Langsung ke konten utama

Mama Ayink



Tujuh tahun bersama, tepatnya bertetangga dengan Mama Ayink meninggalkan kenangan yang begitu mendalam. Sebagai sesama penduduk di perumahan yang cukup padat, interaksi kami cukup tinggi. Hingga setelah beberapa minggu saya pindah rumah, kenangan itu masih melekat. Maka tertulislah kisah ini (kenapa baru sekarang ya?? Karena dulu masih bertetangga, hehehe..) 

Mama Ayink, entah apa alasan orang-orang menyematkan nama itu padanya. Nama aslinya Siti. Mungkin karena nama anaknya Aning, ketika masih kecil cadel dan menyebut dirinya Ayink, dan kemudian tetangga memanggil bu Siti sebagai Mama Ayink.

Di umurnya yang sudah kepala lima, Mama Ayink memiliki bentuk tubuh yang lumayan sexy, padat, tidak gemuk dan bisa dibilang atletis. Tubuh idealnya itu didapat karena Mama Ayink adalah orang yang sangat aktif bergerak. Bayangkan, bangun jam 3 pagi langsung menyalakan mesin cuci. Saya ikut merasakan manfaatnya, langsung terbangun begitu mendengar suara putaran mesin. Lumayan kan, tidak perlu memasang alarm untuk bisa bangun pagi dan melanjutkan ketikan. 

Sambil menunggu proses mencuci, biasanya Mama Ayink membuka seluruh jendela dan pintu. Udara segar pun masuk ke dalam rumahnya. Dari situ juga saya bisa mengetahui beliau menyapu dan mengepel seluruh lantai keramik rumahnya yang tingkat. Satu jam berikutnya Mama Ayink menjemur pakaian di teras rumah. Mengingat perumahan kami yang padat, mencuri start dua jam sebelum matahari terbit adalah solusi yang masuk akal agar pakaian cepat kering. 

Seusai subuh, biasanya saya mengganjal perut hanya dengan sepotong roti dan secangkir kopi. Sementara dari rumah Mama Ayink tercium aroma jengkol goreng, ikan asin dan sambal terasi dari dapurnya, pertanda beliau sedang memasak. Dan seluruh pekerjaan rumah tangga sudah harus beres tepat pukul 6 pagi, saat cucunya sudah bangun. Mama Ayink pun siap menyambut aktifitas sepanjang hari, yaitu mengasuh cucu sambil menjaga warung kelontong di teras rumahnya.

Sudah 2 tahun ini Mama Ayink membuka warung kelontong. Jualannya didominasi oleh jajanan anak-anak. Mungkin sekalian menyenangkan cucunya, jajan bisa di warung neneknya sendiri. Sejak menit pertama warung dibuka (kadang-kadang sebelum itu) anak-anak kampung sudah ramai menunggu di depan warung. Dalam sehari, satu orang anak bisa 3-4 kali bolak-balik ke warung, membeli jajanan yang harganya berkisar 500 – 2.000 rupiah. Nah, ada kalau jumlah anak kampung mencapai 20 anak, bisa dihitung berapa konsumen ciliknya. Itu baru anak-anak, belum lagi ibu-ibu dan orang yang kebetulan lewat menjadi konsumennya. Bisa dibilang bisnis warung kelontong Mama Ayink termasuk sukses. Bagi saya, keberadaan warung Mama Ayink ini sangat menolong jika kebetulan saya mau ngopi, eh stok di dapur habis. Tak perlu jauh-jauh ke minimart untuk sekedar beli satu sachet kopi.

Sejak lama, Mama Ayink ini terkenal sebagai orang paling gaul dan eksis di lingkungan kami. Sepanjang hari hampir dihabiskan waktunya duduk di depan kios yang kemudian menjadi tempat nongkrong paling asyik ibu-ibu rumpi. Kalau ada orang cari alamat, Mama Ayink lah yang paling cepat merespon. Kalau ada berita kemalingan di RT sebelah, Mama Ayink lah yang paling awal memberi informasi. Beliau juga suka mengantarkan orang yang ingin memungut sumbangan ke rumah-rumah. Bahkan ketika Pak RT mengantarkan undangan kawinan ke rumah saya, Mama Ayink pun ikut mengantar. Loh? Memangnya Pak RT nggak tau rumah saya?

Mungkin karena merasa sebagai penduduk lama, atau merasa semangat kekeluargaaan yang tinggi, Mama Ayink sering merasa jalan di depan rumah kami seperti halaman pribadi. Mobil menantunya seringkali parkir di depan jalan. Padahal jalan di gang kami hanya muat dilewati satu mobil. Kadang kala parkir di depan pagar rumah saya, sementara mobil kami masih di dalam garasi. Dulu saya selalu minta ijin kalau mau mengeluarkan mobil, tapi karena nggak pengertian juga akhirnya sekarang cukup kami klakson saja sampai menantunya memasukkan mobil ke dalam garasinya. Ck..ck..ck.. masa saya harus terkurung di dalam garasi sendiri?

Satu karakter Mama Ayink yang belum saya sebutkan dari tadi adalah suaranya yang nyaring dan suka berteriak. Memanggil cucu berteriak, memanggil tetangga berteriak, kaget berteriak. Kadang-kadang terdengar lucu, kadang-kadang juga mengganggu. Suaranya sering terdengar serak karena saking seringnya berteriak. Karena teriakannya ini juga, anak-anak kampung sering menggodanya. Semakin Mama Ayink gemas dan berteriak, semakin seru anak-anak menggoda. Kasihan melihatnya, tapi apalah daya.

Bagi saya, itulah romantika bertetangga. Senang atau tidak, toleransi harus tetap dijaga. Setidaknya menjadi bekal saya untuk bertetangga di lingkungan baru sekarang. Nyatanya, hingga saat ini, sosok Mama Ayink dan teriakannya masih sangat saya ingat. 


Pernah suatu pagi saya ketinggalan tukang roti yang melaju dengan gerobak motornya. Berkali-kali saya panggil tak kunjung berhenti . Maklum, suara saya sangat minim, apalagi bangun tidur tenggorokan masih kering. Untung Mama Ayink dengan respon cepat tanggapnya segera menolong “ROOOTTTEEEEE....!!!” dan tukang rotipun berhenti. Terimakasih untuk Mama Ayink.

(Nama dan tokoh dalam cerita ini bukanlah sebenarnya. Tulisan ini dulunya untuk dikirim ke rubrik cerpen media cetak, berhubung media cetak mulai bertumbangan, jadi dikirim via blog saja)

Komentar