Rabu, 13 Juli 2016

Wisata Kota Medan, Ke Mana Saja ?


Sudah 11 tahun suami tidak berlebaran bersama orangtuanya. Banyak hal menjadi pertimbangan. Sudah dua tahun ini, kami ingin telah melalui lebaran dengan suasana berbeda, lebaran di Medan.


Kendala biaya memang menjadi pertimbangan buat kami yang ditakdirkan berjodoh dengan pasangan yang berasal dari dua pulau berbeda. Saya dari Jawa Timur, sedangkan suami dari Medan, Sumatera Utara. Kemudian kami menetap di Bogor. Sejak menikah, kami ke Medan justru bukan saat lebaran. Sebagaimana kita tahu, tiket kendaraan baik darat, laut apalagi udara harganya melambung di saat liburan menjelang dan sesudah hari raya. Dengan dua anak saat ini, biaya mudik ke Medan di hari raya tidak sedikit. Dengan pertimbangan itu, kami memilih mudik Medan justru di luar hari raya, di saat harga tiket pesawat sedang normal. Itupun bukan berarti benar-benar murah. Tetap saja butuh biaya besar untuk satu kali mudik.

Maka sejak tahun lalu kami usahakan bisa berlebaran bersama orangtua. Kami mengambil cuti panjang untuk lebaran di Medan. Rasanya rugi jika biaya mudik yang besar tidak diimbangi dengan waktu mudik yang panjang.

Selain itu, saya ingin lebaran benar-benar istimewa. Kapan lagi bisa menyenangkan hati orangtua secara langsung jika tidak saat bertemu seperti ini. Saya tahu, kebahagiaan kakek dan nenek adalah saat melihat cucu-cucunya gembira. Karena itu, saya telah mempersiapkan liburan lebaran yang berkesan untuk kami semua. 

Mudik ke Medan juga kesempatan untuk berwisata. Medan sudah kesohor dengan wisata kuliner. Sebelum kuliner ke kota, langganan kami adalah kuliner di pantai. 


Ke Pantai.

Sebelum kuliner ke kota, langganan kami adalah kuliner di pantai. Mengingat orangtua fisiknya tidak terlalu kuat berjalan jauh, maka kami liburan santai di pantai. Nikmat sekali bisa makan siang di pantai dengan sajian kepiting dan udang langsung dari hasil tangkapan Nelayan. Sementara itu anak-anak bermain pasir sambil tertawa-tawa.


Rumah mertua saya di desa Pematang Sijonam, Serdang Bedagai, dekat dengan Pantai Cermin, Pantai Kuala Putri dan beberapa pantai lainnya. Pantai yang sering kami kunjungi adalah Pantai Kuala Putri, karena Abah - Kakeknya anak-anak- sudah punya langganan pemilik saung yang enak masakannya. Kami memesan kepiting, ikan kakap dan udang. Ibu mertua sudah membawa nasi rantang dari rumah, jadi tinggal beli lauknya saja.

Suara tawa cucu menghangatkan hati kakek-neneknya. Lebih dari itu, inilah kesempatan kami sebagai anak bisa mengobrol dengan orangtua. Senang rasanya bisa mendengar keluh kesah maupun kabar gembira dari mereka secara langsung. Bisa melihat ekspresi mereka saat bercerita adalah hal yang tidak bisa kami lakukan hanya melalui telepon.

Masjid Raya Medan Al Mashoen
Keluarga Abang Ipar tinggal di Simpang limun. Sekalian ke rumah Abang, kami keliling kota Medan. Masjid Raya Medan adalah tujuan pertama. Dari luar masjid ini tampak cantik dan megah. Sayangnya, ketika masuk ke dalamnya tidak seindah kesan semula. Sebagai sebuah masjid yang menjadi ikon kota terbesar ke  3 ini, Masjid Raya Medan kurang terurus.  Daya tarik yang masih tersisa adalah ornamen-ornamen asli yang khas. Untungnya saat foto-foto di sana, ketidakrapian itu tidak terlihat.

Cerita lengkap baca di Masjid Raya Al Mashoen Medan.



Ucok Durian.
Terdorong oleh rasa penasaran tentang nama besar Ucok Durian, saya, suami dan anak-anak pun ke sana. Lokasinya di jalan KH Wahid Hasyim, Medan. Setumpuk durian langsung menyapa. Saya pesan ke si abang. Dia mempersilakan kami duduk dulu. Semenit kemudian sebuah durian telah dibelah-merekah-disajikan. Eh, kok nggak ditanya-tanya dulu mau berapa? Rupanya kebiasaan di sini langsung main tembak aja, diantarkan oleh abang pelayan sebuah durian. Setelah kami cicipi dan cocok, si abang pergi. Kami makan  satu buah saja sudah kenyang. Pasalnya yang makan hanya saya dan suami, sedangkan anak-anak pada nggak mau. 

Satu durian harganya hanya Rp. 35.000 ribu. Bisa juga lho beli dalam bentuk durian kupas, dikemas dengan wadah kedap udara dan dilakban tebal. Jadi bisa dibawa ke dalam pesawat terbang. Satu kardus segede kardus air mineral berisi penuh durian kupas harganya sekitar Rp. 1.000.000,- Terhitung murah untuk kualitas durian yang memuaskan. 




Merdeka Walk.
Tahun lalu, suami reuni dengan teman-teman SMAnya. Venue yang dipilih adalah Merdeka Walk, tadinya dikenal dengan lapangan merdeka. Adalah sebuah kawasan semacam alun-alun yang disekelilingnya banyak restoran dan cafe. 

Pilihan kami adalah cafe Srikandi, karena paling dekat dengan gerbang Merdeka Walk dan menunya paling bervariasi. Saya memesan es longan jagung. Seger banget. Isinya adalah buah longan, sejenis leci, jagung pipil rebus dan air gula. Untuk makanan saya memesan martabak kubang dan lontong sayur. Beuh, maruk ya. Hahaha...

Merdeka Walk kian semarak dan ramai pada sore dan malam hari. Lampu-lampu gemerlap. Pada hari-hari tertentu ada Live music pas di plaza depan gerbang masuk. 








Raun-raun Kota 
Asal kata 'Around' yang artinya adalah berkeliling kota. Lalu lintas di Medan ramai lancar. Di sini lampu merah seringkali dianggap sebagai lampu taman, alias tidak dihiraukan. Jadi hati-hati ketika menemui perempatan lampu merah, karena beberapa kali mobil yang kami naiki hampir diseruduk motor yang melanggar lampu merah.

Anehnya, keramaian lalu lintas tidak menimbulkan macet yang berarti. Mungkin karena jumlah kendaraan masih belum sebanyak di Jabodetabek. Atau, jangan-jangan karena hukum alam yang berlaku di sini justru memperlancara lalu lintas, yaitu "silakan jalan yang penting jangan senggolan". 
Patung Guru Patimpus

Perempatan depan Masjid Raya Medan

Lingkar luar Lapangan Merdeka, di belakang adalah Gedung London Sumatra

Kawasan pertokoan

Beli oleh-oleh.
Pulang dari Medan, teman kantor pasti menodong oleh-oleh. Dulu oleh-oleh yang populer di Medan, sampai sekarang juga mmasih bertahan, adalah Bika Ambon. Pusat Bika Ambon di jalan majapahit. Belakangan, di Medan populer juga Bolu Meranti. 


Bagi penggemar durian, seperti saya sebut sebelumnya, di Ucok Durian bisa dibeli durian asli tanpa kulit. Durian dikupas dan dikemas rapat dalam wadah.


Tak jauh dari Ucok Durian, ada toko souvenir gaul. Entahlah nama tokonya apa, mungkin "Medan Bah" atau "Bahpia". Toko seperti ini yang dicari anak-anak untuk membeli kaos, stiker dan gantungan kunci dengan kalimat plesetan lucu khas Medan.



Sepertinya tahun-tahun ke depan bakal lebaran di Medan terus. Pengen mencoba destinasi lainnya. 

3 komentar:

  1. Wah mantap, ini info yang dcari-cari kalau mau jalan-jalan ke Medan

    BalasHapus
  2. Udang, kepiting, durian, martabak, es jagung, bikin pengen terbang ke medan sekarang juga :3

    Salam,
    Pink

    BalasHapus