Persaingan Rendang

Foto dari http://www.gazetagazeta.com/2017/08/rendang-najsmaczniejsze-danie-na-swiecie/

Cinta itu berawal dari perut. Tapi bukan karena itu suami jatuh cinta pada saya. Dia tahu saya tidak pandai memasak, apalagi memasak menu favoritnya, rending. Puluhan kali saya memasak rendang, tapi belum pernah berhasil sempurna. Memasak rendang bagi saya adalah obsesi. Bukan sekedar enak atau tidak,juga bagaimana saya bisa menyamai rendang buatan ibu mertua yang menjadi kebanggaan suami. 

Ada saja yang menjadi alasan rendang saya “gagal”. Saya sudah merujuk pada berbagai resep di internet. Makin banyak googling, makin bingung deh. Setiap daerah beda-beda komposisi bumbunya. Akhirnya saya pernah menyerah pada bumbu instan. Itupun juga tidak membuat rendang saya jadi enak, hahaha. 

“Rendang buatan ibu itu warnanya coklat, bukan merah Dik,” kata suami mengomentari rendang buatan saya. Entah mengapa kok merah ya? Saya juga heran. Setelah konsultasi dengan ibu mertua, ternyata rendang berwarna merah karena terlalu banyak menambahkan kunyit. Hm, sebenarnya itu masalah selera saja sih, iya nggak? 

Beres masalah warna, saya harus menaklukkan si santan agar mau mengeluarkan minyak tetapi jangan sampai gosong. Kuncinya, api harus kecil dan rajin mengaduk. Yang sering terjadi, saya tidak cukup bersabar menunggu prosesnya yang lama. Api saya besarkan sedikit agar santan cepat kering. Baru sekian detik saya hentikan mengaduk, eh santan sudah gosong dan meninggalkan kerak di wajan. Waduh, gawat! Buru-buru saya aduk-aduk bumbu hingga merata, sambil berharap suami tidak melihat butiran-butiran hitam tercampur di bumbu. “Apa ini ya, kok hitam-hitam di bumbu rendangnya? Perasaan, kalau ibu masak nggak begini deh,” tanya suami. Iya, iya itu gosong Mas, tapi mbok ya nggak usah dibandingkan dengan rendang ibu dong. Saya membatin sambil sewot. 

Sebenarnya, saya mengakui bahwa rendang masakan ibu mertua sangat enak. Dagingnya empuk, bumbunya coklat tua, kering tapi tidak gosong, aromanya gurih, pedasnya pas dan bisa awet beberapa hari tanpa dihangatkan. Sayangnya, karena ibu mertua tinggal di Medan, kami hanya bisa menikmatinya pada saat berkunjung ke sana atau sebaliknya. Beberapa kali saya menelpon ibu mertua untuk menanyakan resep. "Pilih daging yang bagus, Rin. Untuk daging sekilo, kelapanya 4 butir, itupun harus yang benar-benar tua,” jelas ibu mertua. “Bumbu juga harus komplit. Jinten, pala, daun jeruk, sere jangan ketinggalan. Kalau mau lebih berserat, tambahkan kelapa parut yang sudah disangrai.“ 

Memang sih, cara saya ngrendang tidak seserius ibu. Saya sering menggunakan bahan dan bumbu yang seadanya yang tersedia di rumah. Pernah saya menggantikan kelapa dengan santan instan dalam kemasan, hasilnya bumbu jadi lembut seperti krim, tidak mengandung serat-serat kelapa. Selain itu, ada saja bumbu yang kurang atau habis, ya daun jeruk lah, lengkuas lah, jahe lah. Pantas saja kalau hasilnya tidak sesempurna buatan ibu mertua. 

Sebenarnya, kalau suami mau jujur, masakan saya juga nggak buruk-buruk amat. Tidak sempurna bukan berarti tidak enak kan? Nyatanya suami tetap mau menghabiskan rendang buatan saya. Tapi begitu rendang habis, eh, tetap saja yang diingat keistimewaan rendang ibu. Ya sudahlah, mungkin memang ikatan batin ibu dan anak laki-laki sedemikian kuat, bahkan sampai ke urusan rendang. 

Pasrah dengan “persaingan dingin” urusan rendang, toh saya tetap saja memasaknya untuk keluarga. Habis mau gimana lagi, rendang sudah menjadi menu favorit. Saya mengaku kalah, walau kesal juga sih masakan saya terus-terusan dibandingkan dengan masakan ibu mertua. 

“Hm, kayaknya ada yang lain nih rendang kali ini”, kata suami suatu ketika setelah mencicipi rendang buatan saya. Defensif dengan kritikan suami, saya segera memotongnya, “Kamu beda deh dengan bapakku. Beliau nggak pernah rewel sama masakan istri”. Saya cemberut. Suami malah tersenyum. Dia paham kalau saya kesal. Memang kalau urusan membandingkan tidak akan pernah ada titik temu. Beda dapur, beda orang, beda ciri khas masakan walaupun namanya sama, yaitu RENDANG. 

“Maksudku, rendangmu kali ini sempurna,” lanjutnya. Entah suami jujur atau tidak, seketika itu wajah saya sumringah. "Ah, yang bener?.” Dia mengangguk. 

Omong-omong apa yang bikin rendang saya jadi enak ya? Waduh, nggak tahu apanya yang membuat sempurna. Semoga, besok-besok masih bisa mengulangnya lagi. Kalaupun tidak seenak ini, tetap kok masaknya dengan cinta. 



Komentar