  26. Aku kalau ikut lomba juga pikir2 mak, kalau penilaiannya konten, aku suka....kalau model buzzer plus desain yang harus unik....aku nyeraaaah

    Tulisanku masuk selera mak Arin ternyata :)
    Moga makin sukses yah

    BalasHapus
  27. Wah...saya suka dg kalimat "fokus pada karya" berarti memang dlm penilaian hrs sangat diupayakan objektif... sukses selalu mbak arin...

    BalasHapus
  28. Seneng bacanya, setuju fokus pada tulisan bukan siapa yang menulis

    BalasHapus