Kamis, 14 Juli 2016

Masjid Raya Al Mashun Medan

Masjid Raya Al Mashun Medan, kesan keindahan dan keprihatinan hadir sekaligus saat mengujunginya.

masjid raya al mashun medan

Ini kali kedua saya ke sana. Pertama tahun 2004, setahun setelah pernikahan. Kondisinya saat itu sudah cukup memprihatinkan. Sebagai sebuah masjid yang menjadi ikon kota terbesar ke  3 ini, Masjid Raya Medan kurang terurus.  Daya tarik yang masih tersisa adalah ornamen-ornamen asli yang khas. Untungnya saat foto-foto di sana, ketidakrapian itu tidak terlihat. 
Masjid Raya Al Mashun Medan merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Sulthan Deli. Hingga saat ini masih dipergunakan oleh umat muslim untuk sholat setiap hari. Masjid Raya Al Mashun Medan berjarak sekitar 200 meter dari Istana Maimoen. Masjid Raya Al Mashun Medan dibangun tahun 1906 oleh Sultan Al Ma'moen Al Rasjid Perkasa Alamsjah. Masjid Raya Al Mashun Medan dipergunakan pertama kali pada 19 September 1909.

masjid raya al mashun medan
Pemandangan di gerbang Masjid Raya Al Mashun Medan sedikit kurang nyaman di lihat dengan banyaknya gelandangan menunggu uluran tangan pengunjung. Bukan soal tidak mau memberi, namun ini soal kesan. Apa kesan pertama pengunjung jika di gerbang rumah ibadah umat muslim, sudah terlihat berderet gelandangan? Miris dan sedih, malu. 

Begitu memasuki ruangan masjid, hati ini tergetar. Ornament masjid warna coklat - orange menggambarkan kejayaan di masa lalu. Namun aroma karpet yang kian lapuk termakan usia menandakan bahwa bagian-bagian dari masjid ini tidak pernah diperbarui.

Di dalam masjid terdapat mimbar Khatib yang cukup tinggi. Ada juga Al Quran berukuran agak besar dibandingkan Al Quran pada umumnya. Al Quran tersebut dibingkai dalam kotak kaca.


Bagian yang saya suka untuk berfoto adalah sisi kanan dan kiri masjid yang dibatasi oleh pilar-pilar. Hasil foto berupa siluet yang anggun. Sayangnya, kaca-kaca pada beberapa jendela telah pecah dan sepertinya memang tidak diganti ataupun di perbarui.


Tahun 2015 lalu saya ke sana lagi. Kondisinya jauh memprihatinkan. Kaca-kaca dan lampu ada yang pecah dan tidak segera diganti. Karpet-karpet yang sudah lapuk dan sebagian robek. Lorong sisi masjid menuju ruang penjaga terlihat berantakan, di depan pintu terdapat tumpukan sarung dan baju tidak rapi. Bahkan ada sandal jepit diletakan di atas kusen satu jendela atas masjid. 

Entah apa penyebab masjid ini tidak terawat? Padahal turis asing dan domestik berdatangan. Saat itu saya berbarengan dengan seorang turis berkulit bule. Aduh, hati ini malu sendiri, mereka-reka apa yang ada di dalam benak si bule itu. Mungkin mereka kecewa. Saya pun prihatin, namun tak berdaya. Saya berharap pemerintah kota Medan atau siapapun yang berwenang bisa mengembalikan keindahan Masjid Raya Medan ini. Masa kalah rapi dengan masjid-masjid baru yang bersih dan terawat.



Masjid Raya Al Mashun Medan adalah warisan budaya yang pantas dipertahankan. Masjid Raya Al Mashun Medan masjid kebanggaan warga Medan. Selayaknya mendapatkan perhatian lebih dari yang selama ini dilakukan. Melihat kotak infaq untuk kemakmuran masjid ini, berapa banyak yang telah diinfaqkan para jamaah masjid? Ini adalah teguran bagi diri kita. Sampai dimana kita telah memakmurkan bangunan kebanggaan muslim ini.

1 komentar:

  1. Saya sudah beberapa kali ke Medan
    Namun saya belum pernah ke Masjid ini.
    Saya hanya bisa berharap, hal ini bisa menjadi perhatian pihak yang berwenang dan juga masyarakat Medan pada umumnya

    Sa;am saya Mak Arin

    BalasHapus