Semua Tentang Jejalah Gizi Minahasa


Pertengahan Oktober 2016 Nutrisi Bangsa (web edukasi gizi dari PT Sari Husada) mengadakan lomba berhadiah Jelajah Gizi ke Minahasa (Sulawesi Utara) untuk 10 blogger. Pada pertengahan November lomba diumukan dan berangkatkan 30 orang ke Sulawasi Utara. Mereka terdiri 10 blogger pemenang lomba, salah satunya saya, narasumber, 10 wartawan media dan 10 panitia dari detik.com dan Sari Husada.

Dari setengah jadi penuh.

Awalnya saya setengah hati mengikuti lomba berhadiah jalan-jalan ini. Pasalnya, saya masih terbayang-bayang dengan rengekan anak yang masih kecil. Eh, tapi itu setahun lalu saat anak saya masih TK. Sekarang si bungsu sudah SD. Sang suami sudah memberi lampu hijau. Maka saya ikut lomba ini. Cerita yang saya ikutkan sederhana, tentang kreasi masakan laut yang saya lakukan sehari-hari, simpel dan gampang. 


Untuk melengkapi cerita yang sederhana, tampaknya video-log sangat dibutuhkan. Jadi saya bikin video berdurasi 3 menit. Video dilakukan oleh putri saya, Cinta. Kemudian editing sederhana dengan konsep yang telah saya rancang secara singkat. 

Agak tercengang juga, (tapi iya seneng banget) akhirnya saya terpilih sebagai Juara 1. Karena apa ya kira-kira? Mungkin karena cerita yang sederhana itu justru sesuai tema, mudah dicerna dan mampu mewakili misi dari kampanye Jelajah Gizi ini. Mungkin lho yaaa.. Memang kadang-kadang, sebuah lomba itu pemenangnya justru yang sederhana. hehehe. Jadi deh, berangkat ke Minahasa. 

Tentang perjalanan.
Saya sempat cari tahu dari peserta Jelajah Gizi sebelumnya tentang itinerary tahun lalu, agar saya lebih siap. Hepi banget waktu tahu tiket yang dipesankan adalah Garuda Indonesia. Kebayang kan perjalanan 2 jam lebih di pesawat pastinya butuh hiburan. Maskapai Indonesia saat ini yang ada TV nya ya baru Garuda Indonesia (CMIIW). 

Jumat, 18 November 2016 kami berangkat dari Bandara Sukarno Hatta jam 5 pagi. Kami sudah dibagi ransel daypack yang isinya 2 kaos, payung, buku panduan dan name tag. Langsung ganti kaos di bandara. Iya dong, biar foto-fotonya keren pakai kaos seragam.

Landing di Bandara Sam Ratulangi, Manado pukul 8 pagi WITA. Iyes, Manado! akhirnya menghirup udara kota Manado. Eh, tiba-tiba ada yang menyambut dan  mengalungkan bunga bagi kami. Wow...serasa gimanaa gitu...tamu kehormatan banget. *Terharu* 

Vania, Ani Berta, Zata Ligow, Evrina, Liswanti, Saya
Tentang Tondano
Perjalanan dilanjutkan dengan bis menuju Tondano. Tondano adalah kota wisata di ketinggian. Terlihat pertanaman bunga di kanan kiri jalan. Mirip Lembang, Jawa Barat. Kami makan siang di restoran Tumou Tou, yang berada di atas Danau Tondano. AAAAH... hati rasanya mau meledak melihat suasana tak biasa. Resto bambu mengapung di danau yang cantik. Acara foto-foto pun tak terelakan dan tak henti-henti. Hahaha..

Baru berhenti ketika aneka hidangan ikan danau tersedia di meja. Ikan mujaer, tumis kolumbi (kerang kecil serupa tutut sawah), perkedel ikan nike yang gurih, tumis genjer dan kankung, plus sambal dabu-dabu yang menggugah selera. Paraaah, enak banget suasananya.

Di sinilah acara resmi dimulai. Ada penjelasan dari Bapak Arief Mujahidin  Communication Director Danone Indonesia mengatakan, "Danone berkomitmen mendukung kesehatan masyarakat melalui makanan, selain menyediakan produk bergizi dan berkualitas tinggi, kami juga turut memberikan edukasi mengenai gizi seimbang dan hidrasi kepada masyarakat. Jelajah gizi merupakan salah satu wujud dari komitmen tersebut. Program tahunan ini dikemas menarik agar rekan-rekan media dan blogger bisa menyebarluaskan tentang nilai-nilai gizi pada makanan khas Indonesia.”

Sembari makan, kami mendengarkan penjelasan tentang gizi bersumber ikan oleh Prof. Akhmad Sulaeman dari Dept Gizi IPB, pelatihan singkat fotografi dari fotografer kondang Marysa Tunjung Sari, dan pelatihan Vlog dari mas Bolank . Serba singkat, tapi nggak perlu kuatir karena para pakar itu bersama kami selama 2 hari ke depan. Mau tanya-tanya soal gizi, foto dan vlogging..ayuuuk.

Di balik keindahan Danau Tondano yang kami resapi dari atas Restoran Tumou Tou, ternyata ada kegelisahan masyarakat sekitar Tondano akan semakin banyaknya tanaman enceng gondok dan pendangkalan danau. Hal tersebut di sampaikan oleh Bapak Camat Tondano. Saat ini masyarakat Tondano masih memanfaatkan danau untuk beternak ikan dalam keramba-keramba dan hasilnya bisa langsung dinikmati oleh pengunjung restoran-restoran di tepi Danau Tondano.

Masyarakat Tondano khususnya dan Sulawesi Utara pada umumnya tidak pernah menderita gizi buruk, karena sumber daya alam dari danau dan pegunungan yang melimpah. Di sini ikan yang banyak dikonsumsi adalah ikan mas, mujair, keong kolumbi dan ikan nike. Sedangkan hasil pertanaman yang banyak dijumpai adalah aneka jenis sayur mayur, mangga, pisang dan pepaya.

Dahulunya, Danau Tondano ini jernih sekali dan belum banyak ditumbuhi enceng gondok. Eceng gondok sebenarnya bukan tanaman pengganggu jika bisa dikendalikan, sebab tanaman tersebut sebagai tempat tinggal ikan bahkan sebagai bahan makanan ikan di danau. Saat ini Danau Tondano mengalami pendangkalan dan pengeruhan. Airnya sedikit coklat.

Sore di Tomohon kami habiskan dengan memandangi bukit. 
Menjelang sore, rombongan dibawa ke Temboan Hills, Puncak Rurukan, Tomohon. Dari sini kita bisa memandang Danau Tondano di kejauhan. Tanah di sini sangat subur. Pepohonan hijau di mana-mana.

Rombongan peserta jelajah gizi menginap di Hotel Jhoanie di Kecamatan Tomohon pada malam pertama. Dari kamar hotel terlihat Gunung Lokon, adalah sebuah gunung yang masih aktif. Pantas saja jika tanah-tanah di Tomohon ini terlihat subur oleh tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga yang indah.








Tentang Pasar Tomohon.

Keesokan paginya kami mengunjungi Pasar Beriman Tomohon. Pasar yang di dalamnya terdapat Pasar Ekstrem, dari luar terlihat seperti pasar biasa. Hasil bumi yang paling banyak dijual adalah pisang, pepaya dan mangga dengan kualitas prima. Aneka bumbu dan rempah-rempah juga sangat banyak macamnya. Pantas saja masakan Minahasa menjadi enak, karena kaya akan bumbu dan rempah. Hasil laut apalagi, ada satu bagian pasar yang khusus menjual ikan-ikan segar dan besar-besar.



Masyarakat sini menanam aneka sayur-mayur khas dataran tinggi. Variasi sayuran yang dikonsumsi juga banyak, ada kangkung, pakis (paku-pakuan), daun pangi, daun pepaya, dan banyak lagi. Jenis pisang juga sangat bervariasi. Yang paling banyak saya temui adalah Pisang Goroho. Pisang ini kurang manis, dagingnya lebih padat, rasanya mirip singkong, cocok untuk sumber karbohidrat. Dan memang demikianlah masyarakat di sini menganggapnya. Pisang Goroho ada yang dikukus dan disajikan bersama lauk pauk, atau digoreng renyah dan disajikan dengan Sambal Bakasang.



Ada rekan-rekan blogger dan media yang memberanikan diri memasuki pasar ekstrem. Mereka di sana menemui aneka hewan yang tidak lazim dikonsumsi, namun di Tomohon ini menjadi lazim. Contohnya ular piton, tikus, kelelawar, anjing dan babi. Satu yang harus saya ingat, di sini saya sebagai masyarakat minoritas, kelaziman ada pada masyarakat mayoritas suku Minahasa. Melihat sesuatu yang ekstrem saya anggap sebagai pengalaman yang memperkaya pengetahuan saya. Berkesan sekali.



Challenge di Pasar Tomohon. 

Kami dibagi dalam beberapa kelompok campur antara blogger dan media. Satu kelompok terdiri dari 4-5 orang. Tugas kami adalah membelanjakan uang Rp. 20.000 untuk dibelikan makanan yang tercantum dalam daftar tugas. Nggak gampang lho, kami kudu hemat, pintar nawar dan pintar mencari lokasi dimana lapak barang tersebut ada. Sambil melakukan belanja, kami juga harus membuat vlog dan foto untuk dilombakan antar kelompok.













Tentang Mangrove dan Pantai Bahowo
Turun dari dataran tinggi Tomohon, kami menuju Pantai Bahowo, di Kecamatan Tongkaina. Hari sudah siang. Dari pantai terlihat dekat pulau Bunaken yang famous itu. Masyarakat sini sadar pentingnya hutan mangrove untuk melindungi pantai dari erosi dan menjaga kelestarian hayati. Bersama LSM yang peduli kelestarian mangrove, secara rutin mereka melakukan pembibitan dan penanaman mangrove. Untuk menumbuhkan kesadaran dan kaderisasi penjaga mangrove, para anggota LSM tersebut memberikan pelatihan dan edukasi pada anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Tongkaina.

Pada kesempatan ini juga para blogger dan media melakukan 3 hal yaitu menanam bibit mangrove, manengkel (melepaskan biota laut yang terjebak karang di saat air surut ) dan snorkling di perairan pantai Bahowo. Perlu diketahui, perairan Bahowo ini masih satu wilayah dengan Kepulauan Bunaken yang terkenal keindahan taman lautnya.

Jangan dikira berjalan di hutan Mangrove itu gampang. Pada lahan kosongnya, tanahnya terdiri dari tanah lihat yang tergenangi air laut. Jadi mirip banget dengan sawah yang tengah digenangi. Saat kaki melangkah, langsung melesak sedalam setengah meter dan berat untuk diangkat. Kalaupun berhasil, sandal atau sepatu ketinggalan di dalam tanah. Hihihi..butuh bantuan 1-2 teman untuk membantu kita lolos dari jeratan lumpur. Namun begitu, semua ketawa-ketawa saja tuh menikmati sensasi mandi lumpur.





Tentang Laut biru, Anjing dan Babi.
Sungguh, baru ini saya melihat sebenar-benarnya laut biru. Dari atas air yang jernih terlihat karang-karang dan akar mangrove. Teman-teman berenang hingga mendekati Bunaken. Sementara saya menikmati kopi di sebuah warung kopi bersama hembusan angin laut.

Kami makan siang di base camp LSM Konservasi Mangrove. Nikmatnya makan aneka masakan ikan dibawah pepohonan kelapa yang dekat dengan rumah salah satu penduduk. Saya belum terbiasa dengan situasi banyak anjing dan babi berkeliaran. Agak-agak takut diendus. Tampaknya anjing dan babi di sini sungkan pada manusia, mereka berperilaku sebagaimana binatang ternak. Untung ke sini ramai-ramai, jadi nggak perlu takut dengan kehadiran kedua jenis hewan tadi.

Kelompok Masyarakat yang kami datangi telah menyiapkan aneka masakan ikan dan sayur yang menggugah selera. Ikan cakalang diolah dengan beberapa jenis masakan. Ada cakalang kuah santan, ada cakalang sambal. Tersaji juga sup ikan yang segar dan ikan bakar. Sayuran yang disajikan antara lain pakis, tumis daun pepaya, dan kangkung. Tak ketinggalan sambal dabu-dabu yang segar. Untuk sumber karbohidrat tersedia nasi, singkong dan pisang goroho rebus. Saya mencoba semuanya, dan sejenak melupakan diet.





Tentang Profesor Akhmad.
Narasumber sekaligus konsultan gizi selama 3 hari adalah Prof. Akhmad Sulaeman. Bapak profesor ini ternyata garing-garing lucu gitu kalau bicara. Beliau sering menjebak kami dengan guyonan-guyonannya. Jadi tertawa terus kami dibuatnya.

Sambil becanda, kami bisa bertanya komposisi gizi setiap makanan yang ditemui dan manfaatnya untuk tubuh. Karena beliaulah perjalanan ini memang menjadi sebenar-benarnya petualangan bergizi.

Seperti di sampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Akhmad Sulaeman, PhD, “Keanekaragaman sumber pangan Minahasa menjadi cerminan kekayaan sumber pangan di Indonesia. Indonesia memiliki kebudayaan beragam, termasuk keunikan dan kebiasaan yang dimiliki setiap daerah khususnya dalam mengonsumsi makanan, sehingga penduduk Indonesia tidak difokuskan pada satu jenis makanan yang harus dikonsumsi. Banyak sekali pilihan.”



Evrina, Zata, Prof Akhmad, Saya
Tentang belajar motret dan vlog.
Beruntung sekali kami berkesempatan jalan-jalan dengan mba Maryssa Tunjung Sari (fotografer majalah Linkers) dan mas Bolang (Sutiknyo), vlogger dan blogger travel  http://lostpacker.com/. Mba Maryssa mengajarkan kami bagaimana mengambil foto makanan di saat minim properti, misalnya saat di warung atau di pasar. Kalau dengan mas Bolang saya jarang ngobrol. Tapi keduanya baik banget dan mau ngajari banget ke kita-kita.
with Maryssa Tunjung Sari

with mas Bolang / Sutiknyo

Tentang teman sekamar.
Saya kebagian satu kamar dengan mba Zata Ligouw. Mba Zata ini asli Manado ternyata, jadi bisa bahasa daerah sini. Saya salut banget, mba Zata yang sudah tergolong seleb blog ini ternyata orangnya humble banget lho. Beliau ini jarang mengetahui berita hiruk pikuk blogger (terutama soal job dan event) di kalangan beberapa komunitas. Mungkin karena mba Zata fokus berkarya dan berkarya. Sepanjang malam kami ngobrol banyak hal seputar blogging dan keluarga. Ternyata, kami ada kesamaan, yaitu sama-sama berperan sebagai pendengar saat suami di mobil kesal kepada pengemudi motor yang tidak tertib. Hahaha..you know what  i meant

Zata, Evrina, Shintaries, saya

Zata, saya, Dewi, Shintaries, Ani Berta
Dinner di Kota Manado
Pada malam kedua kami menginap di Hotel Lion, persis di tepi pantai di Manado. Acara gala dinner digelar di Restoran City Extra di tepi Pantai Malalayang. Di sini para peserta mendapat hiburan tarian tradisional Manado, pengumuman pemenang game kelompok, lomba foto dan vlog selama 2 hari berlangsung, serta acara ramah tamah.

Dinner ditutup dengan dansa bersama para penari yang cantik khas Manado. Wah, mas-mas kok pada semangat sekali ya? hehehe.. Sebelum usai, kami sempatkan video manekin challenge bersama seluruh peserta, termasuk Prof Akhmad dan Pak Arif. 
Jembatan Sukarno

Senja di Manado

Tarian selamat datang

Dinner timeeee...
Jelang pulang.
Pagi harinya, peserta dibawa menikmati Bubur Manado yang super sehat dengan campuran aneka sayuran, dan siangnya kami masih dibawa menikmati Nasi Kuning khas Manado dengan taburan ikan cakalang. Hanya 3 kata yang bisa menggambarkan perasaan hari itu, kenyang, kenyang dan kenyang.

Sebelum menuju Bandara Sam Ratulangi, kami mampir ke Merciful Building untuk membeli oleh-oleh seperti kue bagea, klapertart, manisan pala dll. Tak lupa kami mampir ke penjual ikan cakalang fufu dan roa untuk membeli ikan asap dan sambal roa.

Saya??? Sudah pasti kalap. Untuk kakak-kakakku tercinta saya belikan kain motif khas Minahasa. Saya juga membeli banyak sekali ikan cakalang asap, sambal roa kemasan dan abon roa kemasan. Koper saya pun beranak, berangkat bawa 1 tas, pulangnya jadi 3 tas. Tapi..kayaknya hanya saya sendiri yang kalap belanja. hahaha.
What a Journey. Jelajah Gizi Minahasa, sehat terus jo!






 



Susah move on

Sungguh, Jelajah Gizi Minahasa ini adalah perjalanan kuliner yang mengesankan. Bahkan hingga hampir seminggu berlalu, saya masih belum bisa move on. Rasa-rasa masakan khas Minahasa masih terkenang-kenang dalam benak saya.
Nasi kuning isi abon cakalang pedas

Bungkus nasi kuning yang unik

unforgetable perkedel nike

Bubur Manado






Komentar

  1. Pengalaman yang tak terlupakan ya mba Arin, semoga nanti saya juga bisa ke Manado. Nyobain ikan Cakalang, sambal roa dan melihat keindahan laut di sana.

    BalasHapus
  2. minahasa kulinernya enak-enak juga ya ternyata, belum pernah kesini

    BalasHapus

Posting Komentar