Selasa, 16 Februari 2016

Our Stories @ Two Stories


Jumpa teman-teman sehobi menjadi sebentuk refreshing buat saya, jeda sejenak dari rutinitas kantor. Seringkali kalau sudah kumpul-kumpul kita banyak rumpi dan tertawa-tawa. Kadang sampai lupa, bahwa masing-masing kita pernah (atau sedang) sakit dan sedih. 


Obrolan berbeda dari biasanya saat beberapa waktu lalu (4 Februari 2016) saya kumpul dengan teman-teman Asinan Blogger, yaitu para Blogger penyuka Asinan :p . Venue kopdarnya keren lho, di cafe Two Stories yang terkenal instagramable. Siapa yang traktir kali ini? Apakah Evrina dan Desi yang baru menang lomba? *kode* Bukan, lunch spesial kali ini atas undangan tim Medictrust, ada Kate, Grace dan Gracie Melia.

Kate menceritakan awal mula menggagas ide mendesain aplikasi Medictrust. Pernah suatu ketika ayahnya sakit, dan Kate panik mencari berkas rekam medis sang ayah, namun nggak ketemu-ketemu. Andaikan ada aplikasi pencatat rekam medis, kita akan dimudahkan saat darurat membutuhkannya karena telah tercatat di HP kita.

Medictrust ini sebelumnya sudah saya kenal sebagai aplikasi android. Dan saya sudah unduh dan mempelajarinya. Saya tertarik aplikasi ini karena bisa menyimpan riwayat kesehatan saya dan keluarga. (Link www.medic-trust.com) . 

Ngobrol soal riwayat kesehatan membuat suasana sedikit melow ya. Sebagai ibu, saya ini cukup sering berurusan dengan penyakit, dokter , obat-obatan dan rumah sakit. Beuh, kalau ingat itu bawaanya hati ser..ser...ingat dulu pernah anak pertama saya Cinta, sakit agak serius. Ceritanya di sini.

Karakter pasien di Indonesia salah satunya adalah gonta-ganti dokter, obat dan rumah sakit. Hak pasien sih memang, karena terdorong ingin sembuh segera, jadi kalau tidak segera sembuh terus pindah dokter. Di sisi lain bagus juga untuk cari second opinion jika pasien terdiagnosa penyakit cukup serius. Agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Sayangnya, ketika ganti dokter, tidak semua pasien membawa catatan riwayat penanganan dan obat dari dokter sebelumnya, ujung-ujungnya diagnosa dimulai dari awal, otomatis biaya dan waktu yang dikeluarkan untuk cek lab lebih banyak. 

Mba Een Endahyuana, salah satu Asinan Blogger yang terbukti rajin mencatat rekam medisnya. Beliau bercerita tentang bagaimana kebiasaannya mencatat gejala penyakit, obat yang diminum, hasil lab, dokter dan rumah sakit yang pernah menjadi bagian dari riwayat kesehatannya. Salah satu manfaat mencatat ini adalah jadi tahu jenis penyakit dan obat yang diperlukan, obat apa yang cocok, dan obat mana yang tidak menimbulkan alergi. Kan tiap orang beda-beda ya. Semisal di apotek tidak ada obat merk tertentu yang diresepkan dokter, bisa diganti dengan merk lain yang berbahan aktif sama. 

Pengalaman saya sendiri saat merawat Cinta yang waktu itu terkena sepsis akibat IPD, kami sampai ganti 3 rumah sakit sebelum akhirnya ditangani di RSIA Harapan Kita. Waktu itu belum ada aplikasi Medictrust ini. Saya menyimpan rekam medis Cinta dalam map khusus dan membawanya dalam setiap menemui dokter.

Image rekam medis selama ini rada syerem buat saya, karena identik dengan catatan yang dimiliki oleh rumah sakit terhadap seorang pasien. Yang terbayang adalah hasil uji lab, obat dan infus di mana biasanya kita baru cek lab kalau penyakit dianggap serius yang perlu penanganan rumah sakit.

Tapi dari obrolan dengan tim Medictrust kemaren itu, persepsi saya tentang rekam medis berubah. Rekam medis lebih ramah jika disebut jurnal kesehatan dimana kita bisa mencatat riwayat kesehatan kita. Hal - hal yang bisa ditambahkan dalam jurnal kesehatan termasuk diantaranya penyakit ringan, obat-obatan yang dibeli secara mandiri tanpa resep, hasil cek colesterol dan gula darah yang dilakukan mandiri di mall, jenis herbal yang dikonsumsi, kejadian-kejadian luar biasa misal mendadak pingsan atau mual dan lain-lain. Foto hasil rontgen juga bisa ditambahkan di aplikasi Medictrust. Semakin lengkap kita mencatat, semakin memudahkan dokter dalam mendiagnosa dan menangani saat kita sakit.

Aplikasi Medictrust ini bisa menjadi media penghubung antara pasien dengan dokter. Telah banyak dokter yang tergabung dalam Medictrust community. Pasien bisa membuat apointment dan bertanya pada dokter yang diinginkannya. Apakah sang dokter akan memberi jawaban lengkap atas pertanyaan pasien? Hal itu kembali pada masing-masing dokter. Ada dokter yang bersedia tanya jawab via online, ada juga yang merasa pasien perlu bertatap muka langsung. Bukan berarti sombong lho ya! Itu artinya sang dokter membutuhkan informasi tambahan dan ingin melihat langsung gejala penyakit yang tidak cukup dilakukan secara online. Bagaimanapun dokter wajib memegang prinsip kehati-hatian dalam mendiagnosa.

Kate, Grace, Grace
Kelakuan di Two Stories
Green tea bread puding
Nefertite
Tell your story
Waktu 3 jam ngobrol tak cukup buat kami. Rasanya masih banyak yang mau diobrolin. Apalagi ada Grace Melia, mami Ubi yang kita kenal sebagai founder Rumah Ramah Rubela. Grace juga dikenal sebagai blogger. Banyak fansnya yang minta foto nih hehehe.

Sambil ngobrol sambil ngemil. Makanan di cafe Two Stories ini enak-enak dan sajiannya cantik. Jadi sambil gobrol, kami sibuk memotret makanan. Ya begitulah salah satu hobi blogger adalah memotret makanan. Harap maklum :))

Terakhir sebelum pulang kami foto bersama di dinding dengan tulisan Tell Your Stories. Ayo, ceritakan riwayat kesehatanmu pada Medictrust. Trus karena bacgroundnya terpotong, tulisan yang terlihat adalah Your Stories. Ya, ini memang tentang cerita kami di kafe Two Stories :)
  • Lebih lengkap tentang Medictrust bisa dilihat di Instagram https://www.instagram.com/medictrust/
  • Twitter https://twitter.com/MedicTrust
  • Fan Page Facebook https://www.facebook.com/medictrust

12 komentar:

  1. Iya ya, diksi rekam medis tampaknya bikin orang bergidik duluan. Jurnal sehat lebih pas :D

    BalasHapus
  2. Jadi serasa pas ya mak venue bertemu sama tema obroan kemarin :)

    BalasHapus
  3. Makanannya menggoda.. *gagalfokus :)

    BalasHapus
  4. Duh,Mbak... untung baca postingannya. Kemaren waktu beberes kertas-kertas, hampir saja saya buang hasil cek lab yang lama-lama. Thanks berat ya Mbak :)

    BalasHapus
  5. saya nih yang kemaren kayanya banyak gak nyatet tentang riwayat kesehatan, ikutan gathering jadi sadar banget dan kenyang karena makanannya enak2 *eh

    BalasHapus
  6. Rekam medis saya rapi sejak mau masuk Akbari hingga menjelang pensiun karena secara berkala kami mengikuti RikKes (Pemeriksaan kesehatan)
    Kini nggak punya catatan medis lagi
    Alhamdulillah sehat
    Terima kasih diingatkan
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  7. cerita di kafe two stories memang mengesankan :)

    BalasHapus
  8. Wah seru ya Mbak acara. Ada mami ubii pula.

    Tapi saya belum instal aplikasinya. Padahal punya catatan penting juga :)

    BalasHapus
  9. Aku juga langsung kebayang berkas-berkas di RS kalau dengar "rekam medik". Padahal bukan cuma itu, ya.

    BalasHapus
  10. Acara di Two Stories benyak kesan ya, materi diskusinya manteep, katemu Asinan Blogger seneeng, lokasi dan makananya enaaak, hehehhe

    BalasHapus
  11. wah Gesi ke bogor ya mbak, perlu juga ya aplikasi rekam medis seperti ini

    BalasHapus
  12. Kapan diundang ke Bogor nih, ketemu ibu ibu blogger cantiiiik

    BalasHapus