Senin, 16 November 2015

Pink and Blue (Rubrik True Story Family Guide Magz)



Entah siapa yang mengajarinya, sejak usia 2 tahun Cinta menyukai baju rok lebar dan gaun model princess.  Padahal, sedari bayi saya lebih suka memakaikan baju laki-laki untuknya. Dulu, saya memang mendambakan jenis kelamin laki-laki untuk anak pertama, jadi banyak saat hamil saya banyak membeli atasan dan celana, biasanya bergambar mobil atau pesawat, dan berwarna biru atau putih. Tak sekali pun saya membeli rok! Di usia kehamilan 7 bulan, saya tahu bahwa janin dalam kandungan berjenis kelamin perempuan. Awalnya saya pikir saya akan kecewa, apalagi mas Ari. Eh, ternyata kami berdua sangat berbahagia dengan kehadiran putri pertama kami.  



Cinta juga suka aksesoris rambut, gelang, kalung dan sebagainya. Semua berwarna pink dengan gambar Strawberry Shortcake atau Barbie. Girly banget.Kalau malam, Cinta sering mendekati saya, merayu untuk dipinjami kosmetik. Matanya berbinar ketika saya sodorkan kotak kosmetik, yang terus terang, isinya jarang saya gunakan. 



 “Mama dandan, dong, biar tambah cantik,” katanya sambil mengusapkan lipstick. Tidak belepotan, cukup terampil juga. Namun, satu wanti-wanti saya, boleh berdandan hanya untuk ke pesta atau acara pentas, kalau sekolah atau jalan-jalan biasa belum boleh.



Kesukaan warna pink ini berlangsung cukup lama (atau mungkin seterusnya ya?). Pada usia 4 tahun, Cinta mulai melirik warna lain yang juga girly, yaitu ungu. 



Terrnyata preferensi warna ini berpengaruh luas. Tidak cuma pakaian dan aksesoris yang warna pink dan ungu, tetapi juga merembet ke buku cerita (isi cerita tidak penting, yang penting sampulnya pink atau ungu), sepatu (pernah memaksa dibelikan yang ungu padahal ukurannya tidak cocok) dan soal makanan! Masa demi kecintaannya pada warna ungu, Cinta minta dibelikan es krim rasa blueberry yang kemudian tidak dihabiskannya karena tidak suka rasanya. Dari situ Cinta tahu kalau tidak semua warna ungu dan pink itu enak, dan tidak harus selalu menuruti warna dalam memilih sesuatu.



Sejak kecil selera dan pilihan Cinta memang kuat, tidak mau dipaksakan jika tidak sesuai keinginannya. Saya berusaha memaklumi, ingat bahwa setiap orang punya selera masing-masing. Saya hanya mengarahkan, memberinya saran, kalau kadang-kadang pilihannya kurang pantas atau norak. Kadang Cinta setuju, kadang juga tidak Tak apalah, itu proses. Saya yakin lama kelamaan sense of fashion nya akan bagus juga. Namanya juga masih anak-anak. Yang penting, Cinta belajar mempunyai pilihan, mengerti apa yang dipilihnya dan tahu konsekuensinya. 



Ketika tahu adiknya akan lahir laki-laki, Cinta langsung memilihkan benda-benda berwarna biru untuk adiknya. Wah, tampaknya nuansa pink di rumah kami akan segera berganti oleh nuansa biru. Hmm, kita lihat saja mana yang kelak lebih dominan. Kalaupun tidak ada ruang terpisah antara pink area dan blue area, kami pikir tak masalah jika suasana rumah bercampur warna keduanya. Biarlah mereka saling bertoleransi berbagi ruang. Banyak warna seru, bukan?



Saya tidak tahu asal usul mengapa perempuan identik dengan pink dan laki-laki dengan biru.  Mungkin, nenek moyang telah melakukan penelitian tentang preferensi dan nyaris tepat terjadi demikian.  Orang kemudian mengamini ketentuan tak tertulis itu dengan alasan kekuatiran terjadinya transgender jika melanggarnya. Namun, yang dilakukan Cinta soal pilihan warna ini tentu bukan karena teori siapa pun.  Secara alami, warna kesukaan Cinta berjalan sebagaimana wajarnya perempuan.   



Anehnya, ketika terkabul memiliki anak laki-laki, saya malah menyesal mengapa dulu Cinta tidak saya dandani dengan baju-baju cantik untuk perempuan. Jadi, Mama nggak pernah punya foto girly baby dong?Untuk tujuan penghematan, saya tidak membeli terlalu banyak keperluan untuk Asa. Toh baju Cinta sewaktu kecil kebanyakan model celana, sepatu warna unisex yang semuanya sekarang bisa dipakai Asa. Soal baju, Asa tidak terlalu pemilih seperti Cinta. Mau dipakaikan baju warna apa pun, Asa tidak menolak. Termasuk memakai kaos warna pink yang menjadi favorit saya. Malah, Asa tambah cakep dengan kaos warna pink. Dan tetap terlihat laki-laki, kok! Sebagian besar barang dan mainan bekas Cinta juga masih bagus. Tidak ada salahnya ‘kan anak laki-laki bermain boneka? Setahun pertama, Asa masih mau memainkan mainan Cinta. Setelah itu, seleranya berkembang dan berbeda dari sang kakak. Walaupun sejak kecil mengenal benda-benda khas perempuan, nyatanya Asa tetap tumbuh berkembang normal selayaknya anak laki-laki. Asa juga tidak suka bermain boneka. Ketertarikannya pada mainan berupa kereta api, pesawat, dan dinosaurus. Benda-benda itu jelas tidak ada dalam koleksi mainan Cinta. 



Perbedaan warna juga sudah mulai dipahami Asa. “Susu pink untuk kakak, susu coklat untuk adik.” Hmm, mulai deh, masa iya urusan warna juga mau disangkutpautkan pada urusan makanan ? Lucu sekali mengingat tingkah laku anak-anak ini.



****



Kembali bisa melihat tulisan saya di media rasanya bahagia banget. Teringat 2 tahun lalu cukup aktif menulis untuk media secara mandiri. Kebetulan akhir-akhir ini saya sering membaca majalah Family Guide di aplikasi Acoop dengan gratis. Saya lihat majalahnya asyik. Sebagian besar saya merasa cocok dengan Parenting style nya.



Bulan lalu saya "iseng" aja kirim tulisan lama tentang Asa dan Cinta. Nulisnya sudah 2 tahun lalu dan ngendon di komputer. Pas terbaca lagi, eh ini tulisan asyik dan masih relevan dengan pembaca saat ini. Temanya timeless sih, tentang perbedaan anak-anak kita.



Dan langsung dimuat di edisi terdekat dari tempo sejak saya kirim. Senangnya nggak pake lama naskah di meja redaksi langsung tampil di Family Guide edisi November 2015. cieee..


5 komentar:

  1. Keren, keluarga bisa menjadi inspirasi menulis.

    BalasHapus
  2. tulisannya tentang apa mba? bagi2 dong cara mengirimnya hehe...
    selamat ya mba Arin...

    BalasHapus
  3. cari ah di scoop pengen baca juga..

    BalasHapus
  4. Memang dah rejekinnya tulsan masuk majalah Family Guide :D
    Congrats Mak Arin

    BalasHapus