Dari Santap Bersama, Kumengenalmu

Makan tidak berbicara,adalah aturan saat santap bersama yang kami terapkan dalam keluarga. Namun, justru pada saat santap bersama inilah kami semakin mengenal satu sama lain. Aktifitas utama memang makan, di mana masing-masing harus fokus pada apa yang sedang dikunyah. Sesudah dan sebelum makan, ada cerita-cerita di antara kami, ada pilihan-pilihan khas, ada perbedaan selera yang tidak selalu bisa disatukan.



Bagi keluarga urban kota besar seperti kami, santap bersama paling memungkinkan dilakukan adalah saat makan malam dan akhir pekan. Biasanya sarapan dilakukan dengan terburu-buru, dan siang hari makan saya dan suami makan di kantor, sedangkan anak-anak makan di sekolah masing-masing. Tak ayal, begitu akhir pekan tiba, santap bersama adalah kegiatan sederhana yang paling ditunggu-tunggu. Baik itu makanan masakan sendiri maupun beli menggunakan aplikasi delivery. Khusus pada akhir pekan, kami lebih suka makan siang di luar, sekalian refreshing.


Seperti halnya hari sabtu kemarin, kami memutuskan makan siang di sebuah restoran di Bogor. Cukup sering kami ke restoran ini. Pertama, karena tempatnya bersih dan nyaman, bisa duduk berlama-lama sambil ngobrol. Kedua karena harganya masuk akal. Ketiga, karena pilihan menunya cukup bervariasi dan pas di lidah.  Jika masih kenyang, bisa ngopi-ngopi.

Dari santap bersama ini, kami mengenal selera masing-masing anggota keluarga. Soal selera ini kami punya cerita. Suami berasal dari Sumatera, sangat menyukai makanan pedas bersantan dan mengandung daging atau ikan. Sementara saya orang Jawa tulen yang tidak akan makan kalau tidak ada tempe dan kerupuk. Pada awal menikah, sempat terjadi shockselera satu sama lain. 

Saya eneg melihat makanan suami yang penuh lemak, sebaliknya, suami merasa aneh kalau kerupuk dijadikan lauk. Kerupuk itu cemilan. Lama-lama kami saling membiarkan dan memahami. Seleramu, seleramu. Seleraku, seleraku. Giliran anak-anak sekarang punya kecenderungan menyukai keduanya, baik menu Sumatera maupun menu Jawa.

Dulu awalnya anak bungsu saya yang paling sering meminta dibelikan paket menu Ayam goreng karena mengincar bonus mainan yang selalu update setiap beberapa bulan sekali. Koleksi kami hingga saat ini sudah ada puluhan figurin. Sebenarnya tak hanya dia yang suka, saya pun suka mengoleksi mainannya. Buat saya, ini bentuk penghematan. Bisa mendapatkan mainan berkualitas tanpa harus keluar budget tambahan. Cukup membeli satu paket menu ayam goreng .


Dari situ akhirnya kami semuan ketagihan makan di resto ayam goreng. Memang selera kami beda-beda. Semuanya punya pilihan favorit dan tentu saja bebas berganti-ganti setiap kali kunjungan. Setelah si adik selalu puas dengan paket menu ayam, si kakak memilih spaghetti dengan toping ayam crispy. Anak sulung saya ini tidak selalu makan nasi sebagai sumber karbohidratnya. Sepiring spaghetti sudah cukup menurutnya. Tapi, dia banyak mengemil. Biasanya dia minta tambahan french fries, perkedel kentang atau sup ayam. Kalau masih kurang, tambah es krim Sundae.

Sebaliknya, anak-anak sudah hapal pilihan saya. Ya, mereka tahu kalau saya paling sering membeli twisty dan segelas Melon juice. Buat saya, twisty adalah porsi yang pas untuk asupan kebutuhan kalori tanpa takut merusak diet. Twisty berisi sayuran dan irisan ayam yang dibungkus dengan dadar tepung. Sementara suami saya pilihannya lebih random. Beliau selalu ingin mencoba rasa baru. Jadi saya selalu menanyakannya terlebih dahulu setiap akan memesan. Kemaren itu, suami saya ingin mencoba Rice Box Chicken with France Blackpepper Sauce. Waaah, saus lada hitamnya mantap. Dengan aroma khas yang saya tidak pernah mencoba sebelumnya.


Begitu menu saya bawa ke meja makan, etika santap pun berlaku. Soal etika ini telah kami coba ajarkan pada anak-anak sejak mereka kecil. Yang pertama adalah soal siapa duluan yang sebaiknya mengambil bagiannya.

Sebagai pasangan beda kultur, saya dan suami membawa kebiasaan masa kecil kami masing-masing. Di keluarga suami, Ayah adalah urutan pertama yang dipersilakan mengambil bagian. Menyusul ibu dan anak-anak. Alasannya sangat masuk akal, karena Ayah adalah pencari nafkah, berkat Ayah keluarga bisa menikmati makanan. Karena itu, jika sang Ayah belum siap untuk makan, maka yang lain harus sabar menunggu. Kecuali dengan catatan, sang Ayah memang mempersilakan makan duluan karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.

Etika ini sangat bertolak belakang dengan aturan yang dikenalkan oleh Bapak saya. Dulu, Bapak selalu menyuruh anak-anaknya mengambil bagiannya terlebih dahulu. Padahal beliau telah berada dalam meja yang sama dan bersiap untuk bersantap. Alasan Bapak sama masuk akalnya. Bapak mencari nafkah untuk memberi anak-anak gizi yang cukup. Karena itu kami dipersilakan mengambil terlebih dahulu sesuai kebutuhan dan baru kemudian giliran Bapak.

Dalam keluarga kecil saya saat ini, tidak ada aturan baku yang kami ikuti baik dari latar belakang saya maupun suami. Kami padu padan saja dan mengalir sesuai situasi dan kondisi. Jika suami telah siap untuk makan, maka beliau mengambil bagiannya. Tetapi jika anak-anak sudah mendesak laparnya, kenapa mesti ditunda-tunda. Toh pilihan masing-masing telah tersedia.

Makan tidak berbicara. Kami meyakini aturan itu sangat benar baik dari segi etika maupun kesehatan. Makan melibatkan gerakan saluran cerna di tenggorokan, di mana terdapat persimpangan dengan saluran napas. Jika kita makan sambil berbicara, akan beresiko untuk mengalami tersedak yang bisa membahayakan jiwa. Karena itu, makan tidak berbicara adalah aturan yang wajib kami terapkan.

Hingga saat ini tidak mudah menerapkan aturan ini. Pasalnya, si adik sifatnya banyak bicara dan mudah tertawa. Kami harus telaten mengingatkan bahwa dia harus menyelesaikan kunyahannya. 

Lantas kapan bicaranya? Tentu saja boleh berbicara maupun berdiskusi karena saat santap bersama inilah kesempatan kita bertukar pikiran. Tapi, pastikan ketika berbicara sudah tidak ada makanan di mulut yang harus dikunyah. Dan itulah sesi yang paling ditunggu-tunggu. Sambil meredakan perut yang mengeras karena kenyang, kami ngobrol banyak hal tentang apa saja. Wajar jika kemudian saat santap bersama ada cerita-cerita baru, ada komentar satu sama lain, dan ada rencana-rencana.

Yang saya tulis ini hanya sebagian cerita bagaimana kami mengenal satu sama lain dalam kegiatan santap bersama. Perbedaan tidak harus dijadikan sama. Perbedaan selera, kebiasaan, etika hingga cerita-cerita membuat kami saling memahami. Dan akhirnya, beda biarlah tetap beda. Yang penting, kebersamaan tetap terjalin.

Komentar

Posting Komentar