Senin, 30 November 2015

Peran Kita Pada Jajanan Anak


Masih pengen ngobrolin soal jajanan anak yang menjadi keprihatinan saya (sebagai ibu).  Kadang gemes juga sih lihat di banyak sekolah masih adaaaa aja pedagang kaki lima yang menjual jajajan "nggak jelas." Sampai muncul pertanyaan dalam benak saya, apa sekolah tidak sanggup menyediaka  lingkungan sehat bagi siswanya, termasuk soal jajanan ini? Tega banget PKL yang jualan jajan yang aneh-aneh, apa enggak ingat anaknya sendiri? 


Ngeri kalau lihat minuman warna-warni yang menggiurkan, apalagi anak-anak yang keringatan usai olahraga pasti tergoda. Airnya mateng enggak? Gulanya asli enggak? Pakai pewarna apa? Es nya dari air mateng enggak? Itu baru satu jenis makanan. Pertanyaan lebih banyak lagi kalau kita list satu persatu untuk jajanan cilok, gorengan, snack renyah, permen dll.

Ciri-ciri jajanan tak sehat pernah saya ulas sebelumnya ya. Memang masih banyak kita lihat anak-anak jajan sembarangan. Kita punya peran pada jajanan anak.

Apa yang bisa dilakukan sekolah ?
Menurut saya, sekolah adalah pihak yang paling bertanggungjawab mengontrol jajanan sehat untuk anak di sekolah. Dengan aktivitas belajar dan bermain yang membutuhkan energi, anak butuh ngemil pada jam sekolah. 

Sekolah punya kewenangan untuk memilih apa dan siapa yang bisa menyediakan jajanan sehat di sekolah. Jika sekolah memiliki kantin, maka pengelolaannya dibawah pengawasan sekolah. Begitupun jika sekolah memperbolehkan pedagang dari luar untuk berjualan, maka harus diseleksi jenis makanan yang boleh dijual dan dikontrol secara berkala. Sekolah harus tegas memberi sangsi apabila ada pedangang yang “nakal”.



Kalau di sekolahnya Cinta, saya percaya dengan penyediaan jajanan sehat dari pihak sekolah setiap hari.  Dan setiap beberapa minggu sekali komite sekolah (terdiri para ibu-ibu wali murid) menyediakan jajanan sehat. Kami iuran untuk dibelikan satu jenis jajanan sehat dan dibagikan pada anak-anak. Momennya tidak tiap hari, hanya contoh saja bagi anak-anak agar tau jajan sehat itu seperti apa. 

Sekolah meminta komite untuk mengoordinir penyediaan snack sehat setiap 2 miggu sekali. Walaupun jarang frekuensinya, pemberian snack sehat ini setidaknya memberi contoh pada anak bagaimana sih jajanan sehat itu.

Pernah juga sekolah mengadakan lomba memasak jajanan. Tim saya masak Fairy Sandwich. Sederhana dan gampang buat dipraktekin. 

Apa yang bisa dilakukan anak ?

Tak selalu anak kita pilihkan jenis jajanannya. Karena itu saya juga memberitahu anak mengenai jajanan mana yang boleh dan yang tidak. Tentu dengan alasan-alasannya. Anak harus punya “benteng” sendiri terhadap jajanan tak sehat.

Selepas dari pagar rumah dan dari pagar sekolah, anak bertanggung jawab secara mandiri atas apa yang dibeli dan dikonsumsinya. Di sini penting sekali untuk terus menerus berkomunikasi dengan anak, memberitahu anak bagaimana bersikap. Tidak hanya soal memilih jajanan yang sehat, tetapi juga bagaimana menolak penawaran pedagang yang kadang kala memaksa, dan menolak pemberian jajan dari siapapun yang tidak dikenal. 

Bagaimana kalau teman dekat atau supir atau satpam yang memberinya? Saya beritahu Cinta kalau jajanannya bagus, atau snack yang dimakan bersama-sama di sekolah, boleh langsung dimakan. Tapi kalau jajannya tidak sehat, maka diterima saja dan dibawa pulang untuk kemudian dibuang. 


Apa yang bisa dilakukan orangtua ?
Walaupun tidak mendampingi setiap saat, saya merasa sebagai pihak yang berkepentingan pada kesehatan anak, jadi saya wajib tahu nih soal jenis jajanan anak di sekolah. Saya sih sering tanya-tanya ke Cinta tentang apa yang dikonsumsinya sehari-hari. Sejauh ini relatif aman karena Cinta ikut catering di sekolah. Paling saya tanya menunya apa, snacknya apa.

Sebagai ibu, saya juga harus pilih-pilih untuk bekal Cinta. Iya, masih bawa bekal walaupun catering di sekolah. Kadang-kadang Cinta merasa kurang dengan snack yang diberikan sekolah pada jam 10.00 pagi. Sedangkan makan siang baru diberikan jam 12.00 siang. Jadi Cinta sering saya bekali snack dari rumah. Bekal wajib adalah air minum dan susu kemasan. Kalau snacknya berganti-ganti, antara lain MIGELAS, sandwich, kentang goreng, telur rebus, buah-buahan. 

Ini susah, ini tantangan. Bahkan kita pun orang dewasa suka jajan yang "aneh-aneh" bagaimana bisa melarang  anak kalau masih memberikan contoh. Melarang anak mungkin lebih mudah daripada melarang diri sendiri. Bisakah kita melupakan bakso dengan sambal super pedas 2 sendok plus saus yang pekat? Bisakah melupakan gorengan super gurih dan renyah yang digoreng dengan minyak yang telah hitam? Bisakah menahan haus untuk tidak membeli es teh di pinggir jalan hinÄ£ga ketemu minimart atau warung yang lebih higienis?

Bisa kok. Dengan niat untuk sehat disertai komitmen yang kuat.

*buru-buru cari resep untuk belajar bikin jajanan home made*

4 komentar:

  1. ayo ayo belajar bikin kue heheh

    BalasHapus
  2. lebih baik memang dibekali dari rumah untuk anak ya mbak, jajanan anak sekolah membahayakan soalnya

    BalasHapus
  3. Nanti anakku aku bebasin jajan seminggu sekali, hari lainnya aku bikinin cemilah variasi aja deh, hehehe.

    Salam,
    Shera.

    BalasHapus